Posted on 10 March 2010. Tags: Allah, Anas R.A., bandul jam, benda riil, darah & harta, dewa ekonomi, Dinar, dirham, emas, fitrah, fluktuasi, Friederich August von Hayek, fulus, grafik, Hadits Ashabus Sunan, harga emas, harga emas harian, harga naik, harga turun, Ibnu Taimiyyah, Ilmu Ekonomi, Indonesia, inflasi, Islam, jangka panjang, jangka pendek, John Naisbitt, jumlah uang, kekuatan, kertas, mahal, mata uang, mekanisme pasar, Pembentang, Pemberi Rizki, pemenang Nobel, Penahan, pendorong naik turun, Penentu Harga, penurunan daya beli, posisi jam 6, Rasulullah SAW, Rupiah, tembaga, uang kertas, uang nasional, uang swasta
Sudah beberapa hari ini harga emas mengalami penurunan dan puncaknya semalam ketika pasar internasional turun secara significant dari US$ 1,121/Oz ke angka US$ 1,108/Oz. Akibatnya pagi ini harga Dinar kembali turun mendekati angka Rp 1.4 juta lagi. Ini kabar baik bagi kita yang di Indonesia, bahwa uang kita masih bernilai baik – meskipun (mungkin) ini hanya bersifat jangka pendek.
Pada kesempatan ini saya ingin share data harga emas dalam Rupiah yang sudah terkumpul di sistem kami sejak 14 September 2007. Pada grafik di bawah Anda akan lihat pergerakan naik turunnya harga emas harian, yang kurang lebih berimbang antara hari-hari dimana harga emas naik dan hari-hari dimana harga emas turun.
Naik turunnya harga emas harian ini lebih banyak didorong oleh mekanisme pasar yang bekerja secara global; ketika harga tinggi orang banyak yang menjual emasnya sehingga supply meningkat dan akan mendorong harga turun. Demikian pula ketika harga rendah, banyak peminat akan berburu emas sehingga demand meningkat dan harga kembali naik, demikian seterusnya.
Kalau harga emas hanya didorong oleh mekanisme pasar, maka seharusnya angka berfluktuasi pada kisaran nilai tertentu – seperti bandul jam yang berayun di sekitar angka 6. Namun ternyata tidak demikian yang terjadi pada harga emas; di awal sistem kami mulai mencatat harga emas harian, harga ini berada di kisaran Rp 220,000/gram ; kini harga berada pada kisaran Rp 330,000/gram atau naik sekitar 50% dalam 2.5 tahun terakhir.
Artinya selain mekanisme pasar yang mendorong berayunnya harga emas secara harian tersebut; ada kekuatan lain yang hari demi hari mendorong harga emas ke atas. Kekuatan lain ini hanya nampak bila kita lihat dalam rentang waktu yang panjang - kekuatan apa ini? Inilah yang namanya inflasi atau penurunan daya beli uang kertas terhadap benda riil yang dalam hal ini diwakili oleh emas.
Naik turunnya harga karena mekanisme pasar ini tidak boleh dicampuri oleh siapapun; bahkan dalam Islam, Rasulullah SAW-pun tidak mau mempengaruhi-nya sebagaimana Hadits Ashabus Sunan dengan perawi yang shahih sebagai berikut:
Telah meriwayatkan dari Anas R.A., ia berkata :” Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami. Rasulullah SAW lalu menjawab, ‘Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta.”
Sebaliknya dorongan kenaikan harga secara terus menerus yang disebabkan oleh inflasi mata uang kertas, ini tidak boleh terjadi. Penguasa negeri wajib mengendalikan jumlah uang (fulus) yang beredar sehingga rakyat tidak terdhalimi oleh penurunan nilainya. Inilah yang sudah juga diingatkan oleh Ibnu Taimiyyah berikut:
“Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga, kertas, dlsb.) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka.”
Masalahnya sekarang adalah kita hidup di zaman uang kertas; di seluruh dunia uang kertas inilah yang digunakan – dan tidak ada satu negarapun yang terbukti bisa mengendalikan inflasi. Maka sangat bisa jadi kini zamannya sudah semakin dekat prediksi pemenang hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1974 Friedrich August Von Hayek, dan juga prediksi ‘Dewa’ Ekonomi-nya dunia barat John Naisbitt untuk terbukti: masanya uang ‘swasta’ untuk berjaya menggantikan uang nasional.
Bila megatrend itu bener-bener terjadi, maka insya Allah kita-pun sudah siap untuk menyongsongnya. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke JalanNya. Amin.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Islamic View
Posted on 07 March 2010. Tags: Abu Hurairah R.A., Abu Sa'id R.A., akses modal, Allah, barokah, BMT, dari anggota ke anggota, Dinar, do'a, Dr. Muhammad Yunus, dunia modern, ekonomi, Hadits, HR. Muslim, ikhtiar, investasi, Islam, Jawa Tengah, Jawa Timur, kapital, keberkahan, kebersamaan, kekuatan ekonomi, kemakmuran, kemiskinan, kiamat, kontribusi, koperasi, Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS), Koperasi Pesantren, Kyai, lingkungan, medan perang, pengusaha, perang Tabuk, perdagangan, perusahaan, Pesantren Putri, psikologi massa, Rasulullah SAW, resources, Riyadus Shalihin, santriwati, Strength in Numbers, surga, syahadat, usaha bersama
Dari sebuah hadits panjang yang saya ambilkan dari kitab Riyadus Shalihin, dari Abu Hurairah R.A. atau dari Abu Sa’id R.A. (perawi ragu namun tidak bermasalah karena keduanya adil), beliau berkata: “Ketika perang Tabuk, orang-orang pada kelaparan” mereka berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya engkau memberi izin – kami akan menyembelih unta kami, lantas kami makan dan lemaknya buat minyak.” Rasulullah bersabda: “Lakukanlah” ; Umar datang lalu berkata: “Wahai Rasulullah, bila engkau lakukan yang semacam itu kendaraan akan jadi sedikit. Tetapi perintahkanlah mereka untuk mengambil bekal mereka yang tersisa lalu taruhlah di depan engkau. Kemudian berdo’alah kepada Allah agar makanan tersebut berkah. Barangkali Allah mengabulkan sehingga makanan tersebut menjadi berkah”.
Lantas Rasulullah SAW bersabda: “Ya” lalu beliau memerintahkan untuk digelar alas lantai, kemudian memerintahkan agar kelebihan bekal mereka dikumpulkan. Lantas seorang laki-laki datang dengan membawa segenggam gandum, ada yang membawa segenggam kurma dan ada yang membawa segenggam roti. Sehingga terkumpullah di atas tikar sesuatu yang sedikit.
Kemudian Rasulullah SAW mendoakan agar diberi berkah. Lalu beliau bersabda: “Ambillah, lalu taruhlah di wadah kalian”. Lantas mereka mengambil makanan tersebut, lalu ditaruh di kantong, bejana atau wadah mereka. Seluruh tempat yang di perkemahan itu dipenuhi dengan makanan. Mereka makan hingga perutnya kenyang. Sisanya-pun masih ada.
Saat itu Rasul SAW bersabda: “Aku bersaksi, bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Bila seorang hamba berjumpa dengan Allah (kelak di hari kiamat) dan dia telah membacanya (bersyahadat), dia tidak ragu, maka dimasukkan ke surga.” (HR. Muslim)
Di antara pelajaran dari hadits tersebut di atas yang bisa kita petik adalah, bahkan Rasulullah SAW memerlukan ikhtiar selain juga berdo’a untuk dapat menyelamatkan pasukannya dari kelaparan di medan perang. Jenis ikhtiar-nyapun adalah sesuatu yang dapat kita contoh, yaitu melibatkan anggota pasukan untuk berkontribusi. Betapapun sedikitnya kontribusi ini tidak terlalu masalah, karena dengan sedikit yang diberkahi – maka problem seluruh pasukan teratasi.
Kebersamaan umat dewasa ini-pun mestinya bisa menyelesaikan berbagai permasalahan dunia modern. Ambil contoh permasalahan dalam bidang ekonomi. Seperti yang saya tulis tentang Muhammad Yunus, bahwasanya penyebab kemiskinan yang utama adalah timpangnya akses terhadap kapital. Bila akses terhadap kapital ini diatasi, maka insya Allah kemakmuran akan tumbuh merata.
Karena alasan ini pula para pendiri bangsa ini sebenarnya sudah memiliki pemikiran yang konkrit, yaitu menjadikan Koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia. Ide dasar koperasi adalah dari anggota ke anggota, jadi seperti pada hadits tersebut di atas – bila masing-masing anggota berkontribusi sesuai kemampuannya – maka kapital yang terkumpul akan menjadi sangat berguna untuk mengangkat kemakmuran para anggota.
Saya pernah berceramah di sebuah Pesantren Putri di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur yang diasuh oleh seorang Kyai. Saya belajar dari pak Pak Kyai yang bukan ekonom dan bukan pula pengusaha ini, bahwa dengan mengelola segala kebutuhan santriwati-nya yang ‘hanya’ sekitar 4000 orang secara bersama-sama setiap tahun Koperasi Pesantren-nya menghasilkan milyaran Rupiah Sisa Hasil Usaha.
Lha umat Islam di Indonesia ini kan jumlahnya tidak kurang dari 190 juta orang, masak nggak bisa makmur bila dikelola dengan baik secara bersama-sama seperti hadits di atas dan juga yang dicontohkan Pak Kyai? Ok mungkin ngurus orang banyak memang lebih sulit (sebenarnya juga bukan alasan karena sekian banyak juga resourcesnya), maka kita bisa mulai dari yang ada di sekitar kita.
Jumlah seperti yang dikelola Pak Kyai sekitar 4000-orang tersebut dengan mudah kita jumpai di lingkungan perusahaan tempat kita bekerja, lingkungan gedung tempat kantor berada, lingkungan perumahan tempat kita tinggal, dlsb.
Bayangkan kalau Anda bisa mengelola kebutuhan sehari-hari, kebutuhan investasi dan kebutuhan lainnya dari 4,000 orang – maka akan sangat besar kemungkinannya Anda bersama-sama anggota lain yang bergabung di dalamnya akan menikmati kemakmuran bersama. Usaha bersama secara berkelompok dari anggota untuk anggota inilah yang di Indonesia dicita-citakan menjadi sokoguru perekonomian, dalam bentuknya koperasi biasa ataupun Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) atau BMT.
Dalam konteks Koperasi/BMT berbasis Dinar, bila Koperasi/BMT Anda bisa mengumpulkan 4,000 orang yang masing-masing menabung 1 Dinar saja akan terkumpul 4,000 Dinar kapital yang akan sangat memadai untuk mulai memutar perdagangan yang barokah memenuhi kebutuhan para anggota Koperasi/BMT Anda.
Mungkin tidak banyak yang bisa dilakukan dengan 1 (satu) koin Dinar yang tersimpan di rumah, namun kalau digabung dalam 1 BMT yang beranggotakan 4,000 – maka 4,000 Dinar menjadi kekuatan ekonomi yang sudah cukup berarti; bagaimana kalau 4 juta Dinar?, dst. Inilah yang di dalam psikologi massa disebut Strength in Numbers, kekuatan yang hanya muncul bila dilakukan secara bersama-sama. Insya Allah.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Islamic View
Posted on 04 March 2010. Tags: Action Plans, Al-Qur'an, Allah, Amerika, antariksa, Baitullah, bulan, bumi, Buzz Aldrin, Depok, do'a, do'a matsur, Goals, Hadits, Islam, JFK, John F. Kennedy, Karyawan, kekuatan visi, komunis, kosmonot, lingkungan, manusia pertama, Mekkah, mimpi, Mission, Nabi Ibrahim, Neil Armstrong, padang pasir, Paris, pemimpin, pengusaha, pensiun, pindah kwadrant, satelit, shalat, Soviet, Strategies, sumber daya, surat Al-Baqarah, visi, Yuri Gagarin
Dalam sejarah dunia abad lalu, ada pemimpin dunia yang sangat terkenal akan kekuatan visinya yaitu John F. Kennedy. Di hadapan Konggres Amerika pada tahun 1961 dia mengungkapkan visinya bahwa bangsa Amerika harus bisa mencapai bulan sebelum akhir dekade itu.
Di tengah bangsa Amerika yang lagi limbung sebenarnya visi ini jauh melampaui zamannya. Visi ini muncul ketika bangsa Amerika ragu apakah jalan hidup yang mereka pilih sudah benar, apakah bukannya komunis yang benar karena saat itu komunis lagi menghebohkan dengan keberhasilan Soviet meluncurkan satelit yang mengorbit bumi. Bahkan bangsa Amerika lagi nggumun-nggumun-nya dengan keberhasilan Soviet mengirim kosmonot Yuri Gagarin ke antariksa.
Namun sekitar 8 tahun kemudian, meskipun JFK sendiri sudah meninggal – visinya teralisasikan dengan sejarah Neil Armstrong dan Buzz Aldrin sebagai manusia-manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan pada tanggal 20 Juli 1969.
Jadi visi lebih penting ketimbang sumber daya dan kondisi yang melingkungi manusia itu sendiri. Dengan sumber daya melimpah tetapi tidak didukung oleh visi yang jelas – maka sumber daya yang melimpah ini tidak akan banyak manfaatnya.
Sebaliknya dengan sumber daya yang terbatas dan dengan lingkungan yang tidak sepenuhnya kondusif sekalipun, pemimpin yang mempunyai visi yang kuat akan bisa mengeluarkan rakyatnya dari penderitaan dan bahkan bisa menjadi bangsa pemenang – meskipun tidak harus tercapai pada saat dia memimpin.
Lantas bagaimana kita tahu apakah kita sudah memiliki visi yang jelas atau kita baru sekedar bermimpi? Bedanya terletak pada jabaran-nya. Visi yang jelas dapat dijabarkan menjadi Mission, Goals, Strategies dan Action Plans sampai sedetilnya. Sedangkan mimpi tidak perlu penjabaran, Anda bisa saja mimpi lagi menikmati liburan di Paris tetapi berangkatnya naik sepeda dari Depok – namanya juga mimpi, boleh-boleh saja dan tidak perlu penjelasan detil.
Perbedaan antara visi dan mimpi ini pulalah yang antara lain membedakan sedikit karyawan yang benar-benar pindah kwadrant menjadi pengusaha, dengan mayoritas karyawan yang tetap menjadi karyawan sampai pensiun – padahal sejak awal bekerja yang mayoritas ini juga bervisi (sebenarnya masih mimpi) menjadi pengusaha. Golongan yang pertama menjabarkan visinya dan berbuat (action plans) maka sampailah apa yang di-visi-kannya; golongan kedua tidak bermuat apa-apa dengan mimpinya – maka mimpi tetap menjadi mimpi.
Dalam hal visi ini, sebagai umat Islam kita sesungguhnya punya contoh tauladan yang jauh lebih agung dari John F. Kennedy. Teladan kita adalah bapak para nabi yaitu Nabi Ibrahim A.S. Bayangkan di tengah padang pasir yang gersang tidak ada pepohonan, di tempat yang sangat jauh dari keramaian manusia – Nabi Ibrahim sudah memiliki visi yang sangat jelas akan seperti apa tempat itu nantinya. Visi ini dituangkan dalam do’a-do’a-nya yang diabadikan di Al-Qur’an antara lain sebagai berikut :
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian… “ (QS. Al-Baqarah (2): 126)
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim (14): 37).
Kini ribuan tahun kemudian, visi itu benar-benar terwujud. Kita bisa menikmati buah-buahan apa saja di Mekkah, meskipun buah-buahan itu sendiri tidak ditanam di sana. Buah-buahan, makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan manusia mengalir bak air bah dari seluruh dunia ke tempat yang divisikan Nabi Ibrahim tersebut di atas. Lebih dari itu manusia yang berduyun-duyun ke Mekkah juga mayoritasnya memiliki 1 tujuan saja yaitu menyembah Allah semata yang dimanifestasikan dalam bentuk shalat.
Nah, kalau Kennedy saja yang tidak membaca petunjuk Al-Qur’an bisa membawa bangsanya mencapai bulan. Kita yang dituntun dengan petunjuk dan contoh yang sempurna dari Al-Qur’an dan Hadits – sudah seharusnya dapat berbuat lebih dari yang dilakukan oleh JFK.
Bukan hanya petunjuk dan contoh yang sangat komprehensif yang kita punya, tetapi juga kita dibekali dengan do’a-do’a matsur seperti yang dilafalkan Nabi Ibrahim tersebut di atas. Ayo sekarang kita semua, mulai dari diri kita – bangun dari mimpi-mimpi kita dan mulai membangun visi sambil tidak berhenti untuk terus berdo’a. Semoga Allah menunjuki jalanNya untuk kita semua… Amin.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Islamic View
Posted on 01 March 2010. Tags: aset bermasalah, aset fisik, Balance Sheet, Bank of England, Bank Sentral, Dinar, dirham, ekonomi, fulus, hasil jerih payah, Ibnu Taimiyyah, Inggris, kebijakan publik, kebun, kesombongan manusia, komputer, kredit perumahan, krisis, mencetak uang, neraca, nilai intrinsik, otoritas moneter, pemerintah, pemimpin, penurunan daya beli, Poundsterling, quantitative easing, rakyat, sistem keuangan, suku bunga, surat utang negara, teknik canggih, tembaga, ternak, The Bank's Monetary Policy Committee, uang, uang kertas, US$, wakil rakyat
Mengutip pendapat Ibnu Taimiyyah tentang bagaimana seharusnya penguasa negeri mencetak fulus: “Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”.
Andai saja pemikiran Ibnu Taimiyyah tersebut dijadikan rujukan oleh para pemegang otoritas moneter dan keuangan dunia; Insya Allah berbagai krisis yang mendera umat seluruh dunia ini tidak akan terjadi. Karena kesombongan manusia, mereka enggan mencari petunjuk yang benar – alih-alih belajar dari kekeliruan sebelumnya – mereka malah membenamkan umat manusia ke potensi krisis yang lebih besar lagi.
Saya ambilkan bukti nyatanya dari apa yang dilakukan oleh pemerintah Inggris tahun lalu. Ketika upaya penyelamatan ekonomi melalui pengendalian suku bunga yang saat itu sudah mencapai 0.5% – TERENDAH dalam 315 tahun terakhir! – dirasa belum juga menyembuhkan krisis yang ada, mereka mulai mencari akal (-akalan) untuk memoles ekonomi mereka.
Maka diketemukanlah caranya yang diberi nama keren Quantitative Easing – yang terkesan canggih, sehingga tidak mudah dipahami rakyat. Apa sih Quantitative Easing ini sebenarnya? Berikut adalah pemahaman saya yang awam – mohon maaf kepada para ekonom karena saya berusaha menyederhanakan ilmu Anda yang canggih.

Bank of England
Quantitative Easing adalah salah satu cara bank sentral – di Inggris berarti Bank of England – ‘mencetak’ sejumlah besar ‘uang baru’ di Balance Sheet-nya. Tidak perlu repot-repot mencetak secara fisik uang kertas atau koin-nya – tetapi semata-mata hanya menambahkan angka baru secara elektronik di neraca bank sentral tersebut.
Setelah terbentuk, lalu untuk apa ‘catatan’ uang ini? Untuk membeli aset-aset bermasalah dari dunia perbankan (seperti kredit perumahan), surat utang negara, dlsb. Dengan cara ini ‘uang’ yang tadinya hanya khayalan yang hanya diketikkan di neraca bank sentral, kini telah memasuki sistem keuangan negeri itu.
Karena setiap bank memiliki account di bank sentral, maka bank sentral juga tidak perlu repot-repot memindahkan uang fisik (yang memang nggak ada fisiknya) ke bank-bank tersebut, semua hanya entry di data komputer.
Di Inggris ada komite yang disebut The Bank’s Monetary Policy Committee yang memiliki otoritas untuk mencetak ‘tambahan uang’ dalam khayalan tersebut. Saat ini komite ini memiliki izin untuk menambah ‘uang’ di balance sheet bank sentral sampai sejumlah 150 milyar poundsterling atau US$ 207 milyar! Dari batas yang diizinkan tersebut, saat ini komite telah menggunakan ½ dari jatah yang ada.
Lantas apa dampaknya bagi rakyat Inggris? Sementara solusi ini belum tentu bisa menyelamatkan mereka dari krisis – yang sudah jelas adalah sebaliknya yaitu nilai uang yang ada di masyarakat akan terus turun – inilah yang dilarang oleh Ibnu Taimiyyah tersebut di atas.
Teknik-teknik canggih dalam mengatasi krisis semacam ini, sangat mungkin dilakukan oleh negara-negara lain juga; oleh karenanya rakyat atau melalui wakil-wakilnya hendaknya memiliki akses terhadap para pengambil kebijakan-kebijakan publik sehingga ada yang memahami dan mengawasi mereka.
Kalau kita tidak yakin tentang pengawasan ini, rakyat tetap bisa berbuat mengamankan hasil jerih payahnya yaitu dengan mempertahankan aset fisik atau uang dengan nilai intrinsik yang bisa berupa Dinar, Dirham, kebun, ternak, dlsb. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Islamic View
Posted on 14 January 2010. Tags: Abdul Mulih, Adam, Albani, Ali bin Abi Thalib, Allah, basmalah, berkah, Bismillah, Bismillahi awwaluhu wa akhiruhu, Bismillahilladzi la ilaha illa huwa, blokir, dahsyat, gangguan syetan, HR. Abu Dawud, HR. Abu Dawud & an-Nasai, HR. Abu Dawud & Ibnu Majah, HR. at-Tirmidzi, HR. Bukhari dan Muslim, HR. Ibnu Sunni, HR. Muslim, Ibnu Abbas, Jabir ra, kekuatan, khusu', lafadz, memberi makan, muntah, muslim, penglihatan Jin, perisai diri, proteksi diri, Rasulullah SAW, rumah, shahih, Umayah bin Muhsin, Utsman bin Affan, Wahsyi bin Harb
Menyambung tulisan sebelumnya tentang Makna & Lafadz Basmalah, berikut ini riwayat-riwayat yang menjelaskan bagaimana Dahsyatnya Lafadz Basmalah bila diucapkan oleh seorang muslim dengan hati yang khusyu’ dan yakin, sehingga bisa merasakan kebesaran Allah dan membenarkan sabda Rasul-Nya.
1. Melemahkan Kekuatan Syetan dan Mengecilkan Bentuknya
Rasulullah SAW bersabda, dari Abdul Mulih, dari seorag lelaki ia berkata, “Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah SAW di atas keledainya. Ketika keledainya itu tersandung aku berkata, “celakalah syetan!“
Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah berkata seperti itu, karena syetan akan membesar sampai sebesar rumah lalu berkata, “Aku telah membantingnya dengan kekuatanku.” Akan tetapi bacalah Bismillah, karena jika kamu baca itu ia akan mengecil hingga sekecil lalat.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai, dan dishahihkan oleh Albani)
2. Memblokir Masuknya Syetan ke Rumah
Rasulullah SAW bersabda, “Dan tutuplah pintu kalian seraya membaca Bismillah, karena syetan tidak akan mampu membuka pintu yang tertutup (dengan membaca Bismillah).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
3. Membuat Syetan Muntah-Muntah
Umayah bin Muhsin berkata, “Ketika Rasulullah SAW sedang duduk, ada seorang laki-laki sedang makan dan ia tidak membaca Bismillah sampai makannya hampir habis hanya tingal satu suapan. Lalu ketika dia menyuapkan suapan itu ke mulutnya, dia membaca, “Bismillahi awwaluhu wa akhiruhu” (dengan nama Allah di awal dan di akhirnya). lalu tertawalah Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda, “Syetan masih terus makan bersamanya, tetapi ketika ia membaca Bismillah, syetan pun langsung memuntahkan apa yang ada di perutnya.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai)
4. Memproteksi Diri dari Gangguan Syetan Sepanjang Hari
Kata Utsman bin Affan, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membaca do’a ini di saat sore tiba,
(بِسْمِ اللهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِى اْلأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
“Dengan nama Allah (Bismillah), yang dengan nama-Nya tidak akan bisa membayakan sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (tiga kali).”
maka ia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba sampai pagi hari. dan barangsiapa yang membacanya di sore hari, maka ia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba sampai sore hari.” (HR. at-Tirmidzi)
5. Perisai Diri dari Kejahatan yang ada di Luar Rumah
Anas bin Malik menceritakan, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa keluar dari rumahnya membaca “Bismillah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah“, maka katakan kepadanya, “Kamu telah tercukupi dan terlindungi”, dan syetan pun akan menjauh darinya.” (HR. Abu Dawud)
6. Menutup Penglihatan Jin
Anas bin Malik menceritakan, Rasulullah SAW bersabda, “Yang bisa menutup aurat anak Adam dari pandangan mata jin, ketika hendak menanggalkan pakaiannya adalah membaca, “Bismillahilladzi la ilaha illa huwa” (Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia).” (HR. Ibnu Sunni)
Ali bin Abi Thalib berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sebagai penutup aurat anak Adam dari pandangan mata jin, ketika memasuki WC adalah membaca Bismillah.” (HR. at-Tirmidzi)
7. Melindungi Generasi dari Gangguan Syetan
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian hendak mendatangi istrinya (menggaulinya), bacalah “Bismillah“, Ya Allah jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan dari yang akan Engkau rizkikan kepada kami (anak). Karena bila Allah mentakdirkan bagi keduanya seorang anak, maka syetan tidak akan bisa mencelakakannya selamanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
8. Memboikot Syetan yang ada Dalam Rumah
Dari Jabir ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang masuk rumahnya, lalu membaca Bismillah pada saat masuk dan pada saat makan, maka syetan berkata (kepada teman-temannya), “Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam bagi kalian.” Tetapi jika seseorang masuk rumahnya dengan tidak membaca Bismillah, maka syetan berkata (kepada teman-temannya), “Kalian dapat bermalam”. Bila ia tidak membaca Bismillah saat makan, syetan berkata (pada teman-temannya), “kalian dapat tempat bermalam dan makan malam.” (HR. Muslim)
9. Mendatangkan Berkah
Wahsyi bin Harb berkata, bahwa para sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, kami sudah makan, tapi kami tidak kenyang-kenyang.” Rasulullah SAW bertanya, “Mungkin kalian makannya terpisah-pisah (sendiri-sendiri)?” Mereka menjawab, “Ya”. Rasulullah SAW bersabda, “Maka berkumpullah kalian ketika makan, dan bacalah Bismillah, niscaya Allah akan memberkahi makanan kalian.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Semoga bermanfaat. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 6.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)
Posted in Dakwah Islam
Posted on 13 January 2010. Tags: Allah, Change Management Training, fenomena, Gajah, hidup mewah, Ice Breaking, Indonesia, kaum, keadilan, kondisi, menjengkelkan, merubah, Mr. Stuck, pekerjaan, penjara, pensiun, ruang tamu, seumur hidup, sistem hukum, surat Al-Anfaal, terjebak, tersiksa, timpang
“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Anfaal (8): 53)
Ilustrasi ini saya ambil dari materi Ice Breaking pada Change Management Training beberapa tahun lalu. Ceritanya adalah tentang orang kebanyakan yang terjebak dalam kondisi yang sangat tidak menyenangkan, tetapi karena tidak bisa/tidak mau merubahnya sampai lama kelamaan terbiasa hidup dengan kondisi tersebut.
Suatu hari Mr. Stuck yang sangat letih pulang kerja mendapati ada seekor GAJAH yang nongkrong di ruang tamunya. Meskipun kaget, sedih dan jengkel bukan kepalang – karena keletihannya Mr.Stuck memutuskan untuk membiarkan GAJAH tersebut di ruang tamunya dan berharap bisa mengusirnya esok pagi setelah kondisinya segar.
Esok paginya Mr. Stuck bangun kesiangan seperti biasanya, dia buru-buru berangkat kerja. Ketika melihat GAJAH masih nongkrong di ruang tamunya, dia berniat – nanti saja sepulang kerja mengusir gajah tersebut. Sore hari ketika dia pulang kerja, kembali sangat letih – dan memutuskan untuk mengusir GAJAH esok pagi saja.
Begitu seterusnya, hari berganti hari – tahun berganti tahun; Mr. Stuck meskipun dengan perasaan jengkel – dia dengan terpaksa hidup bersama GAJAH di ruang tamu seumur hidupnya.
Fenomena GAJAH di ruang tamu ini adalah cerminan hal yang mengagetkan, tidak seharusnya, menjengkelkan, dlsb yang ada di sekitar kita dalam bentuk yang bisa bermacam-macam. Dalam skala bangsa Indonesia yang lagi hangat misalnya adalah sistem hukum kita yang terasa sangat timpang.
Orang-orang kecil yang mencuri semangka, buah kakau, pisang dipenjara. Sementara yang merugikan negara trilyunan melenggang bebas, yang mengobok-ngobok kewibawaan hukum juga bebas. Well kalau toh diantara yang mengobok-ngobok rasa keadilan tersebut akhirnya di penjara, dia tetap hidup mewah bak hotel bintang lima di dalam penjara.
Sistem hukum yang demikian ini jelas sangat menjengkelkan kita sebagai rakyat, mungkin juga menjengkelkan para pemimpin negeri ini… tetapi karena mereka sangat letih dengan perbagai persoalan, saya tidak heran kalau sampai bertahun ke depan akan tetap ada ‘GAJAH nongkrong di ruang tamu’ tersebut di sistem hukum kita.
Dalam skala pribadi, masing-masing kita juga kadang punya masalah dengan tamu yang tidak diundang tersebut – GAJAH yang sudah terlanjur nongkrong di ruang tamu kita. Salah satu contohnya adalah pekerjaan yang tidak kita sukai, tetapi terpaksa kita jalani seumur hidup kita sampai pensiun.
Ada tes sederhana yang dapat mengukur apakah Anda cocok dan dapat menikmati pekerjaan Anda atau sebaliknya. Tes ini adalah dengan melihat apa yang Anda rasakan setiap Minggu sore/malam? Bila setiap minggu malam Anda lebih sering bahagia menyongsong pekerjaan esok hari, maka kemungkinan besarnya pekerjaan tersebut memang cocok untuk Anda dan Anda dapat menikmatinya.
Sebaliknya, bila Anda tidak bisa menikmati akhir pekan Anda karena membayangkan pekerjaan yang tidak menyenangkan hari Senin-nya; maka sangat bisa jadi pekerjaan yang Anda tekuni ini memang tidak cocok untuk Anda sehingga Anda tidak bisa menikmatinya. Bila ini yang terjadi maka pekerjaan inilah yang disebut ‘ada GAJAH nongkrong di ruang tamu Anda’. Hanya Anda sendiri yang bisa mengusir gajah tersebut, karena kalau tidak maka GAJAH tersebut tetap nongkrong di ruang tamu Anda sampai Anda pensiun – artinya Anda tersiksa seumur hidup dengan pekerjaan Anda. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Islamic View
Posted on 06 January 2010. Tags: Abu Malik, Al-Qur'an, Allah, Anas bin Malik, Asy-Sya'bi, basmalah, Bismika Allahumma, Bismillah, Bismillah al-Kabir, Bismillah al-Malik ar-Rahman, Bismillahilladzi la ilaha illa huwa, Bismillahir Rahman, Bismillahir Rahmanir Rahim, HR. Abdurrazaq; Ibnu Abi Syaibah; Ibnu Mundzir & Ibnu Hakim, HR. Abu Dawud, HR. at-Tirmidzi, HR. ath-Thabrani; Ibnu Sunni & Abu Ya'la, HR. Bukhari, HR. Ibnu Sunni, Husein bin Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, lafadz, muslimin, Rasulullah SAW, Sulaiman, surat Al-Baqarah, surat Al-Fatihah, surat Al-Hud, surat Al-Isra', surat An-Naml
Basmalah adalah bentuk isim masdar dari kata kerja Basmala – yuibasmilu yang artinya “membaca lafadz Bismillah ar-Rahman ar-Rahim”
Para ulama menerangkan hikmah bacaan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Dari semua itu dapat disimpulkan, bahwa dengan bacaan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim yang diucapkan di awal aktivitas berarti:
- Kita telah menghubungkan diri kita dengan Allah.
- Kita menyadari sepenuhnya bahwa perbuatan itu dilakukan karena Allah dan untuk meraih ridha-Nya.
- Kita menyadari sepenuhnya bahwa tanpa kekuatan yang diberikan Allah kita tidak akan mampu melakukan aktivitas apapun.
Lafadz-Lafadz BASMALAH
Terdapat beberapa perbedaan lafadz/teks basmalah, yaitu :
1. Bismillah (بسم الله)
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa keluar dari rumahnya membaca Bismillah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah.” maka dikatakan kepadanya, “Kamu telah tercukupi dan terlindungi”. Dan syetan pun akan menjauh darinya.” (HR. Abu Dawud)
2. Bismika Allahumma (بِسْمِكَ اللَّهُمَّ)
Al-Bukhari meriwayatkan, “Apabila Rasulullah SAW berbaring di tempat tidurnya, beliau membaca : “Bismika Allahumma ahya wa amut.”
3. Bismillah al-Kabir (بِسْمِ اللهِ الْكَبِيْرِ)
Ibnu Abbas menceritakan, “Rasulullah SAW pernah mengajari mereka (para sahabat) ruqyah demam dan penyakit-penyakit lainnya, (dengan do’a), “Bismillahi al-Kabir. a’udzu billah al-’Azhim min kulli ‘arqin…” (HR. at-Tirmidzi)
4. Bismillahir Rahman (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ)
Asy-Sya’bi menceritakan, biasanya orang-orang jahiliyah mulai menulis (surat) dengan kalimat “Bismikallahumma”. maka Rasulullah SAW pun memulai apa yang beliau tulis dengan “Bismikallahumma”. Sampai turun ayat “Bismillahi majreha wa mursaha” (QS. Al-Hud (11): 41), maka beliau pun mulai menulis dengan “bismillah“. Kemudian turun ayat “Ud’ullaha awir rahman” (QS. Al-Isra’ (17): 110), maka beliau pun mulai menulis dengan “Bismillahir rahman“. Tapi ketika turun ayat yang berbunyi “Innahu min sulaiman wa innahu bismilllahir Rahmanir Rahim” (QS. An-Naml (27): 30), maka beliau pun mulai menulis dengan “Bismillahirrahmanirrahim“. (HR. Abdurrazaq, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Mundzir dan Ibnu Hakim)
5. Bismillah al-Malik ar-Rahman (بِسْمِ اللهِ الْمَلِكِ الرَّحْمَنِ)
Husein bin Ali bin Abi Thalib meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Umatku akan selalu aman dari tenggelam, apabila naik kapal dengan membaca, “Bismillahil malikir Rahman, Bismillahi majreha wa mursaha inna Rabbi ghofurur Rahim.” (HR. ath-Thabrani, Ibnu Sunni dan Abu Ya’la)
6. Bismillahir Rahmanir Rahim (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ)
Abu Malik menceritakan, “Dahulu Rasulullah SAW menulis diawali degan kalimat “Bismika allahumma”, ketika turun ayat “Innahu min sulaiman wa innahu bismilllahirrahmanir Rahim.” (QS. An-Naml (27): 30), maka beliau pun mulai menulis dengan “Bismillahir Rahmanir Rahim“.” (HR. Abu Dawud)
7. Bismillahilladzi la ilaha illa huwa (بِسْم اللهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَِ)
Anas bin Malik meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Yang bisa menutupi aurat anak Adam (manusia) dari pandangan mata jin, ketika hendak menanggalkan pakaiannya adalah membaca “Bismillahil ladzi la ilaha illa huwa” (Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia).” (HR. Ibnu Sunni)
Dari beberapa lafadz di atas yang paling populer dan banyak diucapkan oleh kaum muslimin dan lebih utama untuk dibaca adalah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Karena lafadz itulah yang dipilih oleh Allah sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an:
وَإِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
“Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.“ (QS. An-Naml (27): 30)
Dan juga lafadz basmalah yang tertulis pada ayat pertama surat Al-Fatihah dan lafadz bismillah yang menjadi pemisah antar surat-surat dalam Al-Qur’an kecuali surat al-Baqarah yang memang tdak tertulis lafadz basmalah-nya. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dakwah Islam
Posted on 31 December 2009. Tags: 'Idain, adzan, Aisyah, berjamaah, bulan, do'a iftitah, gerhana, HR. Ahmad, HR. Muttafaqun ‘Alaih, Ibnu Abas, Ibrahim, KH. E. Abdurrahman, khutbah, masjid, matahari, qamat, rajih, Rasulullah SAW, shahih, shalat, shalat Gerhana, shalat Iedul Adha, shalat Iedul Fitri, shalat Khusuf, sharih, surat Al-Fatihah, Tahun Baru 2010, Takbiratul Ihram
Malam Tahun Baru 2010 bertepatan dengan terjadinya Gerhana Bulan yang insya Allah terjadi pada pukul 01.53 – 02.53 WIB (dini hari). Oleh karenanya marilah kita bersama-sama Shalat Gerhana berjamaah di masjid, sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW di saat terjadi peristiwa alam berupa Gerhana.
Pada zaman Rasululah SAW pernah terjadi Gerhana Matahari bertepatan dengan hari meninggalnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW. Menurut KH. E. Abdurrahman gerhana tersebut terjadi pada hari Senin, 29 Syawwal 10 H atau 27 Januari 623 M, pukul 08.30.
Berdasarkan riwayat yang shahih, sharih dan rajih Shalat Gerhana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebanyak 2 rakaat dengan 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud. Artinya pada setiap rakaat ada 2 ruku’ dan 2 sujud. Berikut ini dalil dan keterangannya,
(1) “’Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, ‘telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW. Beliau lalu mengutus seorang penyeru mengumandangkan “ASH-SHALATU JAMI’AH”. Kemudian beliau shalat empat kali ruku pada dua rakaat dan empat kali sujud.” (Shahih al-Bukhari I:362 no. 1016, Shahih Muslim II:620 no. 901, Shahih Ibnu Hibban VI:93 no. 2850, Sunan an-Nasai II:127no. 1465)
(2) Sahabat Ibnu Abas meriwayatkan, “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW, lalu beliau shalat, yaitu beliau berdiri panjang (lama) kira-kira (selama) membaca surat al-Baqarah, kemudian beliau ruku’ satu ruku’ yang panjang, kemudian beliau bangkit, lalu berdiri yang panjang, tetapi lebih pendek dari berdirinya yang pertama, kemudian beliau ruku satu ruku’ yang panjang, tetapi lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian beliau bangkit, lalu beliau sujud. Kemudian beliau berdiri yang panjang, tetapi lebih pendek dari berdirinya yang pertama, kemudian beliau ruku’, ruku’ yang panjang, tetapi lebih pendek dari ruku’nya yang pertama, kemudian beliau bangkit, lalu berdiri yang panjang, tetapi lebih pendek dari berdirinya yang pertama, kemudian beliau angkat kepalanya, lalu sujud, kemudian beliau salam, sedang matahari pun sudah terang, lalu beliau berkhutbah di hadapan orang ramai.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)
(3) “Dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata, ‘Telah terjadi germaha matahari pada masa Rasulullah SAW pada hari kematian Ibrahim. Orang-orang berkata, ‘telah gerhana matahari karena kematian Ibrahim’. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah; keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Karena itu, apabila kamu melihat keduanya gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, dan shalatlah hingga ia lepas.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

ba'da khutbah Shalat Khusuf di Islamic Center Graha Hijau 2 (photo by RW)
(4) Dalam riwayat Ahmad dari ‘Aisyah radhiyallahu anha diterangkan, “Telah terjadi gerhana pada zaman Rasulullah saw, beliau kemudian mendatangi tempat shalat, lalu bertakbir; dan orang-orang pun bertakbir. Kemudian (dalam shalat) beliau membaca dan beliau mengeraskan bacaan itu dan lama berdiri.” (Musnad Ahmad bin Hanbal VI:76 no. 24517)
(5) Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah; keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat kejadian itu, segeralah ke masjid.” (HR. Ahmad, Musnad Imam Ahmad bin hanbal V:428 no. 23679 dari Mahmud bin Labid)
Dari hadits-hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa:
- Shalat Gerhana (matahari/bulan) dilaksanakan sebanyak 2 rakaat, dengan 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud. Setiap rakaat ada 2 ruku’.
Caranya: Takbiratul Ihram, kemudian membaca do’a iftitah, lalu membaca surat al-Fatihah, kemudian membaca surat, lalu ruku’, kemudian bangkit dari ruku’, lalu membaca surat al-Fatihah dan surat lagi, lalu ruku’, bangkit, I’tidal, kemudian sujud dengan 2 kali sujud. Kemudian lakukan rakaat yang ke-2 seperti rakaat yang pertama
- Bacaan Shalat Gerhana dijaharkan (nyaring) seperti shalat ‘Idain (‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha)
- Tidak diawali dengan adzan dan qamat
- Dilaksanakan secara berjamaah
- Setelah shalat diadakan khutbah
- Sebelum shalat, dikumandangkan takbir sebagaimana takbir pada shalat hari raya.
- Dilaksanakan pada saat sedang terjadi gerhana.
Wa Allahu A’lam
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dakwah Islam
Posted on 10 December 2009. Tags: akhirat, Allah, Barovier & Toso, bumi, contoh sempurna, dunia, dunia usaha, earth, Hadits, Hadits Qudsi, heaven, Hotel Pilgrim Haus, Islam, Italia, Jepang, Jerman, keadilan, kehati-hatian, kejujuran, Kongo Gumi, langit, malaikat, Malaikat Mikail, Masakazu Kongo, muamalah, Muhammad SAW, Nilai-Nilai, rizki, uswatun hasanah, valid
Di dunia usaha ada ratusan perusahaan yang umurnya ratusan tahun, bahkan di Jepang ada perusahaan yang lahir tahun 578 atau hanya 8 tahun setelah kelahiran Nabi kita Muhammad SAW sebelum akhirnya tutup 3 tahun lalu 2006 – pada usia 1428 tahun! Perusahaan tersebut adalah Kongo Gumi yang menekuni bidang konstruksi. Saat ditutup Kongo Gumi dijalankan oleh Masakazu Kongo, yaitu generasi ke 40 dari pendirinya. Contoh-contoh lain banyak, diantaranya adalah perusahaan gelas di Italia Barovier & Toso yang berumur 710 tahun dan di Jerman ada Hotel Pilgrim Haus yang berumur 702 tahun.
Ada pelajaran sangat berharga dari perusahaan-perusahaan yang umurnya ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun tersebut, yaitu nilai-nilai yang di pegang oleh orang-orang yang menjalankannya. Jadi bukan capital, bukan teknologi, bukan bentuk perusahaan (koperasi, PT, BUMN, dlsb) dan bukan kepandaian seseorang yang membuat suatu perusahaan langgeng – tetapi adalah nilai-nilai yang dipegang bersama. Perusahaan-perusahaan yang usianya sangat-sangat panjang tersebut justru kebanyakan perusahaan keluarga yang memegang teguh nilai yang dibangun oleh pendirinya, kemudian diturunkan ke anak-anak, cucu-cucu, sampai cicit-cicitnya (saya tidak tahu istilah untuk menyebut cucu dari keturunan yang ke 40 seperti pada Kongo Gumi di atas!).
Nah bagaimana kita membangun usaha kita? Adakah nilai-nilai yang kita yakini dan pegang bersama? Jawabannya sebenarnya pada umumnya ada, dan ini pada sering dituangkan di situs perusahaan- laporan tahunan dan lain sebagainya. Masalahnya adalah mungkin perumusan nilai-nilai tersebut tidak terlalu dijiwai oleh para pelaku usaha itu sendiri, sehingga jangankan diturunkan – diamalkan oleh generasi pertama-pun tidak.
Kita sebagai umat Rasulullah SAW, sungguh beruntung kita memiliki uswatun hasanah – contoh yang sempurna untuk segala sendi kehidupan kita. Untuk berusaha/bekerja mencari penghidupan-pun, kita memiliki pedoman yang sangat baik. Salah satu contohnya adalah hadits di bawah ini (sayangnya saya tidak ketemu buku/kitab dimana saya menemukan hadits ini dulu, sehingga kalau toh ada kekeliruan dalam mengutibnya – saya mohon ampun hanya kepadaNya – dan saya hanya mengambil nilai-nilai yang terkandung di dalamnya).
Dalam sebuah Hadits diceritakan perintah Allah kepada Malaikat Mikail yaitu malaikat yang tugasnya mendistribusikan rizki. Terjemahan bebas dari perintah tersebut adalah sebagai berikut: “Kamu (Mikail) dalam melaksanakan tugas membagi rizki akan menemui 3 golongan manusia (maka perlakukanlah manusia tersebut sesuai golongannya). Golongan pertama adalah orang-orang yang hanya akhirat cita-citanya, maka kepada golongan ini jaminlah rizkinya di langit dan di bumi. Golongan kedua adalah orang-orang yang mencari rizki untuk hidupnya, untuk memberi nafkah anak istrinya , namun mereka melakukannya dengan penuh Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan, maka mudahkanlah dia dan beri dia yang baik-baik. Golongan ketiga adalah yang mencari di luar dari golongan pertama dan kedua (artinya tidak mencita-citakan akhirat, bahkan ketika mencari nafkah untuk diri dan anak istrinya kadang tidak jujur, kadang tidak hati-hati, kadang pula tidak adil), maka biarkanlah mereka (tidak dimudahkan/tidak ditolong, tidak pula diberi yang baik-baik) dan apabila mereka akhirnya (dengan susah payah) memperoleh apa yang mereka upayakan, itu tidak lebih daripada yang sudah Aku (Allah) tentukan”.
Belajar dari Hadits Qudsi tersebut, kita mungkin bukan termasuk golongan yang pertama. Namun kita tentu juga tidak ingin menjadi golongan ketiga. Maka pantaslah kalau kita mentargetkan minimal harus masuk golongan yang kedua yaitu golongan orang-orang yang akan dimudahkan dan diberi yang baik-baik oleh Allah. Namun syaratnya untuk mencapai golongan kedua ini kita harus berpegang teguh pada Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan. Ketiga hal ini Kejujuran, Kehati-hatian, dan Keadilan adalah nilai-nilai yang dibutuhkan dalam muamalah sepanjang zaman.
Karena nilai-nilai yang dibawakan oleh Islam ini valid sepanjang zaman, valid 1400 tahun lalu, valid sekarang dan valid hingga akhir zaman – maka seharusnya institusi apapun yang dibangun di atas nilai-nilai tersebut – tak terkecuali institusi usaha – dapat tetap exist sepanjang zaman – sejauh nilai-nilai ini tetap dipegang oleh para pelakunya. Mau rizki yang mudah, baik dan langgeng? Jujur, Hati-hati dan Adil kuncinya…!, Insya Allah.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Islamic View
Posted on 10 November 2009. Tags: beternak kambing, Dinar Investment Yield, HR. Bukhari dan Muslim, Kambing Peranakan Ettawa (PE), kambing Serawak, kambingnomics, Nabi, penyusutan aset, pesantren wirausaha, proteksi nilai, pupuk organic, Purworejo, qiraath, sistem ekonomi, sustainable growing asset, susu kambing, tawadhu
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali telah menggembalakan kambing”. Lalu para sahabat beliau bertanya: “Demikian juga engkau?” Beliau menjawab: “Ya, Aku dahulu menggembalakan kambing milik seorang penduduk Mekkah dengan imbalan beberapa qiraath.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama umumnya menafsirkan hadits tersebut dengan menguraikan beberapa kebaikan dari penggembalaan kambing diantaranya adalah: melatih kesabaran, mengembangkan sifat tawadhu, kasih sayang terhadap yang lemah, cinta usaha dan mandiri, membangun kekuatan jasmani, membangun keberanian, mengembangkan managerial skills, dlsb.
Saya ingin meng-elaborate salah satu saja dari kebaikan-kebaikan dari penggembalaan kambing ini dalam konteks ekonomi modern, yaitu growing asset (aset tumbuh) yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Coba perhatikan beberapa perbandingan berikut:
- Bila kita menaruh dana di bank dalam Rupiah, bagi hasil kita saat ini akan berkisar antara 6 – 7 % per tahun. Sementara inflasi rata-rata Indonesia sejak tahun 2001 – sekarang masih di atas 8 %, artinya uang kita yang di deposito bukannya tumbuh melainkan malah menyusut.
- Bila kita taruh uang kita dalam deposito US$, maka bagi hasil kita saat ini berkisar antara 1 – 3 % per tahun. Sementara inflasi rata-rata US$ dalam 38 tahun terakhir adalah 4.37%; lagi-lagi uang kita dalam US$ bukannya tumbuh tetapi malah menyusut.
- Bila kita taruh uang kita di Dinar; grafik tahunan yang selalu bisa dilihat di web kami, untuk setahun terakhir menunjukkan appresiasi nilai Dinar – per data pagi ini, ketika artikel ini saya buat - mencapai 23.67% setahun terakhir dan 383.94% untuk 10 tahun terakhir! Appresiasi nilai Dinar melambung hampir 3 kali angka inflasi; tetapi sesungguhnya Dinar Anda jumlah keping-nya tetap, hanya nilainya saja yang melonjak. Dinar adalah proteksi asset yang sangat efektif melindungi daya beli dari hasil jerih payah kita semua, tetapi Dinar yang disimpan saja tidak akan menjadi growing asset yang sesungguhnya.
- Kambing setiap tahun beranak, sekali beranak bahkan sering tidak hanya 1 ekor – kadang 2 bahkan ada yang sampai 4 ekor. Ambil angka terendahnya 1; ambil pula risiko kematiannya 1/10 anak kambing. Maka setiap tahun satu kambing menghasilkan 0.9 kambing; diambil lagi biaya pemeliharaannya 50%-nya maka masih menghasilkan 0.45 satuan kambing. Karena satuan kambing ini sama dengan satuan Dinar (sejak jaman Rasulullah SAW sampai sekarang, harga 1 kambing kelas rata-rata setara dengan 1 Dinar), maka investasi kita di kambing insya Allah akan memberikan hasil 45% per tahun dalam satuan Dinar. Dengan menggunakan Dinar Investment Yield memberikan hasil dalam Rupiah sebesar 88.56% atau dalam US$ setara dengan 61.37 %!
Jadi jelas bahwasanya memelihara kambing seperti yang dilakukan oleh para nabi, sesungguhnya tetap relevan sampai di jaman ekonomi modern saat ini sekalipun.
Bukan hanya dari sisi pertumbuhan asset yang berkelanjutan (sustainable growing asset) berupa kambing ini sendiri, tetapi manfaat lain yang sangat besar yang bisa dihasilkan oleh industri perkambingan ini yang seharusnya juga mendapatkan perhatian kita semua. Diantara manfaat ini adalah:
- Susunya adalah minuman yang bersih dan sehat.
- Kotorannya adalah salah satu bahan pupuk organic yang paling baik.
- Kulit dan bulunya menjadi bahan baku industri/kerajinan yang berkelanjutan.
- Pemeliharaannya menciptakan lapangan kerja yang sangat luas.
- Tidak dibutuhkan modal besar untuk memulai memelihara kambing.
- dlsb.
Dengan nilai ekonomi yang begitu tinggi dari industri perkambingan ini; tidak heran negeri jiran yang lebih teliti melihat peluang – tanpa kita sadari mengambil ribuan kambing kita setiap tahunnya. Bahkan Kambing Peranakan Etawa (PE) yang sesungguhnya bisa menjadi unggulan kambing Indonesia dengan Purworejo sebagi sentral produksinya – kini kambing tersebut mudah sekali dijumpai dalam skala besar di peternakan-peternakan kambing negeri jiran.
Hanya saja jangan harap kita menemui istilah Kambing PE disana, kambing yang asalnya dari Purworejo ini di negeri jiran telah berubah nama menjadi Kambing Serawak. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa untuk ini, karena ternak unggulan ini tidak mendapatkan perhatian yang semestinya dari pihak yang berwenang disini – maka tidak heran ternak unggulan ini kini di-openi dan dikembangkan orang lain.
Belum terlambat sebenarnya kita untuk memulai, oleh karenanya salah satu industri unggulan yang dipilih para peserta Pesantren Wirausaha – adalah industri perkambingan ini. Kita ingin mulai berperan secara serius di pentas perekonomian dengan mencontoh apa yang dilakukan para nabi, menggembala (baca: beternak) kambing. Insya Allah.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 3 votes)
Posted in Islamic View