Tag Archive | "20 Dinar"

Sanering, Redenominasi & Reorientasi Nilai


Adalah konsekwensi logis dari mata uang yang terus mengalami inflasi akan bertambah terus nol-nya dari waktu ke waktu. Untuk Rupiah, 3 angka nol yang pernah dibuang dengan susah payah tahun 1965/1966  melalui apa yang dikenal dengan Sanering Rupiah, 3 angka nol (000) tersebut 32 tahun kemudian kembali memenuhi angka uang kita bahkan kembalinya cenderung tidak cukup 3 angka nol, melainkan malah menjadi 4 atau bahkan 5 angka nol. Mau bukti? Lihat di dompet Anda ? kemungkinan besar hanya uang dengan 4 atau 5 angka nol yang ada di dompet ? karena yang nolnya hanya 3  kemungkinan sudah untuk bayar parkir, masuk kencleng infaq atau diberikan ke Pak Ogah

Akibat dari bertambahnya angka nol terus menerus tersebut, secara berkala memang dibutuhkan otoritas yang berani mengambil keputusan untuk me-reset kembali agar angka-angka nol tersebut  kembali ke jumlah semula. Proses me-reset ini bisa melalui Sanering bila ekonomi lagi gonjang-ganjing, atau melalui proses Redenominasi bila ekonomi lagi stabil. Yang pertama (Sanering) disertai penurunan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai, yang kedua (Redenominasi) hanya pencatatan beberapa angka nol-nya yang dihilangkan sedangkan daya beli masyarakat seharusnya tidak berubah.

Proses keduanya membuat panik, menyakitkan, membingungkan dan segala macam konsekwensinya ? tetapi saya sendiri berpandangan justru harus dilakukan dengan berani dan cepat. Bila berlama-lama, justru akan membuat kebingungan dan ketidak pastian yang lama. Bila kita menutup mata, justru angka-angka nol yang bisa terus bertambah tersebut akan berlama-lama merepotkan dan menghantui kita semua.

Redenominasi Rupiah?

Redenominasi Rupiah?

Bila dilakukan dengan berani dan cepat; rasa sakit tersebut akan berlangsung cepat ? namun setelah itu kita akan bersyukur telah melalui masa yang menyakitkan tersebut. Bayangkan bila tahun 1965 (diimplementasikan sampai 1966) pemerintah negeri ini tidak berani mengambil keputusan Sanering ? Indonesia mungkin tidak akan pernah bisa membangun ? dan bisa Anda bayangkan berapa angka nol uang kita sekarang?

Demikian pula bila otoritas sekarang tidak berani mengambil keputusan untuk meng-implementasikan proses Redenominasi ini; berapa angka nol uang kita pada saat Anak Anda yang baru lahir sekarang masuk perguruan tinggi 18 tahun yang akan datang? Jadi Redenominasi tetap harus dilakukan, tinggal masalahnya kapan dan siapa yang berani mengambil keputusan tidak popular tetapi perlu ini. Saya mengenal cukup baik (Pjs) Gubernur BI yang sekarang dan sungguh saya berharap beliau berani melakukannya, karena bila tidak maka yang terjadi adalah membiarkan hantu Redenominasi ini berlarut-larut ke pejabat berikutnya, kemudian pejabat berikutnya lagi, dst.

Bila Redenominasi tidak dilakukan, ironi yang terjadi seperti yang kita alami sekarang akan terus berlanjut. Ironi karena rata-rata penduduk Indonesia secara harfiah dapat disebut ?Jutawan? (Millionaire) karena PDB Per Kapita kita mencapai lebih dari Rp 24,000,000/tahun, tetapi rata-rata ?Jutawan? tersebut adalah orang miskin menurut standar Islam ? karena nilai Rp 24,000,000,- ini hanya setara sekitar 16.50 Dinar atau tidak mencapai Nishab Zakat yang 20 Dinar.

Bila keputusan Redenominasi benar-benar dilaksanakan, yang perlu dipersiapkan oleh masyarakat adalah proses Reorientasi Nilai. Mengapa proses ini perlu? Berikut saya berikan ilustrasinya.

Saya pernah mendengar keluhan pelayan hotel di daerah wisata negeri ini yang dikunjungi banyak turis asing. Ketika mereka mengantarkan pesanan room service, sering diberi tips hanya Rp 1,000,- atau bahkan koin Rp 500,-.  Hal yang sama yang terjadi pada sopir taksi, para wisatawan asing tersebut tidak jarang yang menagih kembalian meskipun kembalian tersebut hanya Rp 1,000,- atau bahkan Rp 500,-.

Mengapa kesan pelitnya beberapa turis asing tersebut terjadi? Inilah masalah Reorientasi Nilai itu. Meskipun sebelum datang ke Indonesia mereka sudah pelajari angka-angka di uang kita ini dan konversinya ke nilai uang mereka; Orientasi Nilai dibenak mereka masih tetap menyatakan bahwa angka 1,000 atau 500 adalah angka yang besar. Karena ketika  membayar tips dan menagih kembalian, otak mereka tidak selalu sempat mengkonversi nilai ke angka nilai yang benar ? maka itulah yang terjadi, nilai tips hanya Rp 1,000 dan uang kembalian taksi secara recehan ?pun diminta.

Ini pula yang akan terjadi pada proses Redenominasi, orientasi di otak kita telah terbiasa dengan angka-angka besar. Ketika angka-angka tersebut berubah menjadi kecil, kita harus melatih otak kita untuk terbiasa dengan angka-angka yang menjadi kecil ini. Nampaknya mudah, tetapi karena ini harus terjadi secara massal bagi seluruh pengguna Rupiah ? maka diperlukan sosialisasi yang efektif.

Apa dampaknya bila Reorientasi Nilai tidak berjalan efektif? Harga-harga bisa kacau. Misalnya si embok tukang bayem biasa menjual satu ikat bayemnya Rp 2,500,-. Dalam mata uang Rupiah baru angka tersebut seharusnya menjadi Rp 2.5,- tetapi di benak si embok menyatakan bahwa angka Rp 2.5 ini terlalu kecil, maka dinaikanlah harga bayem dinaikkan menjadi Rp 3,-. Tanpa sadar Anda sebagai pembeli-pun meresponse angka Rp 3 tersebut dapat diterima karena lebih mudah membayarnya ? dan terasa kecil oleh Anda. Maka apa yang terjadi sesungguhnya adalah inflasi 20% terhadap harga bayem.

Jadi baik produsen, pedagang mapun konsumen harus membiasakan kembali response otomatisnya yang akurat terhadap harga atau nilai barang-barang yang wajar ? inilah Reorientasi yang saya maksud.

Disinilah sebenarnya keunggulan dan kebenaran Islam itu dapat terbukti dengan jelas. Kita tidak perlu kehilangan orientasi dalam hal apapun dan kapanpun ? karena tuntunannya, arahannya, nilai-nilainya berlaku baku sepanjang zaman. Seperti shalat yang kita tidak perlu lagi bertanya menghadap kemana, tinggal kita tahu dimana kita berada dan dimana Ka?bah berada ? maka seluruh umat sepakat ke situlah kita menghadap.

Demikian pula dalam hal nilai, kita bisa dengan mudah dan jelas dengan timbangan yang tidak pernah berubah untuk menimbang siapa yang kaya dan siapa yang miskin dengan Nishab Zakat yang 20 Dinar. Yang kaya wajib membayar zakat, yang miskin berhak menerima zakat ? betapa kacaunya hak dan kewajiban ini seandainya nilai Nishab tersebut perlu Sanering ataupun Redenominasi dari waktu kewaktu.

Maka saya-pun berandai-andai, Seandainya saja otoritas yang ada sekarang berani menggunakan satuan Dinar setidaknya sebagai unit of account atau timbangan yang adil ? maka generasi-generasi yang akan datang dan gubernur-gubernur bank sentral yang akan datang sampai hari kiamat akan bersyukur ? betapa mudahnya tugas mereka karena tidak harus lagi dari waktu ke waktu mengambil keputusan yang amat sangat sulit seperti Redenominasi Rupiah ini.

Sekali Dinar digunakan, nilai/daya belinya stabil ? 1 Dinar = 1 kambing tetap sampai akhir zaman, maka tidak akan lagi pernah diperlukan Redenominasi atau bahkan Sanering. Bila ini terjadi maka Reorientasi juga tidak akan perlu dilakukan lagi. WaAllahu A?lam.

Posted in Political EconomyComments (0)

Jalan Yang Mendaki Lagi Sukar


Harian Republika edisi kemarin Rabu 21 Juli 2010 memuat data statistik yang sepintas menggembirakan, yaitu statistik Produk Domestik Bruto Per Kapita dalam 10 tahun terakhir yang naik hampir 4 kalinya. Statistik yang diambil dari BPS ini menunjukkan bahwa pada tahun 2000 PDB Per Kapita kita hanya Rp 6,751,000, akhir tahun lalu (2009) angka ini telah mencapai Rp 24,261,000.

Bertambah makmur kah rata-rata rakyat Indonesia selama 10 tahun terakhir ini? Di sinilah masalahnya. Bila kita melihat angka dalam Rupiah tersebut di atas yang kemudian saya sajikan ulang secara grafik di bawah, seharusnya kita telah jauh bertambah makmur selama 10 tahun terakhir.

PDB Per Kapita dalam Rupiah

PDB Per Kapita dalam Rupiah

Tetapi kenyataan yang dirasakan oleh mayoritas rakyat mungkin berbeda dengan grafik tersebut. Perasaan hidup terasa tambah berat karena barang-barang kebutuhan yang semakin mahal ? sangat bisa dipahami karena mungkin memang itulah yang terjadi di lapangan.

Untuk dapat melihat realita ini secara akurat, lagi-lagi Islam punya tools-nya yaitu Nishab Zakat. Orang yang penghasilannya melebihi Nishab Zakat dianggap mampu dan dia harus bayar zakat. Sebaliknya, yang penghasilannya di bawah Nishab Zakat dia berhak untuk menerima uang zakat. Nishab Zakat ini dinyatakan dalam Dinar yaitu 20 Dinar.

Bila PDB Per Kapita kita anggap merepresentasikan penghasilan penduduk Indonesia rata-rata; maka ketika grafik di atas saya konversikan dengan Dinar hasilnya akan seperti pada grafik di bawah.

PDB Per Kapita dalam Dinar

PDB Per Kapita dalam Dinar

Selama 10 tahun terakhir, hanya 2 tahun dimana PDB Per Kapita kita mampu melampaui Nishab Zakat yaitu tahun 2001 (20.35 Dinar) dan 2002 (21.20 Dinar). Tahun-tahun berikutnya cenderung menurun dan terendah tahun 2009 yang tinggal 16.55 Dinar. Apa maknanya PDB Per Kapita yang di bawah Nishab Zakat ini? Artinya rata-rata penduduk negeri ini berhak menerima zakat dan belum wajib zakat.

Maknanya adalah rata-rata penduduk negeri ini masih tergolong miskin menurut standar Islam, dengan timbangan yang kita yakini akurat sepanjang zaman yaitu Nishab Zakat yang 20 Dinar tersebut.

Namun realita ini tidak perlu membuat kita bersedih atau berkecil hati karena kemiskinan tidak teratasi dengan hanya bersedih, bahkan akan bertambah parah bila kita berkecil hati. Yang kita perlukan adalah setelah sadar akan realita ini adalah apa yang bisa kita perbuat untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.

Inilah peluang itu, kini terbuka peluang lebar bagi kita untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar untuk bisa berbuat sesuatu dalam ikut memerangi kemiskinan. Membangun usaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya tentu tidak mudah, lebih mudah bekerja di perusahaan atau instansi yang mapan ? dengan berbagai fasilitasnya.

Namun kalau mayoritas kita berpikiran demikian lantas tugas siapa untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya ini? Tugas pemerintahkah? Para pemimpin negeri ini tentu akan ditanya nanti atas kepemimpinannya, namun kita sebagai individu juga akan tetap ditanya atas apa yang kita lakukan.

Ayat-ayat di bawah bukan hanya ditujukan untuk para pemimpin negeri ini, tetapi untuk kita semua. Punya jawabankah kita bila waktunya kelak kita ditanya akan hal ini?

?????????????? ????????????? (???) ????? ????????? ??????????? (???) ????? ?????????? ??? ??????????? (???) ????? ???????? (???) ???? ??????????? ??? ??????? ??? ??????????? (?(??

?Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan,? (QS. Al-Balad (90): 10-14)

Posted in Islamic ViewComments (0)

Belajarlah Emas Walau Sampai Negeri China


Pada dasawarsa pertama kemerdekaan RI, negeri ini pernah memiliki cadangan emas sebesar 248 ton tetapi kemudian cadangan emas ini juga pernah nyaris habis tahun 1971 menjadi tinggal 1.8 ton saja. Ketika Oil Boom tahun 70-an sampai puncaknya 1981, negeri ini alhamdulillah berhasil kembali membangun cadangan emasnya sampai mencapai sekitar 96 ton.

Sayangnya selama ¼ abad kemudian tepatnya sampai 2006, cadangan emas ini tidak berhasil dinaikkan dan bahkan berkurang 24%-nya pada akhir 2006 sehingga tinggal 73 ton saja. Lihat detilnya di tulisan saya sebelumnya dengan judul Emas & Kemakmuran Negeri Ini.

Mengapa sampai bangsa ini tidak menganggap penting cadangan emas yang bisa menjadi instrumen untuk membangun ketahanan ekonomi (Yuhsinun) selama lebih dari ¼ abad terakhir? Dugaan saya sendiri adalah karena ekonomi kita adalah ekonomi ala IMF banget. Kita tahu dalam sistem IMF, bahkan mereka melarang negara-negara anggotanya menggunakan emas sebagai rujukan mata uangnya (Article IV, Section 2. B).

Akibat pelarangan ini sampai-sampainya otoritas pasar modal kita beberapa tahun lalu ketika ingin mempromosikan dagangannya menggunakan iklan yang memojokkan emas. Dalam iklan tersebut investasi emas digambarkan sebagai investasinya ibu-ibu yang suka pamer, yang lagi meringis menunjukkan gigi emasnya sambil mengangkat tangannya yang dipenuhi gelang emas.

Inilah gambaran betapa kita ter-makan oleh propaganda anti emas yang di stimulir oleh IMF melalui salah satu pasal di Articles of Agreement tersebut. Negara-negara yang tidak termakan propaganda oleh IMF ini melakukan hal yang exactly sebaliknya. Kita bisa belajar dari China misalnya untuk yang terakhir ini.

Ketika kita mengurangi cadangan emas kita sampai 24%-nya; China berhasil meningkatkan cadangan emasnya dari 600-an ton tahun 2003, sampai mencapai 1,054 ton akhir tahun lalu. Ketika institusi resmi pasar modal kita membuat iklan yang  memojokkan orang-orang yang berinvestasi pada emas, pemerintah China bahkan mendorong rakyatnya agar rame-rame membeli emas melalui kampanye besar-besaran yang disiarkan oleh China Central Television. Lebih jauh lagi pemerintah China juga mendirikan Shanghai Gold Exchange untuk mempermudah rakyatnya dalam berinvestasi emas.

Mengapa China melakukan hal yang berlawanan dengan resep umum IMF ini? Dugaan saya lagi karena China tahu bahwa sesungguhnya emas itulah instrumen yang paling efektif dalam mengamankan kekayaan negeri itu beserta kekayaan rakyatnya.

Di antara negara-negara yang paling drastis penurunan cadangan emasnya, mayoritasnya justru negara yang penduduk mayoritasnya muslim seperti Indonesia. Bangladesh contohnya saat ini tinggal memiliki cadangan emas sebesar 3.5 ton saja; Iraq tinggal 5.9 ton; dan negeri jiran kita kini hanya memiliki 36.4 ton padahal sebelum krisis 1997/1998 mereka memiliki cadangan emas sekitar 2 kali  dari yang dimilikinya sekarang.

Mungkin Anda bertanya, lho kan memang menimbun emas adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam? Betul, menimbun emas dan perak dan tidak dinafkahkan di jalan Allah diancam dengan siksa yang sangat pedih. Tetapi di sisi lain, emas dan perak juga dijadikan hakim/timbangan yang adil dalam bermuamalah. Bahkan batas kewajiban orang kaya dengan hak orang miskin juga ditentukan dengan emas ini yaitu dalam bentuk nishab zakat yang 20 Dinar.

Artinya membangun cadangan emas baik oleh negara maupun rakyat, tidak harus identik dengan menimbun. Ketika kita berhasil menjadikan emas/Dinar kita sebagai hakim yang adil dalam menggerakkan ekonomi; maka di situlah ketahanan ekonomi umat dan bangsa ini insya Allah akan terbangun.

Misi untuk menjadikan emas/Dinar sebagai penggerak sektor riil seperti yang pernah saya tulis misalnya, adalah salah satu upaya kecil yang bisa kita lakukan untuk membangun ketahanan ekonomi agar kita tidak mudah terjajah ? dan pada saat bersamaan kita juga terlibat langsung dalam mempercepat putaran ekonomi.

6 bulan sejak tulisan tersebut kita luncurkan, kini produk-produk solusi pembiayaan berbasis emas/Dinar benar-benar telah dapat ditangani dengan baik oleh kami beserta mitra-mitranya. Semoga Allah selalu menunjuki kita jalanNya. Amin.

Posted in Dinar ProspectingComments (0)

Dinar Untuk Sektor Riil: Kini Bukan Hanya Teori


Di awal kami memperkenalkan Dinar, kami libatkan pengunjung situs ini untuk membiayai pencetakan Dinar agar tersedia cukup Dinar di masyarakat dengan program Qirad. Alhamdulillah dukungan para pengunjung lebih dari yang kami harapkan, sehingga program Qirad kini tidak lagi menerima peserta baru ? kecuali menggantikan peserta lama yang mundur.

Setelah kami tidak lagi menerima peserta Qirad baru; timbul banyak pertanyaan ke kami ? mengapa tidak diteruskan saja ? sehingga semakin banyak Dinar yang bisa dicetak dan diedarkan ke masyarakat? Ini betul, hanya kami tidak ingin kehilangan orientasi ? bahwa penggunaan Dinar sesungguhnya harus menjadi alat tukar yang adil yang mendorong berputarnya ekonomi masyarakat. Dengan kata lain, keberadaan Dinar harus bisa mendorong berputarnya sektor riil ? maka inilah yang kami fokuskan sekarang bersama para mitra kerja kami.

M-Dinar Saving Account

M-Dinar Saving Account

Dengan Mitra kerja BMT Daarul Muttaqiin misalnya; M-Dinar Saving Account yang kami perkenalkan pertengahan tahun lalu kini telah mulai membuahkan hasil. Bagi pemegang account M-Dinar; per pagi ini sudah bisa melihat bagi hasil yang diterima di accountnya masing-masing.

Bagi hasil ini sudah dihitung dalam bentuk Dinar dan dibagi berdasarkan saldo Dinar rata-rata harian para pemilik account. Anda akan melihatnya di rekening Anda dengan keterangan ?Bagi Hasil 01/10?, insya Allah kedepannya akan dibagikan setiap akhir bulan berdasarkan hasil bersih dari investasi dana yang dikelola BMT sampai bulan yang bersangkutan.

Jadi bagi Anda yang merasa ?ketinggalan? tidak bisa ikut program Qirad; insya Allah M-Dinar Saving Account-nya BMT Daarul Muttaqiin tidak kalah menariknya sekarang. Scope investasi yang didanainya lebih luas, tidak harus mengumpulkan 20 Dinar seperti di Qirad dan account ini sendiri lebih likuid dari Qirad karena bisa ditransaksikan setiap saat melalui fasilitas Dinar Exchange.

Piece by piece dari picture puzzle ekonomi berbasis Dinar atau Dinarnomics kini mulai tersusun. Dengan terus memohon bimbinganNya ? insya Allah nantinya akan terus disempurnakan gambar yang indah dari Ekonomi Islam dengan uangnya yang adil, dengan dijauhkannya riba, dengan berputarnya sektor riil, dlsb. Amin.

Posted in Business OpportunityComments (0)

Ingin Investasi Yang Adil? Pahami Neracanya!


?Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.? (QS. Ar-Rahman (55): 7-9)

Pentingnya neraca, timbangan atau tolok ukur yang adil tergambar dari serangkaian ayat di surat Ar-Rahmaan tersebut di atas, sampai 3 kali Allah mengulanginya dalam 3 ayat yang berurutan.

Hanya neraca atau timbangan yang adil yang bisa menimbang segala sesuatu yang adil; neraca atau timbangan yang tidak adil ? tidak bisa dipakai untuk menegakkan keadilan.

Di pentas hukum misalnya di Indonesia belakangan ini rame dengan berbagai kasus yang melukai rasa keadilan rakyat seperti kasus Bibit dan Chandra, kasus Prita, kasus Nenek Minah dan berjibun kasus-kasus lainnya. Mengapa rasa keadilan rakyat terluka dengan kasus-kasus tersebut? Sederhana ? karena ada rasa keadilan yang tidak bisa ditegakkan oleh sistem hukum yang ada.

Demikian pula sebenarnya yang terjadi dengan sistem ekonomi dan investasi. Karena neraca atau timbangan yang umum dipakai di masyarakat pelaku ekonomi bukanlah timbangan yang adil ? maka mayoritas penduduk negeri ini (dan dunia) jatuh pada kategori miskin ? tanpa tahu bahwa sebenarnya dirinya miskin.

Contoh timbangan yang tidak adil ini adalah standar kemiskinan versi The World Bank yang menyatakan bahwa seseorang dikategorikan sangat miskin (extreme poverty) bila memiliki daya beli US$ 1.25/hari; saat ini di seluruh dunia ada 1.1 milyar manusia yang masuk kategori ini.

Di atasnya sedikit disebut miskin menengah atau moderate poverty yaitu bila memiliki daya beli kurang dari US$ 2 /hari. Yang masuk kategori ini ada 2.7 Milyar manusia di permukaan bumi.

Apakah yang memiliki daya beli di atas US$ 2/hari berarti makmur? Tidak juga ? karena timbangan US$ 1.25 untuk extreme poverty maupun yang US$ 2 untuk moderate poverty tersebut bukanlah neraca yang adil untuk mengukur kemiskinan. Yang moderate saja dengan US$ 2/hari berarti hanya US$ 730/tahun atau kurang dari 5 Dinar/tahun.

Sandingkan ini dengan neraca Islam yaitu nishab zakat yang membedakan si kaya dengan si miskin pada angka 20 Dinar; Orang yang masih dikategorikan miskin menurut Islam (masih berhak menerima zakat), masih 4 kali lebih kaya dari standar kemiskinan moderate Dunia!

Di sistem investasi-pun neraca yang tidak adil yang memiskinkan mayoritas penduduk dunia ini juga terjadi. Ketika pelaku usaha membuat business plan atau project proposal untuk menilai kelayakan suatu investasi, mereka biasa mengukur antara lain dengan Return on Investment (ROI) yang disandingkan dengan hasil Deposito, SBI dan sejenisnya.

Kalau Deposito saat ini memberikan hasil 8% misalnya; maka proyek investasi yang memberikan hasil 20% (2.5 kali hasil Deposito!) ? sudah dianggap sebagai investasi yang luar biasa.

Bila bank tempat Anda menabung membiayai projek seperti yang saya contohkan diatas, kebagian untung kah Anda? Tentu kebagian.

Hitungan kasarnya kurang lebih begini; pemilik proyek akan berbagi hasil dengan bank yang membiayainya misalnya 50/50 ? maka bank mendapatkan 10% hasil dan pemilik projek mendapatkan 10 % pula. Lantas bank juga akan berbagi hasil dengan Anda misalnya 40/60 ; maka bank mendapatkan bersih 4 % dan anda mendapatkan 6 %.

Sudah menguntungkan? Nanti dulu! Rata-rata inflasi kita (2001-2008, tahun ini belum ketahuan) 9 tahun terakhir adalah 8.98 %. Jadi hasil yang Anda peroleh dari tabungan Anda lebih rendah dari angka inflasi.

Mayoritas pekerja mengandalkan investasinya pada Tabungan, Deposito, Dana Pensiun dan lain sebagainya yang semua hasilnya ditimbang dengan neraca tingkat hasil Deposito Bank, SBI dan sejenisnya. Walhasil kita semua baru sadar bahwa ternyata hasil jerih payah bekerja bertahun-tahun, bukannya bertambah tetapi tergerus oleh inflasi – kita tidak menyadarinya karena kita tidak menggunakan timbangan yang benar untuk membaca hasil investasi.

Itulah mengapa Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa hanya emas dan perak-lah yang bisa menjadi hakim (timbangan) yang adil dalam bermuamalah. Setahun terakhir harga emas di dunia naik 37% (sumber Kitco) dan Dinar dalam Rupiah naik 26% (sumber situs ini) ; maka investasi Anda dalam Rupiah harus bisa melampui hasil bersih minimal 26% atau bila dalam US$ harus bisa melampui 37% – setahun terakhir untuk sekedar menjaga daya beli riil dari investasi Anda tersebut.

Bila Anda mudharabah-kan dengan nisbah bagi hasil 50/50, maka pihak Mudharib harus bisa memperoleh hasil 2 kalinya dari angka tersebut ? yaitu 52% untuk Rupiah dan 74% dalam US$. Wow?

Lantas adakah investasi yang memberikan hasil super tinggi tersebut di jaman krisis seperti ini? Jawabannya adalah pasti ada. Pertama angka tersebut kelihatan super tinggi hanya karena (timbangan) kacamata kita yang selama ini KELIRU ? yaitu timbangan suku bunga deposito , SBI dan sejenisnya.

Emas atau Dinar sebenarnya tidak naik harganya; selama 1400 tahun lebih 1 Dinar (4.25 gram) setara dengan 1 kambing. Artinya seluruh investasi sektor riil, yang menumbuhkan atau menghasilkan benda riil, pasti hasilnya lebih baik ? bila ditimbang dengan ukuran benda riil yang adil seperti emas atau Dinar ini.

Anak Kambing

Anak Kambing

Contoh, bila Anda punya uang 2 Dinar. 1 Dinar Anda belikan kambing, sisanya Anda simpan dalam Dinar. Setelah 2 tahun rata-rata kambing beranak 3 kali, dan anaknya bisa 1-2 kali beranak. Maka kambing Anda telah menjadi 4 ? 7 ekor setelah 2 tahun. Ambil terkecilnya 4 (1 induk dan 3 anak). Ambil risiko kematian 1/3 (peternak yang berhasil bisa menurunkan kematian tinggal 1/20), maka kambing Anda kini berjumlah 3. 1 ekor untuk yang melihara dan 1 ekor untuk Anda bersih; artinya setelah 2 tahun kambing Anda menjadi 2 ekor yang masing-masing harganya @ 1 Dinar; sementara uang 1 Dinar Anda tetap 1 Dinar.

Hanya berlaku untuk kambingkah ini? Tidak, sektor-sektor riil lainnya juga  berpeluang memberikan hasil yang luar biasa.

Ambil contoh Tanaman Sengon. Bibitnya hanya berharga  Rp 1,000,- per batang ; setelah 5 tahun dipanen ? harga rata-ratanya adalah Rp 500,000/batang. Berapa kenaikannya? 500 kali atau 50,000%! Oke butuh biaya sewa tanah, pemeliharaan, risiko mati, dlsb. Anggap saja kita petani Sengon yang pada tahap belajar – jadi belum optimal, 90% dari nilai tersebut habis untuk seluruh biaya-biaya usaha tersebut; masih berapa hasil kita? Masih 50 x dari investasinya!

Mudah-kah ini semua? Tentu tidak mudah ? tetapi jelas bukanlah hal yang mustahil! Agar apa yang saya tulis di situs ini tidak hanya sebatas ilmu dan wacana ?  kita sudah mulai berusaha menternakkan kambing dan menanam Sengon di Pesantren Wirausaha kita di Jonggol.

Alhamdulillah 2 bulan setelah saya menulis tentang Kambingnomics ? yang bersamaan dengan dimulainya proyek perkambingan kita; anak kambing pertama lahir seperti dalam foto di atas, seminggu kemudian kambing yang lain juga melahirkan? Dinar demi Dinar lahir dari perut-perut kambing ini? Insya Allah.

Mungkin Anda bertanya, kalau demikian tinggi hasil sektor riil dalam contoh tersebut, mengapa tidak semua peternak kambing dan petani sengon menjadi kaya raya? Jawabannya adalah karena kita hidup dalam sistem yang yang juga tidak adil; seperti akses pasar, akses kapital; akses sumber daya dan lain sebagainya yang insya Allah jadi bahan tulisan saya lainnya. Mudah-mudahan Allah memberi saya Ilmu, rizky dan usia untuk melanjutkan pekerjaan ini. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Emak Naik Haji Dengan Dinar


Ada film yang menyentuh tentang kerinduan hamba Allah untuk memenuhi panggilanNya pergi ke tanah suci menunaikan ibadah haji, Emak Ingin Naik Haji (klik disini untuk melihat Pre-Trailernya) yang hari-hari ini banyak diputar di bioskop-bioskop di Indonesia.

Mengapa film ini popular ? saya rasa karena kedekatan ceritanya dengan realita yang kita hadapi.  Hampir seluruh muslim/muslimah yang menghayati perintah Allah untuk menunaikan haji bagi yang mampu ini, pasti sangat merindukan untuk bisa pergi berhaji.

Saya ingat perjuangan bapak-ibu saya keluarga petani kecil di desa yang berusaha menyekolahkan 11 anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Sampai wafatnya bapak saya tidak kesampaian naik haji (baru dapat kami badal hajikan sekian tahun setelah bapak wafat); kemudian ibu saya sampai bertahun ?tahun menangis setiap jum?at karena merindukan Baitullah.

Alhamdulillah kerinduan ini kesampaian dengan ijinNya semata; melalui perantaraan anak-anaknya yang mau menabung sebagian besar penghasilannya sejak awal mulai bekerja.

Begitulah beratnya upaya untuk menunaikan kewajiban yang satu ini ? maka Allah hanya mewajibkannya bagi yang mampu.

Nah urusan mampu inilah yang berada di medan upaya kita, hasil nanti biarlah Allah yang menentukannya. Seperti kisah Emak di film tersebut, meskipun pada akhir cerita dia pergi haji melalui perantaraan nazar anak tetangganya  - dia telah berusaha sekuat tenaga untuk dengan jerih payahnya sendiri bisa pergi berhaji.

Masalahnya adalah mayoritas masyarakat kita yang awam tidak menyadari hambatan inflasi terhadap pencapaian upaya untuk pergi berhaji ini. Si Emak dalam film tersebut di atas mengungkapkannya dengan sangat baik: kalau setahun dia hanya bisa mengumpulkan 1 juta, 5 tahun 5 juta, maka dia baru bisa pergi haji pada usia 86 tahun ? yang pada saat itupun uangnya tidak cukup lagi karena entah berapa biaya pergi haji saat itu.

Walhasil pertumbuhan tabungan haji kita bisa jadi kalah dengan inflasi setiap tahunnya, sehingga niat suci ini bisa tergerus ? bersamaan dengan tergerusnya daya beli uang kita.

Tulisan saya tempo hari, Dinar Untuk Perencanaan Haji? saya sudah jelaskan teknis dan hitungan kasarnya. Biaya pergi haji cenderung menurun dengan hitungan Dinar, bila tahun 2000 ONH biasa setara 70 Dinar; tahun ini setara 20 Dinar; maka dalam 6 tahun kedepan (2015) ONH biasa dapat diprediksikan berdasarkan statistik ? hanya akan memerlukan 10 Dinar saja, Insya Allah!

Jadi, seandainya Emak dan jutaan orang Indonesia sadar akan kekuatan daya beli Dinar ini ? upaya untuk memenuhi panggilanNya dapat dilakukan dengan maksimal ? sehingga lebih banyak orang yang mampu pergi berhaji? insya Allah.

Posted in Financial PlanComments (0)

Dialog Penghuni Surga Dengan Penghuni Neraka


“Kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin” (QS 74 : 39 ? 44)

Beberapa ayat tersebut di atas saya ambil dari Surat Al Muddatstsir yang menggambarkan betapa memberi makan orang miskin memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Orang yang melalaikannya mendapatkan ancaman yang sama dengan meninggalkan shalat yang merupakan tiang agama.

Sudahkah kita melaksanakan salah satu tugas kita yang amat penting ini? Secara individu masing-masing kita mungkin bisa menjawab apa yang sudah kita lakukan. Namun sebagai bangsa dan negara secara keseluruhan, nampaknya secara bersama-sama kita belum melaksanakan tugas ini dengan baik.

Mau lihat buktinya? Perhatikan grafik di atas yang menggambarkan salah satu indikator ekonomi yang saya olah dari data Kompas ( 18/06/09). Kompas sendiri mengambil data dari World Bank, Bank Indonesia dan BPS, jadi insya Allah datanya cukup akurat dan up-to-date.

Perhatikan PDB dalam US$ di grafik tersebut, nampak kenaikan PDB dari US$ 1,237 (2005) menjadi US$ 1,600 (2009). Bila menggunakan standar World Bank yang menyatakan bahwa orang yang hidup dalam kondisi extreme poverty (miskin banget) adalah yang hidup dengan kurang dari US$ 1.25 per hari (US$ 450 per tahun), dan moderate poverty (miskin sedang) US$ 2.00 per hari (US$ 720 per tahun), maka Indonesia bisa berbangga bahwa kita sudah lepas dari dua level kemiskinan tersebut selama lima tahun ini.

Namun Islam punya standar yang tinggi untuk kemiskinan ini, standar tersebut adalah nishab zakat yang 20 Dinar. Dari grafik tersebut diatas kita tahu bahwa dalam lima tahun terakhir PDB per kapita kita tidak pernah mencapai 20 Dinar per tahun, bahkan terus mengalami penurunan hingga saat ini berada pada kisaran 11 Dinar per tahun. Artinya apa ini? Artinya rata-rata rakyat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan menurut standar Islam.

Lantas tugas siapa untuk mengentaskan kemiskinan ini? Tentu yang paling bertanggung jawab adalah pimpinan tertinggi negeri ini. Terus turun ke level di bawahnya dan seterusnya ? termasuk kita semua mempunyai tanggung jawab untuk mengentaskan kemiskinan yang dalam Al-Qur?an diistilahkan dengan ?memberi makan orang miskin? ini.

Tugas mengentaskan kemiskinan ini tempo hari jadi komoditi kampanye para Capres, mudah-mudahan saja mereka ingat janjinya setelah mereka terpilih. Namun dari pengalaman lapangan, kita belum bisa melihat praktek mengentaskan kemiskinan ini dijalankan dengan sungguh-sungguh ? yang saya lihat justru cenderung sebaliknya.

Ambil contoh berita-berita di koran. Dikala para capres mempromosikan program-program ekonominya ? yang semua ingin popular dimata rakyat kecil, pemerintah daerah yang sudah berkuasa di DKI misalnya lagi sibuk merazia atau merencanakan untuk merazia perumahan-perumahan di Jakarta yang dijadikan tempat kerja.

Ketika pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang mencukupi, usaha swasta untuk menciptakan lapangan kerja dari rumah-rumah mereka ini bukankah harus didukung? Tidak semua usaha bisa langsung jalan dan besar sehingga mampu menyewa tempat khusus untuk kantor atau tokonya. Jadi bekerja atau berjualan dari rumah justru harus didorong, kalau perlu dilatih masyaralat untuk rame-rame melakukannya ? bukan malah di razia.

Ok yang sudah di razia memang rumah-rumah orang kaya yang dipakai usaha, tetapi yang bekerja disana kan mayoritas orang miskin? Apa jadinya kalau tempat-tempat kerja mereka ditutup? Mereka kembali tidak bekerja ? artinya pemerintah menambah jumlah kemiskinan bukan menguranginya.

Perlu juga kita belajar, bahwa perusahaan-perusahaan raksasa dunia seperti Microsoft, Apple, dlsb; dulunya lahir di garasi-garasi rumah pendirinya. Industri kreatif yang saat ini juga digadang-gadang para kontestan pemilu, juga rata-rata justru tumbuh dari rumah-rumah.

Mudah-mudahan (calon) pemimpin-pemimpin kita ingat janjinya pada saat kampanye yang membujuk rakyat kecil untuk memilih mereka; semoga kita semua bisa menjadi orang yang ?bertanya? di akhirat kelak, bukan orang yang ?ditanya? seperti dalam ayat tersebut diatas. Amin.

Posted in EntrepreneurshipComments (0)

Dinar Untuk Perencanaan Haji: Lebih Murah, Lebih Nyaman?


Ibadah haji dari waktu ke waktu punya tantangannya sendiri, tidak mudah, berat dan mahal.

Bila pada zaman kakek nenek dahulu tantangannya adalah transport yang bisa memakan waktu berbulan-bulan dan ketidak amanan dalam perjalanannya; saat ini transport banyak dan cepat ? namun Anda belum tentu bisa melaksanakan ibadah haji pada waktu yang Anda rencanakan.

Kemudahan dan kecepatan transportasi haji ini ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu membludaknya umat muslimin dunia yang (ingin) melaksanakan haji setiap tahunnya. Dampaknya bisa diduga, yaitu keterbatasan daya tampung jamaah haji di Mekah, Arafah, Mina dan juga Madinah.

Karena keterbatasan daya tampung inilah yang menjadikan setiap Negara dijatah (Quota) jumlah orang yang bisa pergi haji setiap tahunnya.  Jadi kalau toh Anda berniat pergi haji sekarang, belum tentu Anda memperoleh kesempatan pada bulan haji yang akan datang – bisa jadi kesempatan Anda baru datang 3 ? 5 tahun yang akan datang.

Karena kesempatan haji Anda yang mungkin masih beberapa tahun yang Akan datang ini, maka berapa dana yang akan Anda siapkan agar pada waktu kesempatan itu datang ? dana Anda benar-benar cukup? Inilah masalahnya.

Komponen biaya haji yang utama adalah mata uang asing yaitu US$ untuk tiket pesawatnya dan Saudi Riyal untuk biaya hidup selama di sana. Karena uang kita Rupiah, maka perencanaan ibadah haji menggunakan uang Rupiah mempunyai setidaknya 2 ketidak pastian ? yaitu faktor inflasi dan faktor nilai tukar.

Karena dua faktor inilah maka biaya ibadah haji kita dalam Rupiah memiliki kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi pada tahun dimana Rupiah mengalami penurunan nilai yang tajam terhadap US Dollar dan Riyal seperti tahun ini, kenaikan biaya haji dalam Rupiah bisa sangat significant.

ONH Rupiah vs ONH Dinar

ONH Rupiah vs ONH Dinar

Namun Anda tidak perlu kawatir sekarang; berdasarkan statistik 10 tahun terakhir, biaya haji dalam Dinar ternyata terus menerus mengalami penurunan.  Bila Ongkos Naik Haji (ONH) biasa tahun 2000 sekitar 70 Dinar, maka tahun ini hanya sekitar 21 Dinar saja atau mengalami penurunan rata-rata 12% per tahun.

Apabila trend ini terus berlanjut, Anda bisa pergi haji hanya dengan 10 Dinar saja pada tahun 2015 ? atau ONH plus hanya dengan sekitar 20 Dinar saja.

Jadi dengan Dinar - mata uang emas yang daya belinya tidak pernah rusak oleh inflasi maupun faktor nilai tukar, perencanaan haji Anda menjadi jauh lebih aman.

Ambil contoh misalnya kalau Anda mau mulai serius merencanakan haji Anda dalam rentang 5 tahun yang akan datang, maka relatif aman bila untuk ONH biasa Anda cadangkan 20 Dinar saja. Artinya kalau Anda tabung 1 Dinar per bulan saja, insya Allah nggak sampai 2 tahun dana untuk membayar ONH sudah akan cukup.

Sangat bisa jadi 20 Dinar yang Anda kumpulkan tersebut pada waktunya lebih dari cukup untuk membayar ONH biasa ? bila kesempatan datang 3 ? 6 tahun yang akan datang. Dalam hal ini Anda bisa meng-upgrade ONH Anda menjadi ONH plus.

Jadi bila Anda rencanakan ibadah haji Anda dengan Dinar; selain kecukupan dana lebih terjamin, juga sangat berpeluang Anda dapat meng-upgrade perjalanan haji Anda dengan yang lebih nyaman ONH plus.

Insya Allah kami akan mulai bicara intensif dengan para penyelenggara perjalanan haji ini ? khususnya ONH plus, untuk mulai menawarkan kerjasama perencanaan haji dengan berbasis Dinar.

Mudah-mudahan Allah memudahkan rencana ini.

Posted in Business OpportunityComments (0)


Price Update on Twitter

Grafik Harga Dinar Islam (real time)

Nilai Tukar Dinar & Dirham (Rupiah)

Emas & Index (USDX & RIX)

Dinar Islam is offlineSofi is offline
sales@dinarislam.com
Dinar Islam on twitter
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes