Tag Archive | "budaya"

Kali Ini Bukan PIG FLU, Tetapi PIIGS ?FLU? Yang Mewabah


Tahun lalu wabah FLU BABI (Swine Flu atau Pig Flu) sempat membuat panik dunia setelah ditemukannya flu ini menjalar ke manusia di Amerika, Mexico dan Canada. Hari?hari ini dunia kembali dibuat panik tetapi bukan oleh PIG tetapi oleh PIIGS, acronym dari Portugal, Ireland, Italy, Greece dan Spain.

?Flu? di pasar uang dunia begitu terasa dalam beberapa hari perdagangan terakhir, bahkan ketika bailout senilai 750 Milyar Euro terhadap Yunani atau Greece sudah di commit oleh European Union dan IMF.  Komitmen raksasa untuk mengatasi kebolongan di epicentrum krisis tersebut nampaknya tidak membuat para pemain pasar lega.

Hanya 2 hari setelah bailout tersebut diumumkan, para pemain pasar kembali memburu jaring penyelamat untuk investasinya ? yaitu antara lain emas. Karena permintaan yang melonjak inilah maka pagi ini ? saat artikel ini saya tulis – harga emas berada di atas US$ 1,230/Oz atau dalam US$ telah mengalami peningkatan lebih dari 34% dibanding harga emas dunia tahun lalu. Harga ini memecahkan rekor tertinggi sebelumnya yang berada di kisaran US$ 1,226/Oz yang tercapai di awal Desember tahun lalu.

Mengapa seolah pasar tidak percaya terhadap upaya?upaya negara yang dilanda krisis tersebut untuk dapat mengatasi masalahnya? Ada 2 hal yang sangat mendasar yang menyebabkan hal ini:

  1. Hutang yang sudah begitu besar yang diderita oleh negara-negara yang dilanda krisis tersebut, perhatikan faktanya di grafik atas. Yunani dan Italy bahkan hutangnya per akhir tahun lalu saja sudah melebihi GDP-nya. Nenek-nenek kita dahulu juga tahu kalau problem hutang ini tidak bisa diatasi dengan hutang baru, semua bantuan baik dari EU, IMF, dlsb TIDAK ADA yang GRATIS ? pada waktunya harus dibayar.
  2. Negara-negara tersebut juga mengalami defisit pada anggaran belanjanya, sekaligus juga perekonomiannya tidak tumbuh ? sebagian malah merosot seperti yang dialami Spanyol.

swine-flu-cartoon-capitalist-pigsMasalah defisit ini sungguh tidak mudah diatasi karena menyangkut budaya. Pegawai-pegawai pemerintah di negara tersebut misalnya tidak akan mudah bisa diturunkan gajinya. Layanan publik juga tidak mudah diturunkan standarnya (dipotong anggarannya).

Walhasil bailout dari EU dan IMF untuk Yunani nampaknya hanya semacam obat untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi bukan obat untuk menyembuhkan penyakit. PIIGS ?FLU? (krisis) mungkin masih akan terus kambuh, bukan hanya terhadap Greece dan PIIGS tetapi terhadap semua negara yang memiliki ketahanan ?tubuh? (ekonomi) yang sama.

Symptoms atau gejala-gejala ketahanan ekonomi yang lemah ini antara lain ya 3 hal di atas yaitu:

  1. Hutangnya banyak.
  2. Anggarannya defisit.
  3. Pertumbuhan ekonominya rendah atau bahkan turun atau tidak tumbuh.

Jadi harga emas masih akan terus bergejolak karena dari waktu ke waktu orang butuh jaring penyelamat, dan emas-lah yang terbukti dapat berperan sebagai jaring penyelamat yang mudah diperoleh, efektif dalam mengatasi masalah inflasi dan gejolak ekonomi lainnya. Wa Allahu A?lam.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Peradaban Barat Yang Memiskinkan Kelas Menengah


Kalau saja judul di atas murni dari pandangan seorang Muslim seperti saya, orang mungkin segera men-cap saya sebagai anti barat.  Tetapi kali ini pandangan tersebut bukanlah dari saya, judul tulisan ini saya ambilkan dari karya columnist handal di The Market Oracle, Andrew G Marshall dengan judul aslinya ?Western Civilization and the economic Crisis, The Impoverishment of the Middle Class?.

Awalnya, menurut Andrew ? Peradaban Barat nampak bekerja dengan baik. Diawali dengan revolusi industri abad 18 dan 19, tumbuhlah kelas menengah yang semakin banyak jumlahnya dan semakin makmur. Namun Peradaban Barat ini, ternyata tidak akan berusia lama. Beberapa puluh tahun terakhir, yang namanya kelas menengahnya hanya berusaha bertahan melalui pemupukan hutang.

Diawali dengan tahun 1958 yang merupakan awal kemunculan credit card modern oleh Bank of Amerika yang kemudian berevolusi menjadi Visa, kemudian disusul oleh Master Card tahun 1966 ? maka dekade-dekade berikutnya terjadilah pertumbuhan eksponensial dari credit card ini.

Sejak di Amerika dicabut batasan tingkat bunga yang bisa dikenakan pada para pemegang credit card tahun 1979, kombinasi dari deregulasi ini dan kemajuan teknologi membuat penyebar luasan credit card di masyarakat menjadi tidak terbendung lagi.

Tidak perduli lagi apakah pemegang kartu tersebut benar-benar membutuhkannya; tidak juga terlalu perlu apakah dia mampu membayarnya; yang penting member mereka terus bertambah dan bertambah pula pendapatan mereka. Tidak hanya dari pembayaran bunga, issuer credit card juga memperoleh tambahan penghasilan dari late payment fees, dlsb; sehingga pendapatan mereka juga menggelembung.

Credit Card DebtBudaya credit card, juga telah mendorong perilaku ngutang bahkan untuk barang-barang yang tidak terlalu penting sekalipun, seperti: membeli TV, membayar liburan, dlsb.

Walhasil, budaya ini telah menjebak masyarakat menengah dalam jebakan hutang yang melilit dari tahun ke tahun. Bila pada tahun 2001, masyarakat Amerika ?baru? berhutang 96% dari disposable income-nya ; 5 tahun kemudian persentase ini telah naik menjadi 129%. Bukan hanya di Amerika, pada tahun tersebut masyarakat Inggris telah berhutang Pounsterling 1.3 trilyun.

Kini 5 tahun setelah signal ketidak beresan budaya ngutang tersebut mulai terdeteksi (2006), bank-bank sentral dunia berada dalam situasi yang sangat dilematis. Mereka hanya bisa mengerem arus ?peminjam? ini bila suku bunga dinaikkan. Namun bila suku bunga dinaikkan ? akan semakin banyak yang tidak bisa membayar. Ini terbukti bahwa pada tahun 2009, hanya 10% penurunan outstanding balance dari  credit card di AS yang  berasal dari pembayaran credit card balance-nya. Yang terjadi adalah masyarakat yang gali lubang tutup lubang, membuka credit card baru untuk menutup yang lama.

Masalah ini mungkin bisa diatasi bila pemerintah berhasil meningkatkan lapangan kerja dan meningkatkan penghasilan rakyatnya ? sehingga mereka mampu membayar hutang. Namun kenyataan menunjukkan hal yang  sebaliknya; karena pemerintah sibuk menalangi bank-bank dan lembaga keuangan yang gagal sampai trilyunan Dollars ? juga karena kegalan peminjam yang lain! Pemerintah terpaksa mengamankan kebijakan fiskalnya dengan memotong anggaran ? yang berarti bukan mengurangi pengangguran tetapi malah menambah pengangguran.

Akibat dari lingkaran setan proses pemiskinan melalui gaya hidup ngutang ini, menurut Andrew tersebut di atas ?Masyarakat kelas menengah di dunia barat, bertahan hidup (surviving) hanya dengan berhutang, mereka akan menjadi korban Class DefaultMasyarakat kelas atas akan semakin konsumtif, sedangkan masyarakat kelas menengah akan tenggelam ke kelas di bawahnya atau kelas pekerja?.

Well, apakah budaya kita mirip dengan budaya yang digambarkan oleh Andrew tersebut? Kalau iya ? ini mungkin waktu terbaik kita untuk keluar dari sistem ribawi ke sistem perdagangan tanpa riba. Keluar dari gaya hidup ngutang, ke gaya hidup produktif. Keluar dari gaya hidup konsumtif ke gaya hidup infaq dan shadaqah.

Insya Allah kita tidak akan ikut terjerembab di lubang biawak, bila kita tidak mengikuti mereka. Wa Allahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

Digital Nomad: Generasi Pekerja Baru


Ada pemandangan baru yang sejak beberapa tahun ini mulai marak di café, restaurantfood court, bandara, terminal dan bahkan di emperan Masjid. Pemandangan ini adalah orang-orang yang tidak mengenal usia asyik ber-internet dengan berbagai keperluannya. Kebanyakan mungkin (masih) untuk sekedar main-main atau membuang waktu percuma; tetapi tidak sedikit pula di antara mereka yang sedang serius bekerja menangani hal-hal yang sangat produktif.

Para pekerja yang tidak lagi tergantung pada tempat dan waktu ini, mereka bisa bekerja kapan saja dan dimana saja asal bisa connect dengan internet. Melalui internet ini pula pekerjaan mereka dilaporkan keatasannya, di-share dengan mitra kerja, ditindak lanjuti sub-ordinate-nya; di-response kliennya, dlsb. Pekerja generasi baru inilah yang disebut pekerja Digital Nomad.

Bagi perusahaan yang meng-optimalkan pekerja Digital Nomad ini bisa sangat diuntungkan karena tidak harus menyediakan kantor yang mahal, biaya transportasi, listrik, dlsb.  Bagi pekerja Digital Nomad sendiri, ini juga menjadi peluang tersendiri untuk bisa bekerja sesuai selera kapan dan dimana dia suka -  hemat waktu dan biaya. Penghematan ini mulai dari waktu perjalanan ke kantor sampai biaya pakaian. Bagi pemerintah ini juga bisa menghasilkan penghematan yang luar biasa dalam bentuk berkurangnya kemacetan, kebutuhan listrik, bahan bakar, dlsb.

Dahulu ketika saya masih ngantor di pusat kota misalnya, setiap hari saya sekitar 3 jam pergi pulang di mobil. Dengan saya memutuskan untuk tidak bekerja di pusat kota Jakarta pada saat usia produktif; kepadatan lalu lintas Jakarta telah berkurang satu mobil setiap hari; 15 liter bensin dihemat setiap hari; sekian CO2 terkurangi.

Bila langkah ini diikuti oleh 1,000 orang, maka kepadatan lalu lintas Jakarta akan berkurang secara significant. Apalagi kalau yang mengikutinya 1 juta orang. Maka inilah menurut saya salah satu cara Jakarta melawan kemacetan dan polusi udara. Bukan hanya kemacetan dan bahan bakar yang dihemat, tetapi juga dari makanan dan pakaian.

Bila Anda bekerja di kantor ? ongkos makan siang Anda cenderung jauh lebih mahal ketimbang keluarga Anda yang di rumah. Pakaian juga demikian, bila Anda eksekutif secara berkala Anda harus membeli baju baru, dasi dan bahkan jas untuk bekerja. Ini semua tidak Anda perlukan bila Anda pekerja Digital Nomad. Bekerja dengan sarungan-pun jadilah, karena sarung ini adalah salah satu pakaian nasional kita yang selama ini  termarginalkan.

Apakah ini mudah dilakukan? Mudah sih tidak, karena menyangkut perubahan budaya yang luar biasa. Tetapi bagi pimpinan-pimpinan kantor yang berwawasan ke depan, bisa jadi inilah peluang Anda untuk membawa perusahan atau instansi Anda untuk unggul di era teknologi yang mau tidak mau kita telah memasukinya. Bila Anda tidak segera mulai, sedangkan pesaing Anda memulai lebih dahulu ? kemungkinan besar Anda akan kalah bersaing dalam efisiensi dan akan ditinggalkan oleh tenaga-tenaga terbaik Anda. Mengapa demikian?

Kalau ditanya diri kita masing-masing; besar kemungkinan kita sebenarnya ingin bekerja secara bebas tidak dikungkung tempat dan waktu. Nah kalau tenaga terbaik Anda ditawari oleh pesaing Anda dengan system kerja bebas semacam ini, besar peluangnya dia akan terpengaruh. Sebaliknya kecil sekali kemungkinan Anda bisa merekrut tenaga-tenaga yang sudah terbiasa kerja secara Nomad untuk nongkrong di kantor tertentu pada jam tertentu.

Apakah pekerjaan ala Digital Nomad ini hanya cocok untuk pekerjaan seperti penulis, wartawan, designer, programmer dan sejenisnya? Sebelum saya ikut menerjuninya dahulu saya juga berpendapat demikian. Namun setelah saya benar-benar terjun di dalamnya;  ternyata bekerja dengan model Digital Nomad, dapat pula dilakukan untuk pekerjaan-pekerjaan yang dahulu tidak terbayangkan ? toko emas ?pun seperti Dinar Islam dapat dijalankan fully secara Digital Nomad. Kadang saya bekerja di rumah, kadang di Masjid, kadang di Mall; kadang di Mobil bahkan sering dari kandang kambing di Jonggol yang sudah internet ready.

Pekerjaan seperti yang Anda lakukan sekarang-pun sangat mungkin ditangani secara Digital Nomad bila Anda (dan atasan Anda bagi yang punya atasan) mau berpikir serius. Hampir seluruh pekerjaan kantoran pada umumnya, bisa dilakukan oleh para Digital Nomad sekarang; hanya sebagian kecil saja yang belum bisa dilakukan seperti pekerjaan customer services, dan pekerjaan lain yang membutuhkan kehadiran fisik ? tetapi inipun jumlahnya akan terus menurun sejalan dengan kemajuan teknologi.

Apakah Anda siap untuk pekerjaan Digital Nomad ini? Tes-nya sederhana saja. Drive atau penggerak produktifitas Anda ada dalam diri Anda atau ada di luar diri Anda? Bila Anda memiliki self drive untuk bekerja optimal tanpa harus ditongkrongi atasan Anda; maka insya Allah Anda siap untuk memasuki jenis pekerjaan para Digital Nomad.

Siapa sih yang tidak ingin bekerja dekat rumah, bisa mengatur waktu secara fleksibel, bisa memiliki quality time untuk keluarga? Lebih-lebih bagi kaum wanita. Dengan Digital Nomad Anda bisa berkarir sampai manapun ? tanpa harus meninggalkan fitrah ke-ibu-an Anda untuk dekat dan mendidik anak-anak Anda kapan-pun mereka membutuhkannya. Insya Allah?

Posted in Business OpportunityComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes