Tag Archive | "Al-Qur’an"

Antara Visi, Mimpi dan Do’a


Dalam sejarah dunia abad lalu, ada pemimpin dunia yang sangat terkenal akan kekuatan visinya yaitu John F. Kennedy. Di hadapan Konggres Amerika pada tahun 1961 dia mengungkapkan visinya bahwa bangsa Amerika harus bisa mencapai bulan sebelum akhir dekade itu.

Di tengah bangsa Amerika yang lagi limbung sebenarnya visi ini jauh melampaui zamannya. Visi ini muncul ketika bangsa Amerika ragu apakah jalan hidup yang mereka pilih sudah benar, apakah bukannya komunis yang benar karena saat itu komunis lagi menghebohkan dengan keberhasilan Soviet meluncurkan satelit yang mengorbit bumi. Bahkan bangsa Amerika lagi nggumun-nggumun-nya dengan keberhasilan Soviet mengirim kosmonot Yuri Gagarin ke antariksa.

Namun sekitar 8 tahun kemudian, meskipun JFK sendiri sudah meninggal – visinya teralisasikan dengan sejarah Neil Armstrong dan Buzz Aldrin sebagai manusia-manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan pada tanggal 20 Juli 1969.

Jadi visi lebih penting ketimbang sumber daya dan kondisi yang melingkungi manusia itu sendiri. Dengan sumber daya melimpah tetapi tidak didukung oleh visi yang jelas – maka sumber daya yang melimpah ini tidak akan banyak manfaatnya.

Sebaliknya dengan sumber daya yang terbatas dan dengan lingkungan yang tidak sepenuhnya kondusif sekalipun, pemimpin yang mempunyai visi yang kuat akan bisa mengeluarkan rakyatnya dari penderitaan dan bahkan bisa menjadi bangsa pemenang – meskipun tidak harus tercapai pada saat dia memimpin.

Lantas bagaimana kita tahu apakah kita sudah memiliki visi yang jelas atau kita baru sekedar bermimpi? Bedanya terletak pada jabaran-nya. Visi yang jelas dapat dijabarkan menjadi Mission, Goals, Strategies dan Action Plans sampai sedetilnya. Sedangkan mimpi tidak perlu penjabaran, Anda bisa saja mimpi lagi menikmati liburan di Paris tetapi berangkatnya naik sepeda dari Depok – namanya juga mimpi, boleh-boleh saja dan tidak perlu penjelasan detil.

Perbedaan antara visi dan mimpi ini pulalah yang antara lain membedakan sedikit karyawan yang benar-benar pindah kwadrant menjadi pengusaha, dengan mayoritas karyawan yang tetap menjadi karyawan sampai pensiun – padahal sejak awal bekerja yang mayoritas ini juga bervisi (sebenarnya masih mimpi) menjadi pengusaha. Golongan yang pertama menjabarkan visinya dan berbuat (action plans) maka sampailah apa yang di-visi-kannya; golongan kedua tidak bermuat apa-apa dengan mimpinya – maka mimpi tetap menjadi mimpi.

padang-pasirDalam hal visi ini, sebagai umat Islam kita sesungguhnya punya contoh tauladan yang jauh lebih agung dari John F. Kennedy. Teladan kita adalah bapak para nabi yaitu Nabi Ibrahim A.S. Bayangkan di tengah padang pasir yang gersang tidak ada pepohonan, di tempat yang sangat jauh dari keramaian manusia – Nabi Ibrahim sudah memiliki visi yang sangat jelas akan seperti apa tempat itu nantinya. Visi ini dituangkan dalam do’a-do’a-nya yang diabadikan di Al-Qur’an antara lain sebagai berikut :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian… “ (QS. Al-Baqarah (2): 126)

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim (14): 37).

Kini ribuan tahun kemudian, visi itu benar-benar terwujud. Kita bisa menikmati buah-buahan apa saja di Mekkah, meskipun buah-buahan itu sendiri tidak ditanam di sana. Buah-buahan, makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan manusia mengalir bak air bah dari seluruh dunia ke tempat yang divisikan Nabi Ibrahim tersebut di atas. Lebih dari itu manusia yang berduyun-duyun ke Mekkah juga mayoritasnya memiliki 1 tujuan saja yaitu menyembah Allah semata yang dimanifestasikan dalam bentuk shalat.

Nah, kalau Kennedy saja yang tidak membaca petunjuk Al-Qur’an bisa membawa bangsanya mencapai bulan. Kita yang dituntun dengan petunjuk dan contoh yang sempurna dari Al-Qur’an dan Hadits – sudah seharusnya dapat berbuat lebih dari yang dilakukan oleh JFK.

Bukan hanya petunjuk dan contoh yang sangat komprehensif yang kita punya, tetapi juga kita dibekali dengan do’a-do’a matsur seperti yang dilafalkan Nabi Ibrahim tersebut di atas. Ayo sekarang kita semua, mulai dari diri kita – bangun dari mimpi-mimpi kita dan mulai membangun visi sambil tidak berhenti untuk terus berdo’a. Semoga Allah menunjuki jalanNya untuk kita semua… Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
  • Share/Bookmark

Posted in Islamic ViewComments (0)

Agar Pohon Berbuah Di Luar Musimnya


Minggu-minggu ini setiap kali saya ke kebon di daerah Jonggol; sepanjang jalan di Jonggol buah rambutan memerah hampir mengalahkan hijaunya dedaunan. Saking banyaknya buah-buah tersebut, buah-buah yang sudah dipanen ditumpuk dipinggir jalan – seperti tidak ada harganya.

Benar, rambutan yang dipanen pada puncak musim panen ini – sangat rendah harganya. Inilah dilema petani buah rambutan dan berbagai buah lainnya. Mereka merindukan panen buah, namun ketika benar-benar panen – panenan mereka jatuh harganya.

Akan menjadi peluang tersendiri bila seandainya temen-temen yang ahli hortikultura bisa melakukan rekayasa genetika atau apapun namanya sehingga pohon bisa berbuah di luar musimnya. Kita bisa menikmati duren di luar musim duren; menikmati mangga, rambutan dan lain sebagainya diluar musimnya.

Sebenarnya tidak hanya petani buah; kebanyakan investor di bisnis modern sekalipun seperti saham, property sampai emas juga lebih banyak yang berperilaku sebagai ‘orang kebanyakan’ dalam berinvestasi. Padahal ada semacam kaidah yang tertulis dalam Al-Qur’an, yang muncul berulang-ulang sampai sekurangnya 65 kali yang berbunyi “ …tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS. Al-An’am (6): 37) atau yang senada.

Agar kita tidak menjadi petani atau investor dari golongan ‘orang kebanyakan’ ini, maka informasi-lah kuncinya. Teman saya yang sukses di industri pertanian menuturkan kiatnya; sebelum dia menanam sayur atau buah – selain dia mempelajari pasarnya, dia juga mempelajari apa yang sedang ditanam oleh petani-petani lainnya.

Bila pasar terbatas untuk komoditi tertentu, sedangkan sudah begitu banyak petani menanam komoditi tersebut – pastilah pada saat panen nanti harga jatuh; sederhana ini hukum supply and demand biasa. Sebaliknya biar pasar sedikit, tetapi tidak tersedia supply yang cukup untuk pasar yang sedikit tersebut – pastilah harga akan tetap tinggi tanpa mengenal musim.

Maka seperti petani buah di atas, pada investasi apa uang Anda Anda tanam – perhatikan pasarnya dan perhatikan apa yang dilakukan orang lain. Jadilah golongan sedikit yang bisa panen buah di luar musimnya… Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Makna dan Lafadz Basmalah


Basmalah adalah bentuk isim masdar dari kata kerja Basmala – yuibasmilu yang artinya “membaca lafadz Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Para ulama menerangkan hikmah bacaan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Dari semua itu dapat disimpulkan, bahwa dengan bacaan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim yang diucapkan di awal aktivitas berarti:

  • Kita telah menghubungkan diri kita dengan Allah.
  • Kita menyadari sepenuhnya bahwa perbuatan itu dilakukan karena Allah dan untuk meraih ridha-Nya.
  • Kita menyadari sepenuhnya bahwa tanpa kekuatan yang diberikan Allah kita tidak akan mampu melakukan aktivitas apapun.

Lafadz-Lafadz BASMALAH

Terdapat beberapa perbedaan lafadz/teks basmalah, yaitu :

1. Bismillah (بسم الله)
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa keluar dari rumahnya membaca Bismillah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah.” maka dikatakan kepadanya, “Kamu telah tercukupi dan terlindungi”. Dan syetan pun akan menjauh darinya.” (HR. Abu Dawud)

2. Bismika Allahumma (بِسْمِكَ اللَّهُمَّ)
Al-Bukhari meriwayatkan, “Apabila Rasulullah SAW berbaring di tempat tidurnya, beliau membaca : “Bismika Allahumma ahya wa amut.”

3. Bismillah al-Kabir (بِسْمِ اللهِ الْكَبِيْرِ)
Ibnu Abbas menceritakan, Rasulullah SAW pernah mengajari mereka (para sahabat) ruqyah demam dan penyakit-penyakit lainnya, (dengan do’a), “Bismillahi al-Kabir. a’udzu billah al-’Azhim min kulli ‘arqin…” (HR. at-Tirmidzi)

4. Bismillahir Rahman (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ)
Asy-Sya’bi menceritakan, biasanya orang-orang jahiliyah mulai menulis (surat) dengan kalimat “Bismikallahumma”. maka Rasulullah SAW pun memulai apa yang beliau tulis dengan “Bismikallahumma”. Sampai turun ayat “Bismillahi majreha wa mursaha” (QS. Al-Hud (11): 41), maka beliau pun mulai menulis dengan “bismillah“. Kemudian turun ayat “Ud’ullaha awir rahman” (QS. Al-Isra’ (17): 110), maka beliau pun mulai menulis dengan “Bismillahir rahman“. Tapi ketika turun ayat yang berbunyi “Innahu min sulaiman wa innahu bismilllahir Rahmanir Rahim” (QS. An-Naml (27): 30), maka beliau pun mulai menulis dengan “Bismillahirrahmanirrahim“. (HR. Abdurrazaq, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Mundzir dan Ibnu Hakim)

5. Bismillah al-Malik ar-Rahman (بِسْمِ اللهِ الْمَلِكِ الرَّحْمَنِ)
Husein bin Ali bin Abi Thalib meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Umatku akan selalu aman dari tenggelam, apabila naik kapal dengan membaca, “Bismillahil malikir Rahman, Bismillahi majreha wa mursaha inna Rabbi ghofurur Rahim.” (HR. ath-Thabrani, Ibnu Sunni dan Abu Ya’la)

6. Bismillahir Rahmanir Rahim (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ)
Abu Malik menceritakan, “Dahulu Rasulullah SAW menulis diawali degan kalimat “Bismika allahumma”, ketika turun ayat “Innahu min sulaiman wa innahu bismilllahirrahmanir Rahim.” (QS. An-Naml (27): 30), maka beliau pun mulai menulis dengan “Bismillahir Rahmanir Rahim“.” (HR. Abu Dawud)

7. Bismillahilladzi la ilaha illa huwa (بِسْم اللهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَِ)
Anas bin Malik meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Yang bisa menutupi aurat anak Adam (manusia) dari pandangan mata jin, ketika hendak menanggalkan pakaiannya adalah membaca “Bismillahil ladzi la ilaha illa huwa” (Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia).” (HR. Ibnu Sunni)

Dari beberapa lafadz di atas yang paling populer dan banyak diucapkan oleh kaum muslimin dan lebih utama untuk dibaca adalah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Karena lafadz itulah yang dipilih oleh Allah sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an:

وَإِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.“ (QS. An-Naml (27): 30)

Dan juga lafadz basmalah yang tertulis pada ayat pertama surat Al-Fatihah dan lafadz bismillah yang menjadi pemisah antar surat-surat dalam Al-Qur’an kecuali surat al-Baqarah yang memang tdak tertulis lafadz basmalah-nya. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Dakwah IslamComments (0)

Greenspan-Guidotti Rule: Harga Emas Dunia & Peluang Meraih Kemerdekaan Kita


Ketika saya mulai menyempatkan diri untuk menulis di blog 2 tahun lalu, ada tulisan awal saya bertanggal 30 Desember 2007 yang berjudul Kehancuran Uang Kertas Mengikuti Deret Fibonacci.  Karena pembaca saya saat itu belum sebanyak sekarang, dan orang belum melihat buktinya – maka tentu lebih banyak yang tidak percaya daripada yang percaya – saya tentu memaklumi hal ini.

Kini hampir 2 tahun kemudian coba kita tengok kembali ke belakang. Ketika tulisan tersebut saya buat, harga Dinar masih Rp 1,096,900 dan harga emas dunia berada pada angka US$ 833.75; Menjelang 2 tahun harga Dinar kini sudah mencapai Rp 1,597,770,- dan harga emas dunia sudah berada pada angka US$ 1,215.70. Deret Fibonacci saya belum terbukti 100% memang, tetapi sudah sangat dekat – tinggal sejengkal langkah lagi – untuk terbukti.

Ini mengerikan saya sendiri yang menulisnya karena berarti kehancuran uang kertas itu begitu dekatnya. Kalau uang kertas merepresentasikan peradaban jaman ini, mungkin ini salah satu tafsir Al-Qur’an berikut:

QS Al-Maarij (70): 5-7

Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan kami memandangnya dekat (pasti terjadi).” (QS. Al Ma’aarij (70): 5 – 7)

Karena penasaran saya, kemudian saya berusaha mencari bukti ilmiah lain yang bisa menjelaskan ke masyarakat zaman ini tentang fenomena kehancuran uang kertas ini. Maka saya ambillah teori dari dedengkotnya uang kertas abad ini yaitu Alan Greenspan (dahulunya The Federal Reserve Chairman) dan Pablo Guidotti (dahulunya  Deputi Minister of Finance – Argentina).  Kedua orang ini kemudian menghasilkan  apa yang disebut Greenspan-Guidotti Rule, saya singkat saja menjadi GGR untuk kemudahan penulisan berikutnya.

Inti dari GGR ini sebenarnya sangat sederhana yaitu: Suatu negara harus memiliki cadangan yang minimal setara dengan hutang external jangka pendek (jatuh tempo setahun atau kurang).  Dengan kata lain rasio antara reserve dan hutang jangka pendek minimal 1; bila kurang dari ini maka negara dalam bahaya kebangkrutan ekonomi.

Untuk contoh, lagi-lagi saya nggak mau menggunakan negeri sendiri takut ada yang marah. Maka saya ambil contoh negara yang sering secara misleading disebut sebagai  adi kuasa atau super power – Amerika Serikat. Alasan lain saya pilih negara ini karena uangnya US$ selama ini dipakai untuk mengukur harga emas internasional.

Bila GGR mensyaratkan rasio minimal 1 agar negara bebas dari ancaman kebangkrutan, maka seperti apa peluang AS untuk bangkrut dalam jangka pendek? Marilah kita lihat cadangan dan hutang jangka pendeknya.

Untuk cadangan, saat ini AS memiliki:

  1. 8,133.5 ton emas senilai sekitar US$ 300 Milyar.
  2. Cadangan strategis berupa minyak 725 juta barrel senilai sekitar US$ 58 Milyar.
  3. Amerika juga memiliki cadangan dalam mata uang asing sebesar US$ 136 Milyar (data IMF).

Total dari 3 cadangan utama ini hanya US$ 494 milyar, katakanlah ditambah lain-lain kita bulatkan saja jadi US$ 500 Milyar.

Mari sekarang kita lihat hutang jangka pendeknya. Menurut US Treasury, Amerika saat ini harus me-refinance- sekitar US$ 2 trilyun hutang jangka pendek; ini diluar defisit anggaran belanjanya yang mencapai US$ 1.5 trilyun, atau Amerika membutuhkan US$ 3.5 trilyun dalam 12 bulan kedepan.

Ambil yang US$ 2 trilyun hutang jangka pendeknya dahulu; kemudian kita lihat kemana mereka berhutang. Ternyata sejak tahun 1985 Amerika sudah menjadi negara yang  hutangnya lebih besar ketimbang piutangnya ke negara lain (net debtor). Sekarang sekitar 44% dari US$ 2 trilyun hutang tersebut adalah hutang terhadap pihak luar. Artinya hutang Amerika jangka pendek yang harus segera dilunasi ke pihak di luar Amerika saja telah mencapai US$ 880 milyar, yang jauh lebih besar dari cadangan mereka yang hanya US$ 500 Milyar tersebut di atas. Dari sini saja jelas Amerika akan segera menjadi negara yang GAGAL berdasarkan Greenspan-Guidotti Rule.

Mungkin Anda akan berpikir bahwa sebagai negara besar, Amerika pasti bisa mengatasi masalah ini. Tetapi nanti dulu, perlu diingat bahwa bukan hanya terhadap hutang jangka pendek terhadap pihak luar yang Amerika akan gagal – untuk membiayai total hutang yang US$ 2 trilyun dan defisit belanja yang US$ 1.5 trilyun  atau total US$ 3.5 trilyun – sampai saat ini para ahli negeri itu juga belum ketemu solusi yang berkelanjutan (sustainable).

Saving bangsa Amerika saat ini hanya di kisaran US$ 600 Milyar pertahun; jadi kalau seluruh saving ini untuk membiayai hutang dan kebutuhan jangka pendek-pun tidak akan memadai. Mereka masih kekurangan dana sekitar US$ 3 Trilyun atau sekitar 40 % dari GDP mereka.

Well, tentu mereka akhirnya punya solusi untuk ini – meskipun bukan solusi yang sustainable, apa solusi itu? Mencetak uang dari awang-awang – atau dalam bahasa awam mereka “printing money out of thin air”. Bahasa teknisnya bisa keren-keren seperti quantitative easing, debt monetizing, dlsb. Tetapi pertanyaannya sampai kapan mereka dapat melakukan ini? Kalau ada orang berhutang kepada Anda, setiap kali ditagih terus menunda atau malah minta hutangan baru – apakah akan Anda terus berikan? Inilah nampaknya yang mulai dilakukan China dan India dengan mengurangi ketergantungannya pada US$ dan mulai secara serius meningkatkan cadangan emasnya.

Lantas apa hubungan ini semua dengan harga emas dunia? Sederhana saja, kalau harga emas sekarang senilai US$ 1,215.70; apa jadinya kalau US$ tidak lagi dipercaya orang dan nilainya terus menurun, tinggal 1/2, tinggal 1/4 (seperti yang kita alami tahun 97/98) dan seterusnya. Maka harga emas dunia bisa berlipat ganda melebihi kelipatan yang sebelumnya saya perhitungkan dalam Deret Fibonacci tersebut di atas.

Fibonacci bisa keliru, demikian pula dengan Greenspan dan Guidotti. Tetapi kehancuran sistem ribawi sudah dipastikan di Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah (2): 276) jadi 100% saya percayai kebenarannya.

Lantas apa solusinya bagi kita sebagai bangsa dan pribadi? Lagi-lagi balik ke Al-Qur’an (QS. Yusuf (12): 47-48) yang kebenarannya pasti :“….Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) secara sungguh-sungguh; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan…”. Ini cara Qur’ani untuk mempersiapkan diri menghadapi paceklik panjang dimulai dari gempa financial dahsyat yang epicentrum-nya US$ tersebut di atas.

bercocok-tanamDalam skala bangsa, kita punya seluruh sumber alam yang kita butuhkan berupa laut, hutan, tambang, lahan-lahan yang subur…  maka tidak cukupkah waktu 7 tahun ke depan  untuk mengolahnya secara sungguh-sungguh dan mengelola penggunaannya secara efisien? Kalau ini dapat kita lakukan, maka insya Allah negeri ini akan dapat bener-bener merdeka – mumpung sistem yang penjajah kita akan segera kalah perang (ekonomi) – ingat tahun 45 kita diberi rahmat Allah berupa kemerdekaan (baru kemerdekaan fisik, belum kemerdekaan ekonomi, pemikiran, dlsb.) melalui kekalahan perang negeri penjajah kita waktu itu!

Ok, bicara negara dan bangsa mungkin terlalu luas; bagaimana kalau kita mulai dari diri kita sendiri? Bagaimana kalau kita berusaha secara maksimal untuk bisa memakmurkan bumi tempat kita berpijak – sehingga dalam 7 tahun ke depan kita bisa benar-benar merdeka dari segala bentuk ketergantungan terhadap sesama manusia – menjadi semata-mata hanya mengabdi, menyembah dan bergantung hanya kepadaNya, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas (112):2). Insya Allah Bisa!

Bagi yang ingin membuat langkah konkrit dalam hal ini, dapat bergabung dengan para peserta Pesantren Wirausaha – yang saat ini tengah mulai berjibaku untuk bisa belajar memakmurkan sejengkal bumi Allah yang diamanahkan ke kita di Jonggol-Bogor. Semoga Allah permudah kita dengan amal yang diridhoiNya, Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

The Dollar Meltdown: Bila Dollar Melumer


The Dollar Meltdown (Penguin Group, NY 2009) adalah judul buku karya Charles Goyette yang mendapatkan perhatian luas di Amerika akhir-akhir ini; sampai anggota congress senior negeri itu yang punya perhatian khusus pada moneter Ron Paul memberikan catatannya yang berbunyi: Goyette telah melakukan pekerjaan hebat dalam menjelaskan mengapa Amerika menuju krisis finansial hebat kedepan, dan mengajari strategi yang masuk akal bagi warga Amerika untuk melindungi diri dan keluarganya. Sungguh buku ini wajib dibaca (bagi warga Negara Amerika tentunya).

Buku yang terdiri dari 4 Bab ini terus terang juga menarik bagi saya – meskipun isinya sendiri tidak banyak yang baru – karena mayoritas pokok-pokok pemikirannya juga sudah saya tulis di situs ini sejak lama, jauh sebelum buku ini terbit.

Pada 2 bab Pertama banyak membahas dengan detil tentang krisis finansial yang terjadi selama 2 tahun terakhir, bagaimana terjadinya, upaya-upaya bailout yang dilakukan pemerintah yang dianggapnya gagal dan justru membuat blunders, tumpukan hutang yang menggunung dan semakin menggunung (dalam bahasa penulis disebut: First there is a mountain… then there is a bigger mountain) yang akhirnya nanti akan membawa kepada kebangkrutan.

Bab III menguraikan dengan jelas tentang prediksi penulis akan masa depan ekonomi Amerika yang direpresentasikan dengan US Dollar-nya. Menurut Goyette ini, kemungkinan besar terjadi (likely scenarios) bahwa US$ akan runtuh hanya dalam beberapa tahun mendatang.

Mengenai timing-nya ini, Goyette menjelaskan keberulangan sejarah. Dollar yang kita kenal sekarang adalah Dollar yang tidak lagi dikaitkan dengan emas – ini merupakan pengingkaran Amerika atas perjanjian yang digagasnya sendiri yaitu Bretton Woods Agreement. Amerika terpaksa melepaskan kaitan uangnya dengan emas secara resmi tahun 1971 setelah didahului oleh kebangkrutan ekonomi akibat membiayai perang yang tidak bisa dimenangkannya – yaitu Perang Vietnam.

Hal serupa kini sudah terjadi selama bertahun-tahun; Amerika menguras sumber-sumber keuangannya untuk membiayai The Three Trillion Dollar War (bahkan konon dana yang dikeluarkan telah membengkak menjadi US$ 4 – 5 trilyun), berupa Perang Iraq yang tidak memberi manfaat pada bangsa Amerika sendiri.

Dia mengibaratkan kondisi yang dihadapi oleh Dollar saat ini sebagai sebuah kereta yang diberi nama Dollar/Debt Express (DDE). Kereta ini berjalan dengan sangat kencang pada rel buntu yang menuju pada satu arah yaitu tempat rongsokan; sudah sangat terlambat sekarang untuk bisa mengurangi kecepatan kereta, apalagi mengerem-nya. Benturan yang sangat keras akan segera terjadi pada tikungan yang akan dilaluinya – yaitu ketika kereta Dollar/Debt Express ini harus bertabrakan dengan realitas ekonomi.

Kereta akan musnah karena dia melaju pada 2 rel kehancuran. Rel pertama namanya fiscal policy, dan rel ke-2 bernama monetary policyFiscal policy menyangkut kebijakan anggaran yang ditempuh pemerintah yang boros dan mengeluarkan uang tidak pada tempatnya – seperti perang Iraq diatas, sedangkan monetary policy menyangkut apa yang dilakukan oleh Federal Reserve – yang keduanya mendorong supply uang kertas yang terus bertambah.

Ketika supply uang sangat banyak, namun kepercayaan di pasar sudah runtuh oleh berbagai kasus seperti real estate bubble yang memicu credit contraction 2 tahun terakhir; maka uang tersebut sejatinya tidak menggerakkan sector riil. Maka selanjutnya yang akan terjadi adalah apa yang disebut stagflation stagnation and inflation.

Ekonomi tidak tumbuh, otomatis lapangan kerja tidak tersedia – uang dicetak banyak tetapi tidak bisa diperoleh oleh masyarakat – dan kalau masyarakat-pun akhirnya mendapatkan uang tersebut – uang ini memiliki daya beli yang rendah karena inflasi yang sangat tinggi.

Ludwig von Mises (1881-1973)

Ludwig von Mises (1881-1973)

Yang terjadi selanjutnya lagi menurut penulis adalah The Crack-up Boom atau ledakan kehancuran; dimana penulis mengambil kata-kata dari ekonom besar Ludwig von Mises untuk menggambarkannya sebagai berikut:

Masyarakat akhirnya akan sadar pada suatu fakta bahwa inflasi adalah kebijakan yang disengaja (deliberate policy) yang akan terus berulang tiada akhir (go on endlessly); ketika ledakan kesadaran ini muncul serentak, semua orang ingin secepatnya menukar uang yang dipegangnya dengan benda riil – tidak perduli mereka membutuhkannya atau tidak, tidak perduli pula berapa banyak uang kertas yang mereka butuhkan untuk ditukarkan ke benda riil tersebut.

Dalam waktu yang sangat singkat, dalam bilangan minggu atau bahkan hari, apa yang dahulunya disebut sebagai uang, kini tidak lagi berlaku sebagai alat tukar. Uang kertas telah menjadi kertas bekas, yang orang tidak lagi mau menukar barang apapun dengan kertas bekas ini.

Inilah yang sudah pernah terjadi di Amerika tahun 1781 dengan uang Continental, di Perancis tahun 1796 dengan uang Territoriaux dan dengan uang Mark Jerman pada tahun 1923. Kejadian serupa akan terjadi lagi bila kondisi yang sama muncul.

Setelah menulis prediksi yang mengerikan di Bab III tersebut; penulis menghibur bangsa Amerika di Bab IV yaitu solusi menghadapi krisis ini. Apa yang dia sarankan? Tidak sulit menduganya; dia menyarankan untuk melindungi asset diri dan keluarga hendaknya warga Amerika berinvestasi pada emas, perak, minyak, bahan-bahan kebutuhan pokok seperti produk pertanian dan sejenisnya.

Dalam kesimpulan akhirnya penulis ini juga menjelaskan prediksinya akan uang alternatif yang kedepannya akan sangat dominan perannya yaitu apa yang dia sebut sebagai Digital Gold Currency; yang dia jadikan contoh adalah GoldMoney yang sudah mulai ada di pasar sejak tahun 2001. Sayang si penulis nampaknya belum mengenal M-Dinar ; kalau seandainya dia sudah mengenal M-Dinar ini, dia akan tahu betapa dekat prediksi dia dengan realita di hampir seluruh penjuru dunia.

Isi buku karya Charles Goyette ini memang sangat dekat dengan pemikiran utama di DinarIslam.com; bukan karena kami nyontek dia (karena tulisan-tulisan kami lahir lebih dulu dari tulisan dia!), bukan pula sebaliknya dia nyontek pemikiran kami (kecil sekali kemungkinannya dia membaca dan memahami DinarIslam.com!) ; tetapi adalah karena sifat kebenaran yang fitrah.

Ketika kami mengungkapkan kebenaran dari sudut pandang keIslaman kami yang berasal dari Qur’an dan Hadits (misalnya Riba yang pasti dihancurkan Allah QS 2: 276) ;  orang lain yang mengkaji kebenaran berdasarkan ilmunya dengan jujur seperti Charles Goyette – kemungkinan besarnya memang akan berkesimpulan yang sama dengan kesimpulan kami tersebut.

Jadi kalau di Al-Qur’an sudah dikabarkan bahwa Riba akan dihancurkan oleh Allah (QS 2 :276), kemudian secara ilmiah oleh Charles Goyette juga disimpulkan yang sama bahwa Dollar nan ribawi akan hancur – maka apakah kita masih akan percayai US Dollar? Maukah kita naik kereta Dollar/Debt Express menuju tempat yang namanya The Crack-up Boom? Saya rasa tidak. Wa Allahu A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Political EconomyComments (0)

Musibah Terjadi Lagi: Waktunya Untuk Beristighfar dan Terus Beristighfar


“Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari”. (QS 16 :26)
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. (QS 8 : 33)
Belum satu bulan negeri ini dikejutkan oleh gempa skala besar (7.3 skala Richter)  di Tasikmalaya dan sekitarnya (02/09/09), kembali negeri ini diguncang oleh gempa yang tidak kalah dasyatnya ( 7.6 skala Richter) di Padang dan sekitarnya kemarin (30/09/09). Para ahli tentu dengan mudah bisa menjelaskan apa dan bagaimana gempa ini sehingga saya tidak perlu menguraikan tentang gempa ini sendiri.
Yang perlu kita renungkan secara sangat-sangat serius adalah mengapa sampai gempa dan berbagai musibah lain seolah tidak henti-hentinya menghujani negeri ini ?. Padahal tuntunan kita yang agung Al-Qur’an Al Karim telah memberikan formulanya untuk ini, baik mengenai penyebab maupun solusi untuk mengatasinya.
Beberapa jam setelah gempa semalam, saya ngobrol sampai larut dengan sahabat saya Dr. Adian Husaini dan beberapa teman lainnya membicarakan antara lain masalah gempa ini. Kesimpulan kita sederhana, kembali ke Al-Quran –lah jawabannya. Dua ayat tersebut diatas yang pertama menjelaskan mengapa gempa dan musibah lain menimpa kita; Ayat yang kedua menjelaskan bagaimana kita bisa menghindari musibah yang terus berulang ini.
Bila menurut Al-Qur’an gempa ditimpakan ke kaum yang melakukan makar kepada Allah, maka instrospeksinya adalah bangsa ini harus memahami ke-makaran apa yang telah dilakukan secara rame-rame ?. Makar artinya mengambil hak – makar kepada Allah artinya mengambil hak atau melawan Allah – berikut adalah contoh-contoh area yang perlu kita renungkan.
Allah melarang kita makan riba, bila kita terus melakukannya Allah dan RasulNya menyatakan perang kepada kita (QS 2 : 279). Porsi ekonomi syariah khususnya sektor keuangan di Indonesia masih sekitar 2.5%; lantas berarti ekonomi kita 97.5%-nya adalah Riba ?. Keimanan kita menyatakan bahwa kebenaran Al-Quran’an abadi, dan janji Allah pasti benarnya. Lantas bila kenyataannya dalam bidang finansial saja 97.5% kita memenuhi syarat untuk diperangi Allah dan RasulNya yang diancamkan dalam ayat tersebut, apakah Allah tidak akan melakukannya ?.
Belum lagi kalau kita masuk masalah-masalah hukum, kesusilaan, keadilan ekonomi, perlakuan terhadap orang miskin dan ekonomi lemah dlsb.dlsb.; maka kita akan dapati negeri ini penuh kemungkinan untuk mendapatkan azabnya.
Namun Allah juga Maha Pengasih, Maha Pengampun – kasih sayangNya jauh melebihi kemurkaanNya. Maka kita juga sangat besar kemungkinannya untuk tidak di azab bahkan juga diampuni, syaratnya kita mau mohon ampun atau beristigfar seperti yang di-resep-kan di ayat diatas.
Untuk bisa di-ampuni inipun Allah memberikan resep berikutnya dalam ayat berikut : “Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya); sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 16 :119)
Mari kita bantu dengan sekuat tenaga saudara-saudara kita yang terkena musibah – yang bisa jadi timbul karena kesalahan kita semua, selanjutnya juga mari kita cegah timbulnya musibah-musibah lain dengan cara yang sudah ditunjukkanNya – yaitu banyak-banyak mohon ampun…Astagfirullah hal Adzim… Astagfirullah hal Adzim… Astagfirullah hal Adzim…

“Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.” (QS. An-Nahl (16): 26)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfaal (8): 33)

Belum 1 bulan negeri ini dikejutkan oleh gempa bumi skala besar (7.3 skala Richter)  di Tasikmalaya dan sekitarnya (02/09/09), kembali negeri ini diguncang oleh gempa yang tidak kalah dasyatnya (7.6 skala Richter) di Padang dan sekitarnya kemarin (30/09/09). Para ahli tentu dengan mudah bisa menjelaskan apa dan bagaimana gempa ini sehingga saya tidak perlu menguraikan tentang gempa ini sendiri.

Yang perlu kita renungkan secara sangat-sangat serius adalah mengapa sampai gempa dan berbagai musibah lain seolah tidak henti-hentinya menghujani negeri ini? Padahal tuntunan kita yang agung Al-Qur’an Al Karim telah memberikan formulanya untuk ini, baik mengenai penyebab maupun solusi untuk mengatasinya.

Beberapa jam setelah gempa semalam, saya ngobrol sampai larut dengan sahabat saya Dr. Adian Husaini dan beberapa teman lainnya membicarakan antara lain masalah gempa ini. Kesimpulan kita sederhana, kembali ke Al-Qur’an –lah jawabannya. Dua ayat tersebut di atas yang pertama menjelaskan mengapa gempa dan musibah lain menimpa kita; Ayat yang kedua menjelaskan bagaimana kita bisa menghindari musibah yang terus berulang ini.

Bila menurut Al-Qur’an gempa ditimpakan ke kaum yang melakukan makar kepada Allah, maka instrospeksinya adalah bangsa ini harus memahami ke-makaran apa yang telah dilakukan secara rame-rame? Makar artinya mengambil hakmakar kepada Allah artinya mengambil hak atau melawan Allah – berikut adalah contoh-contoh area yang perlu kita renungkan.

Allah melarang kita makan riba, bila kita terus melakukannya Allah dan RasulNya menyatakan perang kepada kita (QS. Al-Baqarah (2): 279). Porsi ekonomi syariah khususnya sektor keuangan di Indonesia masih sekitar 2.5%; lantas berarti ekonomi kita 97.5%-nya adalah Riba? Keimanan kita menyatakan bahwa kebenaran Al-Qur’an abadi, dan janji Allah pasti benarnya. Lantas bila kenyataannya dalam bidang finansial saja 97.5% kita memenuhi syarat untuk diperangi Allah dan RasulNya yang diancamkan dalam ayat tersebut, apakah Allah tidak akan melakukannya?

Belum lagi kalau kita masuk masalah-masalah hukum, kesusilaan, keadilan ekonomi, perlakuan terhadap orang miskin dan ekonomi lemah, dlsb; maka kita akan dapati negeri ini penuh kemungkinan untuk mendapatkan azabNya.

Namun Allah juga Maha Pengasih, Maha Pengampun – kasih sayangNya jauh melebihi kemurkaanNya. Maka kita juga sangat besar kemungkinannya untuk tidak diazab bahkan juga diampuni, syaratnya kita mau mohon ampun atau beristighfar seperti yang di-resep-kan di ayat di atas.

Untuk bisa diampuni inipun Allah memberikan resep berikutnya dalam ayat berikut: “Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya); sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl (16): 119)

Mari kita bantu dengan sekuat tenaga saudara-saudara kita yang terkena musibah – yang bisa jadi timbul karena kesalahan kita semua, selanjutnya juga mari kita cegah timbulnya musibah-musibah lain dengan cara yang sudah ditunjukkanNya – yaitu banyak-banyak mohon ampun… Astagfirullah hal Adzim… Astagfirullah hal Adzim… Astagfirullah hal Adzim…

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Islamic ViewComments (1)

1 Dari 10 Hasil Puasa: Gerakan Umat Produktif


Mumpung suasana lebaran dan liburan masih menyelimuti kita, saya belum akan menulis tentang perkembangan pasar emas dan sejenisnya. Saya masih ingin menyentuh hal-hal yang mendasar yang menumpuk di kepala selama menjalani i’tikaf sampai akhir pekan lalu. Kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan dua ayat berikut :
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS 2:183)
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS 2:177)
Ayat pertama adalah ayat yang sangat popular sepanjang bulan puasa lalu, yaitu ayat tentang kewajiban puasa dan target dari puasa itu sendiri agar kita menjadi orang yang bertakwa. Lantas ayat kedua menjelaskan tentang siapa atau seperti apakah orang yang bertakwa itu. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya seperti ini menjadi pilihan pertama bila kita ingin memahami makna suatu ayat.
Jadi dari dua ayat tersebut kita paham target puasa kita dan paham pula menjadi orang seperti apa kita pasca Ramadhan seharusnya. Karena parameter orang bertakwa ini jelas, insyaallah kita sendiri yang bisa mengukur sedekat apa kita bisa mendekati target ini. Untuk ini mari kita list 10 sifat orang bertakwa berdasarkan QS 2 :177 tersebut diatas :
1.     Beriman kepada Allah
2.     Beriman kepada hari kemudian
3.     Beriman kepada malaikat-malaikat
4.     Beriman kepada kitab-kitabNya
5.     Beriman kepada nabi-nabi
6.     Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya
7.     Mendirikan sholat
8.     Menunaikan zakat
9.     Orang yang menepati janjinya apabila berjanji
10.   Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan.
Terlalu panjang tulisan ini bila saya mengulas ke 10 sifat orang bertakwa yang antara lain dihasilkan melalui proses puasa ini, maka pada kesempatan ini saya hanya ingin mengulas satu saja yaitu sifat ke 6 dari orang yang bertakwa : “…Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya”.
Perhatikan kata kunci “…memberikan…” di penggalan ayat tersebut, siapa yang bisa “…memberikan…” ini ?, pertama pastilah dia orang yang memiliki kelebihan.  Kalau dia pas-pasan, maka dia tidak akan dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, semua yang dimilikinya hanya cukup untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau dia kekurangan, jangankan bisa “…memberikan…”, sebaliknya dia akan cenderung “…menerima…” atau bahkan “…meminta…” dari yang lain. Kedua, selain ada dia juga mau memberikan sesuatu yang dicintainya – ini akan terjadi bila ada keimanan dalam hatinya (sifat 1 – 5).
Jadi puasa seharusnya menghasilkan orang-orang yang bertakwa yang salah satu sifatnya dia dapat “…memberikan…” yang dicintainya ke orang lain yang berhak, utamanya kerabat. Pemberian ini juga lebih dari apa yang diwajibkan dalam zakat, karena zakat disebut sebagai sifat yang lain dalam ayat ini.
Dari men-tadaburi dua ayat diatas, saya terus berfikir…di Indonesia ada 240 juta penduduk, 85 %-nya muslim, maka ada 204 juta penduduk muslim di Indonesia. Kalau asumsinya yang berada di usia produktif 50% saja, maka ada 102 juta muslim produktif di negeri ini. Bayangkan kalau yang 102 juta ini puasanya berhasil dan derajat takwa tercapai, wow… akan betapa banyak muslim-muslim yang berproduksi berlebih di negeri ini sehingga mampu memberikan sesuatu bagi yang lain.
Kalau ini yang bisa kita hasilkan, pastilah negeri ini tidak perlu tergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti yang saya tulis awal pekan ini.
Dengan prasangka baik ini, bahwa begitu besar potensi-potensi  produksi sebagai buah dari ketakwaan yang akan terus meningkat setiap tahun sehabis Ramadhan, maka gerakan GeraiDinar dan BMT Daarul Muttaqqin yang awalnya hanya seputar penyebar luasan pengetahuan tentang Dinar, kemudian meningkat menjadi pengadaan dan pengelolaannya, insyaallah akan kita tingkatkan lagi menjadi pendorong peningkatan produktifitas umat kedepannya.
Agar ilmu yang diberikan olehNya ini tidak hanya berhenti di tenggorokan, maka dalam beberapa bulan kedepan insyaallah kami akan luncurkan Gerakan Umat Produktif yang merupakan sebuah Social Network yang Islami. Apa dan bagaimana-nya akan kami jelaskan tahap demi tahap pada waktunya, saat ini platform teknologi untuk ini sedang kami persiapkan. Program Pesantren Wirausaha yang insyaallah akan kick off untuk kelas eksekutif tanggal 10 Oktober 2009 mendatang juga merupakan bagian tak terpisahkan dari master plan peningkatan produktifitas umat ini.
Semoga Allah memudahkan dan menyempurnakan apa yang kita mulai dengan penuh kelemahan ini….Amin.

Mumpung suasana lebaran dan liburan masih menyelimuti kita, saya belum akan menulis tentang perkembangan pasar emas dan sejenisnya. Saya masih ingin menyentuh hal-hal yang mendasar yang menumpuk di kepala selama menjalani i’tikaf sampai akhir pekan lalu. Kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan 2 ayat berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah (2): 183)

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.(QS. Al-Baqarah (2): 177)

Ayat pertama adalah ayat yang sangat popular sepanjang bulan puasa lalu, yaitu ayat tentang kewajiban puasa dan target dari puasa itu sendiri agar kita menjadi orang yang bertakwa. Lantas ayat kedua menjelaskan tentang siapa atau seperti apakah orang yang bertakwa itu. Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya seperti ini menjadi pilihan pertama bila kita ingin memahami makna suatu ayat.

Jadi dari 2 ayat tersebut kita paham target puasa kita dan paham pula menjadi orang seperti apa kita pasca Ramadhan seharusnya. Karena parameter orang bertakwa ini jelas, insya Allah kita sendiri yang bisa mengukur sedekat apa kita bisa mendekati target ini. Untuk ini mari kita list 10 sifat orang bertakwa berdasarkan QS. Al-Baqarah (2): 177 tersebut di atas:

  1. Beriman kepada Allah.
  2. Beriman kepada hari kemudian.
  3. Beriman kepada malaikat-malaikat.
  4. Beriman kepada kitab-kitabNya.
  5. Beriman kepada nabi-nabi.
  6. Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya.
  7. Mendirikan shalat.
  8. Menunaikan zakat.
  9. Orang yang menepati janjinya apabila berjanji.
  10. Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan.

Terlalu panjang tulisan ini bila saya mengulas ke 10 sifat orang bertakwa yang antara lain dihasilkan melalui proses puasa ini, maka pada kesempatan ini saya hanya ingin mengulas satu saja yaitu sifat ke 6 dari orang yang bertakwa : “…Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya”.

Perhatikan kata kunci “…memberikan…” di penggalan ayat tersebut, siapa yang bisa “…memberikan…” ini? Pertama pastilah dia orang yang memiliki kelebihan.  Kalau dia pas-pasan, maka dia tidak akan dapat memberikan sesuatu kepada orang lain, semua yang dimilikinya hanya cukup untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau dia kekurangan, jangankan bisa “…memberikan…”, sebaliknya dia akan cenderung “…menerima…” atau bahkan “…meminta…” dari yang lain. Kedua, selain ada dia juga mau memberikan sesuatu yang dicintainya – ini akan terjadi bila ada keimanan dalam hatinya (sifat 1 – 5).

Jadi puasa seharusnya menghasilkan orang-orang yang bertakwa yang salah satu sifatnya dia dapat “…memberikan…” yang dicintainya ke orang lain yang berhak, utamanya kerabat. Pemberian ini juga lebih dari apa yang diwajibkan dalam zakat, karena zakat disebut sebagai sifat yang lain dalam ayat ini.

Dari men-tadaburi 2 ayat di atas, saya terus berfikir… di Indonesia ada 240 juta penduduk dan 85 %-nya muslim, maka ada 204 juta penduduk muslim di Indonesia. Kalau asumsinya yang berada di usia produktif 50% saja, maka ada 102 juta muslim produktif di negeri ini. Bayangkan kalau yang 102 juta ini puasanya berhasil dan derajat takwa tercapai, wow… akan betapa banyak muslim-muslim yang berproduksi berlebih di negeri ini sehingga mampu memberikan sesuatu bagi yang lain.

Kalau ini yang bisa kita hasilkan, pastilah negeri ini tidak perlu tergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti yang saya tulis awal pekan ini.

Dengan prasangka baik ini, bahwa begitu besar potensi-potensi  produksi sebagai buah dari ketakwaan yang akan terus meningkat setiap tahun sehabis Ramadhan, maka gerakan Dinar Islam dan BMT Daarul Muttaqqin yang awalnya hanya seputar penyebar luasan pengetahuan tentang Dinar, kemudian meningkat menjadi pengadaan dan pengelolaannya, insya Allah akan kita tingkatkan lagi menjadi pendorong peningkatan produktifitas umat ke depannya.

Agar ilmu yang diberikan olehNya ini tidak hanya berhenti di tenggorokan, maka dalam beberapa bulan ke depan insya Allah kami akan luncurkan Gerakan Umat Produktif yang merupakan sebuah Social Network yang Islami. Apa dan bagaimana-nya akan kami jelaskan tahap demi tahap pada waktunya, saat ini platform teknologi untuk ini sedang kami persiapkan. Program Pesantren Wirausaha yang insya Allah akan kick off untuk kelas eksekutif tanggal 10 Oktober 2009 mendatang juga merupakan bagian tak terpisahkan dari master plan peningkatan produktifitas umat ini.

Semoga Allah memudahkan dan menyempurnakan apa yang kita mulai dengan penuh kelemahan ini… Amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Ketika Allah Mengirimkan Malaikatnya Untuk Menyelesaikan Urusan Kita


(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (QS 8:9)
Sebagai orang beriman kita semua yakin bahwa hidup mati kita, rizki kita, jodoh kita dan segala sesuatu yang terjadi ataupun yang tidak terjadi terhadap kita semua sudah tercatat disisinya sebelum Allah menciptakannya (QS 57:72); namun jarang kita merasakan kehadiranNya atau para malaikatNya ketika hal ini (suatu peristiwa) terjadi.
Dalam sejarah peperangan kaum muslimin dari sejak zaman nabi sampai yang terakhir terjadi di Gaza beberapa bulan lalu; banyak kita baca bahwa para mujahidin tersebut begitu nyatanya merasakan kehadiran Allah dan para malaikatNya membantu mereka memenangkan peperangan. Hal ini pun sebagian  diceritakan langsung d Al-Qur’an seperti dalam surat Al Anfal : 9 tersebut diatas.
Selama krisis Gaza banyak pula diceritakan betapa para mujahidin Palestina merasakan langsung kehadiran Allah dan para malaikatNya membantu mereka memenangkan peperangan; diantaranya adalah cerita berlariannya tentara Yahudi karena mendengar gemuruh pasukan berkuda (padahal zaman sekarang tidak ada pasukan berkuda); ditundukkannya anjing-anjing pelacak Yahudi hanya dengan ‘diajak omong’ oleh pasukan Islam yang lagi menjulurkan kepalanya di permukaan tanah (badannya bersembunyi dalam tanah); lolosnya pengiriman senjata ke garis depan peperangan karena penjaga perbatasan diajak ngomong oleh seorang ‘nenek’ dlsb-dlsb.
Di saat kita tidak berharap ke sesuatu selain hanya kepadaNya, kehadiran Allah dan malaikat-malaikat yang dikirimkanNya ternyata juga dapat dirasakan oleh orang-orang awam seperti kita.
Semalam hal inipun dirasakan oleh keluarga besar GeraiDinar; ketika salah satu programmer yang membuat program grafik harga Dinar yang jadi rujukan andalan di Geraidinar.Com memerlukan 4 kantong donor darah A+ untuk persiapan operasinya. Di seluruh kantor PMI dan bank-bank darah di Jakarta habis persediaan darah di musim lebaran ini karena sepanjang Ramadhan sangat sedikit orang yang mendonorkan darahnya. Sampai menjelang tengah malam di kantor PMI Kramat kami tidak peroleh darah yang dibutuhkan satu kantong-pun, sehingga kami dengan lunglai memutuskan untuk pulang dengan harapan akan berusaha mencari kembali besuk pagi.
Sebelum sampai mobil, salah satu dari kami mendapatkan telepon bahwa “tetangga dari teman dari ponakan” bersedia menyumbangkan darah A+ malam itu juga. ‘Malaikat’ ini akan segera berangkat dari rumahnya diujung selatan Jakarta tengah malam itu juga, mengemudikan mobil sendiri untuk secepatnya sampat Kramat untuk mendonorkan darahnya kepada orang yang sebenarnya nggak ada hubungan sama sekali – recipient-nya hanya “om dari temen dari tetangganya”.
Coba kita bayangkan pada diri kita, kebanyakan dari diri kita. Bersedia kah kita tengah malam dibangunin tetangga, untuk kemudian saat itu juga harus berangkat nyetir mobil sendiri dari pinggiran kota ke pusat kota untuk menyumbangkan darah kepada orang yang bahkan tidak kita kenal sama sekali ?. Kemungkinan besarnya kita tidak akan tergerak untuk melakukan hal ini; tetapi nyatanya ada orang-orang yang bisa melakukan hal ini – siapakah mereka ini ?; hanya Allah-lah yang bisa menggerakkan hati orang-orang semacam ini.
Orang-orang semacam ini adalah ‘malaikat’ dalam wujud manusia yang digerakkan oleh Allah untuk menolong menyelesaikan masalah kita. Bahkan kalau kita hayati dan rasakan, kita bisa selalu merasakan kehadiranNya pada saat kita membutuhkan. KehadiranNya ini juga bisa kita rasakan ketika Dia mengirim orang-orang yang jujur menjadi mitra bisnis kita, orang-orang yang sabar menjadi klien kita, orang-orang yang berilmu dan ikhlas menjadi guru-guru kita, teman-teman yang hanya mencintai kita karena Allah dlsb. dlsb.
Dr. Yusuf Qaradhawi  mensarikan cara memperoleh pertolongan Allah pada saat kita membutuhkan dalam beberapa butir berikut:
·       Pertolongan Allah hanya diberikan kepada pelaku yang benar-benar turun di lapangan untuk berjuang. (QS 8 :9)
·       Pertolongan Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang menolong agamaNya. (QS 47:7)
·       Hamba yang ikhlas dan memurnikan ibadah kepadaNya (QS 10:22)
·       Hamba yang mensucikan diri dari mengkonsumsi segala hal yang diharamkanNya. (Hadits)
·       Hamba yang menderita. (QS 21 : 87-88)
·       Hamba yang terus berdo’a karena tidak tahu kapan do’anya akan dikabulkan – tidak tergesa-gesa. (Hadits).
Pekerjaan membangun ekonomi yang berkeadilan dan bebas riba di tengah arus kapitalisme global nan ribawi sungguh merupakan pekerjaan yang sangat besar, yang hanya bisa diselesaikan dengan kekuatan yang sangat besar  - yang jelas diluar kemampuan kita manusia yang lemah ini. Namun karena yang akan menolong kita adalah Allah yang Maha Besar, maka insyallah tidak akan ada hal yang merintangi upaya kita untuk memujudkan berlakunya aturan syariah di bumi ini. Syaratnya ya itu tadi, kita harus berjuang untuk bisa menghadirkan pertolongan Allah dengan terjun langsung ke lapangan perjuangan (tidak cukup berwacana, berseminar dan berdebat), menolong agama Allah, ikhlas, mensucikan diri, bersedia menderita dan terus tidak berhenti berdo’a.
Semoga kekurangan kekurangan atas apa yang kita lakukan, Dia pula yang menyempurnakan karena Dia-lah yang Maha Sempurna…Amin.

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfaal (8): 9)

Sebagai orang beriman kita semua yakin bahwa hidup mati kita, rizki kita, jodoh kita dan segala sesuatu yang terjadi ataupun yang tidak terjadi terhadap kita semua sudah tercatat disisinya sebelum Allah menciptakannya (QS 57:72); namun jarang kita merasakan kehadiranNya atau para malaikatNya ketika hal ini (suatu peristiwa) terjadi.

Dalam sejarah peperangan kaum muslimin dari sejak zaman nabi sampai yang terakhir terjadi di Gaza beberapa bulan lalu; banyak kita baca bahwa para mujahidin tersebut begitu nyatanya merasakan kehadiran Allah dan para malaikatNya membantu mereka memenangkan peperangan. Hal ini pun sebagian diceritakan langsung di Al-Qur’an seperti dalam surat Al Anfaal: 9 tersebut di atas.

Selama krisis Gaza banyak pula diceritakan betapa para mujahidin Palestina merasakan langsung kehadiran Allah dan para malaikatNya membantu mereka memenangkan peperangan; diantaranya adalah cerita berlariannya tentara Yahudi karena mendengar gemuruh pasukan berkuda (padahal zaman sekarang tidak ada pasukan berkuda); ditundukkannya anjing-anjing pelacak Yahudi hanya dengan ‘diajak omong’ oleh pasukan Islam yang lagi menjulurkan kepalanya di permukaan tanah (badannya bersembunyi dalam tanah); lolosnya pengiriman senjata ke garis depan peperangan karena penjaga perbatasan diajak ngomong oleh seorang ‘nenek’, dlsb-dlsb.

Di saat kita tidak berharap ke sesuatu selain hanya kepadaNya, kehadiran Allah dan malaikat-malaikat yang dikirimkanNya ternyata juga dapat dirasakan oleh orang-orang awam seperti kita.

Semalam hal inipun dirasakan oleh keluarga besar Dinar Islam; ketika salah satu programmer yang membuat program grafik harga Dinar yang jadi rujukan andalan di DinarIslam.com memerlukan 4 kantong donor darah A+ untuk persiapan operasinya. Di seluruh kantor PMI dan bank-bank darah di Jakarta habis persediaan darah di musim Lebaran ini karena sepanjang Ramadhan sangat sedikit orang yang mendonorkan darahnya. Sampai menjelang tengah malam di kantor PMI Kramat kami tidak peroleh darah yang dibutuhkan satu kantong-pun, sehingga kami dengan lunglai memutuskan untuk pulang dengan harapan akan berusaha mencari kembali besok pagi.

Sebelum sampai mobil, salah satu dari kami mendapatkan telepon bahwa “tetangga dari teman dari ponakan” bersedia menyumbangkan darah A+ malam itu juga. ‘Malaikat’ ini akan segera berangkat dari rumahnya di ujung selatan Jakarta tengah malam itu juga, mengemudikan mobil sendiri untuk secepatnya sampai Kramat untuk mendonorkan darahnya kepada orang yang sebenarnya nggak ada hubungan sama sekali – recipient-nya hanya “om dari temen dari tetangganya”.

Coba kita bayangkan pada diri kita, kebanyakan dari diri kita. Bersedia kah kita tengah malam dibangunin tetangga, untuk kemudian saat itu juga harus berangkat nyetir mobil sendiri dari pinggiran kota ke pusat kota untuk menyumbangkan darah kepada orang yang bahkan tidak kita kenal sama sekali? Kemungkinan besarnya kita tidak akan tergerak untuk melakukan hal ini; tetapi nyatanya ada orang-orang yang bisa melakukan hal ini – siapakah mereka ini? Hanya Allah-lah yang bisa menggerakkan hati orang-orang semacam ini.

Orang-orang semacam ini adalah ‘malaikat’ dalam wujud manusia yang digerakkan oleh Allah untuk menolong menyelesaikan masalah kita. Bahkan kalau kita hayati dan rasakan, kita bisa selalu merasakan kehadiranNya pada saat kita membutuhkan. KehadiranNya ini juga bisa kita rasakan ketika Dia mengirim orang-orang yang jujur menjadi mitra bisnis kita, orang-orang yang sabar menjadi klien kita, orang-orang yang berilmu dan ikhlas menjadi guru-guru kita, teman-teman yang hanya mencintai kita karena Allah, dlsb.

Dr. Yusuf Qaradhawi mensarikan cara memperoleh pertolongan Allah pada saat kita membutuhkan dalam beberapa butir berikut:

  • Pertolongan Allah hanya diberikan kepada pelaku yang benar-benar turun di lapangan untuk berjuang. (QS. Al-Anfaal (8): 9)
  • Pertolongan Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang menolong agamaNya. (QS. Muhammad (47): 7)
  • Hamba yang ikhlas dan memurnikan ibadah kepadaNya. (QS 10:22)
  • Hamba yang mensucikan diri dari mengkonsumsi segala hal yang diharamkanNya. (Hadits)
  • Hamba yang menderita. (QS. Al-Anbiyaa’ (21): 87-88)
  • Hamba yang terus berdo’a karena tidak tahu kapan do’anya akan dikabulkan – tidak tergesa-gesa. (Hadits).

Pekerjaan membangun ekonomi yang berkeadilan dan bebas riba di tengah arus kapitalisme global nan ribawi sungguh merupakan pekerjaan yang sangat besar, yang hanya bisa diselesaikan dengan kekuatan yang sangat besar  - yang jelas di luar kemampuan kita manusia yang lemah ini. Namun karena yang akan menolong kita adalah Allah Yang Maha Besar, maka insya Allah tidak akan ada hal yang merintangi upaya kita untuk memujudkan berlakunya aturan syariah di bumi ini. Syaratnya ya itu tadi, kita harus berjuang untuk bisa menghadirkan pertolongan Allah dengan terjun langsung ke lapangan perjuangan (tidak cukup berwacana, berseminar dan berdebat), menolong agama Allah, ikhlas, mensucikan diri, bersedia menderita dan terus tidak berhenti berdo’a.

Semoga kekurangan atas apa yang kita lakukan, Dia pula yang menyempurnakan karena Dia-lah Yang Maha SempurnaAmin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Islamic ViewComments (0)

Bila Lebah Tidak Menghasilkan Cukup Madu


Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.
Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS 16 : 68-69)
Alhamdulillah hari ini saya bisa mulai menulis lagi setelah sekitar dua minggu absen tidak menulis karena perjalanan i’tikaf. Dalam kesempatan menjalani ritual i’tikaf , makan-minum, tidur dan tentu beribadah di Masjidil Haram sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang baru lalu – banyak sekali kesempatan bisa saya pakai untuk membaca, merenungkan dan men –tadaburi- ayat-ayat Al-qur’an. Dari sumber segala ilmu inilah insyaallah saya akan siap menulis kembali untuk setahun kedepan, sampai tibanya waktu i’tikaf kembali…insyaallah.
Pertama saya akan menulis tentang dua ayat di surat An Nahl tersebut diatas. Dalam dua ayat ini sungguh terdapat pelajaran yang luar biasa sehingga Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk memikirkannya.
Di ayat pertama lebah diperintahkan untuk membuat sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Ini mengisyaratkan bagi kita bahwa dari sisi lebahnya – perintah untuk bekerjasama dengan manusia ini sudah diberikan langsung oleh Allah kepadanya (lebah), tinggal bagaimana kita manusia menangkap peluang ini untuk menghasilkan sesuatu yang sangat berguna bagi kita.
Di ayat kedua, Allah ‘menitipkan’ pabrik obat bagi kesehatan kita di perut-perut lebah tersebut. Madu yang dihasilkan dari perut-perut lebah tersebut sejatinya juga diperlukan oleh masyarakat lebah sendiri sebagai sumber makanan mereka, namun mereka memproduksinya dengan sangat berlebih – jauh lebih banyak dari yang mereka butuhkan sendiri; kelebihan produksi inilah yang kemudian menjadi madu yang sangat banyak kasiyatnya bagi kesehatan kita semua bangsa manusia.
Kemampuan berproduksi lebih dari yang dibutuhkan masyarakat lebah inilah yang saya ingin tekankan sebagai pelajaran dalam tulisan ini. Bayangkan kalau lebah tidak memproduksi madunya secara lebih, dari mana bangsa manusia mendapatkan madu ?. Lebih lanjut bila mereka berproduksi kurang dari kebutuhan, bisa jadi masyarakat lebah akan saling berperang satu sama lain untuk memperebutkan madu. Atau satu masyarakat lebah  demi untuk memenuhi kebutuhannya rela mengeksploitasi masyarakat lebah yang lain. Tetapi ini tidak terjadi di masyarakat lebah.
Mengapa sampai Allah memerintahkan kita untuk belajar dari lebah ini , sangat bisa jadi salah satunya adalah agar kita belajar ‘berproduksi lebih’ seperti yang dilakukan oleh masyarakat lebah ini. Bayangkan, lebah yang tidak memiliki otak yang sempurna seperti manusia saja – mereka bisa berproduksi lebih. Masya’ manusia yang diberi otak sehingga berilmu tinggi, mampu menciptakan berbagai teknologi tidak bisa berproduksi cukup untuk kebutuhannya sendiri ?.
Lihat-lah bangsa kita sebagai contohnya; kita masih harus mengimpor bahan-bahan makanan kita berupa 4.66 juta ton gandum senilai Rp 22.5 trilyun;  3.45 juta ton kedelai senilai Rp 5.95 trilyun ; 0.2 juta ton susu senilai Rp 7.55 trilyun ; daging sapi senilai Rp 4.8 trilyun; buah senilai Rp 3.38 trilyun dan bahkan juga impor garam senilai 0.9 trilyun.
Lihat apa yang kita import tersebut, semua sesungguhnya kita memiliki sumber dayanya untuk berproduksi secara cukup. Gandum mungkin memang tidak terlalu pas diproduksi ditanah-tanah kita, namun gandum kan dahulunya memang bukan makanan pokok kita ?, mengapa ujug-ujug jadi bahan makanan pokok yang harus kita impor ?.
Waktu kecil ibu saya di desa bisa membuat kue-kue dan segala macam makanan dari tepung yang sangat enak yaitu tepung yang dihasilkan dari umbi tanaman garut ( di daerah lain disebut arerut), yang dengan mudah dapat ditanam di kebon-kebon kita sendiri dan diolah secara tradisionil juga oleh kita sendiri. Mie sebagai menu makanan utama (bukan sebagai lauk !) baru kita kenal dua sampai tiga dasawarsa terakhir; lantas mengapa gandum (bahan dasar mie) tiba-tiba menjadi bahan pangan yang terbesar yang harus kita impor dari negara lain ?. Bukankah ini bentuk eksploitasi bangsa lain terhadap bangsa kita. Sampai-sampai mereka bisa mengubah menu utama di makanan kita ?.
Banyak hal yang salah di negeri ini sehingga kita tidak harus mengandalkan pemerintah untuk mengatasinya; sebagai warga negara kita bisa mulai dari diri kita memecahkan masyalah-masyalah yang kecil di lingkungan kita sehingga kita bisa ‘berproduksi lebih’ – mengikuti contoh lebah yang kita diminta untuk memikirkannya di ayat tersebut diatas.
Dari upaya untuk ‘memproduksi lebih’ inilah ide memproduktifkan lahan seperti yang sudah mulai saya tulis tahun lalu akan kita upayakan segera bisa dimulai; namun sebelum benar-benar kita mulai – ada masalah yang masih harus kita atasi lebih dahulu yaitu aspek pemasaran hasil-hasil pertanian yang juga masih sangat timpang di negeri ini.
Contohnya adalah ketika kita harus impor susu senilai Rp 7.5 trilyun lebih; kita masih membaca adanya peternak susu kita yang sampai membuang susunya kejalanan karena tidak bisa memasarkan hasil produksinya dengan harga yang wajar. Ketika anak-anak kita harus mengkonsumsi saus tomat yang konon bahannya ternyata bukan tomat (bisa ketela dlsb); sebagian petani-petani kita masih harus memilih tomat-tomatnya membusuk tidak di panen – karena kalau di panen harganya anjlog tidak mengejar ongkos produksinya.
Ini adalah sebagian saja dari contoh-contoh masalah produksi dan juga distribusi yang nampaknya kita memang harus belajar dari lebah. Di masyarakat lebah memang ada anggota masyarakatnya yang tidak berproduksi, yaitu lebah-lebah jantan yang tugasnya hanya satu sepanjang hidupnya – yaitu mengawini ratu lebah.
Jumlah lebah jantan ini hanya sekitar 15% saja dari lebah yang ada di koloni, tetapi bisa berarti ribuan lebah. Pada hari H – yaitu harinya ratu lebah muda siap kawin; ratu lebah yang sangat perkasa dibandingkan dengan lebah jantan sekalipun – terbang sekuat tenaga dan setinggi mungkin kelangit diikuti oleh ribuan lebah jantan yang mengejarnya.
Dari ribuan lebah jantan ini, hanya satu yang bisa mengejar ratu lebah dan mengawininya di udara. Karena keperkasaan sang ratu; lebah jantan yang sukses ini – akan mengalami nasib yang tragis yaitu mati dengan badan remuk berkeping-keping setelah mengawini sang ratu.
Akan halnya ribuan lebah jantan yang gagal mengawini ratu; dia menjadi lebah yang tidak berguna. Ketika mereka balik ke sarangpun akan ditolak oleh para lebah penjaga di gerbang sarang, keberadaan mereka sudah tidak dibutuhkan lagi. Ribuan lebah jantan ini akhirnya mati ngenes di pohon-pohon di luar sarang.
Akan halnya 85 % masyarakat lebah sisanya – yang terbesarnya adalah masyarakat lebah pekerja, mereka hidup tentram damai bersama ratu mereka.  Mereka berproduksi lebih, sehingga bukan hanya memakmurkan sarang mereka – tetapi juga berproduksi lebih untuk bangsa manusia.
Jadi apa yang harus kita lakukan untuk memproduksi lebih ?, memperbanyak ‘lebah pekerja’ ini – bekerja dalam arti benar-benar berproduksi – bukan hanya sekedar bekerja dengan datang ke kantor dari pagi, menunggu waktu pulang sore hari – tetapi tidak menghasilkan apa-apa – yang terakhir ini lebih mirip lebah jantan yang gagal mengawini ratu  dan bukan lebah pekerja.
Program Pesantren Wirausaha kami yang kelas perdananya akan kita mulai tanggal 10 Oktober 2009 bulan depan, insyallah ingin menghasilkan sebanyak mungkin ‘lebah-lebah pekerja’ yang akan menghasilkan ‘produksi lebih’ tersebut diatas. Insyaallah.

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl (16): 68-69)

Alhamdulillah hari ini saya bisa mulai menulis lagi setelah sekitar 2 minggu absen tidak menulis karena perjalanan i’tikaf. Dalam kesempatan menjalani ritual i’tikaf, makan-minum, tidur dan tentu beribadah di Masjidil Haram 10 hari terakhir bulan Ramadhan yang baru lalu – banyak sekali kesempatan bisa saya pakai untuk membaca, merenungkan dan men–tadaburi ayat-ayat Al-Qur’an. Dari sumber segala ilmu inilah insya Allah saya akan siap menulis kembali untuk setahun ke depan, sampai tibanya waktu i’tikaf kembali… insya Allah.

Pertama saya akan menulis tentang 2 ayat di surat An-Nahl tersebut di atas. Dalam 2 ayat ini sungguh terdapat pelajaran yang luar biasa sehingga Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk memikirkannya.

Di ayat pertama lebah diperintahkan untuk membuat sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Ini mengisyaratkan bagi kita bahwa dari sisi lebahnya – perintah untuk bekerjasama dengan manusia ini sudah diberikan langsung oleh Allah kepadanya (lebah), tinggal bagaimana kita manusia menangkap peluang ini untuk menghasilkan sesuatu yang sangat berguna bagi kita.

Di ayat kedua, Allah ‘menitipkan’ pabrik obat bagi kesehatan kita di perut-perut lebah tersebut. Madu yang dihasilkan dari perut-perut lebah tersebut sejatinya juga diperlukan oleh masyarakat lebah sendiri sebagai sumber makanan mereka, namun mereka memproduksinya dengan sangat berlebih – jauh lebih banyak dari yang mereka butuhkan sendiri; kelebihan produksi inilah yang kemudian menjadi madu yang sangat banyak khasiatnya bagi kesehatan kita semua bangsa manusia.

Kemampuan berproduksi lebih dari yang dibutuhkan masyarakat lebah inilah yang saya ingin tekankan sebagai pelajaran dalam tulisan ini. Bayangkan kalau lebah tidak memproduksi madunya secara lebih, dari mana bangsa manusia mendapatkan madu? Lebih lanjut bila mereka berproduksi kurang dari kebutuhan, bisa jadi masyarakat lebah akan saling berperang satu sama lain untuk memperebutkan madu. Atau satu masyarakat lebah demi untuk memenuhi kebutuhannya rela mengeksploitasi masyarakat lebah yang lain. Tetapi ini tidak terjadi di masyarakat lebah.

Mengapa sampai Allah memerintahkan kita untuk belajar dari lebah ini, sangat bisa jadi salah satunya adalah agar kita belajar ‘berproduksi lebih’ seperti yang dilakukan oleh masyarakat lebah ini. Bayangkan, lebah yang tidak memiliki otak yang sempurna seperti manusia saja – mereka bisa berproduksi lebih. Masa’ manusia yang diberi otak sehingga berilmu tinggi, mampu menciptakan berbagai teknologi tidak bisa berproduksi cukup untuk kebutuhannya sendiri?

Lihat-lah bangsa kita sebagai contohnya; kita masih harus mengimpor bahan-bahan makanan kita berupa 4.66 juta ton gandum senilai Rp 22.5 trilyun;  3.45 juta ton kedelai senilai Rp 5.95 trilyun ; 0.2 juta ton susu senilai Rp 7.55 trilyun ; daging sapi senilai Rp 4.8 trilyun; buah senilai Rp 3.38 trilyun dan bahkan juga impor garam senilai 0.9 trilyun.

Lihat apa yang kita impor tersebut, semua sesungguhnya kita memiliki sumber dayanya untuk berproduksi secara cukup. Gandum mungkin memang tidak terlalu pas diproduksi di tanah-tanah kita, namun gandum kan dahulunya memang bukan makanan pokok kita? Mengapa ujug-ujug jadi bahan makanan pokok yang harus kita impor?

Waktu kecil ibu saya di desa bisa membuat kue-kue dan segala macam makanan dari tepung yang sangat enak yaitu tepung yang dihasilkan dari umbi tanaman garut (di daerah lain disebut arerut), yang dengan mudah dapat ditanam di kebon-kebon kita sendiri dan diolah secara tradisionil juga oleh kita sendiri. Mie sebagai menu makanan utama (bukan sebagai lauk!) baru kita kenal dua sampai 3 dasawarsa terakhir; lantas mengapa gandum (bahan dasar mie) tiba-tiba menjadi bahan pangan yang terbesar yang harus kita impor dari negara lain? Bukankah ini bentuk eksploitasi bangsa lain terhadap bangsa kita. Sampai-sampai mereka bisa mengubah menu utama di makanan kita?

Banyak hal yang salah di negeri ini sehingga kita tidak harus mengandalkan pemerintah untuk mengatasinya; sebagai warga negara kita bisa mulai dari diri kita memecahkan masalah-masalah yang kecil di lingkungan kita sehingga kita bisa ‘berproduksi lebih’ – mengikuti contoh lebah yang kita diminta untuk memikirkannya di ayat tersebut di atas.

Dari upaya untuk ‘berproduksi lebih’ inilah ide memproduktifkan lahan seperti yang sudah mulai saya tulis sebelumnya akan kita upayakan segera bisa dimulai; namun sebelum benar-benar kita mulai – ada masalah yang masih harus kita atasi lebih dahulu yaitu aspek pemasaran hasil-hasil pertanian yang juga masih sangat timpang di negeri ini.

Contohnya adalah ketika kita harus impor susu senilai Rp 7.5 trilyun lebih; kita masih membaca adanya peternak susu kita yang sampai membuang susunya ke jalanan karena tidak bisa memasarkan hasil produksinya dengan harga yang wajar. Ketika anak-anak kita harus mengkonsumsi saus tomat yang konon bahannya ternyata bukan tomat (bisa ketela dlsb); sebagian petani-petani kita masih harus memilih tomat-tomatnya membusuk tidak di panen – karena kalau di panen harganya anjlog tidak mengejar ongkos produksinya.

Ini adalah sebagian saja dari contoh-contoh masalah produksi dan juga distribusi yang nampaknya kita memang harus belajar dari lebah. Di masyarakat lebah memang ada anggota masyarakatnya yang tidak berproduksi, yaitu lebah-lebah jantan yang tugasnya hanya satu sepanjang hidupnya – yaitu mengawini ratu lebah.

Jumlah lebah jantan ini hanya sekitar 15% saja dari lebah yang ada di koloni, tetapi bisa berarti ribuan lebah. Pada hari H – yaitu harinya ratu lebah muda siap kawin; ratu lebah yang sangat perkasa dibandingkan dengan lebah jantan sekalipun – terbang sekuat tenaga dan setinggi mungkin kelangit diikuti oleh ribuan lebah jantan yang mengejarnya.

Dari ribuan lebah jantan ini, hanya satu yang bisa mengejar ratu lebah dan mengawininya di udara. Karena keperkasaan sang ratu; lebah jantan yang sukses ini – akan mengalami nasib yang tragis yaitu mati dengan badan remuk berkeping-keping setelah mengawini sang ratu.

Akan halnya ribuan lebah jantan yang gagal mengawini ratu; dia menjadi lebah yang tidak berguna. Ketika mereka balik ke sarangpun akan ditolak oleh para lebah penjaga di gerbang sarang, keberadaan mereka sudah tidak dibutuhkan lagi. Ribuan lebah jantan ini akhirnya mati ngenes di pohon-pohon di luar sarang.

Akan halnya 85% masyarakat lebah sisanya – yang terbesarnya adalah masyarakat lebah pekerja, mereka hidup tentram damai bersama ratu mereka.  Mereka berproduksi lebih, sehingga bukan hanya memakmurkan sarang mereka – tetapi juga berproduksi lebih untuk bangsa manusia.

Jadi apa yang harus kita lakukan untuk memproduksi lebih? Memperbanyak ‘lebah pekerja’ ini – bekerja dalam arti benar-benar berproduksi – bukan hanya sekedar bekerja dengan datang ke kantor dari pagi, menunggu waktu pulang sore hari – tetapi tidak menghasilkan apa-apa – yang terakhir ini lebih mirip lebah jantan yang gagal mengawini ratu dan bukan lebah pekerja.

Program Pesantren Wirausaha kami yang kelas perdananya akan kita mulai tanggal 10 Oktober 2009 bulan depan, insya Allah ingin menghasilkan sebanyak mungkin ‘lebah-lebah pekerja’ yang akan menghasilkan ‘produksi lebih’ tersebut diatas. Insya Allah.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Agar Harta Itu Jangan Hanya Berputar Diantara Orang-orang Kaya


Kali ini saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan mudah-mudahan juga berguna untuk para pembaca website ini. Dengan gigihnya kita memperjuangkan mata uang yang Adil dari Emas dan Perak, kita juga jangan sampai terjebak dalam perilaku menimbun emas. Di tulisan saya sebelumnya, saya juga mengingatkan jangan sampai harta kita justru menjadi liability di akhirat….

Equation of Exchange

Equation of Exchange

Dalam Islam harta kita harus bergerak sehingga memberi manfaat bagi kita sendiri maupun orang lain yang juga mempunyai hak atas harta kita. Manfaat berputarnya harta ini saya coba jelaskan dengan persamaan pertukaran atau equation of exchange. Persamaan tersebut adalah M x V = P x Q dimana M = jumlah uang, V= Perputaran uang, P = Tingkat Harga dan Q = jumlah barang dan jasa. Saya ingin menggunakan persamaan ini untuk menjelaskan sistem ekonomi yang berbasis Dinar dan Dirham dan dimana bunga bank dianggap haram (dan memang haram!).

Dalam ekonomi yang berbasis Dinar, M akan cenderung tetap karena tidak seperti uang kertas yang bisa dicetak kapan saja dan berapa saja. Untuk mencetak Dinar diperlukan emas asli yang tentu jumlahnya tidak banyak. Diperkirakan hanya ada sekitar 150 ribu ton emas diseluruh dunia saat ini dan setiap tahunnya diperkirakan hanya bertambah sekitar 1.5% dari penambangan emas di seluruh dunia. Perak memang jumlahnya tentu lebih besar dari emas, namun juga terbatas.

Dengan skenario Allah yang telah membuat emas dan perak yang jumlahnya terbatas dan tersebar relatif merata di seluruh dunia – bahkan Amerika Serikat pun yang menganggap dirinya negara adikuasa hanya menguasai sekitar 8,000 ton emas saja atau 5.3 % dari emas dunia – maka seharusnya kemakmuran-pun merata.

Dengan tidak naiknya M, sementara Q atau output harus naik secara gradual sejalan dengan pertumbuhan penduduk dunia dan P relatif tetap (harga barang-barang apabila dibeli dengan emas akan cenderung tetap dalam jangka panjang), maka harus ada yang bergerak mengimbangi gerakan Q atau output tersebut. Tinggal satu faktor yang belum bergerak yaitu V, disinilah rahasianya ekonomi Islam, mengapa Islam sangat mendorong perputaran uang yang cepat dari satu tangan ke tangan lainnya. Lebih jauh lagi perputaran ini harus luas tidak hanya berputar di golongan tertentu saja seperti yang tercantum dalam Al-Quran: “….agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya diantara kamu…” (QS. Al-Hasyr: 7)

Segala kebutuhan manusia, termasuk jumlah emas di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan mata uang penduduknya, ternyata juga sudah diatur sedemikian rupa sesuai skenario Allah SWT sehingga akan selalu mencukupi. Diungkapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar (54): 49)

Trend Jumlah Penduduk Dunia & Kumulatif Jumlah Emas Yang Ada Di Permukaan Bumi (Sumber: Gold Sheet Mining Directory)

Trend Jumlah Penduduk Dunia & Kumulatif Jumlah Emas Yang Ada Di Permukaan Bumi (Sumber: Gold Sheet Mining Directory)

Hal ini juga bisa dibuktikan dari statistik jumlah penduduk dunia dibandingkan dengan jumlah emas yang tersedia sebagaimana ditunjukkan di grafik di samping. Dari grafik tersebut kita bisa lihat bahwa ternyata emas memang tersedia cukup bagi umat manusia sepanjang zaman; hanya keserakahanlah yang membuatnya bisa tidak mencukupi.

Cepatnya perputaran uang dalam ekonomi Islam ini juga digambarkan dalam suatu Hadits dimana Rasulullah SAW suatu pagi selesai shalat shubuh buru-buru pulang kemudian balik lagi ke Masjid untuk melanjutkan dzikir dan do’anya. Ketika sahabat ada yang bertanya, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ia tadi buru-buru karena ingat ada uang 3 Dirham yang belum disedekahkan.

Pada hadits lain dari Abu Huraira: Rasulullah SAW bersabda , “Jika saya memiliki emas sebesar gunung Uhud, saya tidak akan suka kecuali setelah 3 hari tidak tersisa 1 Dinar pun yang ada pada ku apabila ada orang lain yang berhak menerimanya dariku, kecuali sejumlah yang akan aku pakai untuk membayar utangku.” (HR. Bukhari)

Dua contoh di atas menggambarkan seberapa cepat uang seyogyanya berputar di antara kaum muslimin. Apabila uang tersebut uang kecil putaran ini ukurannya 1 hari, apabila uang besar atau kekayaan yang banyak maka putarannya 3 hari. Artinya uang bagi kaum muslimin hendaklah terus bergerak, baik itu untuk konsumsi, disedekahkan/diinfaqkan ataupun diinvestasikan untuk kegiatan produktif.

Jadi menggunakan Dinar sebagai alat investasi dan alat mempertahankan nilai, tidak boleh berarti menimbunnya. Batasan yang boleh dan yang tidak sudah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya.

Dari sini kita tahu bahwa tugas berikutnya setelah Dinar dan Dirham ini berada di tangan masyarakat secara luas, kita harus mulai benar-benar menggunakannya dalam bermuamalah sehari-hari… kita pikirkan caranya… yang penting kita mulai saja yang kita tahu, nanti biarlah Allah akan memberi tahu apa yang kita belum tahu. Wallahu A’lam bis Showab.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
  • Share/Bookmark

Posted in Islamic ViewComments (0)

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Nilai Tukar Rupiah - Mata Uang lain

Sofi is offlineEny is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes