Tag Archive | "Amerika"

Mungkinkah Harga Emas Akan Turun Terus Seperti Tahun 1980-an?


Saya pernah menulis tentang Misery Index atau Index Kesengsaraan suatu negara yang diukur dengan 4 komponen yaitu Inflasi, Pengangguran, Interest Rate dan GDP. Kali ini saya ingin meng-elaborate salah satu dari unsur yang menyengsarakan rakyat tersebut yaitu inflasi.

Banyak cara untuk mengukur inflasi, namun di negara maju sekalipun data inflasi dari pemerintah sering diragukan oleh rakyatnya. Di Amerika misalnya yang menganggap dirinya paling transparan, data inflasinya dibantah oleh seorang kakek-kakek John Williams dari Shadow Government Statistics.

Ada data inflasi yang sebenarnya tidak bisa berbohong yaitu harga barang yang satu dibandingkan dengan barang yang lain yang bersifat baku. Yang selalu kita contohkan di sini adalah harga emas1 Dinar terbukti stabil cukup untuk membeli seekor kambing selama lebih dari 1400 tahun. Jadi harga emas ini bisa untuk mendeteksi apakah suatu negara mampu mengendalikan inflasi atau tidak, bila negara tidak bisa mengendalikan inflasi – maka negara tersebut tidak akan bisa memakmurkan rakyatnya – lihat di tulisan saya mengenai Misery Index tersebut untuk detilnya.

Contoh konkrit dari korelasi antara harga emas dengan inflasi yang juga merupakan indikator kemakmuran ini dapat dilihat dari sejarah harga emas di Amerika 100 tahun terakhir seperti dalam grafik di bawah. Sampai tahun 1971 ketika harga emas dipatok pada nilai US$ 35/Oz (US$ 21/Oz sampai 1930) – rakyat seharusnya cukup makmur karena daya beli uang mereka tetap.

us-gold-historyNamun perhatikan setelah tahun 1971 ketika negeri itu tidak lagi mengkaitkan pencetakan uangnya dengan emas; inflasi langsung melonjak dan puncaknya tahun 1980 ketika negeri itu berada dalam keterpurukan yang serius yang ditandai dengan inflasi yang mencapai angka 13.2%.

Yang menarik adalah negeri itu pernah berhasil mengendalikan inflasi ini dengan sangat baik yaitu ketika presidennya Ronald Reagan. 3 tahun di awal pemerintahannya dia berhasil menurunkan tingkat inflasinya menjadi tinggal 3.2% saja. Anda bisa perhatikan dari grafik di atas bahwa puncak inflasi bersamaan dengan puncak harga emas tertinggi tahun 80-an yaitu US$ 615/Oz; kemudian awal penurunan harga emas dimulai dari keberhasilan Reagan mengendalikan inflasi ini.

Di awali dengan kemampuan pemerintah AS mengendalikan inflasi ini, harga emas terus turun dan mencapai titik terendahnya tahun 2001 ketika harga emas tinggal hanya US$ 278/Oz saja.

Pertanyaannya adalah, kalau harga emas dalam US$ pernah begitu lama mengalami penurunan (bearish) – mungkinkah ini akan terjadi kembali ke depan diawali dengan era Obama sekarang? Saya berpendapat hal ini kecil sekali kemungkinannya terjadi, karena Obama dan pemerintahan dunia saat ini tidak melakukan 4 hal esensial yang dilakukan oleh Reagan yaitu:

1) Di awal pemerintahannya Reagan mencanangkan pemotongan pajak untuk merangsang investasi, tumbuhnya enterpreneurship dan membangkitkan etos kerja. Kita tahu kemudian dalam sejarah bahwa raksasa-raksasa industri teknologi tumbuh pesat saat itu dan mereka tetap ada sampai sekarang.

2) Langkah kedua adalah menghilangkan unnecessary cost on the economy. (Kita perlu belajar banyak dari langkah kedua ini bila kita ingin bangun dari keterpurukan kita saat ini yang dalam skala dunia berada di urutan 122 dari 183 negara dalam hal kemudahan berusaha.)

3) Mengendalikan anggaran belanja pemerintah. (Lagi –lagi di bidang ini kita juga perlu belajar; ketika kita lagi terpuruk ya jangan membeli mobil baru yang mahal untuk para pejabat, jangan memekarkan daerah karena akan menambah beban negara, jangan memperbanyak Pilkada, Pileg , Pilpres, dlsb. yang semuanya berdampak pada beban biaya yang harus ditanggung rakyat.)

4) Yang ke-4 Reagan mencanangkan anti-inflation monetary policy yang kemudian terbukti ampuh menurunkan tingkat inflasi tinggal ¼-nya saja hanya dalam waktu 3 tahun.

4 hal tersebut di atas tidak dilakukan oleh pemerintahan Obama sekarang dan negara-negara lain yang senangnya meniru apa yang mereka lakukan, kini mereka mendapatkan guru yang ‘…’ berdiri, maka muridpun ‘…’ berlari.

Harga emas yang menjulang selama dasawarsa terakhir belum ada tanda-tanda berakhir, karena ini juga cerminan inflasi yang sesungguhnya dari uang kertas maka rakyat di seluruh dunia harus mulai berikhtiar sekuat tenaga untuk bisa memakmurkan diri dan keluarganya karena policy pemerintahnya masing-masing nampaknya tidak atau belum akan membawa kemakmuran bagi mereka dalam waktu dekat. Wa Allahu A’lam dan saya bisa saja keliru.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Antara Visi, Mimpi dan Do’a


Dalam sejarah dunia abad lalu, ada pemimpin dunia yang sangat terkenal akan kekuatan visinya yaitu John F. Kennedy. Di hadapan Konggres Amerika pada tahun 1961 dia mengungkapkan visinya bahwa bangsa Amerika harus bisa mencapai bulan sebelum akhir dekade itu.

Di tengah bangsa Amerika yang lagi limbung sebenarnya visi ini jauh melampaui zamannya. Visi ini muncul ketika bangsa Amerika ragu apakah jalan hidup yang mereka pilih sudah benar, apakah bukannya komunis yang benar karena saat itu komunis lagi menghebohkan dengan keberhasilan Soviet meluncurkan satelit yang mengorbit bumi. Bahkan bangsa Amerika lagi nggumun-nggumun-nya dengan keberhasilan Soviet mengirim kosmonot Yuri Gagarin ke antariksa.

Namun sekitar 8 tahun kemudian, meskipun JFK sendiri sudah meninggal – visinya teralisasikan dengan sejarah Neil Armstrong dan Buzz Aldrin sebagai manusia-manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan pada tanggal 20 Juli 1969.

Jadi visi lebih penting ketimbang sumber daya dan kondisi yang melingkungi manusia itu sendiri. Dengan sumber daya melimpah tetapi tidak didukung oleh visi yang jelas – maka sumber daya yang melimpah ini tidak akan banyak manfaatnya.

Sebaliknya dengan sumber daya yang terbatas dan dengan lingkungan yang tidak sepenuhnya kondusif sekalipun, pemimpin yang mempunyai visi yang kuat akan bisa mengeluarkan rakyatnya dari penderitaan dan bahkan bisa menjadi bangsa pemenang – meskipun tidak harus tercapai pada saat dia memimpin.

Lantas bagaimana kita tahu apakah kita sudah memiliki visi yang jelas atau kita baru sekedar bermimpi? Bedanya terletak pada jabaran-nya. Visi yang jelas dapat dijabarkan menjadi Mission, Goals, Strategies dan Action Plans sampai sedetilnya. Sedangkan mimpi tidak perlu penjabaran, Anda bisa saja mimpi lagi menikmati liburan di Paris tetapi berangkatnya naik sepeda dari Depok – namanya juga mimpi, boleh-boleh saja dan tidak perlu penjelasan detil.

Perbedaan antara visi dan mimpi ini pulalah yang antara lain membedakan sedikit karyawan yang benar-benar pindah kwadrant menjadi pengusaha, dengan mayoritas karyawan yang tetap menjadi karyawan sampai pensiun – padahal sejak awal bekerja yang mayoritas ini juga bervisi (sebenarnya masih mimpi) menjadi pengusaha. Golongan yang pertama menjabarkan visinya dan berbuat (action plans) maka sampailah apa yang di-visi-kannya; golongan kedua tidak bermuat apa-apa dengan mimpinya – maka mimpi tetap menjadi mimpi.

padang-pasirDalam hal visi ini, sebagai umat Islam kita sesungguhnya punya contoh tauladan yang jauh lebih agung dari John F. Kennedy. Teladan kita adalah bapak para nabi yaitu Nabi Ibrahim A.S. Bayangkan di tengah padang pasir yang gersang tidak ada pepohonan, di tempat yang sangat jauh dari keramaian manusia – Nabi Ibrahim sudah memiliki visi yang sangat jelas akan seperti apa tempat itu nantinya. Visi ini dituangkan dalam do’a-do’a-nya yang diabadikan di Al-Qur’an antara lain sebagai berikut :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian… “ (QS. Al-Baqarah (2): 126)

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim (14): 37).

Kini ribuan tahun kemudian, visi itu benar-benar terwujud. Kita bisa menikmati buah-buahan apa saja di Mekkah, meskipun buah-buahan itu sendiri tidak ditanam di sana. Buah-buahan, makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan manusia mengalir bak air bah dari seluruh dunia ke tempat yang divisikan Nabi Ibrahim tersebut di atas. Lebih dari itu manusia yang berduyun-duyun ke Mekkah juga mayoritasnya memiliki 1 tujuan saja yaitu menyembah Allah semata yang dimanifestasikan dalam bentuk shalat.

Nah, kalau Kennedy saja yang tidak membaca petunjuk Al-Qur’an bisa membawa bangsanya mencapai bulan. Kita yang dituntun dengan petunjuk dan contoh yang sempurna dari Al-Qur’an dan Hadits – sudah seharusnya dapat berbuat lebih dari yang dilakukan oleh JFK.

Bukan hanya petunjuk dan contoh yang sangat komprehensif yang kita punya, tetapi juga kita dibekali dengan do’a-do’a matsur seperti yang dilafalkan Nabi Ibrahim tersebut di atas. Ayo sekarang kita semua, mulai dari diri kita – bangun dari mimpi-mimpi kita dan mulai membangun visi sambil tidak berhenti untuk terus berdo’a. Semoga Allah menunjuki jalanNya untuk kita semua… Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Islamic ViewComments (0)

China Bersiap Memimpin Perdagangan Dunia Tanpa US$?


Kinerja US$ terus menjadi keprihatinan para pemimpin dunia, terutama negara yang memegang US$ dalam jumlah terbesar seperti China. Di sela-sela  pertemuan dengan para petinggi Amerika tahun lalu, secara terus terang Asisten Menteri Keuangan China Zhu Guang Yau mengungkapkan: Pemerintah China sebagai pemerintahan yang bertanggung jawab, pertama dan paling penting harus bertanggung jawab pada rakyat China. Jadi tentu kami prihatin dengan keamanan aset-aset China”. Yang dimaksud aset-aset China dalam pertemuan ini adalah aset China dalam bentuk US Treasury Debt yang kini nilainya telah mencapai US$ 801.5 milyar.

Meskipun pertemuan ditutup dengan penuh semangat seperti yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton kami telah meletakkan dasar-dasar yang positif, kooperatif dan hubungan yang komprehensif abad 21; dunia tidak menutup mata atas upaya-upaya lain yang nampaknya juga dilakukan oleh China sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap rakyat China – seperti yang diungkapkan oleh Zhu tersebut.

Ada 2 hal yang dilakukan China untuk menggantikan atau setidaknya mengurangi ketergantungan terhadap US$ dalam perdagangan internasional.

  1. Pendekatan bottom-up untuk menggantikan US$ dengan Yuan, tidak melalui sistem perbankan – tetapi melalui perdagangan. Dengan negara terbesar di Amerika selatan – Brasil misalnya , mereka telah menyepakati rencana untuk menggunakan Yuan langsung sebagai pengganti US$ dalam perdagangan antara kedua negara ini. Setelah itu, target besar berikutnya adalah OPEC yang diharapkan akan segera dapat menerima Yuan untuk pembayaran minyak produksi mereka.
  2. Langkah yang masih misterius karena sangat dirahasiakan, kemungkinan besar melibatkan juga negara kuat Jerman, selain Brasil, Rusia dan India yang bersama China sebelumnya telah intensif bicara dalam forum BRIC.
US Treasuries

US Treasuries

Yang mereka sedang persiapkan secara rahasia nampaknya semacam sistem barter yang canggih, yang tidak melibatkan uang fiat seperti US$. Hal ini sedikit bocor oleh pernyataan salah satu konsultan mereka yang antara lain mengungkapkan: Ketika terjadi keambrukan (sistem finansial dunia yang didominasi US$), sistem ini tidak akan membutuhkan reserve currencies lagi, karena 95% dari transaksi akan berupa barter atau imbal dagang yang canggih melalui platform perdagangan yang sedang di-design untuk siap beroperasi awal 2010. Sistem baru ini akan meniadakan peran bank yang selama ini menjadi jalur sempit (bottleneck) dalam perdagangan secara lokal, nasional dan internasional.

Betapapun siapnya negara China untuk menggantikan Amerika dalam perdagangan dunia, negara-negara yang penduduk terbesarnya Muslim seharusnya memiliki langkah-langkah tersendiri dan tidak mengikuti atau terbawa arus oleh negara lain, baik itu Amerika maupun China. Keduanya tidak bersahabat dengan Dunia Islam seperti apa yang ditunjukkan Amerika di Palestina, dan apa yang dilakukan China terhadap saudara-saudara kita Muslim Uighur.

Selain karena faktor politik ini, sebenarnya Dunia Islam telah memiliki platform perdagangan yang berbasis Dinar, yang memang sudah mengedepankan perdagangan benda riil ke benda riil lainnya. Dengan sistem Dinar, perdagangan tidak perlu ribet seperti dalam sistem barter – tetapi juga tidak perlu rentan terhadap fluktuasi nilai mata uang masing-masing negara karena nilai daya beli Dinar yang baku secara universal – tidak terpengaruh waktu dan tempat.

Negara-negara yang mau menggunakan sistem Dinar ini juga tidak perlu re-invent the wheel karena sistem yang mengatur perdagangan berbasis Dinar ini sudah lengkap, utuh dan proven karena telah lebih dari 1000 tahun diterapkan Dunia Islam – itulah Syariah.

Dengan keunggulan-keunggulan sistem Dinar ini; seharusnya Dunia Islam yang memimpin perdagangan dunia ke depan. Apalagi sumber daya alam terbesar seperti minyak, panas bumi, gas, hutan dan lain sebagainya tersedia dengan cukup di Dunia Islam tersebut.

Namun kalau harapan ini terlalu jauh, bila pendekatan top-down dari pemimpin-peminpin negara Islam untuk rakyatnya sulit diharapkan;  maka umat Islam yang cerdas-pun dapat memulainya dengan pola bottom-up. Umat sendiri yang secara luas menyebarkan dan menggunakan sistem perdagangan berbasis Dinar yang adil, maka setelah itu pemerintah-pemerintah negeri muslim suka atau tidak suka akan mengikuti kemauan dan kepentingan rakyatnya. Insya Allah

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Dinar Equity Exchange: Jual Beli Yang Nyaris Tanpa ‘Uang’


Krisis finansial global sungguh memberikan banyak hikmah bagi yang mau mengambil pelajaran darinya, salah satunya adalah pasar property di Amerika Serikat seperti yang ditulis oleh penulis kondang Robert Kiyosaki dalam bukunya The Real Book of Real Estate (Vanguard Press, 2009).

Dalam buku tersebut sebenarnya Robert Kiyosaki tidak menulisnya sendiri, dia hanya meng-compile pengalaman-pengalaman dari para praktisi real estate terbaik di negeri itu. Dari sekian banyak pengalaman-pengalaman tersebut, di sini saya hanya ambil satu saja yang menurut saya paling menarik yaitu pengalaman yang ditulis oleh Wayne Palmer seorang Exchangor atau Equity Marketing Specialist (EMS).

Profesi apakah EMS ini sebenarnya? Saya kesulitan mencari padanannya yang pas tetapi kurang lebih adalah semacam fasilitator perdagangan barter terutama untuk asset-aset bernilai tinggi seperti rumah, hotel, perkantoran, tanah perkebunan, dlsb.

Profesi EMS ini menjadi semakin penting belakangan ini di Amerika justru setelah mereka dilanda krisis. Begitu banyak orang ingin menjual atau mengganti rumahnya tetapi begitu sedikit pembeli yang punya uang. Uang (likuiditas) menyusut dengan drastis sehingga kalau hanya mengandalkan harus adanya uang untuk terjadi transaksi property, maka sangat sedikit property yang bisa berganti tangan semasa krisis ini.

Lantas apa solusinya? Barter antara pemilik rumah yang satu dengan pemilik rumah yang lain menjadi pilihan yang sangat menarik. Hanya saja barter rumah bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena seandainya si A dan si B sama-sama ingin menukar rumahnya – belum tentu A cocok dengan rumah si B dan sebaliknya.

sebelum-exchangeDisinilah dibutuhkan keahlian khusus untuk meng-arrange sejumlah orang yang ingin menukar rumahnya satu sama lain, yang masing-masing mendapatkan apa yang diinginkannya dan sekaligus memperoleh orang yang mau menerima apa yang ingin ditawarkannya.

Sebelum saya memberikan contoh, saya ganti dahulu mata uang atau timbangannya menjadi Dinar dan bukannya US$ – Mengapa? Karena sifat uang kertas yang nilainya terus menurun termasuk US$ – membuat mata uang US$ ini sebenarnya tidak dapat digunakan sebagai penilai yang adil bagi objek-objek yang akan di-barter-kan.

Sebaliknya Dinar adalah benda riil yang memiliki nilai intrinsik dan terbukti memiliki tingkat inflasi rata-rata 0% lebih dari 1400 tahun, akan menjadi penilai yang sempurna bagi sistem Equity Marketing yang di Amerka Serikat bahkan sudah ada asosiasinya yaitu National Council of Exchangors dan Society of Exchange Counselors ini.

Karena berbasis Dinar, maka sistem barter property ini saya namakan saja Dinar Equity Exchange (DEE). Bagaimana cara kerjanya? Berikut sebagai contoh.

Perhatikan gambar di atas; Pak Abdullah saat ini memiliki rumah setara 160 Dinar yang sebagian masih hutang KPR setara 60 Dinar. Karena naik pangkat dan pekerjaannya menuntut Pak Abdullah pindah rumah ke dekat kantor, maka beliau ingin pindah ke rumah di pusat kota meskipun harus menambah/memperbesar pinjaman rumahnya.

Pak Abdurahman juga demikian, disamping ingin memperbesar rumah dari rumahnya yang sekarang setara 100 Dinar, Pak Abdurahman perlu uang tunai setara 20 Dinar. Karena gajinya lumayan besar, Pak Abdurahman tidak keberatan untuk mengambil KPR untuk menutupi kekurangan dari pembelian rumahnya yang baru.

Pak Abdurrahman tertarik dengan rumah pak Abdullah, tetapi Pak Abdullah tentu tidak tertarik dengan rumah Pak Abdurrahman karena yang dibutuhkan Pak Abdullah adalah Rumah yang lebih besar di pusat kota, bukan rumah yang lebih kecil. Jadi barter belum bisa terjadi hanya 2 orang antara pak Abdullah dengan pak Abdurrahmann.

sesudah-exchangeMaka perlu kehadiran pihak ke-3, katakanlah namanya pak Abdurrazak yang sudah pensiun dan pingin rumah di pinggiran kota. Pak Abdurrazak ini punya rumah yang besar, namun juga punya hutang yang banyak. Dia hanya ingin pindah ke rumah yang kecil saja, dan juga ingin seluruh hutangnya lunas. Rumah Pak Abdurrahman sudah memadai bagi Pak Abdurrazak sekarang. Secara kebetulan rumah Pak Abdurrazak juga diminati oleh Pak Abdullah. Maka 3 orang tersebut bisa saling melakukan barter dalam 1 scheme dan hasilnya seperti pada gambar di samping.

Karena terdiri dari 3 pihak, maka solusi ini disebut Three-Way Exchange, sangat langka barter bisa terjadi antara 2 pihak saja atau Two-Way Exchange. Yang lebih sering diperlukan keterlibatan banyak pihak untuk bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Kalau tiga juga tidak cukup, dicari orang ke-4, kalau 4 belum cukup maka dicari orang ke-5 dan seterusnya. Barter yang melibatkan sejumlah besar orang ini disebut Multileg Exchange.

Di zaman informasi ini, urusan me-matching-kan antara sekian banyak kebutuhan dan sekian banyak penawaran dapat dilakukan dengan teknologi – minimal untuk identifikasi awal calon-calon exchangor yang diperkirakan tepat untuk diajak dalam 1 exchange scheme. Jadi secara teknis  tidak terlalu sulit untuk mengimplementasikan Dinar Equity Exchange ini.

Namun sebelum Anda keburu ingin menukar rumahnya melalui sistem ini ke rumah yang lebih besar atau sebaliknya; tunggu dahulu kesiapan kita untuk merapikan segala sesuatunya.

Di antara yang masih kita perlukan adalah team yang mengurusi aspek legal, perpajakan, pembiayaan, pertanahan, ahli penilai, ahli properti, dlsb. Setelah team ini ada, teknologi siap – maka insya Allah konsep Dinar Equity Exchange ini akan jalan pada waktunya. Bila Anda memiliki salah satu keahlian tersebut dan ingin aktif mengimplementasikan konsep ini, kami akan dengan senang hati mengundang Anda pada acara brainstorming session dan pembentukan team inti kita (team@dinarislam.com). Insya Allah.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Business OpportunityComments (0)

And The Winner Is…?


Untuk bisa melihat kinerja uang kertas kita dalam perspektif yang lebih luas, pada kesempatan ini saya ingin menyajikan perkembangan harga emas sampai 5 tahun terakhir dilihat dari kaca mata uang Rupiah, US$, Euro dan Yen.

Kita gunakan harga emas dalam mata uang masing-masing – karena harga emas inilah alat ukur yang paling universal dan stabil sepanjang zaman. Kita patut bersyukur bahwasanya dalam 6 – 12 bulan terakhir, mata uang kita jauh lebih perkasa dibandingkan dengan 3 mata uang kuat dunia yaitu US$, Euro dan Yen.

Hal ini dapat kita lihat bahwa di antara 4 mata uang yang kita observasi daya belinya terhadap emas; dalam 6 – 12 bulan terakhir harga emas dalam Rupiah-lah yang kenaikannya paling rendah. Dalam Rupiah kenaikan harga emas malah minus  atau mengalami penurunan selama 12 bulan terakhir.

Meskipun kita dapat berbangga dengan Rupiah kita dalam jangka pendek, namun kita tetap harus mewaspadai daya beli uang kita ini karena dalam jangka menengah 5 tahun saja Rupiah berkinerja paling lemah bila dibandingkan dengan 3 mata uang kuat dunia Yen, US$ dan Euro tersebut di atas. Dalam timbangan emas, harga emas dunia telah mengalami kenaikan 161% selama 5 tahun terakhir bila dibeli dengan Rupiah. Sementara bila dibeli dengan Yen, US$ dan Euro masing-masing hanya mengalami kenaikan 125%, 157% dan 150%.

Apa maknanya ini semua? Karena mata uang merepresentasikan kekuatan ekonomi suatu negara. Maka selama kurun waktu 5 tahun terakhir, Jepang masih paling kuat fundamental ekonominya dibandingkan dengan negara-negara Uni Eropa, Amerika dan Indonesia.

Kita tentu berharap stamina kita yang lagi fit sehingga memiliki ke-unggul-an dalam 6-12 bulan terakhir dibandingkan dengan negara-negara yang secara umum memiliki fundamental ekonomi yang lebih kuat dari kita tersebut – dapat bertahan lama sampai bertahun-tahun mendatang.

Bagaimana kalau kondisi unggul ini tidak bisa bertahan lama? Ada cara lain untuk mempertahankan hasil jerih payah kita agar tetap memiliki daya beli unggul sepanjang zaman – yaitu emas atau Dinar. Selagi Rupiah perkasa seperti hari-hari ini, harga emas sesungguhnya lagi rendah-rendahnya dalam Rupiah – relatif terhadap mata uang lain di dunia. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Emas Diantara Yang Pesimis & Optimis


Hari-hari ini bila Anda rajin mengikuti perkembangan harga emas dunia akan melihat trend tahunan yang tidak biasa. Dalam Rupiah harga emas saat ini lebih rendah sekitar 8.5% dibandingkan dengan harga emas setahun lalu – lihat grafik di samping; sebaliknya bila Anda sempat lihat harga emas dunia di Kitco.com – dalam US$ harga emas dunia pagi ini masih 15% lebih tinggi dari harga setahun lalu.

Jadi pertanyaannya adalah apakah harga emas saat ini lagi rendah atau lagi tinggi? Akan naik atau akan turun? Tidak mudah menjawabnya dan bahkan para analis pasar emas dunia-pun berbeda pendapat dalam hal ini. Dalam kaitan harga emas ke depan, saya pisahkan pendapat para analis ini dalam 2 golongan – yaitu yang Pesimis dan yang Optimis (terhadap harga emas).

Yang Pesimis pada umumnya melihat emas sebagai komoditi biasa yang harganya naik dan turun sesuai dengan supply dan demand; mereka berpendapat bahwa harga emas dunia saat ini sudah ketinggian dan akan berkecenderungan turun. Bukti yang mereka gunakan adalah kecenderungan menurunnya harga emas yang terjadi dalam 2 bulan terakhir.

Setelah sempat mencapai angka di atas US$ 1,200/Oz ; saat ini emas hanya diperdagangkan dikisaran US$ 1,093/Oz. Penyebabnya antara lain adalah economic recovery di Amerika Serikat sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan GDP negeri itu Kwartal ke IV  2009 yang mencapai angka yang fantastis 5.7%.

Pada saat ekonomi baik, orang meninggalkan emas sebagai aset penyimpan nilai modal (capital preservation asset) dan menginvestasikannya ke dalam bentuk investasi yang berpotensi memberikan hasil lebih. Maka sejalan dengan proses economic recovery di Amerika yang bisa berlangsung sampai 2012; maka kelompok yang Pesimis ini-pun memperkirakan bahwa harga emas akan cenderung turun sampai tahun 2012 – yang saat itu diperkirakannya harga emas hanya akan berada dikisaran US$ 750/Oz.

Kelompok yang Optimis melihat data yang sama justru dari sudut pandang yang sebaliknya. Recovery saat ini lebih banyak didorong oleh serangkaian bailout yang berarti pencetakan uang kertas lebih dari biasanya.  Supply uang kertas yang dipaksakan ini pada akhirnya akan menghancurkan daya beli uang kertas itu sendiri. Bila daya beli uang kertas jatuh, maka semua barang akan melonjak nilainya – dan tentu saja juga harga emas.

Dr. Marc Faber

Dr. Marc Faber

Salah satu pendukung teori ini adalah Marc Faber seperti yang diungkap di www.commodityonline.com 2 hari lalu. Fund Manager kondang yang berasal dari Swiss ini dalam forum resmi Russia’s Troika Dialog pekan lalu menyatakan Saya yakin bahwa pemerintahan Amerika akan bangkrut, mungkin tidak besok, tetapi sebelum ini terjadi mereka akan mencetak uang sangat banyak – dan Anda akan menghadapi inflasi yang sangat tinggi.

Karena langkah yang dilakukan oleh Amerika dalam aksi bailout ini juga dilakukan oleh negara-negara lain seperti Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya; maka praktis ini akan melanda dunia finansial secara keseluruhan. Langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi ini? Marc Faber merumuskannya dengan sederhana : satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah menjual emas saya.

Lantas seberapa tinggi harga emas akan naik menurut golongan yang optimis ini? Perkiraan mereka beberapa kali saya kutip di situs ini, antara lain tanggal 20 November 2009 dengan judul Exchange Rate Chaos. Menurut kelompok ini harga emas akan mencapai US$ 2,000 dalam waktu yang tidak terlalu lama dan tidak dengan susah payah.

Lantas bagaimana saya sendiri berpendapat? Saya cenderung ke pendapat yang kedua. Meskipun pada saat yang bersamaan saya selalu mengingatkan bahwa dalam jangka pendek harga emas akan terus bergejolak. Bahkan kepada para agen Dinar-pun;  setiap membekali mereka saya selalu katakan untuk transparan dan fair memberikan gambaran prospek Dinar ini ke para nasabahnya. Memang kita Optimis Dinar akan berkecenderungan naik dalam jangka panjang; tetapi jalannya akan bergelombang seperti grafik-grafik bulanan, tahunan dan 10 tahunan yang ada di situs ini. Jadi dalam jangka pendek harga Dinar tidak hanya bisa naik, bisa juga turun. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Perang Dingin China & Amerika, Apa Dampaknya Pada Harga Emas?


Tulisan ini saya sarikan dari tulisan Lawrence Williams di Mineweb yang muncul di tengah terpuruknya harga emas dunia sejak pekan lalu. Dalam kondisi harga emas yang rendah seperti sekarang ini, banyak pemain pasar yang serius  mengkaji kemungkinan pilihan – apakah ini waktu yang baik untuk membeli (bila ada prospek harga emas kembali tinggi), atau justru menjual (bila trend penurunan diperkirakan akan berlanjut).

Lawrence Williams adalah salah satunya yang melihat kemungkinan harga emas akan naik dari sudut pandang politik ekonomi, khususnya yang terkait dengan perkembangan terakhir mengenai memburuknya hubungan China dan Amerika.

Meskipun para pemimpin kedua negara ini sering bertemu untuk berbagai perundingan, permusuhan di antara keduanya juga tidak bisa disembunyikan. Perseteruan ini mulai dari isu kekuatan mata uang, masalah Tibet, masalah Taiwan, masalah HAM, Cracker, Google dan berbagai masalah lain yang nampaknya sepele tetapi bisa memicu ‘perang’ antara keduanya – setidaknya perang dingin.

Yang paling serius di antara isu-isu tersebut adalah langkah Amerika untuk menjual senjata ke Taiwan senilai US$ 6.4 milyar baru-baru ini. Kegeraman China bisa mendorong negeri itu juga menjual atau meningkatkan penjualan senjatanya ke negara-negara yang dipandang tidak bersahabat terhadap Amerika. Skenario terburuknya adalah bisa pecah perang fisik yang melibatkan keduanya di Wilayah Taiwan atau Korea.

China Vs USKarena skenario perang fisik ini kemungkinan terjadinya cukup kecil, maka yang lebih besar kemungkinan terjadi di antara keduanya adalah perang dingin yang fokusnya pada politik dan ekonomi.

Meskipun China secara penguasaan teknologi dan ekonomi masih dibawah Amerika, namun cadangan devisanya dalam bentuk US$ yang sangat besar bisa menjadi pisau bermata dua bagi Amerika. Bila China memutuskan mengalihkan sebagian cadangan devisanya – misalnya, dampaknya bisa luar biasa bagi nilai US$ yang merepresentasikan kekuatan ekonomi Amerika ini.

Disinilah kaitannya dengan harga emas dunia. Bila China menurunkan cadangan devisa US$-nya, apa alternatifnya? Euro, Yen dan mata uang lain kemungkinannya tidak lebih menarik bagi China dibandingkan dengan US$. Jadi apa yang lebih menarik dari US$ bagi China? Emas tentu saja salah satunya.

Peralihan cadangan US$ China sedikit saja ke emas, bisa melambungkan harga emas karena 3 hal sekaligus:

  1. Dikarenakan meningkatnya demand oleh China sendiri.
  2. Menurunnya daya beli US$ yang digunakan sebagai pembanding harga emas dunia.
  3. Efek psikologis pasar yang akan ikutan memburu emas – bila mengetahui China berburu emas dan meninggalkan US$.

Biarlah GAJAH beradu dengan GAJAH, tetapi Pelanduk jangan menjadi Korban – bahkan kalau bisa Pelanduk yang UNTUNG!! Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Index Ketakutan & Harga Emas Dunia


Ada berbagai cara yang digunakan oleh pelaku pasar di dunia untuk dapat membaca kondisi ekonomi suatu negara; salah satu yang tidak biasa namun cukup akurat adalah dengan menggunakan apa yang disebut Index Ketakutan atau Fear Index. Index Ketakutan ini menggunakan emas sebagai parameter utamanya, disamping juga  jumlah uang dalam pengertian yang paling luas (M3).

Penalarannya demikian; semakin orang takut akan inflasi – maka akan semakin banyak orang berburu emas untuk pengaman uang mereka. Karena harga emas di dunia masih di nilai dengan US$, maka untuk skala global Fear Index dengan pembanding M3 US$ Formulasinya adalah Fear Index = (US Gold Reserve) x (Gold Price in US$) / (M3 US$).

Statistik Fear Index ini selama 40 tahun dapat dilihat pada grafik di atas. Kita bisa baca dari grafik tersebut bahwa sejak Agustus 1971 ketika presiden Amerika mengguncang dunia dengan apa yang disebut Nixon Shock – yaitu uang US$ Amerika tidak lagi dikaitkan dengan emas – Fear Index ini naik dengan tajam dan puncaknya di Januari 1980 yang mencapai angka 9.43%. Rata-rata Fear Index tersebut sejak Agustus 1971 sampai Desember 2009 lalu berada pada angka 2.61%.

fear-index-tahun-2000Meskipun terus naik dari posisi terendah ada angka 0.90% yang terjadi pada bulan Desember 2001; angka Fear Index per 31 Desember 2009 masih berada pada angka 2.05% atau masih lebih rendah dari angka rata-rata sejak Agustus 1971.

Apa makna dari angka-angka di Fear Index ini? Semakin tinggi angka Fear Index akan semakin tinggi harga emas di pasar dunia. Lihat di grafik kedua yang menunjukkan perbandingan antara Fear Index dengan Harga Emas dunia 10 tahun terakhir.

Bila Fear Index mencapai angka rata-rata 40 tahun saja; maka harga emas akan melompat sampai angka US$ 1,400-an /Oz ; ini bila M3 tidak bertambah; bila M3 naik – dengan rata-rata Fear Index yang sama harga emas akan naik lebih tinggi lagi.

Dari grafik 10 tahun terakhir dimana ada kecenderungan Fear Index yang terus naik; saya pribadi tidak melihat situasi ekonomi dunia akan lebih aman di tahun-tahun mendatang – artinya lebih besar kemungkinan orang akan berburu emas sebagai pelarian dari rasa takutnya terhadap inflasi daripada sebaliknya. Wallahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Jaga Mudamu Sebelum Pensiunmu


Pada tanggal 23 Februari 1950, ekonom kondang Ludwig Von Mises menggambarkan kondisi para pensiunan di Amerika Serikat sebagai orang-orang yang di-euthanasia-kan oleh pemerintahnya (seperti orang sakit keras yang dibiarkan meninggal tanpa pertolongan). Tulisannya yang berjudul Euthanasia of the Pension Funds intinya menguraikan bagaimana para pensiunan menderita dengan daya beli yang terus menurun karena faktor inflasi.

60 tahun kemudian sampai hari ini,  para pensiunan di Amerika dan juga para pensiunan di seluruh dunia yang mengikuti sistem ekonomi ribawi-nya – tetap saja secara umum menderita secara finansial dan seolah masih juga di–euthanasia-kan oleh pemerintahnya masing-masing yang tidak mampu mengendalikan inflasi.

Ludwig Von Mises

Ludwig Von Mises

Bila inflasi menyengsarakan para pensiunan, apakah lantas kondisi sebaliknya bila terjadi deflasi akan memakmurkan mereka? Ternyata tidak juga. Di negeri yang sama Amerika Serikat, yang saat ini tingkat suku bunganya mendekati 0% – ternyata para pensiunan juga malah terancam kelangsungan penerimaan dana pensiunannya.

Mengapa demikian? Karena selama ini para pengelola dana pensiun mengandalkan instrumen finansial seperti deposito, government bond dan sejenisnya sebagai unggulan investasinya. Ketika deposito dan bond memberikan hasil yang sangat rendah, maka putaran dana mereka tidak memadai lagi untuk menopang program santunan yang berkelanjutan kepada para pensiunan.

Contoh yang konkrit juga terjadi di Jepang yang sudah sejak lama menganut rezim suku bunga rendah. Pengelola dana pensiun dari maskapai penerbangan terbesar negeri itu sampai harus menegosiasikan ulang dengan para pensiunannya untuk menurunkan penerimaan mereka. Pilihan yang sangat berat karena kalau penerimaan pensiunan diturunkan akan lebih menyengsarakan mereka, sementara bila dilanjutkan seperti semula perusahaannya yang tidak akan survive.

Jadi buah simalakamanya inflasi dan deflasi bagi pensiunan adalah begini: “Bila inflasi tinggi, para pensiunan berkemungkinan untuk terus dapat menerima pensiunnya – tetapi dengan daya beli yang terus menyusut. Sebaliknya bila terjadi deflasi, kemampuan para perusahaan/pengelola dana pensiun untuk secara berkelanjutan mampu membayarkan uang pensiun kepada yang berhak menerimanya yang terancam.”

Ketika Ludwig Von Mises menulis artikel tersebut di atas (60 tahun lalu) dicuekin oleh masyarakatnya, apa dampaknya? ya itu tadi sampai kini para pensiunan di Amerika Serikat tetap menderita.

pension-fundsNah bagaimana sekarang kita, agar sekian puluh tahun dari sekarang ketika kita pensiun tidak menghadapi simalakama inflasi dan deflasi ini? Berikut adalah beberapa poin yang bisa dilakukan:

  1. Mulai secara bertahap lindungi hasil jerih payah Anda dari risiko finansial inflasi dalam bentuk benda riil yang daya belinya bertahan.  Emas/Dinar; sawah, pohon, ternak, dlsb adalah beberapa diantaranya.
  2. Meskipun di tempat kerja Anda dapat jatah pensiun yang dikelola perusahaan/pengelola dana pensiun. Jangan terlalu mengandalkan dana pensiun ini – kemungkinan besarnya tidak akan cukup untuk menopang hari tua Anda. Menabung benda riil tetap Anda perlukan.
  3. Bila perusahaan/pengelola dana pensiun Anda mempunyai program yang mengijinkan Anda mengelola dana pensiun Anda sendiri – ambil program ini dan kelola sendiri di sektor riil. Bila belum mampu mengelola sendiri, cari mitra yang bisa mengelolanya sambil Anda belajar sektor-sektor usaha yang menjadi minat Anda.
  4. Banyak-banyak investasi pada diri Anda sendiri sedari muda. Ikut pelatihan-pelatihan bidang usaha yang menjadi minat Anda, banyak-banyak belajar berusaha.  Mencoba dan gagal di usia muda – masih lebih baik dibandingkan mencoba dan gagal di usia tua ketika sumber daya dan dana kita sudah tidak ada lagi. Tidak semua eksperimen usaha ini membutuhkan biaya; di Pesantren Wirausaha Anda bisa belajar berusaha tanpa harus mengeluarkan biaya satu sen-pun (alias GRATIS)!
  5. Banyak-banyak investasi pada orang-orang di sekitar kita; mendidik mereka dan membimbingnya. Mereka inilah yang akan menjalankan dan meneruskan usaha kita setelah kita lanjut dimakan usia.

Allhummaj’al khoyro ‘umry aakhirohu wa khoyro ‘amaly  khowaatimahu wa khoyro ayyaami yawma alqooka fiih, Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan  yang terbaik dari hariku  adalah hari ketika aku bertemu denganMu.” Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Financial PlanComments (0)

Swasembada Daging Nasional Dari Kambing, Mengapa Tidak?


Dalam tulisan saya sebelumnya dengan judul Dicari: Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang saya ungkapkan bahwa untuk menurunkan kebutuhan daging impor hanya tinggal 10% saja tahun 2010 (yang tinggal seminggu lagi), Indonesia membutuhkan tambahan 2.5 juta ekor sapi. Akan tercapaikah target ini? Wa Allahu A’lamDepartemen Pertanian mungkin yang bisa menjawabnya karena saya cari datanya tidak ketemu.

Ketergantungan kita pada daging impor selama ini, bisa jadi karena persepsi yang terbangun selama ini di masyarakat adalah bahwa daging sapi-lah yang paling aman. Karena pertumbuhan peternakan sapi membutuhkan modal yang besar, dan tingkat kelahiran anak sapi yang relatif rendah – membuat upaya mengejar kebutuhan daging secara nasional ini menjadi berat.

Sebenarnya ada sumber daging lain yang tidak kalah menariknya dari daging sapi, yaitu daging kambing. Hanya daging kambing ini selama ini sering dipersepsikan sebagai daging yang berbahaya bagi kesehatan, seperti koleterol tinggi dan lain sebagainya sehingga banyak dihindari.

Hal inilah yang harus diluruskan oleh pihak-pihak yang terkait di negeri ini, dengan riset yang memadai, penyuluhan ke masyarakat, dlsb. Di Amerika misalnya, United State Department of Agriculture (USDA) telah mempublikasikan kajiannya seperti dalam tabel di atas.

Dari tabel di atas kita tahu bahwa dari kajian mereka ini, ternyata setiap berat yang sama daging kambing mengandung lebih sedikit lemak, lemak jenuh dan kolesterol dibandingkan dengan daging sapi dan bahkan lebih rendah juga dari daging ayam!

Apakah daging kambing, sapi dan ayam di Indonesia berbeda dari yang di Amerika? Perlu diteliti lebih detil – tetapi dugaan saya sendiri mestinya tidak jauh berbeda. Asumsinya  data dari USDA tersebut memang benar; bukankah ini peluang besar bagi negeri ini untuk bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan dagingnya dari dalam negeri sendiri?

Kambing Jantan PEKambing lebih mudah diproduksi secara massal, karena untuk beternak kambing tidak dibutuhkan modal yang besar. Kemudian kecepatan pertumbuhannya yang mencapai 3/2 (3  kali beranak dalam 2 tahun) insya Allah akan semakin memudahkan pencapaian pemenuhan kebutuhan daging nasional ini.

Efek ekonominya akan luar biasa bagi bangsa ini; pertama kita tidak akan lagi menghambur-hamburkan devisa setiap tahunnya untuk mengimpor kebutuhan daging nasional; kedua akan ada penyebaran kesejahteraan yang meluas ke masyarakat – asal mau saja – masyarakat kita pasti bisa pelihara kambing!

Lagi pula memelihara (menggembala) kambing ini juga profesi para nabi sebelum mereka menjadi nabi; pasti banyak pesan yang terkandung di dalamnya – yang barangkali belum semuanya bisa kita pahami, tetapi sedikit-demi sedikit pesan tersebut terkuak bila kita terjun ke dalamnya.

Bagi masyarakat yang ingin belajar perkambingan ini, kami menyediakan fasilitas di lokasi Pesantren Wirausaha kami yang juga secara berkelakar kita sebut sebagai Center of Kambingnomics – di Jonggol, Bogor.  BELAJAR perkambingan di tempat ini adalah GRATIS dan Anda bisa membawa anak-anak sambil BERLIBUR…; bagi yang datang dari luar kota tersedia PENGINAPAN – hanya harus kontak kami sebelumnya agar tidak bentrok dengan jadwal rombongan lain yang kemungkinan menggunakan fasilitas yang sama.

Semoga dengan langkah kecil ini, kita bisa berkontribusi dalam mengerem kebutuhan impor daging nasional sekaligus juga menyebar luaskan kemakmuran ke masyarakat – Hal jazaa ul’ ihsaani illal ihsaan.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes