Tag Archive | "benda riil"
Posted on 03 March 2010. Tags: 1 Dinar, 4.25 gram, barang dagangan, benda riil, beras, daya beli riil, daya beli US$, depresiasi nilai, Dinar, emas, gula, harga barang & jasa, harga emas, harga naik, hasil jerih payah, IMF, investasi, jangka panjang, kambing, kebun, komputer, mata uang, minyak goreng, murah, nilai baku, Paradox, penurunan daya beli, relatif, Rupiah, software, tinggalkan US$, trend, uang kertas, US$, US$ Index
Melalui beberapa tulisan saya sebelumnya, saya sudah mengungkapkan ‘keperkasaan’ uang kertas US$ maupun Rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Rupiah misalnya saat artikel ini saya tulis berada pada nilai tukar Rp 9,257/US$ ; ini angka yang luar biasa ‘perkasa’ mengingat Rupiah sempat menyentuh angka Rp 12,000/US$ pada puncak krisis akhir 2008.
Logikanya adalah apabila Rupiah lagi perkasa, bukankah barang-barang kebutuhan kita bisa kita beli dengan murah saat ini? Ternyata tidak seluruhnya demikian. Untuk barang-barang yang biasa kita beli dari luar seperti komputer, software, dlsb.; memang terasa penurunan harga barang-barang ini dalam Rupiah.
Namun untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gula, dlsb; ibu-ibu yang suka belanja lebih tahu – harga barang-barang kebutuhan seperti ini tidak mengenal turun. Bahkan khususnya beras, saat ini lagi dirasakan mahal-mahalnya oleh masyarakat kita.
Mengapa demikian? Karena menguat atau melemahnya Rupiah bukan diukur dari daya beli riil terhadap kebutuhan kita sehari-hari; melainkan diukur relatif terhadap kekuatan mata uang lain. Padahal mata uang negara lain ini baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama tidak mencerminkan daya beli riilnya juga.
Paradox kekuatan mata uang terhadap daya beli riilnya ini lebih mudah bila dilihat dengan harga barang yang bersifat baku. Lagi-lagi saya gunakan emas sebagai barang yang memiliki nilai daya beli baku karena sudah terbukti lebih dari 1400 tahun 4.25 gram emas (1 Dinar) cukup untuk membeli 1 ekor kambing.
Perhatikan grafik di samping untuk melihat Paradox daya beli US$ ini secara visual. Anda bisa lihat pada umumnya harga emas turun ketika kekuatan US$ yang diukur dengan US$ Index naik, namun beberapa bulan terakhir meskipun US$ Index naik – harga emas dalam US$ juga tetap naik.
Apa maknanya ini? Inilah tanda-tanda menurunnya daya beli secara keseluruhan dari sistem mata uang dunia. US$ yang sedang menunjukkan keperkasaannya saja, daya belinya secara significant menurun sampai lebih dari 50% dalam waktu kurang dari 5 tahun saja (tepatnya sejak januari 2006). Apalagi mata uang negara lain yang pada umumnya lemah!
Trend inilah yang saya duga juga dipahami oleh petinggi IMF, sehingga merekapun mendorong bangsa-bangsa di dunia untuk siap-siap meninggalkan US$ – terlepas dibalik ini sangat bisa jadi mereka juga memiliki agenda lain untuk mengantisipasi kehancuran US$ ini.
Lantas apa langkah antisipasi kita untuk terhindar dari depresiasi nilai terhadap hasil jerih payah kita berpuluh tahun? Usahakan simpanan jangka panjang Anda dalam bentuk benda-benda atau investasi yang memiliki aset riil seperti Emas/Dinar, kebun, barang dagangan, dlsb. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Financial Plan
Posted on 02 March 2010. Tags: 15 Agustus 1971, Article of Agreement of IMF, benda riil, Breton Woods Agreement, Dominique Strauss-Kahn, dunia, emas, Euro, gandum, IMF, International Monetary Fund, Islam, kegagalan IMF, kurma, lubang biawak, mata uang, nilai intrinsik, Nixon, Nixon Shock, perak, Poundsterling, reserve asset, rujukan mata uang, SDR, Smithsonian Institute, sosialisasi, Special Drawing Rights, timbangan, tinggalkan US$, uang kertas, US Dollar, US$, World's Reserve Currency, Yen
Ada berita menarik yang bisa Anda baca pada harian Republika yang terbit kemarin (02/03/2010) bahwa IMF menyerukan untuk meninggalkan US$!! Berita ini sendiri tentu saja valid karena merujuk pernyataan Dominique Strauss-Kahn, the head of the International Monetary Fund (IMF) pada jum’at pekan lalu.
Bukannya saya lebih tahu atau lebih pintar dari pimpinan tertinggi IMF tersebut; namun kalau Anda baca tulisan saya hampir 6 bulan lalu dengan judul Tinggalkan Dollar Selagi Sempat , maka Anda akan tahu bahwa seruan atau wacana yang dilontarkan oleh orang nomor 1 di IMF ini adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan dan tidak akan mengejutkan Anda.
Masalahnya yang perlu diwaspadai oleh umat dan juga bangsa-bangsa lain di dunia adalah – ada apa dibalik pernyataan ini. Mengapa baru sekarang wacana mengganti US$ dimunculkan? Dan apa pengganti US$ yang mereka pikirkan?
Saya mencoba menduga-duga apa kira-kira jawaban atas 2 pertanyaan tersebut di atas. Mengenai mengapa baru sekarang wacana ini dimunculkan; dugaan saya karena mereka (para petinggi IMF) juga tahu kalau US$ tidak akan survive dalam waktu yang lebih lama lagi – wacana ini dimunculkan untuk semacam sosialisasi ke dunia akan kondisi yang sangat mungkin akan terjadi.
Nampaknya mereka ingin memperbaiki sejarah kegagalan IMF pertama, ketika terjadi kejutan Nixon Shock Agustus 1971 – dimana secara sepihak dan mendadak – Nixon mengguncang Dunia dengan meninggalkan emas sebagai rujukan mata uang US Dollar-nya. Kali ini mereka ingin masyarakat dunia tahu dulu – bahwa US Dollar berkemungkinan gagal (lagi) dan dunia tidak akan bisa mengandalkannya.
Lantas mengapa mereka ‘berbaik hati’ memberi isyarat pada dunia bahwa US$ akan gagal? Sederhana – karena mereka juga masih ingin (tetap) memimpin dunia dengan aturannya. Ingat ketika IMF gagal pertama dengan kejadian Nixon Shock Agustus 1971; penggantinya tetap IMF juga hanya ‘undang-undang’-nya yang berganti dari Breton Woods Agreement (1945) menjadi Article of Agreement of IMF yang ditandatangani di Smithsonian Institute – December 1971. Dari lokasi penanda tangananan ini saja sebenarnya umat Islam yang cerdas sudah harus tahu siapa di belakang mereka ini dan untuk kepentingan siapa program-program mereka dibuat.
Pertanyaan ke-2 mengenai apa pengganti US$ yang mereka pikirkan? Terungkap dari pernyataan Dominique bahwa pengganti US$ sebagai reserve currency yang akan datang adalah “similar to but distinctly different from the IMF’s Special Drawing Rights, or SDRs”.
SDR adalah reserve asset yang diciptakan oleh IMF tahun 1969; awalnya nilai 1 SDR setara dengan 0.888671 gr emas – yang seharusnya saat itu juga bernilai 1 US$. Setelah kejadian Nixon Shock tersebut di atas, ‘uang’ SDR yang tadinya setara emas tersebut-pun berganti menjadi setara dengan sekeranjang mata uang kuat dunia. Untuk saat ini isi keranjang tersebut terdiri dari US$, Poundsterling, Euro dan Yen.
Lantas berapa nilai SDR tersebut sekarang? Hari Senin kemarin (01/03/2010) 1 SDR nilainya setara dengan US$ 1.52771 atau kalau dibelikan emas hanya dapat 0.0425 gram. Jadi uang SDR itu-pun kini nilainya tinggal sekitar 1/20 dari nilai awal ketika diperkenalkan 41 tahun lalu.
Maknanya apa ini semua? Bila US$ sebagai reserve asset diganti dengan SDR bentuk baru sekalipun (yang dikatakan Dominique sebagai similar but distinctly different dengan SDR yang sekarang) – tetap tidak dapat menjadi reserve asset yang sesungguhnya – karena nilainya juga mengalami keruntuhan sebagaimana sekeranjang mata uang kertas yang digunakan untuk menghitung nilainya.
Kita umat Islam tidak seharusnya menggunakan timbangan yang mereka ciptakan; kita memiliki timbangan yang adil sepanjang masa – yaitu emas, perak, gandum, kurma dan benda-benda riil yang memiliki nilai instrinsik lainnya. Waktunya kita mengikuti petunjuk jalan kita sendiri dan tidak mengikuti mereka memasuki “lubang biawak” berikutnya. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Political Economy
Posted on 01 March 2010. Tags: Amerika, Amerika Selatan, aset, barter, benda riil, bottom-up, Brasil, BRIC, China, daya beli tetap, dunia, Dunia Islam, fluktuasi, Hillary Clinton, India, Jerman, mata uang, Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, minyak, muslim, nilai tukar, OPEC, Palestina, pemerintah, pemimpin, perdagangan dunia, platform, politik, rakyat, re--invent the wheel, reserve currencies, Rusia, sistem finansial global, syariah, top-down, uang fiat, Uighur, US Treasury Debt, US$, Yuan, Zhu Guang Yau
Kinerja US$ terus menjadi keprihatinan para pemimpin dunia, terutama negara yang memegang US$ dalam jumlah terbesar seperti China. Di sela-sela pertemuan dengan para petinggi Amerika tahun lalu, secara terus terang Asisten Menteri Keuangan China Zhu Guang Yau mengungkapkan: “Pemerintah China sebagai pemerintahan yang bertanggung jawab, pertama dan paling penting harus bertanggung jawab pada rakyat China. Jadi tentu kami prihatin dengan keamanan aset-aset China”. Yang dimaksud aset-aset China dalam pertemuan ini adalah aset China dalam bentuk US Treasury Debt yang kini nilainya telah mencapai US$ 801.5 milyar.
Meskipun pertemuan ditutup dengan penuh semangat seperti yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton “kami telah meletakkan dasar-dasar yang positif, kooperatif dan hubungan yang komprehensif abad 21”; dunia tidak menutup mata atas upaya-upaya lain yang nampaknya juga dilakukan oleh China sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap rakyat China – seperti yang diungkapkan oleh Zhu tersebut.
Ada 2 hal yang dilakukan China untuk menggantikan atau setidaknya mengurangi ketergantungan terhadap US$ dalam perdagangan internasional.
- Pendekatan bottom-up untuk menggantikan US$ dengan Yuan, tidak melalui sistem perbankan – tetapi melalui perdagangan. Dengan negara terbesar di Amerika selatan – Brasil misalnya , mereka telah menyepakati rencana untuk menggunakan Yuan langsung sebagai pengganti US$ dalam perdagangan antara kedua negara ini. Setelah itu, target besar berikutnya adalah OPEC yang diharapkan akan segera dapat menerima Yuan untuk pembayaran minyak produksi mereka.
- Langkah yang masih misterius karena sangat dirahasiakan, kemungkinan besar melibatkan juga negara kuat Jerman, selain Brasil, Rusia dan India yang bersama China sebelumnya telah intensif bicara dalam forum BRIC.

US Treasuries
Yang mereka sedang persiapkan secara rahasia nampaknya semacam sistem barter yang canggih, yang tidak melibatkan uang fiat seperti US$. Hal ini sedikit bocor oleh pernyataan salah satu konsultan mereka yang antara lain mengungkapkan: “Ketika terjadi keambrukan (sistem finansial dunia yang didominasi US$), sistem ini tidak akan membutuhkan reserve currencies lagi, karena 95% dari transaksi akan berupa barter atau imbal dagang yang canggih melalui platform perdagangan yang sedang di-design untuk siap beroperasi awal 2010. Sistem baru ini akan meniadakan peran bank yang selama ini menjadi jalur sempit (bottleneck) dalam perdagangan secara lokal, nasional dan internasional”.
Betapapun siapnya negara China untuk menggantikan Amerika dalam perdagangan dunia, negara-negara yang penduduk terbesarnya Muslim seharusnya memiliki langkah-langkah tersendiri dan tidak mengikuti atau terbawa arus oleh negara lain, baik itu Amerika maupun China. Keduanya tidak bersahabat dengan Dunia Islam seperti apa yang ditunjukkan Amerika di Palestina, dan apa yang dilakukan China terhadap saudara-saudara kita Muslim Uighur.
Selain karena faktor politik ini, sebenarnya Dunia Islam telah memiliki platform perdagangan yang berbasis Dinar, yang memang sudah mengedepankan perdagangan benda riil ke benda riil lainnya. Dengan sistem Dinar, perdagangan tidak perlu ribet seperti dalam sistem barter – tetapi juga tidak perlu rentan terhadap fluktuasi nilai mata uang masing-masing negara karena nilai daya beli Dinar yang baku secara universal – tidak terpengaruh waktu dan tempat.
Negara-negara yang mau menggunakan sistem Dinar ini juga tidak perlu re-invent the wheel karena sistem yang mengatur perdagangan berbasis Dinar ini sudah lengkap, utuh dan proven karena telah lebih dari 1000 tahun diterapkan Dunia Islam – itulah Syariah.
Dengan keunggulan-keunggulan sistem Dinar ini; seharusnya Dunia Islam yang memimpin perdagangan dunia ke depan. Apalagi sumber daya alam terbesar seperti minyak, panas bumi, gas, hutan dan lain sebagainya tersedia dengan cukup di Dunia Islam tersebut.
Namun kalau harapan ini terlalu jauh, bila pendekatan top-down dari pemimpin-peminpin negara Islam untuk rakyatnya sulit diharapkan; maka umat Islam yang cerdas-pun dapat memulainya dengan pola bottom-up. Umat sendiri yang secara luas menyebarkan dan menggunakan sistem perdagangan berbasis Dinar yang adil, maka setelah itu pemerintah-pemerintah negeri muslim suka atau tidak suka akan mengikuti kemauan dan kepentingan rakyatnya. Insya Allah…
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Political Economy
Posted on 28 February 2010. Tags: Abdullah, Abdurrahman, Abdurrazak, ahli penilai, ahli property, Amerika, aspek legal, barter, barter property, benda riil, brainstorming session, DEE, Dinar, Dinar Equity Exchange, EMS, Equity Marketing Specialist, Exchangor, fasilitator perdagangan barter, inflasi 0%, KPR, krisis finansial, likuiditas, mata uang, Multileg Exchange, National Council of Exchangors, nilai intrinsik, pembiayaan, penurunan daya beli, perpajakan, pertanahan, pinjaman, Robert Kiyosaki, rumah, Society of Exchange, tanah, team, teknologi, The Real Book of Real Estate, timbangan, uang, uang kertas, US$, Wayne Palmer
Krisis finansial global sungguh memberikan banyak hikmah bagi yang mau mengambil pelajaran darinya, salah satunya adalah pasar property di Amerika Serikat seperti yang ditulis oleh penulis kondang Robert Kiyosaki dalam bukunya The Real Book of Real Estate (Vanguard Press, 2009).
Dalam buku tersebut sebenarnya Robert Kiyosaki tidak menulisnya sendiri, dia hanya meng-compile pengalaman-pengalaman dari para praktisi real estate terbaik di negeri itu. Dari sekian banyak pengalaman-pengalaman tersebut, di sini saya hanya ambil satu saja yang menurut saya paling menarik yaitu pengalaman yang ditulis oleh Wayne Palmer seorang Exchangor atau Equity Marketing Specialist (EMS).
Profesi apakah EMS ini sebenarnya? Saya kesulitan mencari padanannya yang pas tetapi kurang lebih adalah semacam fasilitator perdagangan barter terutama untuk asset-aset bernilai tinggi seperti rumah, hotel, perkantoran, tanah perkebunan, dlsb.
Profesi EMS ini menjadi semakin penting belakangan ini di Amerika justru setelah mereka dilanda krisis. Begitu banyak orang ingin menjual atau mengganti rumahnya tetapi begitu sedikit pembeli yang punya uang. Uang (likuiditas) menyusut dengan drastis sehingga kalau hanya mengandalkan harus adanya uang untuk terjadi transaksi property, maka sangat sedikit property yang bisa berganti tangan semasa krisis ini.
Lantas apa solusinya? Barter antara pemilik rumah yang satu dengan pemilik rumah yang lain menjadi pilihan yang sangat menarik. Hanya saja barter rumah bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena seandainya si A dan si B sama-sama ingin menukar rumahnya – belum tentu A cocok dengan rumah si B dan sebaliknya.
Disinilah dibutuhkan keahlian khusus untuk meng-arrange sejumlah orang yang ingin menukar rumahnya satu sama lain, yang masing-masing mendapatkan apa yang diinginkannya dan sekaligus memperoleh orang yang mau menerima apa yang ingin ditawarkannya.
Sebelum saya memberikan contoh, saya ganti dahulu mata uang atau timbangannya menjadi Dinar dan bukannya US$ – Mengapa? Karena sifat uang kertas yang nilainya terus menurun termasuk US$ – membuat mata uang US$ ini sebenarnya tidak dapat digunakan sebagai penilai yang adil bagi objek-objek yang akan di-barter-kan.
Sebaliknya Dinar adalah benda riil yang memiliki nilai intrinsik dan terbukti memiliki tingkat inflasi rata-rata 0% lebih dari 1400 tahun, akan menjadi penilai yang sempurna bagi sistem Equity Marketing yang di Amerka Serikat bahkan sudah ada asosiasinya yaitu National Council of Exchangors dan Society of Exchange Counselors ini.
Karena berbasis Dinar, maka sistem barter property ini saya namakan saja Dinar Equity Exchange (DEE). Bagaimana cara kerjanya? Berikut sebagai contoh.
Perhatikan gambar di atas; Pak Abdullah saat ini memiliki rumah setara 160 Dinar yang sebagian masih hutang KPR setara 60 Dinar. Karena naik pangkat dan pekerjaannya menuntut Pak Abdullah pindah rumah ke dekat kantor, maka beliau ingin pindah ke rumah di pusat kota meskipun harus menambah/memperbesar pinjaman rumahnya.
Pak Abdurahman juga demikian, disamping ingin memperbesar rumah dari rumahnya yang sekarang setara 100 Dinar, Pak Abdurahman perlu uang tunai setara 20 Dinar. Karena gajinya lumayan besar, Pak Abdurahman tidak keberatan untuk mengambil KPR untuk menutupi kekurangan dari pembelian rumahnya yang baru.
Pak Abdurrahman tertarik dengan rumah pak Abdullah, tetapi Pak Abdullah tentu tidak tertarik dengan rumah Pak Abdurrahman karena yang dibutuhkan Pak Abdullah adalah Rumah yang lebih besar di pusat kota, bukan rumah yang lebih kecil. Jadi barter belum bisa terjadi hanya 2 orang antara pak Abdullah dengan pak Abdurrahmann.
Maka perlu kehadiran pihak ke-3, katakanlah namanya pak Abdurrazak yang sudah pensiun dan pingin rumah di pinggiran kota. Pak Abdurrazak ini punya rumah yang besar, namun juga punya hutang yang banyak. Dia hanya ingin pindah ke rumah yang kecil saja, dan juga ingin seluruh hutangnya lunas. Rumah Pak Abdurrahman sudah memadai bagi Pak Abdurrazak sekarang. Secara kebetulan rumah Pak Abdurrazak juga diminati oleh Pak Abdullah. Maka 3 orang tersebut bisa saling melakukan barter dalam 1 scheme dan hasilnya seperti pada gambar di samping.
Karena terdiri dari 3 pihak, maka solusi ini disebut Three-Way Exchange, sangat langka barter bisa terjadi antara 2 pihak saja atau Two-Way Exchange. Yang lebih sering diperlukan keterlibatan banyak pihak untuk bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Kalau tiga juga tidak cukup, dicari orang ke-4, kalau 4 belum cukup maka dicari orang ke-5 dan seterusnya. Barter yang melibatkan sejumlah besar orang ini disebut Multileg Exchange.
Di zaman informasi ini, urusan me-matching-kan antara sekian banyak kebutuhan dan sekian banyak penawaran dapat dilakukan dengan teknologi – minimal untuk identifikasi awal calon-calon exchangor yang diperkirakan tepat untuk diajak dalam 1 exchange scheme. Jadi secara teknis tidak terlalu sulit untuk mengimplementasikan Dinar Equity Exchange ini.
Namun sebelum Anda keburu ingin menukar rumahnya melalui sistem ini ke rumah yang lebih besar atau sebaliknya; tunggu dahulu kesiapan kita untuk merapikan segala sesuatunya.
Di antara yang masih kita perlukan adalah team yang mengurusi aspek legal, perpajakan, pembiayaan, pertanahan, ahli penilai, ahli properti, dlsb. Setelah team ini ada, teknologi siap – maka insya Allah konsep Dinar Equity Exchange ini akan jalan pada waktunya. Bila Anda memiliki salah satu keahlian tersebut dan ingin aktif mengimplementasikan konsep ini, kami akan dengan senang hati mengundang Anda pada acara brainstorming session dan pembentukan team inti kita (team@dinarislam.com). Insya Allah.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Business Opportunity
Posted on 12 January 2010. Tags: benda riil, daya beli, Dinar, ekonomi makro, eksportir, emas, grafik, handphone, harga emas, impor, jangka panjang, mahal, murah, negatif, notebook, perkasa, positif, proteksi risiko, Rupiah, US$
Bagi yang rajin mengamati grafik-grafik kecil di situs ini (di sebelah kanan bawah), hari-hari ini akan melihat posisi harga Dinar yang tidak biasa di grafik tersebut. Khususnya pada grafik yang menggambarkan trend harga Dinar setahun terakhir.
Trend kenaikan yang biasanya berwarna biru positif, kini berwarna merah negatif. Bahkan angka negatifnya cukup besar, yaitu pagi ini mencapai – 8.84%, mengapa hal ini bisa terjadi? Keperkasaan Rupiah jawabannya.
Dalam grafik tahunan, 12 bulan terakhir dihitung dari Februari 2009 sampai Januari 2010. Bulan Februari tahun 2009 lalu, emas dunia berada pada kisaran US$ 943/Oz dan Rupiah berada pada kisaran Rp 11,800/US$. Dinar saat itu berada pada kisaran Rp 1,550,000. Jadi dibandingkan dengan harga Dinar Februari 2009, Dinar saat ini tengah mengalami penurunan sekitar 8.84% tersebut di atas. Namun kalau dibandingkan Januari 2009, harga Dinar saat ini masih naik 7.20%.
Bila kita lihat harga emas Dunia Januari tahun lalu yang berada pada angka US$ 858.69; maka harga emas dunia pagi ini US$ 1,130.55 telah mengalami kenaikan 31.65%.
Artinya apa ini semua? Harga emas dunia sebenarnya masih berada pada periode mahal; karena keperkasaan Rupiah yang lagi luar biasa-lah yang membuat Dinar nampak murah saat ini. Rupiah yang mengalami penguatan dari Rp 11,800/US$ ke Rp 9,175/US$ atau penguatan sekitar 22% membuat kita bisa menikmati emas atau Dinar yang relatif murah hari-hari ini.
Bukan hanya Dinar sebenarnya yang lagi murah, seluruh benda riil yang asalnya dari luar negeri yang diimpor dengan nilai US$ – juga menjadi terasa relatif murah saat ini. Waktu yang baik bagi Anda yang hendak mengganti notebook-nya, handphone, dlsb.
Hanya saja masa-masa keperkasaan Rupiah seperti saat ini tidak selamanya baik bagi ekonomi negeri ini secara makro. Para eksportir kita akan menurun daya saingnya di pasar internasional bila Rupiah terus menguat. Atas pertimbangan ini pula-lah kemungkinan besarnya para pengambil keputusan negeri ini juga tidak akan membiarkan Rupiah terlalu kuat.
Jadi selagi Rupiah perkasa…; proteksi keperkasaan tersebut dengan mengkonversinya ke benda riil yang dapat menyimpan nilai atau daya beli dalam jangka panjang. Semoga bermanfaat.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 05 January 2010. Tags: 1 Dinar, Allah, Annus Horribilis, benda riil, daya beli, Dinar, Dubai, emas, harga emas, horrible year, Inggris, kambing, krisis, ladang, Lady Di, Pangeran Andrew, Pangeran Charles, parasut, pasar emas dunia, penurunan daya beli, property produktif, Rasulullah SAW, Ratu Elizabeth II, Sarah, sawah, statistik, ternak, uang kertas, US$, US$ crash
Annus Horribilis diambil dari bahasa latin yang berarti horrible year atau tahun yang sangat buruk. Istilah ini dipopulerkan oleh Ratu Elizabeth II dari Inggris pada akhir tahun 1992, untuk menggambarkan betapa buruknya tahun itu. Pada tahun tersebutlah 2 anaknya bercerai dari istri-istrinya; Pangeran Andrew bercerai dengan Sarah (Maret 1992) dan Pangeran Charles bercerai dengan Lady Di (Desember, 1992).
Istilah ini belakangan banyak digunakan lagi, bukan untuk menggambarkan kondisi keluarga kerajaan – tetapi untuk menggambarkan kondisi ekonomi di berbagai negara. Dunia yang dilanda krisis sejak tahun sebelumnya (2008), belum sepenuhnya bisa pulih di tahun 2009. Bahkan di bulan Desember 2009, sinyal-sinyal krisis masih nampak jelas dengan munculnya krisis di Dubai.
Bagi para pelaku pasar, khususnya pasar emas Dunia – gejala krisis juga jelas terbaca dari kinerja harga emas dunia yang dinilai dalam US$. Akhir tahun 2009, harga emas dunia ditutup pada harga US$ 1,097.25/Oz atau mengalami kenaikan 26% dari akhir tahun sebelumnya.
Mengapa harga emas yang terus menjulang dalam US$ ini pertanda buruk bagi US$? Sederhana jawabannya, emas merepresentasikan benda riil yang memiliki daya beli tetap sepanjang zaman. 1 ekor kambing di zaman Nabi SAW seharga 1 Dinar (4.25 gram emas), 1 Dinar tetap dapat untuk membeli kambing pula sekarang. Mobil keluarga entry level dapat dibeli seharga 110 Dinar (15 Oz) pada tahun 1935; dengan uang Dinar yang sama saat ini kita juga tetap dapat membeli mobil keluarga kelas entry level – baru!

US$ Value
Artinya bahwa bila dibandingkan dengan emas, US$ terus mengalami penurunan daya beli yang sangat significant. Masalahnya adalah penurunan ini belum nampak akan berhenti, jadi sampai berapa rendah nantinya daya beli US$ ini? hanya Allah-lah yang tahu. Yang jelas berdasarkan statistik harga emas dunia sejak awal milenium baru Januari 2000, nilai US$ kini tinggal 25% saja dibandingkan dengan daya belinya di awal milenium tersebut.
Ibarat naik pesawat yang terus menukik kebawah dan si kapten tidak nampak bisa menguasai kendali, apakah kita akan tetap menunggu sampai pesawat menyentuh tanah dan hancur berkeping-keping? Saya tentu akan pilih tidak menunggu, saya akan pilih melompat selagi parasut itu ada.
Parasut ini bisa berupa emas/Dinar; sawah –ladang, ternak, property produktif, barang dagangan yang mudah dijual, dlsb. Parasut ini bukan mata uang kertas lain, karena kalau terjadi sesuatu dengan US$ – mata uang kertas lain akan tersedot ke pusaran krisisnya.
Anda-pun bisa memilih parasut Anda sesuai dengan minat dan kemampuan Anda untuk mengelolanya. Insya Allah kita bisa selamat dari US$ crash yang kita tidak tahu kapan tetapi arahnya sudah sangat jelas… Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Political Economy
Posted on 04 January 2010. Tags: Amerika, benda riil, dana pensiun, deflasi, deposito, Dinar, emas, euthanasia, Euthanasia of the Pension Funds, finansial, government bond, hari tua, inflasi, investasi, jaga mudamu, Jepang, Ludwig von Mises, pensiun, penurunan daya beli, pesantren wirausaha, pohon, riba, sawah, sistem ekonomi, suku bunga simpanan, ternak, usaha sektor riil
Pada tanggal 23 Februari 1950, ekonom kondang Ludwig Von Mises menggambarkan kondisi para pensiunan di Amerika Serikat sebagai orang-orang yang di-euthanasia-kan oleh pemerintahnya (seperti orang sakit keras yang dibiarkan meninggal tanpa pertolongan). Tulisannya yang berjudul Euthanasia of the Pension Funds intinya menguraikan bagaimana para pensiunan menderita dengan daya beli yang terus menurun karena faktor inflasi.
60 tahun kemudian sampai hari ini, para pensiunan di Amerika dan juga para pensiunan di seluruh dunia yang mengikuti sistem ekonomi ribawi-nya – tetap saja secara umum menderita secara finansial dan seolah masih juga di–euthanasia-kan oleh pemerintahnya masing-masing yang tidak mampu mengendalikan inflasi.

Ludwig Von Mises
Bila inflasi menyengsarakan para pensiunan, apakah lantas kondisi sebaliknya bila terjadi deflasi akan memakmurkan mereka? Ternyata tidak juga. Di negeri yang sama Amerika Serikat, yang saat ini tingkat suku bunganya mendekati 0% – ternyata para pensiunan juga malah terancam kelangsungan penerimaan dana pensiunannya.
Mengapa demikian? Karena selama ini para pengelola dana pensiun mengandalkan instrumen finansial seperti deposito, government bond dan sejenisnya sebagai unggulan investasinya. Ketika deposito dan bond memberikan hasil yang sangat rendah, maka putaran dana mereka tidak memadai lagi untuk menopang program santunan yang berkelanjutan kepada para pensiunan.
Contoh yang konkrit juga terjadi di Jepang yang sudah sejak lama menganut rezim suku bunga rendah. Pengelola dana pensiun dari maskapai penerbangan terbesar negeri itu sampai harus menegosiasikan ulang dengan para pensiunannya untuk menurunkan penerimaan mereka. Pilihan yang sangat berat karena kalau penerimaan pensiunan diturunkan akan lebih menyengsarakan mereka, sementara bila dilanjutkan seperti semula perusahaannya yang tidak akan survive.
Jadi buah simalakamanya inflasi dan deflasi bagi pensiunan adalah begini: “Bila inflasi tinggi, para pensiunan berkemungkinan untuk terus dapat menerima pensiunnya – tetapi dengan daya beli yang terus menyusut. Sebaliknya bila terjadi deflasi, kemampuan para perusahaan/pengelola dana pensiun untuk secara berkelanjutan mampu membayarkan uang pensiun kepada yang berhak menerimanya yang terancam.”
Ketika Ludwig Von Mises menulis artikel tersebut di atas (60 tahun lalu) dicuekin oleh masyarakatnya, apa dampaknya? ya itu tadi sampai kini para pensiunan di Amerika Serikat tetap menderita.
Nah bagaimana sekarang kita, agar sekian puluh tahun dari sekarang ketika kita pensiun tidak menghadapi simalakama inflasi dan deflasi ini? Berikut adalah beberapa poin yang bisa dilakukan:
- Mulai secara bertahap lindungi hasil jerih payah Anda dari risiko finansial inflasi dalam bentuk benda riil yang daya belinya bertahan. Emas/Dinar; sawah, pohon, ternak, dlsb adalah beberapa diantaranya.
- Meskipun di tempat kerja Anda dapat jatah pensiun yang dikelola perusahaan/pengelola dana pensiun. Jangan terlalu mengandalkan dana pensiun ini – kemungkinan besarnya tidak akan cukup untuk menopang hari tua Anda. Menabung benda riil tetap Anda perlukan.
- Bila perusahaan/pengelola dana pensiun Anda mempunyai program yang mengijinkan Anda mengelola dana pensiun Anda sendiri – ambil program ini dan kelola sendiri di sektor riil. Bila belum mampu mengelola sendiri, cari mitra yang bisa mengelolanya sambil Anda belajar sektor-sektor usaha yang menjadi minat Anda.
- Banyak-banyak investasi pada diri Anda sendiri sedari muda. Ikut pelatihan-pelatihan bidang usaha yang menjadi minat Anda, banyak-banyak belajar berusaha. Mencoba dan gagal di usia muda – masih lebih baik dibandingkan mencoba dan gagal di usia tua ketika sumber daya dan dana kita sudah tidak ada lagi. Tidak semua eksperimen usaha ini membutuhkan biaya; di Pesantren Wirausaha Anda bisa belajar berusaha tanpa harus mengeluarkan biaya satu sen-pun (alias GRATIS)!
- Banyak-banyak investasi pada orang-orang di sekitar kita; mendidik mereka dan membimbingnya. Mereka inilah yang akan menjalankan dan meneruskan usaha kita setelah kita lanjut dimakan usia.
“Allhummaj’al khoyro ‘umry aakhirohu wa khoyro ‘amaly khowaatimahu wa khoyro ayyaami yawma alqooka fiih”, “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan yang terbaik dari hariku adalah hari ketika aku bertemu denganMu.” Amin.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Financial Plan
Posted on 28 December 2009. Tags: Bank Indonesia, benda riil, beras, biaya persalinan, daya beli, Dinar, grafik, harga barang & jasa, Indeks Kesengsaraan, Index Harga Konsumen, inflasi, investasi, jangka panjang, Misery Index, Perencanaan Keuangan, tabungan, tools, uang
Salah satu momok perekonomian yang menyengsarakan rakyat adalah inflasi, bahkan salah satu unsur di Index Kesengsaraan (Misery Index) yang saya tulis pekan lalu juga masalah inflasi ini. Betapa tidak menyengsarakan; lha wong momok inflasi ini menyerang ke siapa saja tanpa terkecuali.
Si embok di desa karena kemiskinannya hanya mampu membeli beras paling murah seharga Rp 2,500/kg tahun 2003; beras yang sama kini baru bisa dibeli dengan harga Rp 4,025/kg. Pasangan muda yang 5 tahun lalu melahirkan anak pertamanya dengan biaya Rp 5 juta; anak ke-3-nya yang lahir tahun ini, di rumah sakit yang sama dengan layanan yang sama harus dibayarnya dengan biaya lebih dari Rp 8 juta.
Kenaikan harga-harga secara umum ini dapat Anda hitung sendiri perkiraan kasarnya dengan menggunakan Index Harga Konsumen, yang antara lain datanya bisa kita peroleh dari situs resminya Bank Indonesia. Dengan cara yang sama inflasi yang tercermin dari Index Harga Konsumen ini bukan hanya menyengsarakan kita semua saat ini, tetapi juga bisa menyengsarakan kita di masa-masa mendatang bila tidak kita pahami dan atasi dari sekarang.
Mengapa demikian? Bila selama ini tabungan kita memberikan hasil 6% misalnya di bank, bertambahkah uang kita? Angkanya memang bertambah, tetapi karena Indek Harga Konsumen mengalamai kenaikan rata-rata 8.75% per tahun selama 5 tahun terakhir – maka sejatinya daya beli tabungan kita tersebut bukannya bertambah – malah berkurang.
Demikian-pula berbagi bentuk investasi kita lainnya; kalau selama ini angkanya kelihatan besar – coba Anda kurangkan dengan kenaikan Index Harga Konsumen; masihkah angkanya positif? Kalau masih positif, masihkah angkanya cukup menarik untuk Perencanaan Keuangan Anda jangka panjang?
Namun sebenarnya inflasi ini bisa dengan relative mudah kita lawan, yaitu bila tabungan kita berupa benda riil yang apresiasi nilainya melebihi inflasi. Dinar adalah salah satu contoh saja dari benda riil yang bisa mengalahkan inflasi ini; dari grafik dan data tersebut di atas, kita tahu 5 tahun terakhir Dinar mengalami apresiasi nilai ratra-rata 20.32% sedangkan Inflasi rata-rata ‘hanya’ 8.75%.
Dinar memberikan hasil investasi yang jelas lebih dari cukup untuk mengimbangi melonjaknya harga-harga barang dan jasa karena inflasi, seperti dalam beberapa contoh kasus tersebut di atas. Jadi, tools untuk melawan inflasi ini sungguh ada… tinggal kita mau gunakan atau tidak, ini sepenuhnya terserah kita…, Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Financial Plan
Posted on 20 December 2009. Tags: Amerika, benda riil, bunga bank, Currency Board System, Dinar, dirham, emas, GDP, Gross Domestic Product, Harvard University, Indeks Kesengsaraan, Indonesia, inflasi, Jimmy Carter, Krisis Moneter, Krismon, lapangan kerja, Misery Index, Modified Misery Index, Orde Baru, pencetakan uang, pengangguran, perak, Prof. Arthur Melvin Okun, Prof. Robert Joseph Barro, Prof. Steve H. Hank, riba, Ronald Reagan, Yale University
Misery Index (Indeks Kesengsaraan) adalah indikator ekonomi yang diperkenalkan oleh Professor Arthur Melvin Okun ekonom dari Yale University. Index ini awalnya sederhana saja yaitu menjumlahkan antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran di suatu negara – 2 hal yang mencerminkan biaya ekonomi dan sosial suatu negara.
Index ini kemudian diubah oleh Professor Robert Joseph Barro dari Harvard University dengan menambahkan unsur tingkat bunga bank dan Gross Domestic Product (GDP) untuk melihat dinamika kesengsaraan masyarakat dari waktu ke waktu. Index yang sudah diubah ini kemudian disebut Modified Misery Index.
Di Amerika, Index ini dengan mudah dipakai untuk menilai secara kwantitatif apakah seorang presiden bisa memakmurkan rakyat selama pemerintahannya atau sebaliknya. Ronald Reagan pada masa pemerintahannya yang pertama misalnya tercatat sebagai presiden yang paling bisa memakmurkan rakyatnya (Index = – 4.90), sedangkan Jimmy Carter tercatat sebagai presiden yang paling menyengsarakan rakyatnya (index = + 9.40).
Untuk Indonesia, ekonom dunia yang secara khusus nampak punya ‘kepentingan’ di Indonesia adalah Prof . Steve H. Hank yang di akhir masa pemerintahan Orde Baru 1998 dulu berbicara intensif dengan presiden Indonesia waktu itu dengan ide Currency Board System-nya.
Dalam pengamatan dan data 2 dasa warsa yang dikumpulkan oleh ekonom yang satu ini, rakyat Indonesia sampai sekarang masih sama sengsaranya dengan kondisi tahun 80-an dan 90-an. Memang kita pulih dari puncak krisis moneter yang terkenal dengan Krismon tahun 1998; tetapi kepulihan ini tidak membuat Indonesia lebih baik dari sebelum Krismon.
Grafik di atas yang merepresentasikan penjumlahan tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan tingkat pengangguran kemudian dikurangi perubahan GDP year on year – menggambarkan tingkat kesengsaraan rakyat Indonesia dari waktu ke waktu. Semakin tinggi Index, semakin sengsara rakyat.
Teori Modified Misery Index ini sesungguhnya juga menggambarkan bahwa semakin tinggi tingkat bunga (riba) dan inflasi yang berlaku dalam suatu negara, semakin sengsara rakyat di negara tersebut. Sebaliknya semakin rendah tingkat suku bunga (riba) dan semakin rendah inflasi – maka akan semakin makmur rakyat di negara tersebut.
Jadi jelas bukan? Bahwa untuk memakmurkan rakyat tingkat suku bunga (riba) harus ditekan serendah mungkin – dan ini hanya bisa dilakukan bila suatu negeri meninggalkan riba.
Demikian pula halnya bahwa inflasi juga harus ditekan serendah mungkin, dan ini hanya bisa terjadi bila uang di suatu negara tidak mudah dicetak begitu saja – karena inflasi terjadi oleh sebab uang yang dicetak terus menerus tidak sepadan dengan transaksi riil yang memerlukan keberadaan uang tersebut. Hanya uang emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang telah terbukti selama ribuan tahun tidak mengalami inflasi, karena Dinar maupun Dirham adalah uang dari benda riil – harus benar-benar ada emas untuk mencetak Dinar dan ada perak untuk mencetak Dirham.
Bila 2 dari 4 unsur dalam Modified Misery Index yaitu tingkat bunga dan inflasi sudah teratasi dengan ditinggalkannya riba dan digunakannya Dinar dan Dirham; maka tugas pemerintah tinggal 2 saja untuk meciptakan kemakmuran – yaitu menciptakan lapangan kerja dan fokus pada pertumbuhan ekonomi (GDP).
Jadi diuji dari teori ekonomi manapun, sistem Islam yang lahir dari petunjuk Yang Maha Tahu – terbukti paling sesuai dan mudah untuk menciptakan kemakmuran bagi umat sepanjang zaman. Masihkah kita meragukannya? Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 07 September 2009. Tags: benda riil, emas, Gold The Once and Future Money, hard currency, John Naisbitt, mata uang privat, Mindset, Nathan Lewis, nilai intrinsik, uang kertas
Emas: Sebagai Uang Masa Lampau dan Uang Yang Akan Datang; demikian judul tulisan ini yang saya ambilkan dari judul buku yang ditulis oleh Nathan Lewis (John Wiley & Son, 2007) seorang senior economist pada sebuah perusahaan Asset Management di New York. Dia juga aktif nulis di media financial kenamaan seperti Financial Times dan the Wall Street Journal. Karena buku ini terbit tahun 2007 – jadi masih up-to-date untuk ukuran buku ekonnomi.
Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, Bagian Pertama membahas uang dalam berbagai bentuknya. Bagian Kedua membahas sejarah uang Amerika Serikat, dan Bagian Ketiga membahas Krisis Mata Uang di Seluruh Dunia – termasuk diantaranya diulas krisis serius di Asia dan tentu Indonesia akhir tahun 90-an.
Yang menarik dari buku ini adalah bahwa meskipun yang bersangkutan bukan seorang muslim, dalam hal uang dia memiliki pemikiran yang lurus. Dalam salah satu kesimpulan nya dia menulis seperti ini:
“Mungkin perlu waktu beberapa tahun atau beberapa puluh tahun, tetapi era uang kertas perlahan lahan akan berakhir; Dunia tidak memiliki pilihan lain kecuali kembali ke hard currency. Manfaat dari hard currency sungguh luar biasa. System hard currency masa depan akan berdasarkan emas, sama persis dengan yang terjadi di masa lampau”.
Kalau Nathan Lewis mungkin belum terlalu terkenal, jadi pendapatnya bisa saja tidak dianggap oleh para pelaku ekonomi zaman ini; tetapi siapa yang nggak kenal John Naisbitt – yang di dunia barat dianggap kaya ‘dewa’ nya ekonomi modern karena prediksi dia tentang trend perekonomian dalam beberapa bukunya selama 20 tahun terakhir terbukti akurat? Apa kata John Nasibitt tentang uang ini di bukunya terakhir (Mindset)? Menurut dia monopoli terakhir yang akan segera ditinggalkan oleh umat manusia adalah monopoli uang kertas yang dikeluarkan oleh suatu negara. masyarakat tidak akan lagi mempercayai mata uang kertas dan pindah ke yang dia sebut mata uang privat. Apa itu mata uang privat? yaitu benda-benda riil yang memang memiliki nilai intrinsik.
Sayang sekali Nathan Lewis dan John Naisbitt bukan orang Islam, kalau dia tahu bahwa Islam memiliki system uang Dinar/Dirham-nya yang baku sejak ribuan tahun lalu sampai akhir zaman – pasti dia akan tahu betapa benarnya agama ini.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Political Economy