Tag Archive | "benda riil"

Mengalahkan Inflasi, Insya Allah Kita Bisa


Dalam Ilmu Ekonomi, yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan harga-harga terhadap barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Menurut para penganut Teori Monetarist, penyebab utama inflasi ini adalah supply uang. Bahkan dalam pandangan Monetarist Economist terkenal Milton Friedman “Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon.”

Dalam sistem ekonomi barat ada yang berpendapat bahwa inflasi ini ada positifnya karena antara lain berguna untuk mendorong investasi sektor riil. Ketika inflasi tinggi orang cenderung untuk tidak mempertahankan assetnya dalam bentuk uang – tetapi dalam bentuk barang, kebutuhan akan barang inilah yang mengangkat produksi dan memutar ekonomi.

Dalam Islam, produksi sektor riil tidak didorong oleh inflasi tetapi oleh putaran uang yang lebih cepat. Kekayaan bukan untuk ditimbun tetapi berputar ke masyarakat luas – berputar tidak hanya pada yang kaya tetapi juga pada yang miskin. Dalam pandangan Ibnu Taimiyyah, pemerintah yang mencetak fulus melebihi kebutuhan transaksi – dus menyebabkan inflasi – adalah pemerintah yang mendhalimi rakyatnya.

Pandangan Ibnu Taimiyyah inilah yang sebenarnya lebih pas untuk manusia modern di zaman ini sekalipun. Pemerintah-pemerintah dunia akan mampu menjaga kemakmuran rakyatnya bila mereka bisa menurunkan atau bahkan menghilangkan inflasi – kalau saja mereka mau!

Rice Price in US$Contoh betapa inflasi menyengsarakan rakyat seluruh dunia dapat Anda lihat pada grafik di samping. Grafik yang saya buat berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Rice Research Institute (IRRI) ini menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir saja, harga beras di dunia telah mengalami kenaikan rata-rata hampir 2X lipat. Padahal sangat sedikit porsi penduduk dunia yang bisa meningkatkan penghasilannya 2X lipat dalam periode tersebut.

Artinya, rata-rata penduduk dunia menurun tingkat kemakmurannya – karena penurunan daya beli uangnya ini. Hal ini juga bisa kita rasakan di rumah tangga kita masing-masing. Bisa saja penghasilan kita meningkat dari tahun ke tahun, tetapi kok beban hidup tidak terasa lebih ringan ya…? Bila Anda merasakan hal yang sama – sangat bisa jadi ini karena kenaikan penghasilan Anda kalah cepat dengan inflasi terhadap harga-harga kebutuhan pokok Anda.

Yang bisa mengendalikan inflasi ini adalah pemerintah khususnya otoritas moneter; rakyat seperti kita tidak bisa mengendalikan inflasi ini. Meskipun demikian, sebenarnya ada yang bisa dilakukan oleh rakyat seperti kita-kita untuk tidak menjadi korban inflasi ini. Dengan apa kita dapat melakukan ‘perlawanan’ terhadap inflasi ini?

Dengan meminimise penggunaan uang yang menjadi penyebab inflasi tersebut. Menurut para penganut paham Monetarist di atas, inflasi kan disebabkan oleh supply uang – ya jangan taruh kekayaan Anda yang kegunaannya bersifat jangka panjang dalam bentuk uang. Bila Mayoritas kekayaan Anda tersimpan dalam nominal mata uang (Rupiah, US$, dlsb), maka daya beli kekayaan Anda tersebut akan terus menurun bersamaan dengan waktu. Bila dalam 5 tahun terakhir saja harga beras internasional rata-rata naik 2X, berarti daya beli uang Anda terhadap beras turun tinggal ½-nya – maka bisa Anda bayangkan bila 15 tahun dari sekarang Anda pensiun misalnya – maka saat itu daya beli asset Anda bisa jadi sangat tidak memadai untuk kehidupan saat itu.

Dalam situasi inflasi yang sangat tinggi sekalipun (hyper inflasi), harga barang-barang naik relatif bersamaan – maka nilai tukar benda riil yang satu relatif stabil terhadap benda riil yang lain. Artinya bila asset Anda berupa benda riil yang tidak aus atau rusak, maka daya beli asset Anda tersebut insya Allah akan relatif stabil. Salah satu benda riil yang tidak aus/rusak, sangat likuid dan statitisk daya belinya terbukti sepanjang zaman adalah Emas atau Dinar.

Rice Price in GoldEmas atau Dinar terbukti memiliki daya beli relatif stabil sepanjang lebih dari 1, 400 tahun; bukan hanya dengan 1 Dinar tetap dapat membeli 1 ekor kambing sejak zaman Nabi – sampai sekarang; untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras pun insya Allah relatif stabil. Bila data dari IRRI tersebut saya sajikan kembali dalam nilai emas; maka Anda akan bisa lihat pada grafik di samping bahwa harga beras rata-rata berfluktuasi di sekitar 0.7 oz emas/ton beras. Ada yang di kisaran 1 oz emas/ton beras, namun ada juga yang di 0.5 oz emas/ton beras.

Perbedaan harga karena jenis/kwalitas ini wajar, karena di barang apapun termasuk di kambing pun juga demikian. Kambing-kambing yang kami pelihara di Pesantren Daarul Muttaqiin untuk indukan rata-rata 2 Dinar, bahkan pejantan unggul bisa berharga di atas 10 Dinar. Tetapi secara umum di pasar 1 Dinar akan tetap dapat untuk membeli kambing yang cukup baik.

Demikian pula di beras; ada beras Jepang yang sangat mahal, tetapi dengan 0.7 Oz emas atau sekitar 5 Dinar Anda tetap dapat membeli beras 1 ton di sepanjang masa. Masih ada satu lagi, dalam 5 tahun terakhir setelah ditimbang/dinilai dengan emas-pun harga beras tidak menjadi datar – tetapi bergelombang membentuk gelombang sinus; inilah dampak dari naik turunnya harga yang fitrah karena mekanisme pasar supply and demand – bukan lagi faktor inflasi.

Karena inflasi bisa dilawan dengan pertukaran barang yang satu dengan yang lain tanpa menggunakan uang; maka inilah yang melatar belakangi bangsa-bangsa di dunia sedang berlomba menciptakan Sistem Barter Modern – seperti juga yang sedang kita kaji dalam IndoBarter Project. Tidak akan mudah memang, tetapi untuk sesuatu problem yang tidak pernah bisa diatasi oleh pemerintah-pemerintah dunia – yaitu problem inflasi; maka hal yang sulit tersebut cukup menantang untuk dicoba – Insya Allah.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Antara Mekanisme Pasar Yang Fitrah & Inflasi Yang Harus Dicegah


Sudah beberapa hari ini harga emas mengalami penurunan dan puncaknya semalam ketika pasar internasional turun secara significant dari US$ 1,121/Oz ke angka US$ 1,108/Oz. Akibatnya pagi ini harga Dinar kembali turun mendekati angka Rp 1.4 juta lagi. Ini kabar baik bagi kita yang di Indonesia, bahwa uang kita masih bernilai baik – meskipun (mungkin) ini hanya bersifat jangka pendek.

Pada kesempatan ini saya ingin share data harga emas dalam Rupiah yang sudah terkumpul di sistem kami sejak 14 September 2007. Pada grafik di bawah Anda akan lihat pergerakan naik turunnya harga emas harian, yang kurang lebih berimbang antara hari-hari dimana harga emas naik dan hari-hari dimana harga emas turun.

Naik turunnya harga emas harian ini lebih banyak didorong oleh mekanisme pasar yang bekerja secara global; ketika harga tinggi orang banyak yang menjual emasnya sehingga supply meningkat dan akan mendorong harga turun. Demikian pula ketika harga rendah, banyak peminat akan berburu emas sehingga demand meningkat dan harga kembali naik, demikian seterusnya.

daily-changeKalau harga emas hanya didorong oleh mekanisme pasar, maka seharusnya angka berfluktuasi pada kisaran nilai tertentu – seperti bandul jam yang berayun di sekitar angka 6.  Namun ternyata tidak demikian yang terjadi pada harga emas; di awal sistem kami mulai mencatat harga emas harian, harga ini berada di kisaran Rp 220,000/gram ; kini harga berada pada kisaran Rp 330,000/gram atau naik sekitar 50% dalam 2.5 tahun terakhir.

Artinya selain mekanisme pasar yang mendorong berayunnya harga emas secara harian tersebut; ada kekuatan lain yang hari demi hari mendorong harga emas ke atas. Kekuatan lain ini hanya nampak bila kita lihat dalam rentang waktu yang panjang  - kekuatan apa ini? Inilah yang namanya inflasi atau penurunan daya beli uang kertas terhadap benda riil yang dalam hal ini diwakili oleh emas.

Naik turunnya harga karena mekanisme pasar ini tidak boleh dicampuri oleh siapapun; bahkan dalam Islam, Rasulullah SAW-pun tidak mau mempengaruhi-nya sebagaimana Hadits Ashabus Sunan dengan perawi yang shahih sebagai berikut:

Telah meriwayatkan dari Anas R.A., ia berkata :Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami. Rasulullah SAW lalu menjawab, ‘Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta.”

Sebaliknya dorongan kenaikan harga secara terus menerus yang disebabkan oleh inflasi mata uang kertas, ini tidak boleh terjadi. Penguasa negeri wajib mengendalikan jumlah uang (fulus) yang beredar sehingga rakyat tidak terdhalimi oleh penurunan nilainya. Inilah yang sudah juga diingatkan oleh Ibnu Taimiyyah berikut:

Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga, kertas, dlsb.) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka.”

Masalahnya sekarang adalah kita hidup di zaman uang kertas; di seluruh dunia uang kertas inilah yang digunakan – dan tidak ada satu negarapun yang terbukti bisa mengendalikan inflasi. Maka sangat bisa jadi kini zamannya sudah semakin dekat prediksi pemenang hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1974 Friedrich August Von Hayek, dan juga prediksi ‘Dewa’ Ekonomi-nya dunia barat John Naisbitt untuk terbukti: masanya uang ‘swasta’ untuk berjaya menggantikan uang nasional.

Bila megatrend itu bener-bener terjadi, maka insya Allah kita-pun sudah siap untuk menyongsongnya. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke JalanNya. Amin.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Islamic ViewComments (0)

Paradox US$, Rupiah & Harga Emas


Melalui beberapa tulisan saya sebelumnya, saya sudah mengungkapkan ‘keperkasaan’ uang kertas US$ maupun Rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Rupiah misalnya saat artikel ini saya tulis berada pada nilai tukar Rp 9,257/US$ ; ini angka yang luar biasa ‘perkasa’ mengingat Rupiah sempat menyentuh angka Rp 12,000/US$ pada puncak krisis akhir 2008.

Logikanya adalah apabila Rupiah lagi perkasa, bukankah barang-barang kebutuhan kita bisa kita beli dengan murah saat ini? Ternyata tidak seluruhnya demikian. Untuk barang-barang yang biasa kita beli dari luar seperti komputer, software, dlsb.; memang terasa penurunan harga barang-barang ini dalam Rupiah.

Namun untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gula, dlsb; ibu-ibu yang suka belanja lebih tahu – harga barang-barang kebutuhan seperti ini tidak mengenal turun. Bahkan khususnya beras, saat ini lagi dirasakan mahal-mahalnya oleh masyarakat kita.

Mengapa demikian? Karena menguat atau melemahnya Rupiah bukan diukur dari daya beli riil terhadap kebutuhan kita sehari-hari; melainkan diukur relatif terhadap kekuatan mata uang lain. Padahal mata uang negara lain ini baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama tidak mencerminkan daya beli riilnya juga.

usd-index-0310Paradox kekuatan mata uang terhadap daya beli riilnya ini lebih mudah bila dilihat dengan harga barang yang bersifat baku. Lagi-lagi saya gunakan emas sebagai barang yang memiliki nilai daya beli baku karena sudah terbukti lebih dari 1400 tahun 4.25 gram emas (1 Dinar) cukup untuk membeli 1 ekor kambing.

Perhatikan grafik di samping untuk melihat Paradox daya beli US$ ini secara visual. Anda bisa lihat pada umumnya harga emas turun ketika kekuatan US$ yang diukur dengan US$ Index naik, namun beberapa bulan terakhir meskipun US$ Index naik – harga emas dalam US$ juga tetap naik.

Apa maknanya ini? Inilah tanda-tanda menurunnya daya beli secara keseluruhan dari sistem mata uang dunia. US$ yang sedang menunjukkan keperkasaannya saja, daya belinya secara significant menurun sampai lebih dari 50% dalam waktu kurang dari 5 tahun saja (tepatnya sejak januari 2006). Apalagi mata uang negara lain yang pada umumnya lemah!

Trend inilah yang saya duga juga dipahami oleh petinggi IMFsehingga merekapun mendorong bangsa-bangsa di dunia untuk siap-siap meninggalkan US$ – terlepas dibalik ini sangat bisa jadi mereka juga memiliki agenda lain untuk mengantisipasi kehancuran US$ ini.

Lantas apa langkah antisipasi kita untuk terhindar dari depresiasi nilai terhadap hasil jerih payah kita berpuluh tahun? Usahakan simpanan jangka panjang Anda dalam bentuk benda-benda atau investasi yang memiliki aset riil seperti Emas/Dinar, kebun, barang dagangan, dlsb. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Dan IMF-pun Mengajak Meninggalkan US$?


Ada berita menarik yang bisa Anda baca pada harian Republika yang terbit kemarin (02/03/2010) bahwa IMF menyerukan untuk meninggalkan US$!! Berita ini sendiri tentu saja valid karena merujuk  pernyataan Dominique Strauss-Kahn, the head of the International Monetary Fund (IMF) pada jum’at pekan lalu.

Bukannya saya lebih tahu atau lebih pintar dari pimpinan tertinggi IMF tersebut; namun kalau Anda baca tulisan saya hampir 6 bulan lalu dengan judul Tinggalkan Dollar Selagi Sempat , maka Anda akan tahu bahwa seruan atau wacana yang dilontarkan oleh orang nomor 1 di IMF ini adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan dan tidak akan mengejutkan Anda.

Masalahnya yang perlu diwaspadai oleh umat dan juga bangsa-bangsa lain di dunia adalah – ada apa dibalik pernyataan ini. Mengapa baru sekarang wacana mengganti US$ dimunculkan? Dan apa pengganti US$ yang mereka pikirkan?

Saya mencoba menduga-duga apa kira-kira jawaban atas 2 pertanyaan tersebut di atas. Mengenai mengapa baru sekarang wacana ini dimunculkan; dugaan saya karena mereka (para petinggi IMF) juga tahu kalau US$ tidak akan survive dalam waktu yang lebih lama lagi – wacana ini dimunculkan untuk semacam sosialisasi ke dunia akan kondisi yang sangat mungkin akan terjadi.

imf-failedNampaknya mereka ingin memperbaiki sejarah kegagalan IMF pertama, ketika terjadi kejutan Nixon Shock Agustus 1971 – dimana secara sepihak dan mendadak – Nixon mengguncang Dunia dengan meninggalkan emas sebagai rujukan mata uang US Dollar-nya. Kali ini mereka ingin masyarakat dunia tahu dulu – bahwa US Dollar berkemungkinan gagal (lagi) dan dunia tidak akan bisa mengandalkannya.

Lantas mengapa mereka ‘berbaik hati’ memberi isyarat pada dunia bahwa US$ akan gagal? Sederhana – karena mereka juga masih ingin (tetap) memimpin dunia dengan aturannya. Ingat ketika IMF gagal pertama dengan kejadian Nixon Shock Agustus 1971;  penggantinya tetap IMF juga hanya ‘undang-undang’-nya yang berganti dari Breton Woods Agreement (1945) menjadi Article of Agreement of IMF yang ditandatangani di Smithsonian Institute – December 1971. Dari lokasi penanda tangananan ini saja sebenarnya umat Islam yang cerdas sudah harus tahu siapa di belakang mereka ini dan untuk kepentingan siapa program-program mereka dibuat.

Pertanyaan ke-2 mengenai apa pengganti US$ yang mereka pikirkan? Terungkap dari pernyataan Dominique bahwa pengganti US$ sebagai reserve currency yang akan datang adalah similar to but distinctly different from the IMF’s Special Drawing Rights, or SDRs.

SDR adalah reserve asset yang diciptakan oleh IMF tahun 1969; awalnya nilai 1 SDR setara dengan 0.888671 gr emas – yang seharusnya saat itu juga bernilai 1 US$.  Setelah kejadian Nixon Shock tersebut di atas, ‘uang’ SDR yang tadinya setara emas tersebut-pun berganti menjadi setara dengan sekeranjang mata uang kuat dunia. Untuk saat ini isi keranjang tersebut terdiri dari US$, Poundsterling, Euro dan Yen.

Lantas berapa nilai SDR tersebut sekarang? Hari Senin kemarin (01/03/2010) 1 SDR nilainya setara dengan US$ 1.52771 atau kalau dibelikan emas hanya dapat 0.0425 gram. Jadi uang SDR itu-pun kini nilainya tinggal sekitar 1/20 dari nilai awal ketika diperkenalkan 41 tahun lalu.

Maknanya apa ini semua? Bila US$ sebagai reserve asset diganti dengan SDR bentuk baru sekalipun (yang dikatakan Dominique sebagai similar but distinctly different dengan SDR yang sekarang) – tetap tidak dapat menjadi reserve asset yang sesungguhnya – karena nilainya juga mengalami keruntuhan sebagaimana sekeranjang mata uang kertas yang digunakan untuk menghitung nilainya.

Kita umat Islam tidak seharusnya menggunakan timbangan yang mereka ciptakan; kita memiliki timbangan yang adil sepanjang masa – yaitu emas, perak, gandum, kurma dan benda-benda riil yang memiliki nilai instrinsik lainnya. Waktunya kita mengikuti petunjuk jalan kita sendiri dan tidak mengikuti mereka memasuki “lubang biawak” berikutnya. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

China Bersiap Memimpin Perdagangan Dunia Tanpa US$?


Kinerja US$ terus menjadi keprihatinan para pemimpin dunia, terutama negara yang memegang US$ dalam jumlah terbesar seperti China. Di sela-sela  pertemuan dengan para petinggi Amerika tahun lalu, secara terus terang Asisten Menteri Keuangan China Zhu Guang Yau mengungkapkan: Pemerintah China sebagai pemerintahan yang bertanggung jawab, pertama dan paling penting harus bertanggung jawab pada rakyat China. Jadi tentu kami prihatin dengan keamanan aset-aset China”. Yang dimaksud aset-aset China dalam pertemuan ini adalah aset China dalam bentuk US Treasury Debt yang kini nilainya telah mencapai US$ 801.5 milyar.

Meskipun pertemuan ditutup dengan penuh semangat seperti yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton kami telah meletakkan dasar-dasar yang positif, kooperatif dan hubungan yang komprehensif abad 21; dunia tidak menutup mata atas upaya-upaya lain yang nampaknya juga dilakukan oleh China sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap rakyat China – seperti yang diungkapkan oleh Zhu tersebut.

Ada 2 hal yang dilakukan China untuk menggantikan atau setidaknya mengurangi ketergantungan terhadap US$ dalam perdagangan internasional.

  1. Pendekatan bottom-up untuk menggantikan US$ dengan Yuan, tidak melalui sistem perbankan – tetapi melalui perdagangan. Dengan negara terbesar di Amerika selatan – Brasil misalnya , mereka telah menyepakati rencana untuk menggunakan Yuan langsung sebagai pengganti US$ dalam perdagangan antara kedua negara ini. Setelah itu, target besar berikutnya adalah OPEC yang diharapkan akan segera dapat menerima Yuan untuk pembayaran minyak produksi mereka.
  2. Langkah yang masih misterius karena sangat dirahasiakan, kemungkinan besar melibatkan juga negara kuat Jerman, selain Brasil, Rusia dan India yang bersama China sebelumnya telah intensif bicara dalam forum BRIC.
US Treasuries

US Treasuries

Yang mereka sedang persiapkan secara rahasia nampaknya semacam sistem barter yang canggih, yang tidak melibatkan uang fiat seperti US$. Hal ini sedikit bocor oleh pernyataan salah satu konsultan mereka yang antara lain mengungkapkan: Ketika terjadi keambrukan (sistem finansial dunia yang didominasi US$), sistem ini tidak akan membutuhkan reserve currencies lagi, karena 95% dari transaksi akan berupa barter atau imbal dagang yang canggih melalui platform perdagangan yang sedang di-design untuk siap beroperasi awal 2010. Sistem baru ini akan meniadakan peran bank yang selama ini menjadi jalur sempit (bottleneck) dalam perdagangan secara lokal, nasional dan internasional.

Betapapun siapnya negara China untuk menggantikan Amerika dalam perdagangan dunia, negara-negara yang penduduk terbesarnya Muslim seharusnya memiliki langkah-langkah tersendiri dan tidak mengikuti atau terbawa arus oleh negara lain, baik itu Amerika maupun China. Keduanya tidak bersahabat dengan Dunia Islam seperti apa yang ditunjukkan Amerika di Palestina, dan apa yang dilakukan China terhadap saudara-saudara kita Muslim Uighur.

Selain karena faktor politik ini, sebenarnya Dunia Islam telah memiliki platform perdagangan yang berbasis Dinar, yang memang sudah mengedepankan perdagangan benda riil ke benda riil lainnya. Dengan sistem Dinar, perdagangan tidak perlu ribet seperti dalam sistem barter – tetapi juga tidak perlu rentan terhadap fluktuasi nilai mata uang masing-masing negara karena nilai daya beli Dinar yang baku secara universal – tidak terpengaruh waktu dan tempat.

Negara-negara yang mau menggunakan sistem Dinar ini juga tidak perlu re-invent the wheel karena sistem yang mengatur perdagangan berbasis Dinar ini sudah lengkap, utuh dan proven karena telah lebih dari 1000 tahun diterapkan Dunia Islam – itulah Syariah.

Dengan keunggulan-keunggulan sistem Dinar ini; seharusnya Dunia Islam yang memimpin perdagangan dunia ke depan. Apalagi sumber daya alam terbesar seperti minyak, panas bumi, gas, hutan dan lain sebagainya tersedia dengan cukup di Dunia Islam tersebut.

Namun kalau harapan ini terlalu jauh, bila pendekatan top-down dari pemimpin-peminpin negara Islam untuk rakyatnya sulit diharapkan;  maka umat Islam yang cerdas-pun dapat memulainya dengan pola bottom-up. Umat sendiri yang secara luas menyebarkan dan menggunakan sistem perdagangan berbasis Dinar yang adil, maka setelah itu pemerintah-pemerintah negeri muslim suka atau tidak suka akan mengikuti kemauan dan kepentingan rakyatnya. Insya Allah

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Dinar Equity Exchange: Jual Beli Yang Nyaris Tanpa ‘Uang’


Krisis finansial global sungguh memberikan banyak hikmah bagi yang mau mengambil pelajaran darinya, salah satunya adalah pasar property di Amerika Serikat seperti yang ditulis oleh penulis kondang Robert Kiyosaki dalam bukunya The Real Book of Real Estate (Vanguard Press, 2009).

Dalam buku tersebut sebenarnya Robert Kiyosaki tidak menulisnya sendiri, dia hanya meng-compile pengalaman-pengalaman dari para praktisi real estate terbaik di negeri itu. Dari sekian banyak pengalaman-pengalaman tersebut, di sini saya hanya ambil satu saja yang menurut saya paling menarik yaitu pengalaman yang ditulis oleh Wayne Palmer seorang Exchangor atau Equity Marketing Specialist (EMS).

Profesi apakah EMS ini sebenarnya? Saya kesulitan mencari padanannya yang pas tetapi kurang lebih adalah semacam fasilitator perdagangan barter terutama untuk asset-aset bernilai tinggi seperti rumah, hotel, perkantoran, tanah perkebunan, dlsb.

Profesi EMS ini menjadi semakin penting belakangan ini di Amerika justru setelah mereka dilanda krisis. Begitu banyak orang ingin menjual atau mengganti rumahnya tetapi begitu sedikit pembeli yang punya uang. Uang (likuiditas) menyusut dengan drastis sehingga kalau hanya mengandalkan harus adanya uang untuk terjadi transaksi property, maka sangat sedikit property yang bisa berganti tangan semasa krisis ini.

Lantas apa solusinya? Barter antara pemilik rumah yang satu dengan pemilik rumah yang lain menjadi pilihan yang sangat menarik. Hanya saja barter rumah bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena seandainya si A dan si B sama-sama ingin menukar rumahnya – belum tentu A cocok dengan rumah si B dan sebaliknya.

sebelum-exchangeDisinilah dibutuhkan keahlian khusus untuk meng-arrange sejumlah orang yang ingin menukar rumahnya satu sama lain, yang masing-masing mendapatkan apa yang diinginkannya dan sekaligus memperoleh orang yang mau menerima apa yang ingin ditawarkannya.

Sebelum saya memberikan contoh, saya ganti dahulu mata uang atau timbangannya menjadi Dinar dan bukannya US$ – Mengapa? Karena sifat uang kertas yang nilainya terus menurun termasuk US$ – membuat mata uang US$ ini sebenarnya tidak dapat digunakan sebagai penilai yang adil bagi objek-objek yang akan di-barter-kan.

Sebaliknya Dinar adalah benda riil yang memiliki nilai intrinsik dan terbukti memiliki tingkat inflasi rata-rata 0% lebih dari 1400 tahun, akan menjadi penilai yang sempurna bagi sistem Equity Marketing yang di Amerka Serikat bahkan sudah ada asosiasinya yaitu National Council of Exchangors dan Society of Exchange Counselors ini.

Karena berbasis Dinar, maka sistem barter property ini saya namakan saja Dinar Equity Exchange (DEE). Bagaimana cara kerjanya? Berikut sebagai contoh.

Perhatikan gambar di atas; Pak Abdullah saat ini memiliki rumah setara 160 Dinar yang sebagian masih hutang KPR setara 60 Dinar. Karena naik pangkat dan pekerjaannya menuntut Pak Abdullah pindah rumah ke dekat kantor, maka beliau ingin pindah ke rumah di pusat kota meskipun harus menambah/memperbesar pinjaman rumahnya.

Pak Abdurahman juga demikian, disamping ingin memperbesar rumah dari rumahnya yang sekarang setara 100 Dinar, Pak Abdurahman perlu uang tunai setara 20 Dinar. Karena gajinya lumayan besar, Pak Abdurahman tidak keberatan untuk mengambil KPR untuk menutupi kekurangan dari pembelian rumahnya yang baru.

Pak Abdurrahman tertarik dengan rumah pak Abdullah, tetapi Pak Abdullah tentu tidak tertarik dengan rumah Pak Abdurrahman karena yang dibutuhkan Pak Abdullah adalah Rumah yang lebih besar di pusat kota, bukan rumah yang lebih kecil. Jadi barter belum bisa terjadi hanya 2 orang antara pak Abdullah dengan pak Abdurrahmann.

sesudah-exchangeMaka perlu kehadiran pihak ke-3, katakanlah namanya pak Abdurrazak yang sudah pensiun dan pingin rumah di pinggiran kota. Pak Abdurrazak ini punya rumah yang besar, namun juga punya hutang yang banyak. Dia hanya ingin pindah ke rumah yang kecil saja, dan juga ingin seluruh hutangnya lunas. Rumah Pak Abdurrahman sudah memadai bagi Pak Abdurrazak sekarang. Secara kebetulan rumah Pak Abdurrazak juga diminati oleh Pak Abdullah. Maka 3 orang tersebut bisa saling melakukan barter dalam 1 scheme dan hasilnya seperti pada gambar di samping.

Karena terdiri dari 3 pihak, maka solusi ini disebut Three-Way Exchange, sangat langka barter bisa terjadi antara 2 pihak saja atau Two-Way Exchange. Yang lebih sering diperlukan keterlibatan banyak pihak untuk bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Kalau tiga juga tidak cukup, dicari orang ke-4, kalau 4 belum cukup maka dicari orang ke-5 dan seterusnya. Barter yang melibatkan sejumlah besar orang ini disebut Multileg Exchange.

Di zaman informasi ini, urusan me-matching-kan antara sekian banyak kebutuhan dan sekian banyak penawaran dapat dilakukan dengan teknologi – minimal untuk identifikasi awal calon-calon exchangor yang diperkirakan tepat untuk diajak dalam 1 exchange scheme. Jadi secara teknis  tidak terlalu sulit untuk mengimplementasikan Dinar Equity Exchange ini.

Namun sebelum Anda keburu ingin menukar rumahnya melalui sistem ini ke rumah yang lebih besar atau sebaliknya; tunggu dahulu kesiapan kita untuk merapikan segala sesuatunya.

Di antara yang masih kita perlukan adalah team yang mengurusi aspek legal, perpajakan, pembiayaan, pertanahan, ahli penilai, ahli properti, dlsb. Setelah team ini ada, teknologi siap – maka insya Allah konsep Dinar Equity Exchange ini akan jalan pada waktunya. Bila Anda memiliki salah satu keahlian tersebut dan ingin aktif mengimplementasikan konsep ini, kami akan dengan senang hati mengundang Anda pada acara brainstorming session dan pembentukan team inti kita (team@dinarislam.com). Insya Allah.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (0)

Selagi Rupiah Perkasa: Dinar Sangat Murah


Bagi yang rajin mengamati grafik-grafik kecil di situs ini (di sebelah kanan bawah),  hari-hari ini akan melihat posisi harga Dinar yang tidak biasa di grafik tersebut. Khususnya pada grafik yang menggambarkan trend harga Dinar setahun terakhir.

Trend kenaikan yang biasanya berwarna biru positif, kini berwarna merah negatif. Bahkan angka negatifnya cukup besar, yaitu pagi ini mencapai 8.84%, mengapa hal ini bisa terjadi? Keperkasaan Rupiah jawabannya.

Dalam grafik tahunan, 12 bulan terakhir dihitung dari Februari 2009 sampai Januari 2010. Bulan Februari tahun 2009 lalu, emas dunia berada pada kisaran US$ 943/Oz dan Rupiah berada pada kisaran Rp 11,800/US$. Dinar saat itu berada pada kisaran Rp 1,550,000. Jadi dibandingkan dengan harga Dinar Februari 2009, Dinar saat ini tengah mengalami penurunan sekitar 8.84% tersebut di atas. Namun kalau dibandingkan Januari 2009, harga Dinar saat ini masih naik 7.20%.

Bila kita lihat harga emas Dunia Januari tahun lalu yang berada pada angka US$ 858.69; maka harga emas dunia pagi ini US$ 1,130.55 telah mengalami kenaikan 31.65%.

Artinya apa ini semua? Harga emas dunia sebenarnya masih berada pada periode mahal; karena keperkasaan Rupiah yang lagi luar biasa-lah yang membuat Dinar nampak murah saat ini. Rupiah yang mengalami penguatan dari Rp 11,800/US$ ke Rp 9,175/US$ atau penguatan sekitar 22% membuat  kita bisa menikmati emas atau Dinar yang relatif murah hari-hari ini.

Bukan hanya Dinar sebenarnya yang lagi murah, seluruh benda riil yang asalnya dari luar negeri yang diimpor dengan nilai US$ – juga menjadi terasa relatif murah saat ini. Waktu yang baik bagi Anda yang hendak mengganti notebook-nya, handphone, dlsb.

Hanya saja masa-masa keperkasaan Rupiah seperti saat ini tidak selamanya baik bagi ekonomi negeri ini secara makro. Para eksportir kita akan menurun daya saingnya di pasar internasional bila Rupiah terus menguat. Atas pertimbangan ini pula-lah kemungkinan besarnya para pengambil keputusan negeri ini juga tidak akan membiarkan Rupiah terlalu kuat.

Jadi selagi Rupiah perkasa…; proteksi keperkasaan tersebut dengan mengkonversinya ke benda riil yang dapat menyimpan nilai atau daya beli dalam jangka panjang. Semoga bermanfaat.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Annus Horribilis Untuk US$


Annus Horribilis diambil dari bahasa latin yang berarti horrible year atau tahun yang sangat buruk. Istilah ini dipopulerkan oleh Ratu Elizabeth II dari Inggris pada akhir tahun 1992, untuk menggambarkan betapa buruknya tahun itu. Pada tahun tersebutlah 2 anaknya bercerai dari istri-istrinya; Pangeran Andrew bercerai dengan Sarah (Maret 1992) dan Pangeran Charles bercerai dengan Lady Di (Desember, 1992).

Istilah ini belakangan banyak digunakan lagi, bukan untuk menggambarkan kondisi keluarga kerajaan – tetapi untuk menggambarkan kondisi ekonomi di berbagai negara. Dunia yang dilanda krisis sejak tahun sebelumnya (2008), belum sepenuhnya bisa pulih di tahun 2009. Bahkan di bulan Desember 2009, sinyal-sinyal krisis masih nampak jelas dengan munculnya krisis di Dubai.

Bagi para pelaku pasar, khususnya pasar emas Dunia – gejala krisis juga jelas terbaca dari kinerja harga emas dunia yang dinilai dalam US$. Akhir tahun 2009, harga emas dunia ditutup pada harga US$ 1,097.25/Oz atau mengalami kenaikan 26% dari akhir tahun sebelumnya.

Mengapa harga emas yang terus menjulang dalam US$ ini pertanda buruk bagi US$? Sederhana jawabannya, emas merepresentasikan benda riil yang memiliki daya beli tetap sepanjang zaman. 1 ekor kambing di zaman Nabi SAW seharga 1 Dinar (4.25 gram emas), 1 Dinar tetap dapat untuk membeli kambing pula sekarang. Mobil keluarga entry level dapat dibeli seharga 110 Dinar (15 Oz) pada tahun 1935; dengan uang Dinar yang sama saat ini kita juga tetap dapat membeli mobil keluarga kelas entry level – baru!

US$ Value

US$ Value

Artinya bahwa bila dibandingkan dengan emas, US$ terus mengalami penurunan daya beli yang sangat significant. Masalahnya adalah penurunan ini belum nampak akan berhenti, jadi sampai berapa rendah nantinya daya beli US$ ini? hanya Allah-lah yang tahu. Yang jelas berdasarkan statistik harga emas dunia  sejak awal milenium baru Januari 2000, nilai US$ kini tinggal 25% saja dibandingkan dengan daya belinya di awal milenium tersebut.

Ibarat naik pesawat yang terus menukik kebawah dan si kapten tidak nampak bisa menguasai kendali, apakah kita akan tetap menunggu sampai pesawat menyentuh tanah dan hancur berkeping-keping? Saya tentu akan pilih tidak menunggu, saya akan pilih melompat selagi parasut itu ada.

Parasut ini bisa berupa emas/Dinar; sawah –ladang, ternak, property produktif, barang dagangan yang mudah dijual, dlsb. Parasut ini bukan mata uang kertas lain, karena kalau terjadi sesuatu dengan US$ – mata uang kertas lain akan tersedot ke pusaran krisisnya.

Anda-pun bisa memilih parasut Anda sesuai dengan minat dan kemampuan Anda untuk mengelolanya. Insya Allah kita bisa selamat dari US$ crash yang kita tidak tahu kapan tetapi arahnya sudah sangat jelas… Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Jaga Mudamu Sebelum Pensiunmu


Pada tanggal 23 Februari 1950, ekonom kondang Ludwig Von Mises menggambarkan kondisi para pensiunan di Amerika Serikat sebagai orang-orang yang di-euthanasia-kan oleh pemerintahnya (seperti orang sakit keras yang dibiarkan meninggal tanpa pertolongan). Tulisannya yang berjudul Euthanasia of the Pension Funds intinya menguraikan bagaimana para pensiunan menderita dengan daya beli yang terus menurun karena faktor inflasi.

60 tahun kemudian sampai hari ini,  para pensiunan di Amerika dan juga para pensiunan di seluruh dunia yang mengikuti sistem ekonomi ribawi-nya – tetap saja secara umum menderita secara finansial dan seolah masih juga di–euthanasia-kan oleh pemerintahnya masing-masing yang tidak mampu mengendalikan inflasi.

Ludwig Von Mises

Ludwig Von Mises

Bila inflasi menyengsarakan para pensiunan, apakah lantas kondisi sebaliknya bila terjadi deflasi akan memakmurkan mereka? Ternyata tidak juga. Di negeri yang sama Amerika Serikat, yang saat ini tingkat suku bunganya mendekati 0% – ternyata para pensiunan juga malah terancam kelangsungan penerimaan dana pensiunannya.

Mengapa demikian? Karena selama ini para pengelola dana pensiun mengandalkan instrumen finansial seperti deposito, government bond dan sejenisnya sebagai unggulan investasinya. Ketika deposito dan bond memberikan hasil yang sangat rendah, maka putaran dana mereka tidak memadai lagi untuk menopang program santunan yang berkelanjutan kepada para pensiunan.

Contoh yang konkrit juga terjadi di Jepang yang sudah sejak lama menganut rezim suku bunga rendah. Pengelola dana pensiun dari maskapai penerbangan terbesar negeri itu sampai harus menegosiasikan ulang dengan para pensiunannya untuk menurunkan penerimaan mereka. Pilihan yang sangat berat karena kalau penerimaan pensiunan diturunkan akan lebih menyengsarakan mereka, sementara bila dilanjutkan seperti semula perusahaannya yang tidak akan survive.

Jadi buah simalakamanya inflasi dan deflasi bagi pensiunan adalah begini: “Bila inflasi tinggi, para pensiunan berkemungkinan untuk terus dapat menerima pensiunnya – tetapi dengan daya beli yang terus menyusut. Sebaliknya bila terjadi deflasi, kemampuan para perusahaan/pengelola dana pensiun untuk secara berkelanjutan mampu membayarkan uang pensiun kepada yang berhak menerimanya yang terancam.”

Ketika Ludwig Von Mises menulis artikel tersebut di atas (60 tahun lalu) dicuekin oleh masyarakatnya, apa dampaknya? ya itu tadi sampai kini para pensiunan di Amerika Serikat tetap menderita.

pension-fundsNah bagaimana sekarang kita, agar sekian puluh tahun dari sekarang ketika kita pensiun tidak menghadapi simalakama inflasi dan deflasi ini? Berikut adalah beberapa poin yang bisa dilakukan:

  1. Mulai secara bertahap lindungi hasil jerih payah Anda dari risiko finansial inflasi dalam bentuk benda riil yang daya belinya bertahan.  Emas/Dinar; sawah, pohon, ternak, dlsb adalah beberapa diantaranya.
  2. Meskipun di tempat kerja Anda dapat jatah pensiun yang dikelola perusahaan/pengelola dana pensiun. Jangan terlalu mengandalkan dana pensiun ini – kemungkinan besarnya tidak akan cukup untuk menopang hari tua Anda. Menabung benda riil tetap Anda perlukan.
  3. Bila perusahaan/pengelola dana pensiun Anda mempunyai program yang mengijinkan Anda mengelola dana pensiun Anda sendiri – ambil program ini dan kelola sendiri di sektor riil. Bila belum mampu mengelola sendiri, cari mitra yang bisa mengelolanya sambil Anda belajar sektor-sektor usaha yang menjadi minat Anda.
  4. Banyak-banyak investasi pada diri Anda sendiri sedari muda. Ikut pelatihan-pelatihan bidang usaha yang menjadi minat Anda, banyak-banyak belajar berusaha.  Mencoba dan gagal di usia muda – masih lebih baik dibandingkan mencoba dan gagal di usia tua ketika sumber daya dan dana kita sudah tidak ada lagi. Tidak semua eksperimen usaha ini membutuhkan biaya; di Pesantren Wirausaha Anda bisa belajar berusaha tanpa harus mengeluarkan biaya satu sen-pun (alias GRATIS)!
  5. Banyak-banyak investasi pada orang-orang di sekitar kita; mendidik mereka dan membimbingnya. Mereka inilah yang akan menjalankan dan meneruskan usaha kita setelah kita lanjut dimakan usia.

Allhummaj’al khoyro ‘umry aakhirohu wa khoyro ‘amaly  khowaatimahu wa khoyro ayyaami yawma alqooka fiih, Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan  yang terbaik dari hariku  adalah hari ketika aku bertemu denganMu.” Amin.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Inflasi? Siapa Takut!


Salah satu momok perekonomian yang menyengsarakan rakyat adalah inflasi, bahkan salah satu unsur di Index Kesengsaraan (Misery Index) yang saya tulis pekan lalu juga masalah inflasi ini. Betapa tidak menyengsarakan; lha wong momok inflasi ini menyerang ke siapa saja tanpa terkecuali.

Si embok  di desa karena kemiskinannya hanya mampu membeli beras paling murah seharga Rp 2,500/kg tahun 2003; beras yang sama kini baru bisa dibeli dengan harga Rp 4,025/kg. Pasangan muda yang 5 tahun lalu melahirkan anak pertamanya dengan biaya Rp 5 juta; anak ke-3-nya yang lahir tahun ini, di rumah sakit yang sama dengan layanan yang sama harus dibayarnya dengan biaya lebih dari Rp 8 juta.

Kenaikan harga-harga secara umum ini dapat Anda hitung sendiri  perkiraan kasarnya dengan menggunakan Index Harga Konsumen, yang antara lain datanya bisa kita peroleh dari situs resminya Bank Indonesia. Dengan cara yang sama inflasi yang tercermin dari Index Harga Konsumen ini bukan hanya menyengsarakan kita semua saat ini, tetapi juga bisa menyengsarakan kita di masa-masa mendatang bila tidak kita pahami dan atasi dari sekarang.

Mengapa demikian? Bila selama ini tabungan kita memberikan hasil 6% misalnya di bank, bertambahkah uang kita? Angkanya memang bertambah, tetapi karena Indek Harga Konsumen mengalamai kenaikan rata-rata 8.75% per tahun selama 5 tahun terakhir – maka sejatinya daya beli tabungan kita tersebut bukannya bertambah – malah berkurang.

Demikian-pula berbagi bentuk investasi kita lainnya; kalau selama ini angkanya kelihatan besar – coba Anda kurangkan dengan kenaikan Index Harga Konsumen; masihkah angkanya positif? Kalau masih positif, masihkah angkanya cukup menarik untuk Perencanaan Keuangan Anda jangka panjang?

Namun sebenarnya inflasi ini bisa dengan relative mudah kita lawan, yaitu bila tabungan kita berupa benda riil yang apresiasi nilainya melebihi inflasi. Dinar adalah salah satu contoh saja dari benda riil yang bisa mengalahkan inflasi ini; dari grafik dan data tersebut di atas, kita tahu 5 tahun terakhir Dinar mengalami apresiasi nilai ratra-rata 20.32% sedangkan Inflasi rata-rata ‘hanya’ 8.75%.

Dinar memberikan hasil investasi yang jelas lebih dari cukup untuk mengimbangi melonjaknya harga-harga barang dan jasa karena inflasi, seperti dalam beberapa contoh kasus tersebut di atas. Jadi, tools untuk melawan inflasi ini sungguh ada… tinggal kita mau gunakan atau tidak, ini sepenuhnya terserah kita…, Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (2)

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes