Tag Archive | "barisan yang teratur"

Sawu Sufufakum: Membangun Business Ecosystem Untuk Ekonomi Umat


Bagi yang rajin shalat jamaah 5 waktu, 5 kali sehari kita mendengar ucapan sawu sufufakumdari para imam yang memimpin shalat. Tuntunan ucapan ini berasal dari hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: ?Luruskan (samakanlah) shaf-shaf kalian (beliau mengulangi 3 kali), maka demi Allah  hendaklah kalian meluruskan shaf kalian atau sungguh Allah akan menyelisihkan di antara hati-hati kalian.? (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud). Jadi 5 kali sehari kita diingatkan untuk merapatkan barisan, bahkan Allah-pun menyukai rapatnya barisan ini seperti dalam ayat ?Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti bangunan yang tersusun kokoh?  (QS As-Shaf [61]: 4).

Maka seandainya saja umat ini, dapat mengimplementasikan rapatnya barisan shalat ini kedalam kehidupan sehari-hari ? pastilah umat ini unggul di segala bidang seperti yang dijanjikan pula oleh Allah dalam ayat ?Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman? (QS Al-?Imran [3]: 139).

Ketika rapatnya barisan ini diimplementasikan dalam lingkungan usaha yang kemudian dikenal dengan istilah Business Ecosystem ? pun menjadikan business tersebut unggul ? meskipun yang menerapkan bukan orang yang beriman. Menurut penggagas teori Business Ecosystem ini – James F. Moore ? kekuatan business-business besar dunia terletak pada kokohnya Business Ecosystem yang berhasil dibangunnya.

James F. Moore

James F. Moore

Teorinya yang memenangkan McKinsey Award ini menjelaskan Business Ecosystem sebagai berikut: ?Komunitas ekonomi yang didukung oleh organisasi-organisasi dan individu-individu yang saling berinteraksi – mereka adalah organism (makhluk hidup) dalam dunia business. Organism ini terdiri dari suppliers, producers, competitors dan semua stakeholders. Dari waktu ke waktu mereka ber-evolusi  dalam peran dan kemampuan. Mereka merapat dalam barisannya masing-masing dengan dipimpin oleh satu atau lebih perusahaan inti. Perusahaan inti ini bisa saja berganti peran dari waktu ke waktu, kepemimpinan dari ecosystem ini  ditentukan oleh kemampuannya menggerakkan organism-organism di dalamnya, berbagi visi, merapatkan investasi dan memfasilitasi peran yang saling menunjang?.

Besarnya raksasa-raksasa usaha seperti Microsoft, Cysco dan lain sebagainya menurut Moore adalah karena mereka berhasil membangun ecosystem ini. Ecosystem mereka ini terdiri dari ribuan organism berupa suppliers, marketers, manufacturers, installers, dlsb yang saling ?menghidupi? satu sama lain.

Nah, bila teori ?rapatnya barisan? ini sukses diterapkan oleh orang-orang yang tidak pernah shalat, seharusnya umat ini dapat lebih unggul dari mereka karena kita setiap hari belajar merapatkan barisan ini 5 kali. Maka tidak seharusnya negeri yang mayoritas penduduknya rajin belajar merapatkan barisan ini menjadi negeri yang rata-rata penduduknya miskin.

Lantas bagaimana kita memulai membangun ecosystem kita sendiri yang sesungguhnya diambil dari nilai-nilai shalat berjamaah ini? Kita bisa mulai dari diri kita sendiri, mulai dari yang kita bisa. Kemudian dari yang kita bisa tersebut, kita tempatkan diri kita dalam barisan jamaah yang sesuai ? bisa sebagai imam maupun sebagai makmum. Sebagai imam harus memiliki visi yang jelas kemana ?jamaah? (business ecosystem) akan dibawa, sebagai makmum kita merapat di barisan dan mengisi shaf-shaf yang masih kosong. Imam selalu bisa salah/batal dan bisa diganti, makmum yang dibelakangnya harus mampu setiap saat menggantikan imam bila perlu.

Contoh aplikasinya yang sangat kecil tetapi sedang membangun ecosystem adalah situs ini. Awalnya adalah hanya ada Gerai Dinar yang menyebar-luaskan Dinar emas secara fisik maupun know how yang menunjangnya. Kemudian merapat di belakangnya puluhan agen yang rata-rata capable menggantikan peran kami kapan saja bila diperlukan.

Karena Dinar tidak untuk ditimbun, tetapi harus mampu menggerakkan ekonomi ? maka muncullah institusi keuangan BMT ? Daarul Muttaqiin (DM) dan jaringan-jaringan BMT/Koperasi lain yang bekerjasama dengannya. Kemudian karena kami dan DM membutuhkan mitra-mitra usaha yang professional dan terpercaya - Qowiyyun Amin ? maka lahirlah Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM).

Melalui program-program PWDM inilah kemudian Business Ecosystem yang lebih besar mulai ter-visi-kan. Dari berbagai angkatan (sekarang sudah 12 angkatan) kini telah lahir embrio-embrio dari industri perkambingan nasionalindustri jamurindustri makanan berbasis kambingindustri makanan bekuindustri composite materials dan insya Allah berbagai industri lain ke depan.

Selain masing-masing industri tersebut saling terkait dan saling membutuhkan layaknya sebuah ecosystem atau shaf dalam shalat, berbagai institusi lain kini tengah mulai bergabung ? mengisi shaf-shaf yang sebelumnya kosong. Ada beberapa perguruan tinggi negeri ternama yang kini mengolah pakan ternak untuk industri kambing kami, perguruan tinggi lain membuatkan pabrik pengolahan susu, ada pemain industri pangan besar yang siap mendukung project Planet Beku, ada perusahaan pembuat tas yang siap melengkapinya dengan tas khusus makanan beku, dlsb.

Sejauh ini memang baru beberapa ratus tenaga kerja yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam berbagai project tersebut. Namun di depan mata insya Allah kami juga siap membesarkan ecosystem ini menjadi ecosystem yang menampung ribuan atau puluhan ribu organism yang hidup di dalamnya baik dari kategori institusi atau individu. Bagaimana caranya?

Salah satu program kami sate kambing masuk mal ? urusan pemasarannya sudah ditampung oleh team yang dikepalai oleh seorang Doktor ekonomi dari institusi kenamaan. Mereka sanggup memasarkan 200 ekor kambing potong setiap hari, atau 6,000 ekor setiap bulan dan 72,000 setiap tahun. Bila rata-rata petani kambing bisa memelihara 12 ekor kambing setahun  dan menjualnya 1 ekor setiap bulan; maka pengadaan kambing potong tersebut bisa menciptakan 6,000 lapangan pekerjaan bagi peternak kambing.

Shalat Berjamaah: Lurus & Rapat

Shalat Berjamaah: Shaf Lurus & Rapat

Lantas project composites untuk membangun rumah dari Gedebog Pisang yang juga sangat banyak diresponse positif oleh pembaca; project percontohannya akan segera dimulai. Bahkan untuk pertama kalinya Rumah Gedebog yang akan kami bangun bukanlah rumah kita-kita, tetapi rumahnya Allah alias sebuah Masjid di Jonggol. Pembuatan mesin untuk mengolah gedebog menjadi bahan bangunan yang kokoh kini telah mulai, design masjid-nya pun insya Allah rampung dalam beberapa pekan ke depan.

Bersamaan dengan dimulainya pembangunan Masjid dari Gedebog Pisang inilah, insya Allah business ecosystem yang kita bangun bersama tersebut akan semakin membengkak ukurannya. Ribuan ibu-ibu di desa akan dapat segera mengolah Gedebog Pisang menjadi anyaman-anyaman yang kemudian kita beli untuk bahan baku industri composites tersebut di atas. Bahkan kalau mau, Anda sekarang sudah dapat mulai menanam pisang atau mengajak orang lain menanam pisang. Buahnya Anda jual ke pasar seperti biasa, Gedebog Pisangnya Anda olah menjadi anyaman ? kemudian Anda jual ke kami.

Bila tadinya kita hanya shalat di mushalla yang kecil dengan beberapa puluh jamaah (agen Dinar awalnya), saat ini kita sedang siap-siap shalat hari raya di lapangan yang akan melibatkan ribuan atau bahkan puluhan ribu jamaah. Tentu saja selain imam harus tahu betul kemana arah kiblat dan jamaah-jamaah pinter yang siap menggantikan imam kapan saja bila dibutuhkan, kita juga butuh jamaah umum yang tertib dan mau merapatkan barisan ? mengisi shaf-shaf yang masih kosong di depan… Sawu Sufufakum…! Allahu Akbar!!!

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Muamalah Jama?i: Melipat Gandakan Peluang Keberhasilan


Seperti juga dengan shalat fardhu bagi seorang muslim laki-laki yang sangat-sangat dianjurkan untuk selalu berjamaah di masjid; dalam kehidupan sehari-hari-pun kita dianjurkan untuk selalu berjamaah. Anjuran berjamaah ini berlaku secara umum baik ketika kita bepergian, ketika berjuang di jalan Allah dan termasuk juga ketika kita bermuamalah.

Banyak sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diambil dari ajaran berjamaah ini; antara lain hak yang sama antara satu jamaah dengan jamaah lainnya. Dalam shalat siapapun yang datang dahulu, dia berhak atas shaf paling depan. Imam yang batal harus tahu diri, segera mundur untuk digantikan oleh jamaah yang ada di belakangnya. Dan yang sangat penting dari ini semua adalah tingkat keberhasilan (seperti pahala dalam shalat), menjadi berlipat ganda dengan cara hidup berjamaah ini.

Sekarang tantangannya tinggal bagaimana kita bisa meng-aplikasi-kan nilai-nilai dari ajaran untuk berjamaah ini kedalam kehidupan muamalah kita sehari ?hari. Konsep Direct1st® adalah model muamalah jama?i yang kami kembangkan sebagai salah satu  solusi ekonomi umat di era teknologi ini. Model yang insya Allah segera kami uji cobakan sebagai ?kolam renang-nya? para peserta Pesantren Wirausaha untuk belajar berenang ini, nantinya bukan hanya bisa dimanfaatkan oleh peserta atau lulusan Pesantren Wirausaha ? tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk muamalah umat secara umum.

Bagaimana kita bisa yakin, bermuamalah secara jama?i yang dikelola secara sistematis berbasis IT nan modern ini insya Allah akan membantu melipat gandakan peluang keberhasilan usaha Anda? Perhatikan ilustrasi cara kerja sistem ini di atas.

Ketika Anda berusaha sendiri dengan membuat satu produk A misalnya; Anda hanya memiliki peluang satu produk tersebut untuk dijual; Anda juga hanya memiliki satu peluang untuk menjualnya seorang diri ? maka seberapa keraspun Anda berusaha untuk memproduksi dan menjual produk A Anda ? peluang Anda untuk gagal bisa jadi sangat besar. Kegagalan ini bisa karena produknya yang gagal, atau produknya baik tetapi Anda sendiri yang gagal menjualnya.

Coba perhatikan kalau kita hidup berjamaah dengan 3 orang saja sebagai contoh. 3 orang ini saya sebut saja sebagai Productivity Agent (PA), jadi ada PA1, PA2 dan PA3. PA1 hanya bisa mengenalkan 1 produk, PA2 dan PA3 masing-masing bisa mengenalkan 2 produk untuk dipasarkan secara jama?i oleh ketiganya. Secara berjam?i ketiga PA ini kini telah memiliki 5 produk untuk dijual bersama-sama.

Asumsikan tidak semua produk berhasil dijual, Produk 1 dari PA1 gagal misalnya; maka PA1 tetap bisa menjual 4 produk lainnya. Kecil sekali kemungkinannya PA1 tidak bisa menjual sama sekali 4 produk bagus yang di introduced oleh 2 PA lainnya.

Skenario lain, PA2 berhasil membuat dua produk yang bagus-bagus yaitu Product 2 dan Product 3 ? namun PA2 sendiri bukanlah marketer yang baik sehingga tidak bisa menjual produknya sendiri; maka kecil sekali kemungkinannya 2 PA yang lain – yang mempunyai keahlian menjual tetapi bisa jadi tidak berhasil membuat produk yang bagus ? untuk tidak bisa menjualkan produk-produk dari PA2 ini.

Secara bersama-sama 3 orang PA ini menjadi sukses karena yang gagal membuat produk tetap dapat menjual produk dari 2 PA lainnya, dan yang berhasil membuat produk tetapi gagal menjual produknya dibantu menjualkan produknya oleh kedua PA lainnya.

Jadi hanya dengan 3 orang PA yang bermuamalah secara jama?i saja, secara logis kita dapat meningkatkan keberhasilan mumalah kita dengan berlipat ganda ? apa lagi kalau jamaah muamalah ini diikuti oleh 10 orang, 100 orang, 1.000 orang, 1 juta orang, dst.

Dalam shalat fardhu 5 waktu kita dianjurkan berjamaah dengan berapapun jumlahnya di masjid-masjid atau mushola; kemudian seminggu sekali kita harus berjamaah dalam skala yang lebih besar yaitu shalat jum?at dengan minimum 40 orang; kemudian setahun 2 kali kita dianjurkan untuk shalat di lapangan dengan jumlah orang yang lebih banyak lagi yaitu shalat Iedul Fitri dan shalat Iedul Adha. Seumur hidup sekali kita diwajibkan (bagi yang mampu) berjamaah secara global dengan jutaan muslim lainnya yaitu ketika kita berhaji ke tanah suci.

Dari sini kita bisa bayangkan, melawan kapitalisme ribawi global yang begitu besar kekuatannya ? tidak bisa lain selain dengan cara kita sendiri, yaitu mulai bermuamalah secara jama?i. Mulainya dari beberapa orang di antara kita, kemudian membesar dalam lingkungan yang lebih luas, lebih luas dan seterusnya.

Bila dalam perang Allah menyukai barisan yang teratur, maka insya Allah dalam ?perang? di bidang muamalah-pun demikian; kalau Allah menyukai apa yang kita lakukan dengan berjama?ah ini ? maka inilah insya Allah yang sesungguhnya akan melipat gandakan peluang keberhasilan usaha kita; Amin.

?Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.? (QS. As-Shaf (61): 4)

Posted in EntrepreneurshipComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes