Tag Archive | "bailout"

Dan Di Langit Terdapat Rizkimu Dan Apa Yang Dijanjikan Kepadamu


Ibnu Katsir ketika mentafsirkan ayat yang saya jadikan judul tulisan ini (QS. Adz-Dzariyaat (51): 22) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan  Dan di langit terdapat rizkimu…” adalah hujan yang membawa rizki; sedangkan yang dimaksud  dengan Dan Apa yang dijanjikan kepadamu adalah surga bagi orang-orang yang bertakwa.

Ibnu Katsir yang kitab tafsirnya menjadi rujukan umat seluruh dunia karena kedalaman ilmunya; insya Allah jauh lebih besar peluang benarnya ketimbang kelirunya. Lantas mengapa bagi kita yang hidup di Jakarta ini, hujan secara perlahan tetapi pasti dicitrakan sebagai penyebab musibah tahunan yang hari-hari ini melanda – yaitu banjir? Pasti yang salah bukan ayat atau tafsirnya; tetapi perilaku kita yang salah dalam mengelola ‘potensi’ rizki dari hujan ini.

Pada tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk mengembalikan pandangan bahwa hujan sebagai sumber rizki – agar kita pandai mengelola dan mensyukuri-nya; bukan sebaliknya memandang hujan sebagai sumber musibah sehingga banyak orang berharap agar hujan tidak turun!

Sesungguhnya kita sangat-sangat beruntung hidup di negeri kepulauan yang berada paling dekat dengan katulistiwa. Negeri yang berada di Equator Belt ini hanya Indonesia, beberapa negara Amerika latin khususnya Brasil dan beberapa negara Afrika. Tetapi Afrika sangat kering, dan Brasil tidak terlalu banyak memiliki wilayah laut seperti kita di Indonesia.

Dengan posisi yang seperti inilah, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak memiliki hujan. Dampak dari hujan tropis ini berikutnya adalah di Indonesia-lah terdapat paling banyak spesies tumbuhan, binatang dan microorganism yang kemudian dikenal sebagai biodiversity.

Karena posisi yang unique ini pulalah maka ketika United Nation menyatakan tahun ini sebagai 2010 International Year of Biodiversity – Indonesia menjadi salah satu pusat perayaannya, yaitu di Bali mulai akhir pekan ini.

Sejalan dengan tafsir di atas, kemudian juga bukti kekayaan biodiversity yang tidak ada duanya tersebut – masihkah kita belum bisa melihat rizki dari langit yang dibawa oleh hujan itu? Kalau melihat saja kita belum bisa, tentu kita akan kesulitan untuk memiliki visi pengelolaannya.

Untuk belajar menangkap secara harfiah ‘rizki dari langit’ yang terbawa oleh hujan ini, team kami di Pesantren Wirausaha – Jonggol membuat eksperimen kecil dalam laboratorium sederhana untuk pembibitan Jamur.

Jamur Tiram Putih

Jamur Tiram Putih

Jamur adalah sumber protein yang sehat dan bisa diproduksi dari ‘awang-awang’. Karena untuk menghasilkan 10 kg jamur perhari selama  4-5 bulan berturut-turut, awalnya hanya dibutuhkan jaringan yang diambil dari jamur induk sebesar ujung jarum.

Untuk bisa tumbuh baik, jamur pada umumnya memerlukan suhu udara antara 22o C – 28o C dan kelembaban udara antara 60% – 70%. Suhu dan kelembaban yang dipersyaratkan untuk pertumbuhan jamur ini dengan mudah dapat dipenuhi oleh sebagian besar wilayah negeri ini. Dari mana negeri ini memperoleh keberuntungan tersebut? Ya dari hujan yang secara kontinyu mengguyur sebagian besar wilayah negeri ini secara reguler.

Jadi secara internal negeri ini sesungguhnya sangat beruntung dengan rizki yang terbawa seiring dengan seringnya turun hujan. Kita bisa membanjiri dunia dengan protein yang murah – yang bisa diproduksi secara massal di Indonesia.

Untuk memproduksi jamur secara massal ini tidak dibutuhkan tanah yang luas, tidak membutuhkan pupuk-pupuk yang mahal (yang sering diributkan subsidinya), tidak membutuhkan modal yang besar (yang hanya dimiliki para konglomerat dan tuan tanah); yang kita butuhkan terutama adalah lingkungan dengan suhu dan kelembaban yang tepat yang sudah dianugerahkan oleh Allah secara melimpah melalui curah hujan negeri ini.

Yang kita butuhkan kemudian adalah ilmu perjamuran dan ketrampilan wirausaha/manajemen yang memadai; namun lagi-lagi ilmu membuat benih jamur insya Allah tidak sesulit membuat roket – Anda bisa belajar bareng kami (kami juga lagi belajar soalnya) GRATIS; me-manage industri jamur saya yakin juga tidak sesulit mengelola bank yang di bailout (yang kalau kita lihat di televisi nampaknya nggak ada yang bisa mengelola dengan benar!); jadi orang-orang kebanyakan seperti Anda dan saya insya Allah bisa memproduksi protein yang murah ini secara massal.

Bila ini benar-benar dapat kita lakukan, maka kebutuhan protein negeri ini akan dapat tercukupi dengan murah… dan syukur-syukur kita bisa menjadi solusi bagi milyaran penduduk dunia yang kini sedang kekurangan pangan dan gizi.

Allaahumma shayyiban naafi’an; Ya Allah jadikanlah hujan ini manfaat…

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: +2 (from 2 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Emas Diantara Yang Pesimis & Optimis


Hari-hari ini bila Anda rajin mengikuti perkembangan harga emas dunia akan melihat trend tahunan yang tidak biasa. Dalam Rupiah harga emas saat ini lebih rendah sekitar 8.5% dibandingkan dengan harga emas setahun lalu – lihat grafik di samping; sebaliknya bila Anda sempat lihat harga emas dunia di Kitco.com – dalam US$ harga emas dunia pagi ini masih 15% lebih tinggi dari harga setahun lalu.

Jadi pertanyaannya adalah apakah harga emas saat ini lagi rendah atau lagi tinggi? Akan naik atau akan turun? Tidak mudah menjawabnya dan bahkan para analis pasar emas dunia-pun berbeda pendapat dalam hal ini. Dalam kaitan harga emas ke depan, saya pisahkan pendapat para analis ini dalam 2 golongan – yaitu yang Pesimis dan yang Optimis (terhadap harga emas).

Yang Pesimis pada umumnya melihat emas sebagai komoditi biasa yang harganya naik dan turun sesuai dengan supply dan demand; mereka berpendapat bahwa harga emas dunia saat ini sudah ketinggian dan akan berkecenderungan turun. Bukti yang mereka gunakan adalah kecenderungan menurunnya harga emas yang terjadi dalam 2 bulan terakhir.

Setelah sempat mencapai angka di atas US$ 1,200/Oz ; saat ini emas hanya diperdagangkan dikisaran US$ 1,093/Oz. Penyebabnya antara lain adalah economic recovery di Amerika Serikat sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan GDP negeri itu Kwartal ke IV  2009 yang mencapai angka yang fantastis 5.7%.

Pada saat ekonomi baik, orang meninggalkan emas sebagai aset penyimpan nilai modal (capital preservation asset) dan menginvestasikannya ke dalam bentuk investasi yang berpotensi memberikan hasil lebih. Maka sejalan dengan proses economic recovery di Amerika yang bisa berlangsung sampai 2012; maka kelompok yang Pesimis ini-pun memperkirakan bahwa harga emas akan cenderung turun sampai tahun 2012 – yang saat itu diperkirakannya harga emas hanya akan berada dikisaran US$ 750/Oz.

Kelompok yang Optimis melihat data yang sama justru dari sudut pandang yang sebaliknya. Recovery saat ini lebih banyak didorong oleh serangkaian bailout yang berarti pencetakan uang kertas lebih dari biasanya.  Supply uang kertas yang dipaksakan ini pada akhirnya akan menghancurkan daya beli uang kertas itu sendiri. Bila daya beli uang kertas jatuh, maka semua barang akan melonjak nilainya – dan tentu saja juga harga emas.

Dr. Marc Faber

Dr. Marc Faber

Salah satu pendukung teori ini adalah Marc Faber seperti yang diungkap di www.commodityonline.com 2 hari lalu. Fund Manager kondang yang berasal dari Swiss ini dalam forum resmi Russia’s Troika Dialog pekan lalu menyatakan Saya yakin bahwa pemerintahan Amerika akan bangkrut, mungkin tidak besok, tetapi sebelum ini terjadi mereka akan mencetak uang sangat banyak – dan Anda akan menghadapi inflasi yang sangat tinggi.

Karena langkah yang dilakukan oleh Amerika dalam aksi bailout ini juga dilakukan oleh negara-negara lain seperti Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya; maka praktis ini akan melanda dunia finansial secara keseluruhan. Langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi ini? Marc Faber merumuskannya dengan sederhana : satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah menjual emas saya.

Lantas seberapa tinggi harga emas akan naik menurut golongan yang optimis ini? Perkiraan mereka beberapa kali saya kutip di situs ini, antara lain tanggal 20 November 2009 dengan judul Exchange Rate Chaos. Menurut kelompok ini harga emas akan mencapai US$ 2,000 dalam waktu yang tidak terlalu lama dan tidak dengan susah payah.

Lantas bagaimana saya sendiri berpendapat? Saya cenderung ke pendapat yang kedua. Meskipun pada saat yang bersamaan saya selalu mengingatkan bahwa dalam jangka pendek harga emas akan terus bergejolak. Bahkan kepada para agen Dinar-pun;  setiap membekali mereka saya selalu katakan untuk transparan dan fair memberikan gambaran prospek Dinar ini ke para nasabahnya. Memang kita Optimis Dinar akan berkecenderungan naik dalam jangka panjang; tetapi jalannya akan bergelombang seperti grafik-grafik bulanan, tahunan dan 10 tahunan yang ada di situs ini. Jadi dalam jangka pendek harga Dinar tidak hanya bisa naik, bisa juga turun. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Systemic Risks: Guru ‘…’ Berdiri, Murid ‘…’ Berlari


Hari ini isu-nya bakal ada demo besar di negeri ini, yang inti permasalahannya berawal dari upaya penyelamatan bank kecil Century dari apa yang disebut-sebut pihak pengambil keputusan sebagai memiliki risiko sistemik bila tidak diselamatkan. Masyarakat awam yang mengikuti tontonan investigasinya oleh Pansus DPR di televisi sebenarnya sudah bisa cukup paham tentang apa yang nampaknya terjadi.

Pada waktu yang bersamaan, nun jauh disana – ada negeri yang para pembuat hukumnya (lawmakers) juga lagi menginvestigasi Menteri Keuangannya  (Treasury Secretary), untuk kasus yang sangat mirip – yaitu bailout AIG akhir 2008 yang menyebabkan rakyat negeri itu harus nombok US$ 180 Milyar sebagai komitmen dana talangan aksi penyelamatan ini.

Investigasi ini juga disiarkan di televisi secara langsung tadi malam, saya sendiri mengikutinya dari CNBC yang menyajikan kasus ini sebagai tontonan menarik dalam skala global.

Dari apa yang saya lihat melalui 2 tontonan televisi tersebut – investigasi Century di Pansus DPR RI dan investigasi bailout AIG di Congress AS – sangat-sangat banyak kemiripannya sehingga saya yakin bahwa 2 hal ini bukan suatu kebetulan.

AIG terpaksa diselamatkan pemerintahnya dengan alasan risiko sistemik yang dihadapi negeri itu jauh lebih besar dibanding  bila AIG dibiarkan bankrupt.  Bank Century-pun di Indonesia diselamatkan dengan alasan yang persis sama.

Kalau 2 kejadian tersebut bukanlah kebetulan, lantas apa sebenarnya hubungan keduanya? Terlepas dari berbagai hubungan yang saling terkait dari sistem finansial global; saya memahaminya sebagai hubungan yang lebih sederhana saja – yaitu hubungan guru dan murid.

Ketika sang guru mengatakan bahwa inilah sistem finansial yang harus dianut di seluruh dunia, maka murid-pun serta merta mengikuti. Ketika gurunya terperosok ke lubang biawak, pada saat yang bersamaan sang murid-pun mengikuti masuk lubang biawak yang sama.

TIME: The Bailout BombAlasan risiko sistemik bisa benar bisa salah, namun katakanlah risiko ini benar ada – dan konon dampaknya bisa begitu besar; di Amerika sendiri risiko sistemik yang ditimbulkan oleh bangkrutnya AIG – bila tidak diselamatkan – bisa mencapai derajat yang disebut sebagai  Extinction Event (kejadian yang memusnahkan); lantas apa yang telah dilakukan oleh dunia dan negeri ini?

Saya secara pribadi belum melihat ada upaya dunia dan negeri ini untuk menghindar dari risiko yang memusnahkan tersebut.

Resep untuk menghindari risiko tersebut sebenarnya sudah ada dan sangat komplit di Syariah Islam – hanya sebagian kita umat Islam sendiri yang menyebut syariah-pun enggan apalagi menerapkannya.

Bila syariah diterapkan, maka tidak akan ada produk-produk finansial yang mengandung unsur riba, maisir dan gharar yang menjadi pangkal seluruh kebangkrutan dan risiko sistemik tersebut.

Bila harta tidak hanya berputar di golongan yang kaya, tetapi berputar secara luas di masyarakat (QS. Al-Hasyr (59):7) – maka tidak ada konsentrasi kekayaan dunia yang berpusat di segelintir orang atau institusi. AIG di negerinya bisa menimbulkan risiko pada tingkat Exctinction Level karena besarnya organisasi ini yang tidak ketulungan. Untuk bailout-nya saja dibutuhkan komitmen sampai US$ 180 Milyar atau sekitar  Rp 1,700 trilyun atau setara lebih dari 250 kali dana yang dibutuhkan untuk menyelamatkan Century.

Jadi sungguh kita punya solusi itu, mengapa pula kita mengambil solusi dari Guru Yang ‘….’ Berlari? Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

The Dollar Meltdown: Bila Dollar Melumer


The Dollar Meltdown (Penguin Group, NY 2009) adalah judul buku karya Charles Goyette yang mendapatkan perhatian luas di Amerika akhir-akhir ini; sampai anggota congress senior negeri itu yang punya perhatian khusus pada moneter Ron Paul memberikan catatannya yang berbunyi: Goyette telah melakukan pekerjaan hebat dalam menjelaskan mengapa Amerika menuju krisis finansial hebat kedepan, dan mengajari strategi yang masuk akal bagi warga Amerika untuk melindungi diri dan keluarganya. Sungguh buku ini wajib dibaca (bagi warga Negara Amerika tentunya).

Buku yang terdiri dari 4 Bab ini terus terang juga menarik bagi saya – meskipun isinya sendiri tidak banyak yang baru – karena mayoritas pokok-pokok pemikirannya juga sudah saya tulis di situs ini sejak lama, jauh sebelum buku ini terbit.

Pada 2 bab Pertama banyak membahas dengan detil tentang krisis finansial yang terjadi selama 2 tahun terakhir, bagaimana terjadinya, upaya-upaya bailout yang dilakukan pemerintah yang dianggapnya gagal dan justru membuat blunders, tumpukan hutang yang menggunung dan semakin menggunung (dalam bahasa penulis disebut: First there is a mountain… then there is a bigger mountain) yang akhirnya nanti akan membawa kepada kebangkrutan.

Bab III menguraikan dengan jelas tentang prediksi penulis akan masa depan ekonomi Amerika yang direpresentasikan dengan US Dollar-nya. Menurut Goyette ini, kemungkinan besar terjadi (likely scenarios) bahwa US$ akan runtuh hanya dalam beberapa tahun mendatang.

Mengenai timing-nya ini, Goyette menjelaskan keberulangan sejarah. Dollar yang kita kenal sekarang adalah Dollar yang tidak lagi dikaitkan dengan emas – ini merupakan pengingkaran Amerika atas perjanjian yang digagasnya sendiri yaitu Bretton Woods Agreement. Amerika terpaksa melepaskan kaitan uangnya dengan emas secara resmi tahun 1971 setelah didahului oleh kebangkrutan ekonomi akibat membiayai perang yang tidak bisa dimenangkannya – yaitu Perang Vietnam.

Hal serupa kini sudah terjadi selama bertahun-tahun; Amerika menguras sumber-sumber keuangannya untuk membiayai The Three Trillion Dollar War (bahkan konon dana yang dikeluarkan telah membengkak menjadi US$ 4 – 5 trilyun), berupa Perang Iraq yang tidak memberi manfaat pada bangsa Amerika sendiri.

Dia mengibaratkan kondisi yang dihadapi oleh Dollar saat ini sebagai sebuah kereta yang diberi nama Dollar/Debt Express (DDE). Kereta ini berjalan dengan sangat kencang pada rel buntu yang menuju pada satu arah yaitu tempat rongsokan; sudah sangat terlambat sekarang untuk bisa mengurangi kecepatan kereta, apalagi mengerem-nya. Benturan yang sangat keras akan segera terjadi pada tikungan yang akan dilaluinya – yaitu ketika kereta Dollar/Debt Express ini harus bertabrakan dengan realitas ekonomi.

Kereta akan musnah karena dia melaju pada 2 rel kehancuran. Rel pertama namanya fiscal policy, dan rel ke-2 bernama monetary policyFiscal policy menyangkut kebijakan anggaran yang ditempuh pemerintah yang boros dan mengeluarkan uang tidak pada tempatnya – seperti perang Iraq diatas, sedangkan monetary policy menyangkut apa yang dilakukan oleh Federal Reserve – yang keduanya mendorong supply uang kertas yang terus bertambah.

Ketika supply uang sangat banyak, namun kepercayaan di pasar sudah runtuh oleh berbagai kasus seperti real estate bubble yang memicu credit contraction 2 tahun terakhir; maka uang tersebut sejatinya tidak menggerakkan sector riil. Maka selanjutnya yang akan terjadi adalah apa yang disebut stagflation stagnation and inflation.

Ekonomi tidak tumbuh, otomatis lapangan kerja tidak tersedia – uang dicetak banyak tetapi tidak bisa diperoleh oleh masyarakat – dan kalau masyarakat-pun akhirnya mendapatkan uang tersebut – uang ini memiliki daya beli yang rendah karena inflasi yang sangat tinggi.

Ludwig von Mises (1881-1973)

Ludwig von Mises (1881-1973)

Yang terjadi selanjutnya lagi menurut penulis adalah The Crack-up Boom atau ledakan kehancuran; dimana penulis mengambil kata-kata dari ekonom besar Ludwig von Mises untuk menggambarkannya sebagai berikut:

Masyarakat akhirnya akan sadar pada suatu fakta bahwa inflasi adalah kebijakan yang disengaja (deliberate policy) yang akan terus berulang tiada akhir (go on endlessly); ketika ledakan kesadaran ini muncul serentak, semua orang ingin secepatnya menukar uang yang dipegangnya dengan benda riil – tidak perduli mereka membutuhkannya atau tidak, tidak perduli pula berapa banyak uang kertas yang mereka butuhkan untuk ditukarkan ke benda riil tersebut.

Dalam waktu yang sangat singkat, dalam bilangan minggu atau bahkan hari, apa yang dahulunya disebut sebagai uang, kini tidak lagi berlaku sebagai alat tukar. Uang kertas telah menjadi kertas bekas, yang orang tidak lagi mau menukar barang apapun dengan kertas bekas ini.

Inilah yang sudah pernah terjadi di Amerika tahun 1781 dengan uang Continental, di Perancis tahun 1796 dengan uang Territoriaux dan dengan uang Mark Jerman pada tahun 1923. Kejadian serupa akan terjadi lagi bila kondisi yang sama muncul.

Setelah menulis prediksi yang mengerikan di Bab III tersebut; penulis menghibur bangsa Amerika di Bab IV yaitu solusi menghadapi krisis ini. Apa yang dia sarankan? Tidak sulit menduganya; dia menyarankan untuk melindungi asset diri dan keluarga hendaknya warga Amerika berinvestasi pada emas, perak, minyak, bahan-bahan kebutuhan pokok seperti produk pertanian dan sejenisnya.

Dalam kesimpulan akhirnya penulis ini juga menjelaskan prediksinya akan uang alternatif yang kedepannya akan sangat dominan perannya yaitu apa yang dia sebut sebagai Digital Gold Currency; yang dia jadikan contoh adalah GoldMoney yang sudah mulai ada di pasar sejak tahun 2001. Sayang si penulis nampaknya belum mengenal M-Dinar ; kalau seandainya dia sudah mengenal M-Dinar ini, dia akan tahu betapa dekat prediksi dia dengan realita di hampir seluruh penjuru dunia.

Isi buku karya Charles Goyette ini memang sangat dekat dengan pemikiran utama di DinarIslam.com; bukan karena kami nyontek dia (karena tulisan-tulisan kami lahir lebih dulu dari tulisan dia!), bukan pula sebaliknya dia nyontek pemikiran kami (kecil sekali kemungkinannya dia membaca dan memahami DinarIslam.com!) ; tetapi adalah karena sifat kebenaran yang fitrah.

Ketika kami mengungkapkan kebenaran dari sudut pandang keIslaman kami yang berasal dari Qur’an dan Hadits (misalnya Riba yang pasti dihancurkan Allah QS 2: 276) ;  orang lain yang mengkaji kebenaran berdasarkan ilmunya dengan jujur seperti Charles Goyette – kemungkinan besarnya memang akan berkesimpulan yang sama dengan kesimpulan kami tersebut.

Jadi kalau di Al-Qur’an sudah dikabarkan bahwa Riba akan dihancurkan oleh Allah (QS 2 :276), kemudian secara ilmiah oleh Charles Goyette juga disimpulkan yang sama bahwa Dollar nan ribawi akan hancur – maka apakah kita masih akan percayai US Dollar? Maukah kita naik kereta Dollar/Debt Express menuju tempat yang namanya The Crack-up Boom? Saya rasa tidak. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Tinggalkan Dollar Selagi Sempat!


Dalam tulisan saya tanggal 6 Oktober lalu, sudah diungkapkan bahwa Rupiah-pun lebih perkasa dari US Dollar dalam setahun terakhir. Pelemahan US$ ini dapat kita ikuti terus di dashboard kami secara real-time, yang pada saat artikel ini saya tulis mengindikasikan US$ Index berada pada angka 75.86.

Ironinya bahwa melemahnya US$ ini bukan sesuatu yang tidak wajar, ini justru yang wajar – maka dari itu US$ pada tingkat index tersebut di atas, pada indikator ditunjukkan oleh jarum yang berada di zone biru. Ketika US$ Index menujukkan angka yang tinggi beberapa bulan lalu, dia berada di zone merah – atau dalam kondisi yang tidak wajar.

Mengapa kondisi wajarnya US$ lemah dan akan terus melemah terhadap mata uang-mata uang besar dunia? Berikut beberapa alasannya diantara sekian banyak alasan lainnya.

Deficit spending, bailout, quantitative easing, stimulus, zero interest rate dan corporate scandals adalah kata-kata yang popular menghiasi ekonomi Amerika saat ini; semua kata-kata ini mendorong US$ turun dan tidak mendorongnya naik.

Dari tahun ketahun berbagai tingkat pejabat tinggi Amerika sampai presidennya sendiri riwa-riwi ke China; Apa misinya? Menurunkan defisit perdagangan Amerika terhadap China. Dengan apa defisit ini diturunkan? Dengan menurunkan daya saing produk-produk China di Amerika. Dengan apa daya saing China di Amerika bisa turun? Kalau produk China terasa mahal oleh penduduk Amerika; ini berarti demi kepentingan bangsa Amerika sendiri US$ harus terus melemah terhadap Renminbi China!

Bukan hanya terhadap Renminbi saja US$ akan terus melemah; terhadap berbagai mata uang kuat lainnya seperti Euro, Yen, Aussie Dollar, dlsb.; mata uang US$ akan melemah – demi penyelamatan ekonomi negeri itu dari defisit neraca perdagangan yang mulai tidak tertahankan lagi sejak krisis finansial melanda 2 tahun terakhir.

Bagaimana agar kita tidak ikut menjadi korban dari terus melemahnya US$? Ya jangan gunakan US$ dalam berbagai bentuk investasi kita baik itu berupa tabungan, deposito, dana pensiun, asuransi dan berbagai investasi lain yang menggunakan US$ dalam unit of account-nya.

Dalam skala negara-pun hal ini patut dipikirkan secara serius. Betapa runyamnya ketergantungan terhadap US$ ini bila diteruskan dapat kita lihat dari illustrasi berikut:

“Pada akhir September 2008 lalu cadangan devisa kita mencapai US$ 57.108 Milyar; pada akhir September 2009 cadangan devisa ini menjadi US$ 62.287 Milyar. Tambah kayakah kita? Kalau dilihat dari angka cadangan devisa dalam US$ ini iya, karena cadangan devisa kita naik kurang lebih 9 % setahun terakhir ini. Masalahnya adalah US$ – nya sendiri bila diukur dengan unit account yang baku sepanjang zaman yaitu emas – 1 tahun terakhir mengalami penurunan sekitar 22 %; karena emas dalam US$ mengalami kenaikan harga sekitar 28 % pada periode yang sama. Jadi bila dihitung dengan timbangan yang baku emas, cadangan devisa kita sejatinya mengalami penurunan sekitar 15% selama 1 tahun terakhir!

Mana yang kita lebih percayai? Asset kita ditimbang dengan US$ yang terus menyusut seperti dalam illustrasi grafik di atas, atau ditimbang dengan timbangan yang baku emas/Dinar? tentu saya lebih percaya pada yang terakhir ini.

Dengan fenomena terus menurnnya US$ (sebenarnya juga seluruh mata uang kertas lainnya) ini, lantas apakah kita rame-rame menumpuk emas atau Dinar? Tidak juga! Karena emas atau Dinar sebagai investasi hanya nomor 2 setelah sektor riil meskipun dia nomor 1 sebagai unit of account (timbangan) maupun sebagai store of value (penyimpan nilai – agar tidak susut seperti uang kertas).

Yang terbaik bagi kita semua adalah kalau kita bisa menggerakkan sektor riil dengan perdagangan yang riil. Sebagai contoh Dinar yang harga nya kurang lebih setara dengan seekor kambing ukuran sedang sepanjang zaman, menyimpan Dinar tidak lebih baik dari memelihara kambing.

1 Dinar Anda akan tetap 1 Dinar setahun yang akan datang (meskipun dalam Rupiah atau Dollar bisa jadi nilainya sudah 30% lebih tinggi saat itu!), tetapi 1 ekor kambing Anda insya Allah bisa jadi 2 kambing (atau 1½ setelah dipotong ongkos pelihara!) tahun depan…..

Jadi urutan terbaiknya adalah ‘pelihara kambing’ (merepresentasikan sektor riil), kalau karena satu dan lain hal belum bisa ‘pelihara kambing’ maka pertahankan asset Anda terlebih dahulu dalam satuan emas atau Dinar… agar tidak ikut tenggelam bersamaan dengan tenggelamnya mata uang US$ dan berbagai mata uang kertas lainnya. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Bisnis Berbasis Amanah, Masih Adakah?


Salah satu bukti kebenaran Islam sebagai agama akhir jaman adalah agama ini memiliki kunci jawaban dari setiap persoalan yang dihadapi oleh manusia akhir jaman, tentu termasuk juga persoalan  kita yang hidup di jaman ini.

Dalam dunia bisnis-pun Islam mempunyai cara atau jawaban tersendiri yang berbeda dengan yang dilakukan oleh kaum Nasrani dan Yahudi. Amanah yang didasari keimanan pada Allah dan hari akhir, menjadi hal yang  utama bagi seorang muslim – lebih utama dari sistem atau hukum yang lahir di luar hukum Islam.

Bagi yang masih lebih mengandalkan sistem (di luar sistem Islam), ketimbang amanah kepada saudaranya seiman,  saya hanya ingin berbagi dengan Anda tentang hadits sahih panjang yang saya pandang sangat relevan dengan dunia bisnis dan investasi saat ini – setelah itu Anda sendiri yang memutuskan, mana yang lebih sesuai dengan hati kecil Anda.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman r.a., dia berkata : “Rasulullah SAW menceritakan kepada kami dua hadis. Sungguh aku telah melihat salah satunya dan aku menanti yang lain (sebab sekarang aku belum menjumpainya). Beliau bercerita kepada kami, bahwa amanat itu turun di hati beberapa laki-laki, lantas Al-Qur’an diturunkan, lalu mereka mengetahui (ilmu) dari Al-Qur’an dan Sunah Rasul.

Kemudian beliau bercerita kepada kami tentang amanat yang akan diangkat, lalu beliau bersabda : “Seorang laki-laki tidur, lantas amanat diambil dari hatinya, lalu tinggal bekasnya seperti lepuh (di kulit). Ia laksana bara yang kamu gelincirkan di kakimu, lantas kulitnya melepuh. Kamu lihat bengkak (di kulit kakimu), kamu kira didalamnya terdapat sesuatu, tapi hakikatnya tidak ada. Kemudian dia mengambil batu kecil lalu dilemparkan ke kakinya; lalu manusia berjual beli padanya, hampir saja tidak ada seseorang yang mampu menunaikan amanat, hingga dikatakan: sesungguhnya dalam bani Fulan (salah satu suku bangsa) terdapat laki-laki yang bisa dipercaya. Lantas banyak orang yang berkata: alangkah kuatnya, alangkah baiknya, alangkah cerdiknya, padahal sejatinya dalam lubuk hatinya tidak terdapat keimanan, sekalipun seberat biji sawi.”

Hudzaifah berkata : Sungguh telah datang kepadaku suatu masa dan aku tidak peduli siapakah di antara kamu yang aku ajak jual beli. Bila dia seorang muslim, maka agamanya yang akan mengembalikan amanat kepadaku ( bila dia membeli barangku dengan hutang, Maka kemantapan dia dalam beragama akan mengembalikan uang itu kepadaku). Bila dia seorang Nasrani atau Yahudi (lantas aku berjual beli padanya tidak tunai, lalu dia berkianat), maka petugas dari pemerintah yang akan mengembalikan (barangku atau hakku). Untuk sekarang aku tidak akan berjual beli, kecuali kepada Fulan dan Fulan (yaitu orang-orang yang menurutku kuat dalam memegang amanat).” HR. Muttafaq Alaih.

Kita yang hidup di jaman sekarang dapat melihat apa yang disinyalir oleh hadits tersebut diatas; yaitu ketika kita menitipkan harta kita di kaum Nasrani dan Yahudi – misalnya dalam bentuk tabungan di bank-bank yang dimiliki mereka – kemudian mereka berkianat (seperti kasus BLBI 1997-1999), apa yang terjadi? Pemerintah yang menjaminnya bukan?  Sepintas lalu ini baik karena uang Anda selamat; namun apakah ini baik untuk masyarakat keseluruhan? Ternyata tidak.

Kasus bailout oleh pemerintahan (Entah Yahudi atau Nasrani) AS baru-baru ini terhadap beberapa lembaga keuangan yang gagal telah menjadi bukti bahwa sistem penjaminan oleh pemerintah ini bukan-lah solusi yang baik karena hal-hal berikut :

  • Bailout oleh pemerintah lebih banyak menyelamatkan bankers/lenders yang tidak bertanggung jawab.
  • Memindahkan asset-asset beracun ke tangan pemerintah, yang ujung-ujungnya menjadi beban masyarakat secara luas.
  • Tidak mendidik masyarakat untuk berhati-hati dalam menitipkan kekayaannya.

Sayangnya, solusi bailout atau penjaminan oleh pemerntah yang di negeri asalnya-pun banyak dikritik oleh rakyatnya – kini telah salah kaprah dianggap sesuatu yang paling benar dan ditiru oleh negara-negara lain.

Kalau saja dari umat mulai ada keberpihakan pada saudara-saudara kita yang seiman dan amanah – maka insya Allah akan tumbuh entrepreneur- entrepreneur yang kita merasa aman mempercayakan harta kita pada mereka – karena agamanya yang akan menjaga amanat di hatinya.

Masih adakah amanat ini di hati saudara-saudara kita seiman? Saya optimis insya Allah masih ada; bahkan insya Allah masih akan tumbuh – bila ada keberpihakan kita seperti keberpihakannya Hudzaifah dalam hadits tersebut diatas – yaitu bermualah dengan si Fulan dan si Fulan , orang yang kuat memegang amanah – bukan si Fulan bin Fulan yang mengandalkan jaminan pemerintah. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (1)


Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes