Tag Archive | "Aisyah"

Bila Dinar & Dirham Dipergunakan Sebagai Alat Transaksi


Dari Aiman r.a berkata : ?Saya masuk ke rumah Aisyah, di situ ada baju perempuan yang terbuat dari benang seharga lima Dirham. Kata Aisyah: ?Lihatlah sahaya perempuanku, perhatikanlah dia!, dia merasa megah karena memakai pakaian itu dalam rumah.  Saya pernah memakai baju itu pada masa Rasulullah SAW. Setiap wanita yang ingin berdandan di Madinah, selalu mengirimkan utusannya kepadaku buat meminjamnya?. (Shahih Bukhari, Kitab 47, Hadits no 796)

Diriwayatkan dari ?Urwa : ?Bahwa Nabi memberinya satu Dinar untuk membeli domba untuk beliau. ?Urwa membeli dua ekor domba untuk beliau dengan uang tersebut. Kemudian dia menjual satu ekor domba seharga satu Dinar, dan membawa satu Dinar tersebut bersama satu ekor dombanya kepada Nabi. Atas dasar ini Nabi berdoa kepada Allah untuk memberkahi transaksi ?Urwa. Sehingga ?Urwa selalu memperoleh keuntungan (dari setiap perdagangannya) ? bahkan seandainya dia membeli debu?.  (Di riwayat lain) ?Urwa berkata: ?Saya mendengar Rasulullah SAW berkata, ?Selalu ada kebaikan pada kuda sampai hari kiamat??. (Periwayat lainnya lagi menambahkan ?saya melihat 70 ekor kuda di rumah ?Urwa.?) (Sufyan berkata, ?Nabi menyuruh ?Urwa untuk membeli domba untuk beliau sebagai hewan qurban?.) (Shahih Bukhari, Kitab 56, Hadits No 836)

Diriwayatkan dari Abdullah Ibn UmarUmar ibn Al Khattab memberi nama untanya Bukhti untuk qurban. Ada yang menawar 300 Dinar untuk unta ini. Ia datang kepada Nabi SAW dan berkata : ? Ya Rasulullah, unta saya Bukhti yang saya niatkan untuk qurban ditawar 300 Dinar. Boleh kah saya jual kemudian saya membeli unta lain dengan uang tersebut? Jangan, qurban kan saja yang ini.? (Hadits Sunan Abudawud, Kitab 10, hadits no 1752)

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik dari serangkaian hadits tersebut di atas, diantaranya adalah:

1) Kita  bisa memperoleh perpektif yang lebih jelas tentang kehidupan Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Bahwa keluarga beliau dan para sahabatnya hidup sederhana dan begitu akrab satu sama lain ? sampai baju Aisyah yang indah sering dipinjamkan kepada kepada wanita-wanita Madinah.

2) Daya beli Dirham juga relatif stabil meskipun kursnya terhadap Dinar bisa saja berfluktuasi; yang disebut baju yang indah namun tidak berlebihan untuk Aisyah yang hidup sederhana ? adalah seharga 5 Dirham. Dengan 5 Dirham, sekarang Anda-pun masih bisa memperoleh baju yang relatif indah yang tidak berlebihan.

3) Harga yang wajar untuk kambing standar saat itu adalah 1 Dinar; bahwasanya ?Urwah bisa membeli 2 ekor kambing dengan 1 Dinar ? ini nampaknya karena kepandaian ?Urwah berdagang sehingga beliau dido?akan secara khusus oleh Rasulullah SAW. 2 ekor kambing yang dibeli ?Urwah kemudian salah satunya dijual lagi dengan harga 1 Dinar dan 1 ekor yang lain dipertahankan untuk keperluan qurban Rasulullah SAW ? ini menguatkan fakta bahwa baik kambing yang dijual maupun yang diserahkan ke Rasulullah SAW adalah kambing yang wajar ukurannya untuk  harga 1 Dinar (buktinya orang lain mau membeli 1 Dinar, dan Rasulullah-pun mau menerima kambing yang diperuntukkan sebagai hewan qurban beliau seharga 1 Dinar tersebut). 1 Dinar saat ini tetap dapat untuk membeli 1 ekor kambing dengan standar yang baik ? ini membuktikan betapa stabilnya daya beli Dinar terhadap benda riil.

4) Kita jadi tahu ukuran atau nilai ?kendaraan mewah? saat itu yaitu unta terbaik seharga 300 Dinar. Atau kalau saat ini kira-kira setara SUV menengah atas Toyota Fortuner atau Mitsubishi Pajero Sport. Nilai seperti inilah yang dijadikan qurban oleh sahabat Rasulullah SAW yang mampu seperti Umar. Jadi bila Anda tergolong orang yang mampu berqurban dengan hewan qurban pilihan; lakukanlah itu ? ( www.lembuageng.com menyediakan hewan-hewan qurban top end ini).

5) Pelajaran yang tidak kalah menariknya adalah customary atau kebiasaan masyarakat saat itu ? kapan menggunakan Dinar untuk transaksi dan kapan menggunakan Dirham.

capitalUntuk kebutuhan transaksi yang nilainya tidak terlalu besar seperti untuk membeli baju, makanan sehari-hari dan lain sebagainya tentu tidak praktis menggunakan Dinar ? maka digunakanlah Dirham. Jadi kalau sekarang-pun kita hendak mengganti uang fiat dengan uang riil untuk kebutuhan transaksi sehari-hari seperti membeli makanan dan belanja sehari-hari lainnya, Dirham insya Allah akan lebih sesuai ketimbang Dinar.

Memang dengan teknologi yang kita miliki teknologi M-Dinar, bisa saja kita membeli buku di Dinar World seharga 0.075 Dinar misalnya ; namun penggunaan Dinar untuk transaksi kecil di luar pasar yang sudah terintegrasi dengan sistem elektronik semacam Dinar World dan M-Dinar ini kemungkinan masih perlu waktu untuk bisa berjalan praktis.

Di luar transaksi dengan nilai kecil tersebut, sudah sangat banyak transaksi lain yang bisa kita fasilitasi dengan menggunakan Dinar ? yaitu transaksi barang/jasa yang bernilai cukup besar. Karena Islam tidak mengajari kita untuk boros, tentu transaksi yang bernilai cukup besar ini arahnya bukan untuk kebutuhan konsumtif tetapi untuk kebutuhan produktif.

?Urwah menggunakan Dinar untuk perdagangan kambingnya dan unta Umar juga dinilai dalam satuan Dinar ? ini contoh yang baik untuk penggunaan Dinar sebagai transaksi perdagangan dan sebagai timbangan yang adil atau unit of account yang saat itupun sudah praktis apalagi sekarang. Dalam bahasa ekonomi, transaksi-transaksi atau penilaian yang sudah praktis dilakukan dengan Dinar seperti dalam 2 contoh hadits  tersebut adalah masuk kategori transaksi barang modal.

Karena Dinar kita arahkan untuk transaksi barang modal ? artinya untuk menggerakkan kegiatan produktif ? bukan konsumtif, maka tema sentral yang diusung kami adalah Investasi & Proteksi Nilai. Tema inilah yang  sering disalah pahami oleh pihak yang tidak bosan-bosannya mengkritisi kami, dalam pandangan mereka investasi ini diartikan sekedar membeli Dinar terus disimpan atau sekedar menumpuk Dinar untuk ditunggu naik nilainya. Tuduhan ini sama sekali tidak berdasar, karena sejak awal sekali kami memperkenalkan Dinar ? para pengguna Dinar sudah kami ingatkan untuk tidak menimbun. Lihat tulisan kami  Bangun Ketahanan Ekonomi Keluarga Tetapi Jangan Menimbun misalnya.

Justru karena kami melihat bahwa transaksi dengan menggunakan Dinar yang paling mungkin untuk dilakukan saat ini adalah transaksi barang modal atau investasi tersebut, maka tidak terlepas dari gerakan sosialisasi Dinar ini ? kita juga mendorong kegiatan produktif masyarakat yang bisa didanai atau digerakkan dengan Dinar.

Pesantren Wirausaha, Pinjaman Modal Usaha Tanpa Beban, Project Planet Jamur, Project Susu Kambing, IndoBarter, dan Berbagai Solusi Pembiayaan Berbasis Dinar yang kami lakukan bersama BMT Daarul Muttaqiin, dlsb. adalah upaya konkrit untuk mendorong penggunaan Dinar untuk transaksi produktif barang modal atau investasi. Di sini investasi artinya memutar aset atau menjadikan aset  bergerak memutar roda kegiatan produktif lainnya.

Jadi saat ini Dinar telah secara praktis digunakan untuk kebutuhan transaksi-transaksi yang bersifat produktif, sedangkan untuk transaksi yang bersifat konsumtif ? ini sebenarnya lebih tepat dilakukan dengan Dirham.  Namun karena nilai Dirham saat ini masih didominasi oleh biaya cetaknya yang mahal, sementara kami belum fokuskan di sini. Semoga Allah memudahkan kita kepada jalan amal sholeh yang diridloiNya?

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Shalat KHUSUF (Gerhana) di Malam Tahun Baru 2010 & Tata Caranya


Malam Tahun Baru 2010 bertepatan dengan terjadinya Gerhana Bulan yang insya Allah terjadi pada pukul 01.53 – 02.53 WIB (dini hari). Oleh karenanya marilah kita bersama-sama Shalat Gerhana berjamaah di masjid, sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW di saat terjadi peristiwa alam berupa Gerhana.

Pada zaman Rasululah SAW pernah terjadi Gerhana Matahari bertepatan dengan hari meninggalnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW. Menurut KH. E. Abdurrahman gerhana tersebut terjadi pada hari Senin, 29 Syawwal 10 H atau 27 Januari 623 M, pukul 08.30.

Berdasarkan riwayat yang shahih, sharih dan rajih Shalat Gerhana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebanyak 2 rakaat dengan 4 kali ruku? dan 4 kali sujud. Artinya pada setiap rakaat ada 2 ruku? dan 2 sujud. Berikut ini dalil dan keterangannya,

(1) “?Aisyah radhiyallahu ?anha berkata, ?telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW. Beliau lalu mengutus seorang penyeru mengumandangkan ?ASH-SHALATU JAMI?AH?. Kemudian beliau shalat empat kali ruku pada dua rakaat dan empat kali sujud.? (Shahih al-Bukhari I:362 no. 1016, Shahih Muslim II:620 no. 901, Shahih Ibnu Hibban VI:93 no. 2850, Sunan an-Nasai II:127no. 1465)

(2) Sahabat Ibnu Abas meriwayatkan, ?Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW, lalu beliau shalat, yaitu beliau berdiri panjang (lama) kira-kira (selama) membaca surat al-Baqarah, kemudian beliau ruku? satu ruku? yang panjang, kemudian beliau bangkit, lalu berdiri yang panjang, tetapi lebih pendek dari berdirinya yang pertama, kemudian beliau ruku satu ruku? yang panjang, tetapi lebih pendek dari ruku? yang pertama, kemudian beliau bangkit, lalu beliau sujud. Kemudian beliau berdiri yang panjang, tetapi lebih pendek dari berdirinya yang pertama, kemudian beliau ruku?, ruku? yang panjang, tetapi lebih pendek dari ruku?nya yang pertama, kemudian beliau bangkit, lalu berdiri yang panjang, tetapi lebih pendek dari berdirinya yang pertama, kemudian beliau angkat kepalanya, lalu sujud, kemudian beliau salam, sedang matahari pun sudah terang, lalu beliau berkhutbah di hadapan orang ramai.? (HR. Muttafaqun ?Alaih)

(3) ?Dari Mughirah bin Syu?bah, ia berkata, ?Telah terjadi germaha matahari pada masa Rasulullah SAW pada hari kematian Ibrahim. Orang-orang berkata, ?telah gerhana matahari karena kematian Ibrahim?. Maka Rasulullah SAW bersabda, ?Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah; keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Karena itu, apabila kamu melihat keduanya gerhana, maka berdo?alah kepada Allah, dan shalatlah hingga ia lepas.? (HR. Muttafaqun ?Alaih)

gerh...@ICGH2-300x221.jpg" alt="ba'da khutbah Shalat Khusuf di Islamic Center Graha Hijau 2 (photo by RW)" width="300" height="221" />

ba'da khutbah Shalat Khusuf di Islamic Center Graha Hijau 2 (photo by RW)

(4) Dalam riwayat Ahmad dari ?Aisyah radhiyallahu anha diterangkan, ?Telah terjadi gerhana pada zaman Rasulullah saw, beliau kemudian mendatangi tempat shalat, lalu bertakbir; dan orang-orang pun bertakbir. Kemudian (dalam shalat) beliau membaca dan beliau mengeraskan bacaan itu dan lama berdiri.? (Musnad Ahmad bin Hanbal VI:76 no. 24517)

(5) Nabi SAW bersabda, ?Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah; keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat kejadian itu, segeralah ke masjid.? (HR. Ahmad, Musnad Imam Ahmad bin hanbal V:428 no. 23679 dari Mahmud bin Labid)

Dari hadits-hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa:

  1. Shalat Gerhana (matahari/bulan) dilaksanakan sebanyak 2 rakaat, dengan 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud. Setiap rakaat ada 2 ruku’.
    Caranya: Takbiratul Ihram, kemudian membaca do?a iftitah, lalu membaca surat al-Fatihah, kemudian membaca surat, lalu ruku’, kemudian bangkit dari ruku’, lalu membaca surat al-Fatihah dan surat lagi, lalu ruku?, bangkit, I?tidal, kemudian sujud dengan 2 kali sujud. Kemudian lakukan rakaat yang ke-2 seperti rakaat yang pertama
  2. Bacaan Shalat Gerhana dijaharkan (nyaring) seperti shalat ?Idain (?Iedul Fithri dan ?Iedul Adha)
  3. Tidak diawali dengan adzan dan qamat
  4. Dilaksanakan secara berjamaah
  5. Setelah shalat diadakan khutbah
  6. Sebelum shalat, dikumandangkan takbir sebagaimana takbir pada shalat hari raya.
  7. Dilaksanakan pada saat sedang terjadi gerhana.

Wa Allahu A’lam

Posted in Dakwah IslamComments (0)

I?tikaf Dan Terapi Gelas Panas


Sekian tahun lalu ketika saya masih bekerja di lingkungan yang stress-full, salah satu teknik yang saya pakai untuk mengendalikan stress adalah apa yang disebut Terapi Gelas Panas.

Prinsipnya sederhana saja, persis seperti kita memegang gelas panas ? semakin panas suatu gelas (karena isinya air panas) semakin sebentar kita bisa memegangnya. Bila kita memaksakan memegang gelas panas tersebut dalam waktu yang lebih lama ? maka tangan kita bisa melepuh dibuatnya. Kita tahu secara reflek kapan tepatnya harus melepas gelas dari tangan kita sebelum tangan kita melepuh, bahkan kalau kita tadinya tidak tahu suatu gelas terlalu panas untuk kita pegang ? baru menyentuh saja tangan kita langsung kita lepaskan kembali.

Setelah dibiarkan agak dingin, maka kita coba untuk memegangnya kembali. Bila waktunya cukup aman gelas tersebut kita pegang ? tanpa membuat tangan melepuh, maka baru gelas bisa kita pegang terus sampai keperluan kita selesai.

Menangani masalah yang menyita pikiran juga demikian; bila suatu masalah terlalu berat untuk kita pikirkan ? maka jangan dipaksa terus dipikirin sampai terbawa mimpi, bisa stress kita dibuatnya. Pikirkan sedikit saja dahulu untuk sekedar tahu ada masalah tersebut, kemudian lepas lagi dari pikiran kita.

Sering masalah yang kita hadapi tidak seburuk awalnya ketika masalah tersebut pertama kali muncul, masalah-masalah yang membuat stress terkadang justru masalah sederhana saja tetapi awal kemunculannya pada waktu yang kita tidak siap menerimanya. Maka cari waktu yang baik ketika pikiran kita siap benar mengatasi masalah tersebut, dan selesaikan pada waktu-waktu yang baik tersebut.

Beruntunglah bagi umat ini yang diberi syariat untuk menegakkan shalat 5 waktu, karena shalat yang khusu? akan dapat menyegarkan dan memulihkan pikiran kita dari waktu ke waktu. Di tengah pekerjaan yang sangat rumit dari pagi sekalipun, datang waktu dhuhur kita lepas sejenak pekerjaan tersebut dengan shalat. Habis dhuhur dilanjutkan kembali dan dilepas waktu shalat Ashar, begitu seterusnya ? maka insya Allah tidak akan sempat stress pikiran kita. Terapi gelas panas berupa shalat ini, hanya dimiliki ummat Islam dan khususnya yang rajin menegakkan shalat dengan khusu? ? soalnya kalau shalatnya tidak khusu? bahkan masalah yang ada akan terbawa sampai shalat sekalipun!

Kalau shalat menjadi Terapi Gelas Panas untuk mengatasi masalah yang bersifat harian, ada lagi yang lebih hebat karena bisa mengatasi masalah yang sifatnya menahun yaitu I?tikaf. I?tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Para ulama sepakat bahwa i?tikaf, khususnya 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, adalah ibadah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Beliau sendiri melakukanya 10 hari penuh di bulan Ramadhan. Aisyah, Umar bin Khattab, dan Anas bin Malik menegaskan hal itu, ?Adalah Rasulullah SAW beri?tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.? (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan, pada tahun wafatnya Rasulullah SAW beri?tikaf selama 20 hari.

Menurut Ibnu Qayyim ?I?tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beri?tikaf dan bersimpuh di hadapan Allah, berkhalwat dengan-Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah?.

Dengan syariat i?tikaf inilah kita bisa melepas ?gelas panas? atau masalah  yang kita pegang menahun, bahkan kita pegang sepanjang karir kita ? untuk mendekatkan diri sepenuhnya kepada Allah, mohon ampunanNya, mohon petunjukNya agar setelah i?tikaf kita menjadi orang yang lebih baik ? lebih dekat kejalanNya.

Begitu seharusnya setiap kali kita selesai melaksanakan i?tikaf, kita seperti menaiki anak tangga ? yang dari waktu ke waktu semakin dekat- semakin dekat kepadaNya.

Buku “Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham”, yang kemudian diimplementasikan dalam gerakan Dinar dan kemudian lahirnya situs ini, juga diawali dari i?tikaf di Masjidil Haram (2006).

Malam ini memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, waktunya saya berangkat i?tikaf kembali. Maka sesudah tulisan ini, saya mohon diri kepada para pembaca untuk tidak menulis dan tidak menjawab email selama masa i?tikaf. Insya Allah bila masih diberi usia, diberi rizki ilmu, dlsb., selesai i?tikaf di awal bulan Syawal saya akan mulai menulis dan menjawab email kembali.

Aktifitas rutin Dinar Islam sendiri tetap akan buka untuk melayani  masyarakat yang membutuhkan Dinar atau informasi tentang Dinar. Untuk ini silahkan menghubungi Customer Services kami via telepon di 021 722 3411 dan 0818 88 7224, atau via sms ke SMS Centre 0811 88 7224, atau via email ke i...@dinarislam.com atau langsung ke Sofi (s...@dinarislam.com) dan Eny (e...@dinarislam.com).

Dinar Islam akan libur Lebaran mulai tanggal 21 September 2009 – 25 September 2009. Pada saat libur Lebaran ini, transaksi ditiadakan dan Customer Cervices juga ikut libur. Khusus untuk layanan SMS & email insya Allah tetap ONLINE 24 JAM!

Selamat Iedul Fitri 1430 H, Taqaballahu Minna Wa Minkum?.

Posted in Islamic ViewComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes