Archive | Political Economy
Posted on 08 March 2010. Tags: 1 Dinar, 15 Agustus 1971, Amerika, anggaran belanja, anti-inflation monetary policy, bearish, dasawarsa, data inflasi, daya beli tetap, emas, enterpreneurship, etos kerja, GDP, Guru ‘…’ Berdiri, harga emas, harga tinggi, harga turun, ikhtiar, Index Kesengsaraan, industri teknologi, inflasi, Interest Rate, investasi, John Williams, kambing, keluarga, kemakmuran, Misery Index, Murid ‘…’ Berlari, nilai baku, Obama, pemerintah, pencetakan uang, pengangguran, penurunan, potongan pajak, Presiden, rakyat, Ronald Reagan, shadow government statistics, titik terendah, uang kertas, unnecessary cost on the economy, US$
Saya pernah menulis tentang Misery Index atau Index Kesengsaraan suatu negara yang diukur dengan 4 komponen yaitu Inflasi, Pengangguran, Interest Rate dan GDP. Kali ini saya ingin meng-elaborate salah satu dari unsur yang menyengsarakan rakyat tersebut yaitu inflasi.
Banyak cara untuk mengukur inflasi, namun di negara maju sekalipun data inflasi dari pemerintah sering diragukan oleh rakyatnya. Di Amerika misalnya yang menganggap dirinya paling transparan, data inflasinya dibantah oleh seorang kakek-kakek John Williams dari Shadow Government Statistics.
Ada data inflasi yang sebenarnya tidak bisa berbohong yaitu harga barang yang satu dibandingkan dengan barang yang lain yang bersifat baku. Yang selalu kita contohkan di sini adalah harga emas, 1 Dinar terbukti stabil cukup untuk membeli seekor kambing selama lebih dari 1400 tahun. Jadi harga emas ini bisa untuk mendeteksi apakah suatu negara mampu mengendalikan inflasi atau tidak, bila negara tidak bisa mengendalikan inflasi – maka negara tersebut tidak akan bisa memakmurkan rakyatnya – lihat di tulisan saya mengenai Misery Index tersebut untuk detilnya.
Contoh konkrit dari korelasi antara harga emas dengan inflasi yang juga merupakan indikator kemakmuran ini dapat dilihat dari sejarah harga emas di Amerika 100 tahun terakhir seperti dalam grafik di bawah. Sampai tahun 1971 ketika harga emas dipatok pada nilai US$ 35/Oz (US$ 21/Oz sampai 1930) – rakyat seharusnya cukup makmur karena daya beli uang mereka tetap.
Namun perhatikan setelah tahun 1971 ketika negeri itu tidak lagi mengkaitkan pencetakan uangnya dengan emas; inflasi langsung melonjak dan puncaknya tahun 1980 ketika negeri itu berada dalam keterpurukan yang serius yang ditandai dengan inflasi yang mencapai angka 13.2%.
Yang menarik adalah negeri itu pernah berhasil mengendalikan inflasi ini dengan sangat baik yaitu ketika presidennya Ronald Reagan. 3 tahun di awal pemerintahannya dia berhasil menurunkan tingkat inflasinya menjadi tinggal 3.2% saja. Anda bisa perhatikan dari grafik di atas bahwa puncak inflasi bersamaan dengan puncak harga emas tertinggi tahun 80-an yaitu US$ 615/Oz; kemudian awal penurunan harga emas dimulai dari keberhasilan Reagan mengendalikan inflasi ini.
Di awali dengan kemampuan pemerintah AS mengendalikan inflasi ini, harga emas terus turun dan mencapai titik terendahnya tahun 2001 ketika harga emas tinggal hanya US$ 278/Oz saja.
Pertanyaannya adalah, kalau harga emas dalam US$ pernah begitu lama mengalami penurunan (bearish) – mungkinkah ini akan terjadi kembali ke depan diawali dengan era Obama sekarang? Saya berpendapat hal ini kecil sekali kemungkinannya terjadi, karena Obama dan pemerintahan dunia saat ini tidak melakukan 4 hal esensial yang dilakukan oleh Reagan yaitu:
1) Di awal pemerintahannya Reagan mencanangkan pemotongan pajak untuk merangsang investasi, tumbuhnya enterpreneurship dan membangkitkan etos kerja. Kita tahu kemudian dalam sejarah bahwa raksasa-raksasa industri teknologi tumbuh pesat saat itu dan mereka tetap ada sampai sekarang.
2) Langkah kedua adalah menghilangkan unnecessary cost on the economy. (Kita perlu belajar banyak dari langkah kedua ini bila kita ingin bangun dari keterpurukan kita saat ini yang dalam skala dunia berada di urutan 122 dari 183 negara dalam hal kemudahan berusaha.)
3) Mengendalikan anggaran belanja pemerintah. (Lagi –lagi di bidang ini kita juga perlu belajar; ketika kita lagi terpuruk ya jangan membeli mobil baru yang mahal untuk para pejabat, jangan memekarkan daerah karena akan menambah beban negara, jangan memperbanyak Pilkada, Pileg , Pilpres, dlsb. yang semuanya berdampak pada beban biaya yang harus ditanggung rakyat.)
4) Yang ke-4 Reagan mencanangkan anti-inflation monetary policy yang kemudian terbukti ampuh menurunkan tingkat inflasi tinggal ¼-nya saja hanya dalam waktu 3 tahun.
4 hal tersebut di atas tidak dilakukan oleh pemerintahan Obama sekarang dan negara-negara lain yang senangnya meniru apa yang mereka lakukan, kini mereka mendapatkan guru yang ‘…’ berdiri, maka muridpun ‘…’ berlari.
Harga emas yang menjulang selama dasawarsa terakhir belum ada tanda-tanda berakhir, karena ini juga cerminan inflasi yang sesungguhnya dari uang kertas maka rakyat di seluruh dunia harus mulai berikhtiar sekuat tenaga untuk bisa memakmurkan diri dan keluarganya karena policy pemerintahnya masing-masing nampaknya tidak atau belum akan membawa kemakmuran bagi mereka dalam waktu dekat. Wa Allahu A’lam dan saya bisa saja keliru.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Political Economy
Posted on 07 March 2010. Tags: aset, Bank Indonesia, Bank Sentral, cadangan emas, dasawarsa, daya beli riil, daya beli tetap, ekonomi, emas, emas BI, Gold Bond, IMF, kambing, kekayaan riil, kemerdekaan, laporan, Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham, pelunasan hutang, pinjaman, SSB Emas, tambah miskin, uang kertas, WGC, World Gold Council
Dalam beberapa tulisan saya sebelumnya saya sering menyebutkan bahwa cadangan emas Bank Indonesia hanya sekitar 96 ton. Angka 96 ton tersebut benar adanya ketika saya melakukan riset untuk buku ‘Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham’.
Kemudian baru sempat revisit angka tersebut ketika ada pembaca yang menanyakan sumber data yang saya gunakan. Berdasarkan data World Gold Council (WGC), yang kemudian saya verifikasi dengan data dari laporan tahunan BI – ternyata ada penurunan cadangan emas BI yang cukup significant karena hampir mencapai 24% dari cadangan sebelumnya.
Berdasarkan data WGC tersebut, sampai tahun 2006 cadangan emas BI adalah sebesar 96.4 ton emas, tetapi pada tahun 2007 lalu cadangan ini tinggal 73.1 ton emas atau mengalami penurunan 23.3 ton. Jumlah 23.3 ton emas ini tentu sangat banyak; kok nggak banyak dari kita – termasuk saya sendiri - yang tahu penjualan cadangan emas ini ketika hal tersebut dilaksanakan?
Jawabannya ada di laporan keuangan BI untuk tahun buku 2006 yang keluar bulan Mei 2007. Dalam penjelasan laporan perubahan ekuitas disebutkan bahwa pada tahun buku 2005, BI masih memiliki saldo emas sebesar 3,087,615.7493 TOZ (96.4 ton emas) tetapi pada akhir tahun buku 2006 saldo emas ini tinggal 2,347,045.9083 TOZ (73.1 ton emas). Sisanya berupa SSB Emas atau Gold Bond yang dijual dalam rangka mendukung kecukupan likuiditas berkaitan dengan percepatan pelunasan pinjaman IMF.
Jadi nampaknya kita terpaksa menjual aset baik kita untuk membayar hutang, apa boleh buat…
Kalau kita lihat jauh kebelakang lagi sampai ke awal-awal tahun kemerdekaan kita, ternyata kita pernah cukup kaya dalam hal cadangan emas ini. Puncaknya tahun 1951 ketika cadangan kita mencapai 248.8 ton emas. Namun kita juga pernah sangat miskin mulai pertengahan tahun 60-an sampai akhir tahun 1970-an, puncaknya adalah tahun 1971 ketika cadangan emas kita tinggal 1.8 ton. Kemudian selama ¼ abad sejak 1981 cadangan emas kita di BI stabil pada kisaran 96 ton, sampai akhirnya tahun 2006 lalu cadangan emas kita mulai berkurang kembali karena kita butuh bayar hutang.
Yang perlu kita renungkan adalah, kita tahu emas sebagai aset memiliki nilai atau daya beli yang stabil dan riil, 1 kg emas ½ abad lalu sama berharganya (daya belinya) dengan 1 kg emas sekarang – sama-sama cukup untuk membeli sekitar 250 ekor kambing! Emas tidak seperti uang kertas yang nilainya relatif terhadap waktu, Rp 1 juta ½ abad lalu sangat berbeda dengan Rp 1 juta sekarang.
Jadi kalau di awal kemerdekaan kekayaan riil dalam wujud cadangan emas di bank sentral kita sampai 248.8 ton dan sekarang tinggal 73.1 ton (kurang dari 30%nya!), jangan jangan kita sebagai bangsa memang tambah miskin sekarang?
Memang mengukur kekayaan suatu negara tidak cukup hanya dengan satu indikator saja, banyak indikator lain yang di luar tema sentral situs ini. Namun satu indikator yang ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Bagi saudara kita yang sudah sukup umur untuk merasakan kondisi ekonomi kita dalam 6 dasawarsa sejak kemerdekaan, pasti mereka bisa bercerita lebih banyak dari saya soal bagaimana hidup di rentang waktu dasawarsa tersebut. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Political Economy
Posted on 02 March 2010. Tags: 15 Agustus 1971, Article of Agreement of IMF, benda riil, Breton Woods Agreement, Dominique Strauss-Kahn, dunia, emas, Euro, gandum, IMF, International Monetary Fund, Islam, kegagalan IMF, kurma, lubang biawak, mata uang, nilai intrinsik, Nixon, Nixon Shock, perak, Poundsterling, reserve asset, rujukan mata uang, SDR, Smithsonian Institute, sosialisasi, Special Drawing Rights, timbangan, tinggalkan US$, uang kertas, US Dollar, US$, World's Reserve Currency, Yen
Ada berita menarik yang bisa Anda baca pada harian Republika yang terbit kemarin (02/03/2010) bahwa IMF menyerukan untuk meninggalkan US$!! Berita ini sendiri tentu saja valid karena merujuk pernyataan Dominique Strauss-Kahn, the head of the International Monetary Fund (IMF) pada jum’at pekan lalu.
Bukannya saya lebih tahu atau lebih pintar dari pimpinan tertinggi IMF tersebut; namun kalau Anda baca tulisan saya hampir 6 bulan lalu dengan judul Tinggalkan Dollar Selagi Sempat , maka Anda akan tahu bahwa seruan atau wacana yang dilontarkan oleh orang nomor 1 di IMF ini adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan dan tidak akan mengejutkan Anda.
Masalahnya yang perlu diwaspadai oleh umat dan juga bangsa-bangsa lain di dunia adalah – ada apa dibalik pernyataan ini. Mengapa baru sekarang wacana mengganti US$ dimunculkan? Dan apa pengganti US$ yang mereka pikirkan?
Saya mencoba menduga-duga apa kira-kira jawaban atas 2 pertanyaan tersebut di atas. Mengenai mengapa baru sekarang wacana ini dimunculkan; dugaan saya karena mereka (para petinggi IMF) juga tahu kalau US$ tidak akan survive dalam waktu yang lebih lama lagi – wacana ini dimunculkan untuk semacam sosialisasi ke dunia akan kondisi yang sangat mungkin akan terjadi.
Nampaknya mereka ingin memperbaiki sejarah kegagalan IMF pertama, ketika terjadi kejutan Nixon Shock Agustus 1971 – dimana secara sepihak dan mendadak – Nixon mengguncang Dunia dengan meninggalkan emas sebagai rujukan mata uang US Dollar-nya. Kali ini mereka ingin masyarakat dunia tahu dulu – bahwa US Dollar berkemungkinan gagal (lagi) dan dunia tidak akan bisa mengandalkannya.
Lantas mengapa mereka ‘berbaik hati’ memberi isyarat pada dunia bahwa US$ akan gagal? Sederhana – karena mereka juga masih ingin (tetap) memimpin dunia dengan aturannya. Ingat ketika IMF gagal pertama dengan kejadian Nixon Shock Agustus 1971; penggantinya tetap IMF juga hanya ‘undang-undang’-nya yang berganti dari Breton Woods Agreement (1945) menjadi Article of Agreement of IMF yang ditandatangani di Smithsonian Institute – December 1971. Dari lokasi penanda tangananan ini saja sebenarnya umat Islam yang cerdas sudah harus tahu siapa di belakang mereka ini dan untuk kepentingan siapa program-program mereka dibuat.
Pertanyaan ke-2 mengenai apa pengganti US$ yang mereka pikirkan? Terungkap dari pernyataan Dominique bahwa pengganti US$ sebagai reserve currency yang akan datang adalah “similar to but distinctly different from the IMF’s Special Drawing Rights, or SDRs”.
SDR adalah reserve asset yang diciptakan oleh IMF tahun 1969; awalnya nilai 1 SDR setara dengan 0.888671 gr emas – yang seharusnya saat itu juga bernilai 1 US$. Setelah kejadian Nixon Shock tersebut di atas, ‘uang’ SDR yang tadinya setara emas tersebut-pun berganti menjadi setara dengan sekeranjang mata uang kuat dunia. Untuk saat ini isi keranjang tersebut terdiri dari US$, Poundsterling, Euro dan Yen.
Lantas berapa nilai SDR tersebut sekarang? Hari Senin kemarin (01/03/2010) 1 SDR nilainya setara dengan US$ 1.52771 atau kalau dibelikan emas hanya dapat 0.0425 gram. Jadi uang SDR itu-pun kini nilainya tinggal sekitar 1/20 dari nilai awal ketika diperkenalkan 41 tahun lalu.
Maknanya apa ini semua? Bila US$ sebagai reserve asset diganti dengan SDR bentuk baru sekalipun (yang dikatakan Dominique sebagai similar but distinctly different dengan SDR yang sekarang) – tetap tidak dapat menjadi reserve asset yang sesungguhnya – karena nilainya juga mengalami keruntuhan sebagaimana sekeranjang mata uang kertas yang digunakan untuk menghitung nilainya.
Kita umat Islam tidak seharusnya menggunakan timbangan yang mereka ciptakan; kita memiliki timbangan yang adil sepanjang masa – yaitu emas, perak, gandum, kurma dan benda-benda riil yang memiliki nilai instrinsik lainnya. Waktunya kita mengikuti petunjuk jalan kita sendiri dan tidak mengikuti mereka memasuki “lubang biawak” berikutnya. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Political Economy
Posted on 01 March 2010. Tags: Amerika, Amerika Selatan, aset, barter, benda riil, bottom-up, Brasil, BRIC, China, daya beli tetap, dunia, Dunia Islam, fluktuasi, Hillary Clinton, India, Jerman, mata uang, Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, minyak, muslim, nilai tukar, OPEC, Palestina, pemerintah, pemimpin, perdagangan dunia, platform, politik, rakyat, re--invent the wheel, reserve currencies, Rusia, sistem finansial global, syariah, top-down, uang fiat, Uighur, US Treasury Debt, US$, Yuan, Zhu Guang Yau
Kinerja US$ terus menjadi keprihatinan para pemimpin dunia, terutama negara yang memegang US$ dalam jumlah terbesar seperti China. Di sela-sela pertemuan dengan para petinggi Amerika tahun lalu, secara terus terang Asisten Menteri Keuangan China Zhu Guang Yau mengungkapkan: “Pemerintah China sebagai pemerintahan yang bertanggung jawab, pertama dan paling penting harus bertanggung jawab pada rakyat China. Jadi tentu kami prihatin dengan keamanan aset-aset China”. Yang dimaksud aset-aset China dalam pertemuan ini adalah aset China dalam bentuk US Treasury Debt yang kini nilainya telah mencapai US$ 801.5 milyar.
Meskipun pertemuan ditutup dengan penuh semangat seperti yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton “kami telah meletakkan dasar-dasar yang positif, kooperatif dan hubungan yang komprehensif abad 21”; dunia tidak menutup mata atas upaya-upaya lain yang nampaknya juga dilakukan oleh China sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap rakyat China – seperti yang diungkapkan oleh Zhu tersebut.
Ada 2 hal yang dilakukan China untuk menggantikan atau setidaknya mengurangi ketergantungan terhadap US$ dalam perdagangan internasional.
- Pendekatan bottom-up untuk menggantikan US$ dengan Yuan, tidak melalui sistem perbankan – tetapi melalui perdagangan. Dengan negara terbesar di Amerika selatan – Brasil misalnya , mereka telah menyepakati rencana untuk menggunakan Yuan langsung sebagai pengganti US$ dalam perdagangan antara kedua negara ini. Setelah itu, target besar berikutnya adalah OPEC yang diharapkan akan segera dapat menerima Yuan untuk pembayaran minyak produksi mereka.
- Langkah yang masih misterius karena sangat dirahasiakan, kemungkinan besar melibatkan juga negara kuat Jerman, selain Brasil, Rusia dan India yang bersama China sebelumnya telah intensif bicara dalam forum BRIC.

US Treasuries
Yang mereka sedang persiapkan secara rahasia nampaknya semacam sistem barter yang canggih, yang tidak melibatkan uang fiat seperti US$. Hal ini sedikit bocor oleh pernyataan salah satu konsultan mereka yang antara lain mengungkapkan: “Ketika terjadi keambrukan (sistem finansial dunia yang didominasi US$), sistem ini tidak akan membutuhkan reserve currencies lagi, karena 95% dari transaksi akan berupa barter atau imbal dagang yang canggih melalui platform perdagangan yang sedang di-design untuk siap beroperasi awal 2010. Sistem baru ini akan meniadakan peran bank yang selama ini menjadi jalur sempit (bottleneck) dalam perdagangan secara lokal, nasional dan internasional”.
Betapapun siapnya negara China untuk menggantikan Amerika dalam perdagangan dunia, negara-negara yang penduduk terbesarnya Muslim seharusnya memiliki langkah-langkah tersendiri dan tidak mengikuti atau terbawa arus oleh negara lain, baik itu Amerika maupun China. Keduanya tidak bersahabat dengan Dunia Islam seperti apa yang ditunjukkan Amerika di Palestina, dan apa yang dilakukan China terhadap saudara-saudara kita Muslim Uighur.
Selain karena faktor politik ini, sebenarnya Dunia Islam telah memiliki platform perdagangan yang berbasis Dinar, yang memang sudah mengedepankan perdagangan benda riil ke benda riil lainnya. Dengan sistem Dinar, perdagangan tidak perlu ribet seperti dalam sistem barter – tetapi juga tidak perlu rentan terhadap fluktuasi nilai mata uang masing-masing negara karena nilai daya beli Dinar yang baku secara universal – tidak terpengaruh waktu dan tempat.
Negara-negara yang mau menggunakan sistem Dinar ini juga tidak perlu re-invent the wheel karena sistem yang mengatur perdagangan berbasis Dinar ini sudah lengkap, utuh dan proven karena telah lebih dari 1000 tahun diterapkan Dunia Islam – itulah Syariah.
Dengan keunggulan-keunggulan sistem Dinar ini; seharusnya Dunia Islam yang memimpin perdagangan dunia ke depan. Apalagi sumber daya alam terbesar seperti minyak, panas bumi, gas, hutan dan lain sebagainya tersedia dengan cukup di Dunia Islam tersebut.
Namun kalau harapan ini terlalu jauh, bila pendekatan top-down dari pemimpin-peminpin negara Islam untuk rakyatnya sulit diharapkan; maka umat Islam yang cerdas-pun dapat memulainya dengan pola bottom-up. Umat sendiri yang secara luas menyebarkan dan menggunakan sistem perdagangan berbasis Dinar yang adil, maka setelah itu pemerintah-pemerintah negeri muslim suka atau tidak suka akan mengikuti kemauan dan kepentingan rakyatnya. Insya Allah…
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Political Economy
Posted on 28 February 2010. Tags: big picture, Brasil, BRIC, China, Dinar, Dunia Islam, ekonomi, Eropa, EU, Euro, Europian Union, GDP, Gross Domestic Product, IMF, IMF minded, India, inflasi, kekayaan alam, kesamaan ideologis, mata uang, MDC, muslim, Muslim Dominated Countries, pemimpin, penjajahan ekonomi, riba, Rusia, sistem finansial global, sistem keuangan, uang, Ural, US$, visi, Yekaterinburg
BRIC adalah sebutan untuk 4 negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia yaitu Brasil, Rusia, India dan China. Pada pertengahan tahun lalu (Juni 2009) para pemimpin negara mereka bertemu di Yekaterinburg, wilayah pegunungan Ural – Rusia.
Yang menarik sekali kita ikuti adalah agenda pertemuan mereka ini, yaitu membahas rencana penggantian mata uang US$ sebagai alat transaksi Global. Ke-4 negara tersebut juga bertekad untuk membentuk sistem finansial global baru, menggantikan sistem finansial yang selama ini dianut oleh seluruh negara-negara di dunia.
Entah kapan uang dan sistem finansial baru versi BRIC ini bisa terwujud, namun pertemuan para pemimpin negara-negara BRIC tersebut sudah selayaknya menjadi pelajaran bagi negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang juga sering disebut MDC (Muslim Dominated Countries) ini.
Pelajaran pertama adalah kenyataan bahwa mata uang US$ tidak akan selamanya bisa bertahan sebagai mata uang utama dunia, sehingga harus secara serius segera dipikirkan penggantinya – sampai melibatkan pertemuan tingkat tinggi antar pimpinan Negara. Bersamaan dengan penggantian mata uang ini, sistem finansial dunia yang selama ini IMF minded juga selayaknya diganti.
Pelajaran kedua adalah, kalau pemimpin-pemimpin dunia yang sama sekali tidak memiliki kesamaan ideologis satu sama lain saja bisa bertemu untuk mencari solusi bersama yang terkait dengan uang dan sistem finansial; sudah selayaknya pemimpin-pemimpin Dunia Islam lebih potensi lagi untuk bertemu mengatasi masalah uang dan sistem finansial ini.

Gross Domestic Product (GDP)
Para pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini setidaknya memiliki kesamaan ideologis dan memiliki kesamaan tanggung jawab terhadap rakyatnya, yaitu membebaskan rakyatnya dari penindasan/penjajahan ekonomi yang antara lain termanifestasikan dalam bentuk penggunaan mata uang negara lain sebagai alat transaksi antar mereka.
Bagi Dunia Islam pencarian mata uang pengganti US$ dan sistem keuangan ala IMF ini jauh lebih mudah ketimbang negara-negara di Eropa membentuk Euro atau negara-negara BRIC dalam melakukan pencarian mata uang barunya. Dunia Islam sudah memiliki Dinar yang telah dipakai lebih dari 1400 tahun, dan satu-satunya mata uang dunia yang bebas dari inflasi sepanjang sejarah.
Dari sisi ukuran-pun kalau negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim ini bergabung, skala ekonomi yang diukur dari total GDP-nya juga lumayan besar; lihat grafik-grafik di atas yang menujukkan total GDP dari MDC, untuk data tahun 2008 memang baru sekitar ½ total GDP dari BRIC, dan ¼ total GDP dari EU; tetapi potensinya tidak kalah besar dengan Negara-negara di EU maupun BRIC karena kekayaan alam yang melimpah di MDC ini.
Kendalanya memang mungkin tidak mudah menyatukan visi 32 negara-negara MDC; tetapi lagi-lagi negara yang tidak memiliki kesamaan ideologis seperti 27 negara-negara yang tergabung dalam European Union (EU) saja bisa bersatu dalam masalah uang dan perdagangan; masa kita tidak dapat bersatu?
Well, kalau toh pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini belum memiliki visi untuk bersatu seperti yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin EU dan BRIC – tidak ada salahnya juga kita memulai sesuatu yang sudah bisa kita lakukan yang kelak insya Allah bisa menjadi alat pemersatu umat – setidaknya dalam masalah uang dan sistem keuangan ini.
Inilah big picture dari sistem keuangan bebas Riba berbasis Dinar yang mulai kita rintis dalam beberapa tahun terakhir. Semoga Allah memudahkan jalan yang kita tempuh ini. Amin
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Political Economy
Posted on 14 February 2010. Tags: Amerika, analis pasar, aset penyimpan nilai modal, bailout, bangkrut, capital preservation asset, CommodityOnline, Dinar, Economic Recovery, ekonomi, emas, Eropa Barat, Exchange Rate Chaos, fair, finansial, GDP, grafik, harga emas, harga naik, harga rendah, harga tinggi, harga turun, inflasi, Inggris, investasi, jangka panjang, jangka pendek, jatuh, Kitco, komoditi, Marc Faber, mencetak uang, Optimis, pemerintah, penurunan daya beli, Pesimis, Rupiah, Russia's Troika Dialog, supply and demand, Swiss, transparan, trend, uang kertas, US$
Hari-hari ini bila Anda rajin mengikuti perkembangan harga emas dunia akan melihat trend tahunan yang tidak biasa. Dalam Rupiah harga emas saat ini lebih rendah sekitar 8.5% dibandingkan dengan harga emas setahun lalu – lihat grafik di samping; sebaliknya bila Anda sempat lihat harga emas dunia di Kitco.com – dalam US$ harga emas dunia pagi ini masih 15% lebih tinggi dari harga setahun lalu.
Jadi pertanyaannya adalah apakah harga emas saat ini lagi rendah atau lagi tinggi? Akan naik atau akan turun? Tidak mudah menjawabnya dan bahkan para analis pasar emas dunia-pun berbeda pendapat dalam hal ini. Dalam kaitan harga emas ke depan, saya pisahkan pendapat para analis ini dalam 2 golongan – yaitu yang Pesimis dan yang Optimis (terhadap harga emas).
Yang Pesimis pada umumnya melihat emas sebagai komoditi biasa yang harganya naik dan turun sesuai dengan supply dan demand; mereka berpendapat bahwa harga emas dunia saat ini sudah ketinggian dan akan berkecenderungan turun. Bukti yang mereka gunakan adalah kecenderungan menurunnya harga emas yang terjadi dalam 2 bulan terakhir.
Setelah sempat mencapai angka di atas US$ 1,200/Oz ; saat ini emas hanya diperdagangkan dikisaran US$ 1,093/Oz. Penyebabnya antara lain adalah economic recovery di Amerika Serikat sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan GDP negeri itu Kwartal ke IV 2009 yang mencapai angka yang fantastis 5.7%.
Pada saat ekonomi baik, orang meninggalkan emas sebagai aset penyimpan nilai modal (capital preservation asset) dan menginvestasikannya ke dalam bentuk investasi yang berpotensi memberikan hasil lebih. Maka sejalan dengan proses economic recovery di Amerika yang bisa berlangsung sampai 2012; maka kelompok yang Pesimis ini-pun memperkirakan bahwa harga emas akan cenderung turun sampai tahun 2012 – yang saat itu diperkirakannya harga emas hanya akan berada dikisaran US$ 750/Oz.
Kelompok yang Optimis melihat data yang sama justru dari sudut pandang yang sebaliknya. Recovery saat ini lebih banyak didorong oleh serangkaian bailout yang berarti pencetakan uang kertas lebih dari biasanya. Supply uang kertas yang dipaksakan ini pada akhirnya akan menghancurkan daya beli uang kertas itu sendiri. Bila daya beli uang kertas jatuh, maka semua barang akan melonjak nilainya – dan tentu saja juga harga emas.

Dr. Marc Faber
Salah satu pendukung teori ini adalah Marc Faber seperti yang diungkap di www.commodityonline.com 2 hari lalu. Fund Manager kondang yang berasal dari Swiss ini dalam forum resmi Russia’s Troika Dialog pekan lalu menyatakan “Saya yakin bahwa pemerintahan Amerika akan bangkrut, mungkin tidak besok, tetapi sebelum ini terjadi mereka akan mencetak uang sangat banyak – dan Anda akan menghadapi inflasi yang sangat tinggi”.
Karena langkah yang dilakukan oleh Amerika dalam aksi bailout ini juga dilakukan oleh negara-negara lain seperti Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya; maka praktis ini akan melanda dunia finansial secara keseluruhan. Langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi ini? Marc Faber merumuskannya dengan sederhana : “satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah menjual emas saya”.
Lantas seberapa tinggi harga emas akan naik menurut golongan yang optimis ini? Perkiraan mereka beberapa kali saya kutip di situs ini, antara lain tanggal 20 November 2009 dengan judul Exchange Rate Chaos. Menurut kelompok ini harga emas akan mencapai US$ 2,000 dalam waktu yang tidak terlalu lama dan tidak dengan susah payah.
Lantas bagaimana saya sendiri berpendapat? Saya cenderung ke pendapat yang kedua. Meskipun pada saat yang bersamaan saya selalu mengingatkan bahwa dalam jangka pendek harga emas akan terus bergejolak. Bahkan kepada para agen Dinar-pun; setiap membekali mereka saya selalu katakan untuk transparan dan fair memberikan gambaran prospek Dinar ini ke para nasabahnya. Memang kita Optimis Dinar akan berkecenderungan naik dalam jangka panjang; tetapi jalannya akan bergelombang seperti grafik-grafik bulanan, tahunan dan 10 tahunan yang ada di situs ini. Jadi dalam jangka pendek harga Dinar tidak hanya bisa naik, bisa juga turun. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Political Economy
Posted on 07 February 2010. Tags: Amerika, cadangan devisa, China, Cracker, demand, efek psikologis, ekonomi, emas, Euro, Gajah, Google, HAM, harga emas, harga rendah, harga turun, jatuh, korban, Korea, Lawrence Williams, masalah, mata uang, Mineweb, musim membeli, Pelanduk, peluang harga naik, pemain pasar, penjualan senjata, penurunan daya beli, perang, Perang Dingin, perseteruan, politik ekonomi, Taiwan, teknologi, Tibet, US$, Yen
Tulisan ini saya sarikan dari tulisan Lawrence Williams di Mineweb yang muncul di tengah terpuruknya harga emas dunia sejak pekan lalu. Dalam kondisi harga emas yang rendah seperti sekarang ini, banyak pemain pasar yang serius mengkaji kemungkinan pilihan – apakah ini waktu yang baik untuk membeli (bila ada prospek harga emas kembali tinggi), atau justru menjual (bila trend penurunan diperkirakan akan berlanjut).
Lawrence Williams adalah salah satunya yang melihat kemungkinan harga emas akan naik dari sudut pandang politik ekonomi, khususnya yang terkait dengan perkembangan terakhir mengenai memburuknya hubungan China dan Amerika.
Meskipun para pemimpin kedua negara ini sering bertemu untuk berbagai perundingan, permusuhan di antara keduanya juga tidak bisa disembunyikan. Perseteruan ini mulai dari isu kekuatan mata uang, masalah Tibet, masalah Taiwan, masalah HAM, Cracker, Google dan berbagai masalah lain yang nampaknya sepele tetapi bisa memicu ‘perang’ antara keduanya – setidaknya perang dingin.
Yang paling serius di antara isu-isu tersebut adalah langkah Amerika untuk menjual senjata ke Taiwan senilai US$ 6.4 milyar baru-baru ini. Kegeraman China bisa mendorong negeri itu juga menjual atau meningkatkan penjualan senjatanya ke negara-negara yang dipandang tidak bersahabat terhadap Amerika. Skenario terburuknya adalah bisa pecah perang fisik yang melibatkan keduanya di Wilayah Taiwan atau Korea.
Karena skenario perang fisik ini kemungkinan terjadinya cukup kecil, maka yang lebih besar kemungkinan terjadi di antara keduanya adalah perang dingin yang fokusnya pada politik dan ekonomi.
Meskipun China secara penguasaan teknologi dan ekonomi masih dibawah Amerika, namun cadangan devisanya dalam bentuk US$ yang sangat besar bisa menjadi pisau bermata dua bagi Amerika. Bila China memutuskan mengalihkan sebagian cadangan devisanya – misalnya, dampaknya bisa luar biasa bagi nilai US$ yang merepresentasikan kekuatan ekonomi Amerika ini.
Disinilah kaitannya dengan harga emas dunia. Bila China menurunkan cadangan devisa US$-nya, apa alternatifnya? Euro, Yen dan mata uang lain kemungkinannya tidak lebih menarik bagi China dibandingkan dengan US$. Jadi apa yang lebih menarik dari US$ bagi China? Emas tentu saja salah satunya.
Peralihan cadangan US$ China sedikit saja ke emas, bisa melambungkan harga emas karena 3 hal sekaligus:
- Dikarenakan meningkatnya demand oleh China sendiri.
- Menurunnya daya beli US$ yang digunakan sebagai pembanding harga emas dunia.
- Efek psikologis pasar yang akan ikutan memburu emas – bila mengetahui China berburu emas dan meninggalkan US$.
Biarlah GAJAH beradu dengan GAJAH, tetapi Pelanduk jangan menjadi Korban – bahkan kalau bisa Pelanduk yang UNTUNG!! Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Political Economy
Posted on 04 February 2010. Tags: analisa statistik, defisit, dunia keuangan, emas, Eropa, Eropa Timur, grafik, harga emas, harga saham jatuh, harga saham naik, harga turun, jangka panjang, jangka pendek, jatuh, keseimbangan baru, krisis hutang, likuiditas, mengejutkan, panik, pasar dunia, pelaku pasar, peluang harga naik, piutang, Portugal, Spanyol, Tahapan dalam Krisis, US$, World's Reserve Currency, Yunani
Meskipun sudah saya prediksikan dalam serangkaian tulisan pekan ini tanggal 01/02/10; 02/02/10; 04/02/10; penurunan harga emas yang tajam semalam terus terang juga mengejutkan saya sendiri. Memang di tulisan-tulisan tersebut saya estimasikan harga emas dalam jangka pendek bisa turun hingga kisaran US$ 975/Oz; saya sendiri tidak menduga bahwa harga emas bisa turun di atas 4% ke angka US$ 1,057.40 semalam.
Di luar kebiasaan pula, pada umumnya bila harga emas turun – harga saham naik karena dana dari penjualan emas di pasar sebagian lari ke saham. Tidak demikian yang terjadi semalam, harga saham dunia juga jatuh. Semua dana untuk sementara nampaknya lari ke US$.
Apa yang menjadi penyebab kejadian yang tidak biasa ini? Saya coba telusuri penyebabnya ternyata bermuara di krisis hutang beberapa negara Eropa. Kekhawatiran yang meluas atas krisis hutang dan defisit Yunani, Spanyol, Portugal dan beberapa negara kecil di Eropa Timur telah membuat seluruh pasar dunia mengkawatirkan likuiditas.
Ini yang disebut systemic yang sesungguhnya; bila ada negara yang gagal – maka akan sangat cepat merembet ke negara-negara lain atau institusi keuangan dunia karena piutang mereka yang tidak tertagih, likuiditas yang tersedot dan seterusnya.
Kekhawatiran akan likuiditas inilah yang membuat orang memborong US$. Terlepas bahwa US$ sebenarnya juga memiliki masalahnya sendiri – bagaimanapun sampai sekarang US$ masih dianggap sebagai World’s Reserve Currency.
Apakah penurunan ini akan berlanjut? Untuk sementara mungkin. Tetapi sekian banyak analisa yang saya baca dan analisa saya sendiri – untuk jangka panjang tetap peluang naiknya harga emas lebih tinggi dari peluang menurunnya.
Kejadian semalam mirip dengan kejadian November 2008 yang saya tulis dalam judul “Tahapan Dalam Krisis Dan Pengaruhnya Terhadap Harga Emas…” ; untuk memudahkan pembaca saya tampilkan lagi ilustrasinya pada grafik di atas.
Seperti berlalunya kekhawatiran likuiditas US$ pada akhir 2008 tersebut, selepas panik pelaku pasar dan juga negara-negara akan kembali berpikir logis dan harga-harga akan menuju keseimbangan baru. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Political Economy
Posted on 27 January 2010. Tags: AIG, aksi penyelamatan, Amerika Serikat, bailout, bangkrut, Bank Century, bankrupt, CNBC, Congress, dana talangan, demo besar, Extinction Event, Guru ‘…’ Berdiri, hubungan guru & murid, investigasi, Islam, kaya, lubang biawak, maisir, Menteri Keuangan, Murid ‘…’ Berlari, Pansus DPR, riba, risiko sistemik, sistem finansial global, surat Al-Hasyr, syariah, systemic risks, Treasury Secretary
Hari ini isu-nya bakal ada demo besar di negeri ini, yang inti permasalahannya berawal dari upaya penyelamatan bank kecil Century dari apa yang disebut-sebut pihak pengambil keputusan sebagai memiliki risiko sistemik bila tidak diselamatkan. Masyarakat awam yang mengikuti tontonan investigasinya oleh Pansus DPR di televisi sebenarnya sudah bisa cukup paham tentang apa yang nampaknya terjadi.
Pada waktu yang bersamaan, nun jauh disana – ada negeri yang para pembuat hukumnya (lawmakers) juga lagi menginvestigasi Menteri Keuangannya (Treasury Secretary), untuk kasus yang sangat mirip – yaitu bailout AIG akhir 2008 yang menyebabkan rakyat negeri itu harus nombok US$ 180 Milyar sebagai komitmen dana talangan aksi penyelamatan ini.
Investigasi ini juga disiarkan di televisi secara langsung tadi malam, saya sendiri mengikutinya dari CNBC yang menyajikan kasus ini sebagai tontonan menarik dalam skala global.
Dari apa yang saya lihat melalui 2 tontonan televisi tersebut – investigasi Century di Pansus DPR RI dan investigasi bailout AIG di Congress AS – sangat-sangat banyak kemiripannya sehingga saya yakin bahwa 2 hal ini bukan suatu kebetulan.
AIG terpaksa diselamatkan pemerintahnya dengan alasan risiko sistemik yang dihadapi negeri itu jauh lebih besar dibanding bila AIG dibiarkan bankrupt. Bank Century-pun di Indonesia diselamatkan dengan alasan yang persis sama.
Kalau 2 kejadian tersebut bukanlah kebetulan, lantas apa sebenarnya hubungan keduanya? Terlepas dari berbagai hubungan yang saling terkait dari sistem finansial global; saya memahaminya sebagai hubungan yang lebih sederhana saja – yaitu hubungan guru dan murid.
Ketika sang guru mengatakan bahwa inilah sistem finansial yang harus dianut di seluruh dunia, maka murid-pun serta merta mengikuti. Ketika gurunya terperosok ke lubang biawak, pada saat yang bersamaan sang murid-pun mengikuti masuk lubang biawak yang sama.
Alasan risiko sistemik bisa benar bisa salah, namun katakanlah risiko ini benar ada – dan konon dampaknya bisa begitu besar; di Amerika sendiri risiko sistemik yang ditimbulkan oleh bangkrutnya AIG – bila tidak diselamatkan – bisa mencapai derajat yang disebut sebagai Extinction Event (kejadian yang memusnahkan); lantas apa yang telah dilakukan oleh dunia dan negeri ini?
Saya secara pribadi belum melihat ada upaya dunia dan negeri ini untuk menghindar dari risiko yang memusnahkan tersebut.
Resep untuk menghindari risiko tersebut sebenarnya sudah ada dan sangat komplit di Syariah Islam – hanya sebagian kita umat Islam sendiri yang menyebut syariah-pun enggan apalagi menerapkannya.
Bila syariah diterapkan, maka tidak akan ada produk-produk finansial yang mengandung unsur riba, maisir dan gharar yang menjadi pangkal seluruh kebangkrutan dan risiko sistemik tersebut.
Bila harta tidak hanya berputar di golongan yang kaya, tetapi berputar secara luas di masyarakat (QS. Al-Hasyr (59):7) – maka tidak ada konsentrasi kekayaan dunia yang berpusat di segelintir orang atau institusi. AIG di negerinya bisa menimbulkan risiko pada tingkat Exctinction Level karena besarnya organisasi ini yang tidak ketulungan. Untuk bailout-nya saja dibutuhkan komitmen sampai US$ 180 Milyar atau sekitar Rp 1,700 trilyun atau setara lebih dari 250 kali dana yang dibutuhkan untuk menyelamatkan Century.
Jadi sungguh kita punya solusi itu, mengapa pula kita mengambil solusi dari Guru Yang ‘….’ Berlari? Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Political Economy
Posted on 05 January 2010. Tags: 1 Dinar, Allah, Annus Horribilis, benda riil, daya beli, Dinar, Dubai, emas, harga emas, horrible year, Inggris, kambing, krisis, ladang, Lady Di, Pangeran Andrew, Pangeran Charles, parasut, pasar emas dunia, penurunan daya beli, property produktif, Rasulullah SAW, Ratu Elizabeth II, Sarah, sawah, statistik, ternak, uang kertas, US$, US$ crash
Annus Horribilis diambil dari bahasa latin yang berarti horrible year atau tahun yang sangat buruk. Istilah ini dipopulerkan oleh Ratu Elizabeth II dari Inggris pada akhir tahun 1992, untuk menggambarkan betapa buruknya tahun itu. Pada tahun tersebutlah 2 anaknya bercerai dari istri-istrinya; Pangeran Andrew bercerai dengan Sarah (Maret 1992) dan Pangeran Charles bercerai dengan Lady Di (Desember, 1992).
Istilah ini belakangan banyak digunakan lagi, bukan untuk menggambarkan kondisi keluarga kerajaan – tetapi untuk menggambarkan kondisi ekonomi di berbagai negara. Dunia yang dilanda krisis sejak tahun sebelumnya (2008), belum sepenuhnya bisa pulih di tahun 2009. Bahkan di bulan Desember 2009, sinyal-sinyal krisis masih nampak jelas dengan munculnya krisis di Dubai.
Bagi para pelaku pasar, khususnya pasar emas Dunia – gejala krisis juga jelas terbaca dari kinerja harga emas dunia yang dinilai dalam US$. Akhir tahun 2009, harga emas dunia ditutup pada harga US$ 1,097.25/Oz atau mengalami kenaikan 26% dari akhir tahun sebelumnya.
Mengapa harga emas yang terus menjulang dalam US$ ini pertanda buruk bagi US$? Sederhana jawabannya, emas merepresentasikan benda riil yang memiliki daya beli tetap sepanjang zaman. 1 ekor kambing di zaman Nabi SAW seharga 1 Dinar (4.25 gram emas), 1 Dinar tetap dapat untuk membeli kambing pula sekarang. Mobil keluarga entry level dapat dibeli seharga 110 Dinar (15 Oz) pada tahun 1935; dengan uang Dinar yang sama saat ini kita juga tetap dapat membeli mobil keluarga kelas entry level – baru!

US$ Value
Artinya bahwa bila dibandingkan dengan emas, US$ terus mengalami penurunan daya beli yang sangat significant. Masalahnya adalah penurunan ini belum nampak akan berhenti, jadi sampai berapa rendah nantinya daya beli US$ ini? hanya Allah-lah yang tahu. Yang jelas berdasarkan statistik harga emas dunia sejak awal milenium baru Januari 2000, nilai US$ kini tinggal 25% saja dibandingkan dengan daya belinya di awal milenium tersebut.
Ibarat naik pesawat yang terus menukik kebawah dan si kapten tidak nampak bisa menguasai kendali, apakah kita akan tetap menunggu sampai pesawat menyentuh tanah dan hancur berkeping-keping? Saya tentu akan pilih tidak menunggu, saya akan pilih melompat selagi parasut itu ada.
Parasut ini bisa berupa emas/Dinar; sawah –ladang, ternak, property produktif, barang dagangan yang mudah dijual, dlsb. Parasut ini bukan mata uang kertas lain, karena kalau terjadi sesuatu dengan US$ – mata uang kertas lain akan tersedot ke pusaran krisisnya.
Anda-pun bisa memilih parasut Anda sesuai dengan minat dan kemampuan Anda untuk mengelolanya. Insya Allah kita bisa selamat dari US$ crash yang kita tidak tahu kapan tetapi arahnya sudah sangat jelas… Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Political Economy