Posted on 02 September 2010. Tags: akhirat, aktivitas ekonomi, Allah, anyaman, bahan material, Bahrain, bangunan, Bogor, buah, bumi, composites, Corporate Social Responsibility, CSR, Daarul Muttaqiin, dana, do'a, Gedebog Pisang, gedung, Hadits, HR. Bukhari, i'tikaf, ilmu, industri jamur, industri kambing, industri konstruksi, industri pertanian, Islam, Jawa Barat, Jonggol Farm, kambing pedaging, kapal, kelas eksekutif, kemakmuran, ketrampilan, konsultan, kontraktor, masjid, Masjid Demak, Masjid Gedebog, masyarakat, mengaji, menuntut ilmu, para ahli, pasar, pelepah kurma, pemikiran, pengalaman, pengetahuan, pesantren wirausaha, petani, peziarah, Rasulullah SAW, reguler, rumah, serbuk kayu, shalat, sinergi, sumber daya, sumber inspirasi, supplier, surat Huud, surga, Tahfidz Al-Qur'an, tali, tatal, teknologi, Wali
Masjidnya Rasulullah SAW dahulu pertama kalinya dibangun dari pohon dan pelepah kurma. Kemudian para Wali – penyebar agama Islam di negeri ini, konon membuat tiang Masjid Demak dengan tatal atau serbuk kayu. Maka kini umat yang berusaha mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para Wali tersebut, berniat untuk membangun Masjid dari bahan yang tersedia melimpah dan dengan teknologi yang tersedia pada zamannya… Masjid dari Gedebog Pisang dengan teknologi composites.
Mesjid yang akan kita juluki dengan nickname Masjid “Gedebog” namun nama resminya Masjid Daarul Muttaqqiin ini insya Allah akan segera dimulai pembangunannya. Masjid ini akan berada di lingkungan Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin – Jonggol Farm, Jonggol, Bogor – Jawa Barat, sekitar 26 km ke arah tenggara dari Jakarta.
Sebagaimana fungsi masjid pada umumnya yaitu tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT semata; termasuk namun tidak terbatas pada aktifitas shalat, mengaji, i’tikaf, menuntut ilmu, dlsb, Masjid “Gedebog” ini juga kami visikan sebagai sumber inspirasi dalam membangun kemakmuran umat.
Dasarnya adalah mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dalam hadits yang Diriwayatkan oleh Annas RA., “Beberapa barang datang kepada Rasulullah dari Bahrain. Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk membagikannya di masjid, dan barang itu merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima Rasulullah SAW. Ia meninggalkannya untuk shalat tanpa menengoknya sama sekali. Setelah usai shalat, Nabi duduk di depan barang-barang tersebut dan membagikannya kepada siapa saja yang ia lihat. Al Abbas datang kepada beliau dan berkata, ‘Wahai Rasulullah berikan padaku sebagian barang-barang itu, karena saya perlu memiliki bekal untuk saya dan Aqil.’ Rasulullah lalu meminta ia untuk meng- ambilnya sendiri…”. (HR. Bukhari)
Visi kemakmuran dunia dan akhirat sebagaimana tertuang dalam do’a yang paling mashur ‘Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ‘adzabannar’ ini kemudian kami artikulasikan dalam langkah-langkah konkrit sebagai berikut:
- Pembangunan Masjid “Gedebog” ini akan melibatkan aktifitas ekonomi dari ribuan atau bahkan puluhan ribu masyarakat langsung maupun tidak langsung. Yang langsung adalah aktifitas para ahli, pekerja, supplier, konsultan, kontraktor dan sub kontraktor; sedangkan yang tidak langsung adalah para petani yang mengumpulkan gedebog kemudian mengolahnya menjadi anyaman atau tali, para pengumpulnya, jasa transportasinya, dst.
- Pengalaman membangun masjid dengan teknologi material composites ini akan menjadi pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan kolektif masyarakat yang terlibat di dalamnya. Dengan ketrampilan tersebut, insya Allah secara bersama-sama kita bisa menggarap pasar yang lebih luas – yaitu industri konstruksi secara umum, tidak hanya masjid – tetapi sesudah ini rumah-rumah, gedung-gedung dan bahkan kapal-kapal yang dibutuhkan sangat banyak untuk negeri kepulauan inipun bisa kita bangun sendiri dengan teknologi composites yang sama.
- Para jamaah dan peziarah yang akan mengunjungi masjid ini insya Allah kelak akan selalu terstimulasi pikiran dan kreatifitasnya, bahwa dari bahan gedebog yang selama ini dipandang tidak berguna, dengan izin Allah bisa dibangun bangunan yang kokoh – tempat mengagungkan namaNya. Insya Allah generasi masyarakat yang kreatif mensyukuri nikmat Allah, mengolah dan memakmurkan bumi akan benar-benar lahir. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud [11]: 61).
- Setelah masjid ini jadi nantinya; berbagai program untuk memakmurkannya telah menanti. Sekolah Tahfidz Al-Quran sejak usia dini, pesantren wirausaha kelas reguler dan eksekutif, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Pusat Pemberdayaan Umat, dlsb adalah beberapa program untuk kemakmuran masjid yang telah hampir tuntas kami susun.
- Lokasi Masjid yang berada di pusat kegiatan Jonggol Farm yang di dalamnya sudah mulai berjalan embrio industri kambing susu dan kambing pedaging, industri susu kambing dan produk-produk turunannya, industri jamur dan pengolahan produk jamur, industri pengolahan buah dan hasil pertanian, dlsb insya Allah akan mendekatkan program pemakmuran umat ini dengan realitas ekonomi modern.
- Masjid yang dibangun dari Gedebog Pisang yang merupakan salah satu tanaman surga ini insya Allah juga akan membawa nuansa tidak terputusnya urusan dunia kita dengan urusan akhirat, surga menjadi nampak begitu dekat setiap kali kita memandangi dan mengolah pohon-pohon pisang ini – semoga dengan pohon pisang yang kita olah menjadi rumahNya ini, kelak di akhirat kita benar-benar diizinkanNya untuk sampai kesana “…berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…”. (QS. Al-Waqi’ah [56]: 28-30)
Bagaimana Anda dapat terlibat dalam program ini? Sebagai individu Anda dapat membantu kami dengan dana, sumber daya, material, pemikiran dan minimal do’a. Bila Anda bekerja di perusahaan-perusahaan atau institusi-institusi yang memiliki program Corporate Social Responsibility, Anda dapat menjadi penghubung kami agar person in charge untuk CSR di korporasi atau institusi Anda setidaknya aware atas apa yang sedang kami usahakan – dan siapa tahu, apa yang kami lakukan in line dengan yang mereka pikirkan sehingga kita bisa bersinergi.
Penjelasan lebih detil dari Masjid “Gedebog” Daarul Muttaqiin ini tersedia dalam bentuk file PDF yang dapat Anda unduh dengan klik disini. Bila diperlukan penjelasan lebih detil atau bahkan presentasi khusus, insya Allah dengan senang hati kami akan dapat lakukan.
Bila kelak masjid ini selesai terbangun, insya Allah ini akan menjadi pencapaian maksimal dari upaya hamba-hamba Allah yang lemah ini dalam memahami dan mensyukuri nikmatNya, mencerna sebagian kecil dari ilmu yang diberikan olehNya, menerapkan teknologi yang telah dimudahkanNya dan memadukan serta menggalang kekuatan umat yang telah digerakkan hatinya oleh Dia yang menguasai hati.
LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH…
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 31 August 2010. Tags: Al-Qur'an, Allah, bangunan, belajar, DPR, emosi, Empatheia, empathy, gedung baru, Indonesia, internet, Islam, Karyawan, keimanan, kelaparan, kemiskinan, keselamatan, La Defense, lingkungan, masyarakat, mukmin, nishab zakat, Orang Hebat, Paris, peka, pengalaman, perasaan, perusahaan, pimpinan, puasa, rakyat, Ramadhan, Rasulullah SAW, studi banding, suami istri, surat At-Taubah, suri tauladan, uswatun hasanah, wakil rakyat, Yunani
Empathy berasal dari bahasa Yunani Empatheia yang artinya secara ringkas adalah kemampuan untuk dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain – secara emosi, pengalaman maupun perasaan. Bulan puasa sebenarnya adalah bulan yang tepat bagi kita semua untuk melatih diri kita masing-masing, agar kita mampu ber-empathy terhadap apa yang dialami orang-orang lain yang tidak seberuntung kita-kita yang terbiasa mengakses internet ini.
Bagi kita lapar hanya siang hari, itupun kebanyakan hanya selama sebulan Ramadhan ini. Di negeri yang rata-rata penduduknya masih di bawah garis kemiskinan menurut standar Islam yaitu di bawah Nishab Zakat ini, berjuta-juta orang bisa jadi lapar dalam kondisi kesehariannya, siang dan malam sepanjang tahun. Kebanyakan kita tidak bisa ikut merasakan apa yang mereka alami secara perasaan dan emosi karena kita belum mampu melatih empathy kita terhadap mereka.
Segelintir orang-orang hebat di sekitar kita, mampu ber-empathy ini secara penuh – bahkan ketika mereka sering menangis pun bukan karena merasa kesedihan untuk dirinya sendiri; mereka menangis karena merasakan penderitaan orang-orang yang diurusnya. Mereka bukan pejabat yang kita pilih karena janji-janjinya untuk mensejahterakan rakyat, mereka tergerak untuk berbuat karena dorongan empathy tadi.
Kalau saja yang kita pilih sebagai para wakil kita, para pimpinan daerah sampai presiden adalah orang-orang yang mampu ber-empathy seperti suami istri yang saya ceritakan dalam tulisan “Belajar dari Orang Hebat Di Sekitar kita“, maka besar kemungkinan rakyat ini tidak ada lagi yang sampai harus kelaparan sepanjang tahun.
Mungkin karena salah kita sendiri, memilih orang-orang yang tidak mampu ber-empathy terhadap penderitaan rakyat sehingga baik wakil kita maupun pemimpin-pemimpin kita – nampaknya memang tidak peduli dengan kita – rakyatnya. Ketika rakyat rame-rame menolak wakil kita membuat gedung baru misalnya, pagi ini untuk pertama kalinya saya lihat rancangan bangunan yang mulai disosialisasikan.
Entah ide siapa ini, tetapi sepintas nampaknya DPR kita ingin berkantor di kantor yang mirip dengan bangunan La Défense – Paris, dikala rakyatnya masih banyak yang kelaparan. Lihat perbandingan design gedung baru DPR-RI dengan La Défense di atas – mirip bukan? Mungkinkah ini oleh-oleh dari salah satu studi banding mereka?
Tetapi tidak ada gunanya juga kita menyesali pilihan kita terhadap wakil-wakil kita di DPR maupun pimpinan pemerintahan di daerah sampai pusat. Sebagai pribadi, sebagai karyawan swasta, sebagai pimpinan di perusahaan – kita semua insya Allah masih bisa mengasah empathy kita untuk peka terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar – antara lain melalui puasa Ramadhan ini..
Bila empathy ini tumbuh secara menjamur di masyarakat, maka insya Allah segala beban penderitaan bangsa ini akan bisa diatasi. Bila empathy tumbuh di masyarakat pula, maka insya Allah di tahun 2014 kelak ketika kita memilih wakil kita kembali dan juga pimpinan-pimpinan negeri ini – kita bisa mendapatkan orang-orang yang tumbuh juga kemampuan nya untuk ber-empathy terhadap kita yang diwakili atau dipimpinnya.
Cukuplah uswatun hasanah kita Rasulullah SAW sebagai suri tauladan, kemampuan beliau ber-empathy terhadap umatnya sampai diceritakan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah [9]: 128)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 27 August 2010. Tags: Abu Hurairah R.A., Allah, anggaran belanja, bangunan, batang pisang, composites, Daarul Muttaqiin, ekspor, gandum, Gedebog Pisang, Hadits Qudsi, ilmu, impor, India, Indonesia, Intelectual Property Right, investasi, ironi, kapas, keimanan, kemakmuran, konsumsi, mahasiswa, miskin, Nabi, PDB, pemerintah, pesantren wirausaha, pisang, pohon pisang, serat, sponsor penilitian, surat Al-Waqi'ah, surga, sutera, syukur nikmat, tanah, tanaman, teknologi, tekstil, tepung pisang, tepung terigu
Pasti bukan suatu kebetulan kalau Allah mengabarkan ke kita bahwa para penghuni surga dari golongan kanan – yaitu golongan yang dimuliakan oleh Allah, kelak akan menikmati pahalanya “…berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas…”(QS. Al-Waqi’ah [56]: 28-30). Allah rupanya menginginkan kita menikmati sebagian kecil dari kenikmatan surgawi tersebut selagi kita masih di dunia – dengan mudahnya Tanaman Pisang ini tumbuh di bumi pertiwi.
Istimewanya benda-benda di surga adalah semuanya baik-baik dan tidak ada yang buruk. Jadi kalau ada tetesan kecil dari benda yang ada di surga – yaitu Pohon Pisang tersebut – di sekitar kita, pastilah manfaatnya sangat besar untuk kemakmuran kita di dunia ini. Bahwasanya selama ini kita belum menyadarinya, bisa jadi ini karena 3 hal:
- Karena keimanan kita belum cukup kuat untuk meyakini bahwa surga itu ada dan apa-apa yang dikabarkan oleh Allah tentang surga tersebut adalah benar.
- Karena kita kurang mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkannya ke negeri ini – dari setetes kenikmatan surga yang ada.
- Karena ilmu kita yang belum sampai untuk memahami nikmat berupa manfaat yang begitu besar dari pohon surga yang dengan izinNya – sangat mudah tumbuh di negeri ini.
Pada tulisan ini saya akan fokus ke masalah ke-3, yaitu memahami manfaat yang begitu besar dari pisang ini untuk memakmurkan negeri. Kita tahu bahwa salah satu indikator kemakmuran suatu bangsa adalah Pendapatan Domestik Bruto atau PDB-nya. Di dalam tulisan saya sebelumnya saya jelaskan bahwa unsur yang membentuk PDB adalah Konsumsi, Investasi, Belanja Pemerintah, Ekspor dan Impor. 4 unsur pertama positif, dan 1 unsur terakhir negatif.
Artinya bila kita banyak konsumsi (tentu banyak karena kita ada 235 juta penduduk!), tetapi kita tidak kunjung makmur (tidak kunjung tinggi PDB-nya) ini adalah karena ada porsi yang amat besar dari konsumsi tersebut yang harus diimpor. Untuk kebutuhan bahan pangan berupa gandum misalnya, tahun lalu negeri ini perlu mengimpor sampai 4.66 juta ton senilai kurang lebih Rp 22.5 trilyun! Untuk kebutuhan pakaian kita yang berasal dari kapas, 99.5 %-nya masih harus diimpor!
Lantas apa kaitannya tanaman pisang dengan kemakmuran tersebut? Rupanya disinilah rahasianya. Tanaman dari surga yang tidak menyisakan sedikit-pun barang yang tidak berguna ini, sesungguhnya bisa memenuhi 3 kategori kebutuhan pokok kita sekaligus yaitu sandang, pangan dan papan.
Serat batang pisang yang diolah dengan baik, dapat menjadi serat untuk bahan tekstil yang kwalitasnya bahkan lebih baik dari kapas – dia mendekati sutera. Bila kita paksakan tanam kapas – produksi kita hanya dapat memenuhi 0.5% dari kebutuhan kapas kita – lantas mengapa tidak kita beralih ke Gedebog Pisang sebagai sumber serat tekstil kita? Pisang tumbuh dimana saja di seantero negeri, dan setiap satu batang pisang mengandung serat yang sangat banyak – insya Allah kebutuhan serat untuk pakaian ini akan dapat digantikan oleh Serat Gedebog Pisang. Bila ini dapat kita lakukan, maka kita dapat memutus kebutuhan impor kita akan kapas.
Bila kita belum bisa mengolah Serat Pisang secara halus untuk bahan tekstil, pengolahan Gedebog Pisang secara sederhana sudah akan dapat menghasilkan bahan bangunan yang perkasa dengan teknologi composites yang kita punya. Ini dapat mendorong Konsumsi, Investasi dan bahkan Ekspor yang semuanya berdampak positif pada PDB yang berarti juga kemakmuran.

Republik PISANG = Negeri yang Makmur
Buah Pisang yang selama ini hanya dikonsumsi sebagai buah, dan cenderung dihargai murah pada saat panen pisang di sentra-sentra produksinya – sesungguhnya dapat diolah menjadi Tepung Pisang yang bergizi tinggi dan rasa dasar yang enak. Tepung Pisang ini dapat menjadi substitusi Tepung Terigu/Gandum yang selama ini sepenuhnya kita impor. Bila sedikit demi sedikit impor Tepung Gandum tersebut dikurangi dan menggantinya dengan Tepung Pisang – maka disitulah proses kemakmuran itu akan dimulai.
Karakter Pisang yang bisa tumbuh dimana saja, juga akan merupakan alat untuk menyebar luaskan kemakmuran ke sejumlah besar petani.
Walhasil dengan membudidayakan Pohon Pisang secara luas dan memanfaatkan gedebog maupun buahnya untuk menutupi kebutuhan sandang, pangan dan papan dari 235 juta penduduk negeri ini – pasti ini adalah proyek RAKSASA yang akan mampu mengdongkrak PDB (kemakmuran negeri ini) dari peningkatan Konsumsi, Investasi, Belanja Pemerintah dan Bahkan Ekspor. Pada saat yang bersamaan impor akan menurun karena kebutuhan impor terigu dan kapas dapat ditekan seminimal mungkin.
Realistiskah proyek Pisangisasi ini? Tergantung iman dan ilmu kita untuk menjawabnya. Bila iman kita kuat dan yakin betul bahwa Allah telah melimpahkan nikmatnya ke kita, maka itulah yang diberikan Allah. Dalam sebuah hadits Qudsy dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi SAW bersabda : “Allah Ta’ala berfirman: “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok, Aku mengingatnya dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Dari sisi keilmuan sebagian kita kuasai, sedangkan sebagian lain mungkin memang kita masih harus banyak belajar. Mengolah pisang menjadi Tepung Pisang misalnya, saya rasa sarjana-sarjana teknologi pangan di negeri ini yang jumlahnya sudah puluhan ribu insya Allah sudah dengan mudah dapat mengolahnya.
Mengolah Gedebog menjadi bahan bangunan yang kokoh, insya Allah kami di kelompok Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) dalam waktu dekat juga sudah akan menguasai teknologinya.
Mengolah gedebog menjadi bahan tekstil kwalitas tinggi, ini kita yang masih perlu banyak belajar. Di India sebagai produsen Pisang terbesar di dunia, hal ini sudah dilakukan orang – bahkan kami juga sudah berhasil menemukan ahlinya disana, hanya karena dilindungi oleh Intelectual Property Right – kami masih kesulitan untuk belajar ilmunya.
Namun ilmu-ilmu ini semua saya yakin tidak ada yang terlalu sulit untuk dikuasai, oleh karenanya melalui tulisan ini saya mengundang para peneliti maupun mahasiswa S1, S2 atau S3 yang tertarik untuk mendalami serat tekstil berkwalitas tinggi dari Gedebog Pisang ini untuk bergabung dengan team kami – PWDM insya Allah bersedia menjadi sponsor penelitian Anda.
Melalui tulisan ini pula saya ingin mengajak kita semua untuk rame-rame menanam tanaman dari surga ini di tanah-tanah kita yang selama ini belum diproduktifkan, bersamaan dengan tumbuhnya Pohon Pisang tersebut – kita cari teknologinya bersama-sama untuk mengolah hasilnya baik Gedebog maupun Buah Pisangnya.
Sungguh akan menjadi ironi besar bila sampai beberapa tahun ke depan bangsa ini masih tetap miskin, sedangkan tanaman dari surga-pun dapat leluasa tumbuh di sekitar kita. Semoga Allah menunjuki jalanNya yang terang benderang ke kita semua. Amin.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 16 August 2010. Tags: Allah, amal nyata, amal shalih, anak sekolah, belajar, belajar efektif, biaya pendidikan, ceramah, duduk di kelas, duduk di majelis, gratis, Jakarta Timur, jenazah, kampanye, keikhlasan, makan siang, mantan pilot, manula, membaca buku, mengaji, Orang Hebat, orang miskin, orang tua renta, pejabat publik, pemimpin, pendidikan luar sekolah, politikus, praktek langsung, project amal, seragam, SMA, SMP, suami istri, teknologi, ustadz
Sering kita mendengar ceramah dari ustadz-ustadz kondang di televisi, tetapi tidak menggerakkan kita untuk beramal. Demikian pula banyak pejabat tinggi negeri ini, para politikus, pimpinan-pimpinan daerah berorasi berapi-api (terutama saat kampanye!) tetapi lagi-lagi tidak menggerakkan amal perbuatan yang berarti. Mengapa demikian? Bisa jadi karena apa yang mereka sampaikan tidak keluar dari hati, atau tidak berdasarkan amal nyata yang mereka contohkan.
Sebaliknya ada orang-orang tertentu, mereka bukan ustadz dan bukan pula pejabat. Mereka tidak pula pernah menyuruh kita berbuat ini itu – tetapi justru dari apa yang mereka perbuat – kita tergerak untuk beramal shalih mengikuti jejaknya. Bagi saya inilah orang-orang hebat itu, dengan izin Allah mampu menggerakkan orang lain untuk berbuat sesuatu yang positif secara maksimal. Mereka inilah guru-guru dari kategori orang-orang hebat yang digerakkan Allah langsung untuk mengajari kita beramal.
Alhamdulillah saya ketemu orang-orang seperti ini dengan profile yang di luar bayangan kebanyakan orang. Ada suami istri di bilangan Jakarta Timur yang menurut saya luar biasa. Sang suami mantan pilot berusia di atas 70 tahunan; sang istri nampak jauh lebih muda meskipun usianya juga sudah 60-an. Yang membuat mereka luar biasa adalah apa yang mereka lakukan.
Sekitar 20 tahun lalu, mereka mulai menangis tergerak hatinya melihat kemiskinan yang ada di sekitarnya. Melihat anak-anak usia sekolah yang orang tuanya tidak mampu membayar iurannya sehingga tidak bisa sekolah. Melihat orang-orang tua renta – miskin di sekitarnya yang tidak ada yang mengurus.
Maka mulailah suami istri ini mendirikan pendidikan luar sekolah untuk anak-anak tersebut yang sepenuhnya GRATIS, termasuk seragam dan makan siangnya. Juga mulai menyantuni satu demi satu para manula yang terlantar di sekitarnya.
Kini 20 tahun kemudian, ada sekitar 500-an orang setingkat SMP dan SMA yang sekolah GRATIS di tempat ini lengkap dengan segala sesuatu yang dibutuhkan para siswa seperti buku-buku, seragam dan makan siangnya setiap hari sekolah!
Untuk orang lanjut usia yang kini dalam daftar santunan suami istri hebat ini telah mencapai 100 orang. Setiap ketemu ibu ini, saya sering sekali melihat dia menangis – bukan menangisi dirinya sendiri dan bukan pula oleh beban berat yang ditanggungnya – tetapi menangisi penderitaan orang-orang yang disantuni ini.
Setiap kali beliau memandikan jenazah orang-orang yang disantuni ini – (karena yang disantuni adalah lanjut usia, berhentinya santunan ya ketika mereka satu per satu meninggal dunia), datang pula sekian banyak manula lain yang mendaftar untuk disantuni.
Lantas dari mana sumber dana suami istri ini untuk membiayai seluruh pendidikan 500-an siswa siswi dan 100-an manula ini? Sedangkan keduanya tidak bekerja lagi dalam arti mencari nafkah kayak kita-kita? Jawaban yang mereka selalu sampaikan bila ada yang menanyakan hal ini adalah semata dari Allah. Mereka tidak pernah minta sumbangan kemanapun, tetapi Allah-lah yang menggerakkan orang-orang lain untuk datang dan menyumbang biaya pendidikan anak-anak tidak mampu tersebut dan santunan para manula.
Bahkan untuk tulisan inipun saya tidak sebutkan nama yayasan dan lokasi tepatnya agar tidak mengurangi keikhlasan suami istri tersebut, namun bila diantara Anda pembaca ada yang tergerak untuk membantu perjuangan suami istri hebat ini – silahkan hubungi kami, nanti akan diberikan alamat jelas dan nama yayasannya untuk Anda sampaikan langsung kepada mereka.
Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari perjuangan suami istri ini?
1) Kita bisa mengikuti jejak beliau-beliau ini dengan mendukung langsung apa yang mereka lakukan. Dukungan ini yang paling bermanfaat adalah berupa dana karena akan selalu dibutuhkan; tetapi terkadang juga tenaga. Pagi ini ketika saya bertemu lagi keluarga ini, mereka lagi sangat membutuhkan ahli bordir yang mau menyumbangkan ilmunya untuk melatih para siswa siswi yang dibina suami istri ini untuk bisa mandiri. Pasalnya ada yang menyumbang sejumlah mesin bordir yang sangat bermanfaat, namun belum diperoleh siapa yang mengajari penggunaannya.
2) Bagaimana kita bisa rame-rame copy-paste apa-apa yang dilakukan suami istri ini, bukan hanya untuk Jakarta Timur tetapi juga untuk berbagai daerah lain. Anak-anak miskin yang tidak bisa sekolah dan orang-orang usia lanjut yang tidak ada yang urus bukan hanya monopoli Jakarta Timur, problem sejenis merata ke hampir seluruh nusantara.
Suami istri ini dengan senang hati, bila diantara kita ada yang mau magang – belajar langsung dari mereka ini bagaimana mengelola ‘project amal’ semacam ini. Nampaknya memang tidak mudah, tetapi beliau-beliau ini sudah membuktikan bahwa ini bisa dilakukan. Bahkan menurut beliau, kita-kita harus bisa melakukannya dengan lebih baik karena kita lebih muda, menguasai teknologi, memiliki jaringan dan lain sebagainya yang mereka tidak memiliki-nya ketika 20 tahun lalu memulai.
Terkadang belajar yang baik tidak harus duduk di kelas dan membaca buku, mengaji yang baik tidak harus duduk di majelis dan mendengarkan ceramah – terkadang kita bisa belajar lebih efektif dengan mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh para pelaku langsung seperti pasangan suami istri di atas.
Semoga Allah memudahkan kita semua pada Amal Shalih yang diridloi-Nya. Amin.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 11 August 2010. Tags: Allah, anak yatim, ekspor, Gedebog Pisang, hamba sahaya, impor, Indonesia, investasi, jalan mendaki, Jamur, kapas, kaya, kemakmuran, kerja keras, konsumsi, memberi, mie instant, miskin, MOCAF, musafir, nishab zakat, pangan, PDB, PDB per Kapita, pengelolaan harta, Pengeluaran Pemerintah, Produk Domestik Bruto, produk import, puasa, Ramadhan, sagu, sandang, serat, sinergi, surat Al-Baqarah, takwa, tambah miskin, tepung garut, tepung pisang, terigu
Pada bulan Ramadhan seperti ini, ayat yang paling banyak kita dengar dari ceramah-ceramah adalah ayat “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al-Baqarah [2]: 183). Lantas sekian puluh tahun kita berpuasa di bulan Ramadhan, adakah kita sudah mencapai derajat orang-orang yang bertakwa ini?
Mungkin hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya; namun untuk menjawab ini kita butuhkan tolok ukur yang baku tentang siapa orang-orang yang bertakwa ini. Tolok ukur yang baku ini ada di 6 ayat sebelum ayat tersebut di atas yaitu tepatnya berbunyi “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 177)
Secara individu di antara 235 juta penduduk Indonesia, sangat mungkin ada sekian juta orang yang mencapai atau mendekati derajat takwa – namun secara nasional nampaknya derajat ketakwaan ini masih rendah. Mengapa demikian? Perhatikan tulisan saya sebelumnya “Jalan Mendaki Lagi Sukar” yang didalamnya terdapat statistik bahwa rata-rata penduduk Indonesia ternyata tergolong miskin berdasarkan standar Nishab Zakat.
Kalau rata-rata miskin, lantas siapa yang bisa memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya? Lha wong sama-sama miskin, lebih banyak yang sama-sama berhak diberi ketimbang yang memberi.
Perhatikan salah satu kata kunci “memberi…” untuk mencapai “…orang-orang yang bertakwa” dalam ayat di atas, artinya adalah diperlukan derajat kemakmuran sedemikian rupa bagi bangsa ini sehingga rata-rata penduduknya berpenghasilan lebih besar dari Nishab Zakat. Bila sekarang rata-ratanya hanya sekitar 82.5% dari Nishab Zakat, maka diperlukan kenaikan PDB per Kapita sekitar 21% dari angka sekarang agar rata-rata penduduk negeri ini masuk kategori orang yang bisa memberi.
PDB per Kapita adalah Produk Domestik Bruto (PDB) dibagi dengan jumlah penduduk. PDB sendiri adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. Jadi untuk menaikkan PDB per Kapita minimal 21 % dari kondisi yang ada, diperlukan kenaikan dengan persentasi yang sama untuk PDB secara nasional.
Lantas bagaimana kita bisa secara bersama-sama meningkatkan PDB yang merupakan representasi dari kemakmuran ini? Pertama kita harus tahu apa-apa yang bisa menaikkan PDB dan apa-apa yang menurunkannya. Salah satu pendekatan perhitungan PDB adalah menggunakan pendekatan pengeluaran sebagai berikut:
PDB = Konsumsi + Investasi + Pengeluaran Pemerintah + Ekspor - Impor
Ketika orang-orang yang kaya memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, maka kemungkinannya adalah harta tersebut akan dikonsumsi – karena inilah kebutuhan utama bagi orang yang tidak mampu. Ketika Konsumsi meningkat – maka PDB akan meningkat.
Tetapi nanti dulu, bila barang-barang yang dikonsumsi oleh penduduk tersebut ternyata adalah produk impor atau produk yang bahan bakunya impor; bersamaan dengan konsumsi naik – maka impor-pun naik sehingga PDB belum tentu meningkat. Karena nilai Impor menjadi faktor pengurang dalam perhitungan PDB tersebut di atas, maka semakin besar Impor – semakin rendah PDB atau semakin miskinlah kita semua.

Umat Islam 'bisa' berSINERGI?
Inilah problem kita. Ketika kita membagi-bagikan makanan dalam berbagai kesempatan, kita sering membagi-bagikan mie instant yang berbahan baku terigu – yang mayoritasnya berbahan baku Impor. Ketika kita membagi pakaian, pakaian tersebut terbuat sebagian besarnya dari kapas. Kapas yang dipakai untuk memproduksi pakaian-pakaian kita 99.5%-nya adalah Impor.
Jadi, selagi ketergantungan kita begitu besar pada sandang dan pangan yang berbasis bahan baku Impor – maka PDB tersebut menjadi sulit terangkat. Setiap kali Konsumsi meningkat, Impor juga meningkat.
Maka yang diperlukan berikutnya adalah diperbanyak Investasi untuk mengolah potensi-potensi yang ada di sekitar kita – yang ada di negeri ini – minimal untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Diperlukan pula Pengeluaran Pemerintah yang mendorong atau memfasilitasi Investasi tersebut. Investor yang mengolah bahan baku lokal harus dipermudah dengan kemudahan peraturan dan fasilitas, agar PDB terangkat.
Investasi dan Pengeluaran Pemerintah hendaknya difokuskan untuk mencari solusi pengganti dari ketergantungan produk atau bahan baku Impor. Bila selama ini kita diserbu oleh bahan baku pangan berupa terigu yang harus diImpor misalnya, mengapa tidak didorong usaha-usaha yang meng-eksplorasi bahan pangan lokal seperti jamur, tepung pisang, tepung garut, sagu, mocaf (modified cassava flour), dlsb?
Demikian juga untuk sandang, Indonesia hanya sedikit sekali produksi kapasnya – hanya sekitar 0.5% dari kebutuhan. Lantas mengapa tidak difokuskan mencari bahan baku sandang yang tidak tergantung pada kapas yang harus diimpor 99.5%-nya, kita ganti dengan serat dari Gedebog Pisang yang tumbuh dengan mudah di seluruh negeri misalnya.
Dengan kita menyadari apa-apa yang meningkatkan PDB dus meningkatkan pula PDB per Kapita atau kemakmuran tersebut di atas – dan apa-apa pula yang menurunkannya; maka insya Allah kita bisa berbuat searah dengan upaya peningkatannya – dan bukan sebaliknya.
Tentu hal ini tidak ada yang mudah dan inilah “Jalan Mendaki Lagi Sukar” itu; juga tidak akan terjadi secara instant, perlu kerja keras bertahun-tahun dengan mensinergikan seluruh elemen umat. Namun bila kita tidak mulai-nya dari sekarang, sulit membayangkan kapan kemakmuran akan datang kepada umat ini?
Maka melalui ibadah puasa kita tahun ini, marilah kita berlomba mencapai derajat takwa yang sesungguhnya, derajat takwa yang membawa kita untuk mampu “memberi…”, derajat takwa yang memakmurkan!!! Insya Allah…
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 26 July 2010. Tags: Al-Qur'an, bapak para nabi, baru belajar, bibit padi, budaya suap, bulir padi, Daarul Muttaqiin, dialog ketauhidan, ekonomi, gagal panen, ilmu perpadian, Karyawan, kekuatan, korupsi, kuasa Allah, memberi makan, memberi minum, Nabi Ibrahim, panen padi, pekerjaan, pelajaran, Pemberi Rizki, pesantren wirausaha, petak sawah, petani, pupuk organic, riba, ribawi, rizki, sumber air, sumber rizki, surat Asy-SYu'araa', syariah, takut dipecat, tauhid
Kemarin adalah hari yang luar biasa bagi kami di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin, hari dimana kami kembali memanen padi yang kami tanam sendiri – setelah 40 tahun saya sendiri tidak melakukannya, karena sebelum ini panen padi terakhir yang saya ingat adalah panen padi semasa kecil di tahun 1970-an. Namun bukan panen padi-nya sendiri yang menjadikan ini luar biasa, tetapi pelajaran yang bisa kami peroleh dari padi-padi yang kami tuai tersebut.
2 minggu sebelumnya, petak-petak sawah tetangga kami juga dipanen. Tentu petaninya lebih berpengalaman dari kami sendiri karena seumur-umur memang ini pekerjaan mereka. Ketika sama-sama belum dipanen, hamparan padi merekapun nampak lebih hijau karena memang dipupuk dengan sangat memadai. Namun rupanya Allah berkehendak lain, ketika padi dipanen oleh tetangga kami tersebut – sangat sedikit yang ada isinya. Panenannya gagal tahun ini tanpa bisa dijelaskan – apa yang menyebabkan padinya tidak berisi.
Padi kami sendiri alhamdulillah, meskipun dipupuk seadanya dengan pupuk organik – hasilnya menunjukkan panenan yang baik karena mayoritas padinya berisi. Apakah ini karena kami lebih mengetahui tentang ilmu perpadian dari tetangga-tetangga kami? Tentu tidak – karena kami baru belajar kembali tentang ilmu perpadian ini. Yang jelas tidak ada kekuatan lain dalam hal ini selain kekuatanNya, siapa yang bisa memberi isi ke dalam bulir-bulir padi tersebut bila Dia tidak menghendakiNya?
Disinilah letak pelajaran itu; ketika melihat bulir padi yang berisi dan bulir padi yang tidak berisi, kita begitu mudah memahami bahwa hanya Allah-lah yang bisa membuatnya demikian. Bisa saja padi ditanam di hamparan sawah yang sama, menggunakan bibit padi yang sama, diairi dari sumber air yang sama – tetapi yang satu tidak diberi isi sedangkan yang lain diberi isi – siapa yang kuasa melakukan ini? Hanya Dia-lah yang kuasa melakukannya.

Siapa yang memberi bulir padi, bila Dia tidak menghendakinya?
Bagaimana kalau pemahaman yang sama kita terapkan dalam berbagai usaha atau pekerjaan kita yang lain? Bisakah kita melihatnya seyakin melihat bulir-bulir padi tersebut? Bisakah kita hentikan aktifitas suap menyuap, korupsi, riba, kecurangan dalam ekonomi, dlsb karena kita yakin semua hal tersebut tidak akan bisa membuat ‘padi’ (baca: pundi-pundi harta) kita berisi – bila Allah tidak menghendakinya demikian. Bisakah kita yakin bahwa rizki itu hanya Allah-lah yang kuasa memperluas dan mempersempitnya? Bukan perusahaan atau instansi tempat kita bekerja, juga bukan penguasa yang bisa membuat aturan main usaha.
Keyakinan terhadap sumber rizki tersebut akan sangat mempengaruhi sikap dan tindak kita dalam mencari rizki. Karena orang yakin dengan korupsilah sumber rizkinya yang melimpah, maka begitu banyak kasus korupsi di negeri ini. Karena pelaku bisnis yakin sumber dana ribawi adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh modal, maka riba begitu sulit dihilangkan atau sekedar dikurangi di negeri ini.
Karena mengira perusahaan/instansi tempatnya bekerja adalah sumber rizki, banyak karyawan-karyawati shaleh/shalehah rela disuruh ini itu yang melanggar syariah seperti riba , riswah dan sejenisnya. Hati kecilnya menolak, tetapi imannya tidak cukup kuat untuk bilang tidak pada atasannya karena takut dipecat, takut tidak mendapatkan rizki.
Untuk inilah kita perlu belajar menguatkan ke-tauhid-an termasuk dalam hal pencarian rizki ini. Allah menceritakan dialog antara Nabi Ibrahim A.S dengan bapaknya di Al-Qur’an, agar menjadi contoh dan pelajaran bagi kita. Dialog ketauhidan yang indah tersebut saya kutipkan disini agar yang menulis dan yang membaca sama-sama mendapatkan manfaat. Amin.
Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.
Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa) mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?” Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”.
Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’araa’ (26): 69-82)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 22 July 2010. Tags: 20 Dinar, beban hidup, BPS, Dinar, grafik, Indonesia, Islam, jalan mendaki, kemakmuran, lapangan pekerjaan, miskin, nishab zakat, PDB per Kapita, pemimpin, pengentasan kemiskinan, perusahaan mapan, Produk Domestik Bruto, rakyat, Republika, Rupiah, statistik, surat Al-Balad, usaha, zakat
Harian Republika edisi kemarin Rabu 21 Juli 2010 memuat data statistik yang sepintas menggembirakan, yaitu statistik Produk Domestik Bruto Per Kapita dalam 10 tahun terakhir yang naik hampir 4 kalinya. Statistik yang diambil dari BPS ini menunjukkan bahwa pada tahun 2000 PDB Per Kapita kita hanya Rp 6,751,000, akhir tahun lalu (2009) angka ini telah mencapai Rp 24,261,000.
Bertambah makmur kah rata-rata rakyat Indonesia selama 10 tahun terakhir ini? Di sinilah masalahnya. Bila kita melihat angka dalam Rupiah tersebut di atas yang kemudian saya sajikan ulang secara grafik di bawah, seharusnya kita telah jauh bertambah makmur selama 10 tahun terakhir.

PDB Per Kapita dalam Rupiah
Tetapi kenyataan yang dirasakan oleh mayoritas rakyat mungkin berbeda dengan grafik tersebut. Perasaan hidup terasa tambah berat karena barang-barang kebutuhan yang semakin mahal – sangat bisa dipahami karena mungkin memang itulah yang terjadi di lapangan.
Untuk dapat melihat realita ini secara akurat, lagi-lagi Islam punya tools-nya yaitu Nishab Zakat. Orang yang penghasilannya melebihi Nishab Zakat dianggap mampu dan dia harus bayar zakat. Sebaliknya, yang penghasilannya di bawah Nishab Zakat dia berhak untuk menerima uang zakat. Nishab Zakat ini dinyatakan dalam Dinar yaitu 20 Dinar.
Bila PDB Per Kapita kita anggap merepresentasikan penghasilan penduduk Indonesia rata-rata; maka ketika grafik di atas saya konversikan dengan Dinar hasilnya akan seperti pada grafik di bawah.

PDB Per Kapita dalam Dinar
Selama 10 tahun terakhir, hanya 2 tahun dimana PDB Per Kapita kita mampu melampaui Nishab Zakat yaitu tahun 2001 (20.35 Dinar) dan 2002 (21.20 Dinar). Tahun-tahun berikutnya cenderung menurun dan terendah tahun 2009 yang tinggal 16.55 Dinar. Apa maknanya PDB Per Kapita yang di bawah Nishab Zakat ini? Artinya rata-rata penduduk negeri ini berhak menerima zakat dan belum wajib zakat.
Maknanya adalah rata-rata penduduk negeri ini masih tergolong miskin menurut standar Islam, dengan timbangan yang kita yakini akurat sepanjang zaman yaitu Nishab Zakat yang 20 Dinar tersebut.
Namun realita ini tidak perlu membuat kita bersedih atau berkecil hati karena kemiskinan tidak teratasi dengan hanya bersedih, bahkan akan bertambah parah bila kita berkecil hati. Yang kita perlukan adalah setelah sadar akan realita ini adalah apa yang bisa kita perbuat untuk ikut terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan tersebut.
Inilah peluang itu, kini terbuka peluang lebar bagi kita untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar untuk bisa berbuat sesuatu dalam ikut memerangi kemiskinan. Membangun usaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya tentu tidak mudah, lebih mudah bekerja di perusahaan atau instansi yang mapan – dengan berbagai fasilitasnya.
Namun kalau mayoritas kita berpikiran demikian lantas tugas siapa untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya ini? Tugas pemerintahkah? Para pemimpin negeri ini tentu akan ditanya nanti atas kepemimpinannya, namun kita sebagai individu juga akan tetap ditanya atas apa yang kita lakukan.
Ayat-ayat di bawah bukan hanya ditujukan untuk para pemimpin negeri ini, tetapi untuk kita semua. Punya jawabankah kita bila waktunya kelak kita ditanya akan hal ini?
وَهَدَيۡنَـٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ (١٠) فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ (١١) وَمَآ أَدۡرَٮٰكَ مَا ٱلۡعَقَبَةُ (١٢) فَكُّ رَقَبَةٍ (١٣) أَوۡ إِطۡعَـٰمٌ۬ فِى يَوۡمٍ۬ ذِى مَسۡغَبَةٍ۬ ((١٤
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan,” (QS. Al-Balad (90): 10-14)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +2 (from 2 votes)
Posted in Islamic View
Posted on 02 July 2010. Tags: Abu Bakar Siddiq, Al-Qur'an, amar ma'ruf, Amr bin Al-'As, Anthokia, berbuat adil, berbuat kerusakan, budaya suap, demokrasi, dhalim, Do's & Don'ts, dosa, Hadits, Heraklius, jaman edan, kemenangan, Khalifah, khamr, korupsi, melanggar janji, menabur kebencian, nahi munkar, pasukan Muslimin, pasukan Romawi, pemimpin, perang, puasa, riba, shalat malam, suka marah, surat Al-Baqarah, Tips, usaha & karir, zaman gila, zina
Dampak dari hidup di alam ‘demokrasi’ khususnya dalam dasawarsa terakhir – ternyata tidak semuanya baik bagi keyakinan kita. Pikiran kita – termasuk pikiran para pemimpin umat yang tadinya kita sangat hormati - bisa terbawa arus karena berpikir bahwa banyaknya pengikut-lah yang akan membawa kemenangan.
Bayangkan kalau sekarang semua orang berpikir yang banyaklah yang memang; maka tidak akan ada lagi golongan sedikit umat yang dengan keyakinannya berpegang teguh pada prinsip-prinsip perjuangannya di bidang apapun. Yang di politik, meninggalkan cita-cita awalnya karena berpikir dengan itu mereka tidak akan menang – karena tidak akan berhasil memperoleh suara yang banyak.
Dalam ekonomi akhirnya mengikuti prinsip “jaman edan – sopo sing ora edan ora kumanan” (zaman gila – siapa yang tidak gila tidak kebagian). Riba ditabrak, korupsi – suap menjadi budaya, semua karena orang mengikuti kebiasaan golongan yang banyak. Bila golongan yang banyak melakukan suap dan korupsi untuk untuk memenangkan project atau memajukan usahanya – maka seolah hanya ini jalan kemenangan itu.
Tetapi alhamdulillah kita masih punya Al-Qur’an dan Al Hadits yang bila kita berpegang pada keduanya kita tidak akan tersesat – bahkan tidak akan bisa disesatkan oleh golongan yang banyak sekalipun. Ketika Panglima perang Islam Amr bin al-’As memberi tahu Khalifah Abu Bakar Siddiq mengenai banyaknya jumlah tentara Romawi yang harus dihadapinya, Abu Bakar menjawab, ”Kalian orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kalian dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh jikalau kalian terlibat di dalam dosa-dosa.”
Al-Qur’an yang dibaca oleh Abu Bakar, tentu masih sama dengan Al-Qur’an yang kini kita baca. Ketika keyakinan atas kebenaran ayat “…Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah (2): 249), diterapkan oleh Abu Bakar dan mampu membawa kemenangan pada tentara Islam – maka keyakinan terhadap Al–Qur’an yang sama tersebut juga insya Allah bisa membawa kita yang hidup di zaman ini untuk menang di segala bidang. Hanya perbuatan dosa yang bisa membuat umat ini kalah – walaupun jumlahnya banyak!
Penyebab kemenangan Islam di masa lalu, bahkan juga terungkap dari pengakuan musuh. Ketika Heraklius tiba di Anthokia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan. Bukankah mereka manusia seperti kalian?”; Mereka menjawab, “Ya!”; “Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataukah mereka?” “Kamilah yang lebih banyak jumlahnya di manapun kami saling berhadapan.” “Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?” Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, “Karena mereka biasa shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran, dan saling berbuat adil di antara sesamanya. Sementara kami suka minum arak, berzinah, melakukan hal-hal terlarang, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena, menyuruh kepada kebencian, dan berbuat kerusakan di bumi.”
Jadi belajar dari kemenangan umat ini di masa lampau; kini kita punya tips untuk meraih kemenangan – dalam bidang apapun, termasuk untuk usaha dan karir – meskipun kita dari golongan yang sedikit. Tips itu saya ringkaskan dalam bentuk “Do’s” yaitu hal-hal yang harus dilakukan, dan “Don’ts” yaitu hal-hal yang jangan dilakukan!
“Do’s” – nya adalah :
- Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits
- Shalat malam (sebagai tambahan yang wajib)
- Puasa (baik yang wajib maupun yang sunat)
- Menepati janji
- Menyuruh kepada kebajikan (amar ma’ruf)
- Mencegah kemungkaran (nahi munkar)
- Berbuat Adil
“Don’ts”-nya adalah :
- Minum Khamr
- Berzina
- Melakukan hal-hal yang terlarang
- Melanggar janji
- Suka marah
- Berbuat dhalim
- Menabur kebencian
- Berbuat kerusakan di bumi
Semoga bermanfaat bagi yang menulis dan juga yang membacanya. Amin
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 07 June 2010. Tags: alat investasi, Amerika, Aurum Et Argentum Comparenda Sunt, Bank Indonesia, berburu emas, cadangan emas, cara primitif, China, daur ulang emas, elegance, emas, emas & perak, emas perhiasan, Eropa, hard-way, hidup mewah, ilmu pemasaran, Indonesia, instrumen investasi, investasi, Jepang, kebutuhan investasi, ketahanan ekonomi, perang, produk baik, rahmatan lil 'alamin, rentan inflasi, rentan isu, safe haven, scrap, spekulasi, supply and demand, syariah, Syariah Islam, uang, uang fiat
Judul tulisan ini saya ambilkan dari pepatah latin yang terjemahan bebasnya kurang lebih berarti “Emas dan Perak Adalah Untuk Dibeli…”. Pepatah ini sebenarnya tidak hanya berlaku pada emas dan perak; dalam ilmu pemasaran, produk-produk yang baik akan selalu dicari dan ‘dibeli’ orang. Sebaliknya produk yang buruk akan dengan susah payah harus ‘dijual’ oleh si penjual sebelum akhirnya ‘dibeli’ orang .
Emas sebagai salah satu produk yang baik, dalam sejarah peradaban manusia menempati tempat tersendiri baik sebagai simpanan barang berharga, sebagai uang, sebagai alat investasi, sebagai instrumen untuk membangun ketahanan ekonomi dan berbagai fungsi lainnya. Di zaman ini ketika rezim uang dunia di dominasi oleh uang fiat yang rentan inflasi dan rentan isu; dan investasi dunia-pun didominasi oleh instrumen investasi yang berbasis spekulasi – maka emas tetap memiliki tempat tersendiri yaitu sebagai tempat bersandar yang aman (safe haven) – yang setiap saat selalu dibutuhkan, terutama ketika uang dan investasi yang lain menjadi terlalu berisiko.
Masalahnya adalah kalau kebutuhan terhadap emas terus tumbuh – karena emas terus dicari orang untuk dibeli, lantas dari mana supply emas tersebut akan dipenuhi? Inilah masalah dan sekaligus peluangnya.
Masalah karena pertumbuhan emas yang ada di permukaan bumi hanya berkisar antara 2,000 ton – 2,500 ton per tahun, jumlah yang jelas tidak cukup bila dunia usaha rame-rame beralih ke emas sebagai safe haven-nya. Apalagi bila negeri-negeri yang persentase cadangan emasnya masih sangat rendah seperti China dan Jepang mengoreksi (menambah) cadangan emasnya.

Gold Reserve
Selain dari hasil penambangan baru dan daur ulang emas scrap, kebutuhan emas sebagai instrumen investasi ini selama beberapa decade terakhir di supply oleh penjualan Cadangan Emas Negara. Namun supply dari sumber yang satu ini juga tidak akan bertahan lama – lihat pada grafik di samping untuk buktinya. Amerika sudah tidak menjual lagi emasnya lebih dari ¼ abad terakhir (terlihat dari cadangannya yang tetap), Indonesia yang punya sedikit (hanya sekitar 96 ton sampai 2006) – penjualan terakhirnya (maksud saya mudah-mudahan tidak menjual lagi) 23 ton terjadi 4 tahun lalu (cadangan emas kita di BI kini tinggal sekitar 73.1 ton); hanya Eropa nampaknya yang masih melakukan penjualan sampai sekarang meskipun jumlah yang bisa dijual akan semakin sedikit dari waktu ke waktu.
Lantas darimana lagi emas kebutuhan investasi akan di supply? Inilah peluang pertamanya – yaitu karena supply akan semakin tidak sebanding dengan demand – maka kecil kemungkinan harga emas akan turun di pasar dunia di tahun-tahun mendatang, sebaliknya harga emas akan secara fundamental cenderung naik karena keterbatasan supply.
Lantas apa yang akan terjadi setelah itu? orang tetap butuh emas – tetapi supply emasnya tidak ada atau tidak cukup. Ada 2 kemungkinannya:
1) Pertama dengan hard-way orang akan berburu emas melalui cara-cara perang, penyitaan emas rakyat oleh Negara (seperti terjadi di Amerika tahun 1930-an) dan cara-cara primitif lainnya untuk sekedar menguasai emas.
2) Atau dengan cara yang elegance yaitu umat manusia akan dapat mencukupi kebutuhan emasnya melalui guidance atau petunjukNya. Jumlah yang sedikit akan selalu cukup bila emas itu beredar/berputar; jumlah berapapun tidak akan pernah cukup bila emas disimpan/ditimbun. Jadi ketersediaan emas yang cukup untuk ‘dibeli’ oleh manusia yang membutuhkannya, akan terjamin bila:
- Emas tidak ditimbun
- Emas tidak digunakan untuk perhiasan laki-laki
- Emas tidak dipakai untuk bermewah-mewah membuat tempat makan, minum, dlsb.
- Emas tidak dipakai untuk bangunan.
- Dlsb.
Dimana aturan-aturan tersebut ada? Hanya Syariah Islam yang memiliki aturan sedetil ini…
Jadi, bahkan untuk menjamin kelangsungan pepatah latin kuno yang artinya “Emas dan Perak Untuk Dibeli…” tersebut di atas – diperlukan syariah untuk mengawalnya. Disinilah rahmatan lil ‘alamin-nya agama akhir zaman ini. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan…? Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View
Posted on 03 May 2010. Tags: Abu Hurairah R.A., Abu Said, akhir zaman, akhirat, Al-Qur'an, Allah, bercocok tanam, Boleh Jadi Kiamat Sudat Dekat, commercially feasible, fitnah, gembala kambing, Hadits, haram, HR. Bukhari, HR. Muslim, hujan, Imam Nawawi, Jonggol, kiamat, muslim, pekerjaan, profesi Akhir Zaman, profesi para Nabi, Rasulullah SAW, riba, riswah, Riyadhush Shalihin, shahih, surat Adz-Dzariyaat, syubhat, taubat, Ustadz Ihsan Tandjung, uzlah, valid
Ada salah satu Ustadz saya yaitu Ustadz Ihsan Tandjung yang sangat mendalami subject akhir zaman. Mulai dari tanda-tandanya, rujukannya sampai hal-hal yang perlu kita persiapkan untuk menghadapinya. Saking banyaknya referensi beliau dalam masalah ini, beliau sampai menulis satu situs khusus yang alamatnya di internet sudah self-explanatory yaitu www.bolehjadikiamatsudahdekat.com.
Mendalami masalah akhir zaman, tidak harus membuat kita pesimistis dalam menghadapi kehidupan ini. Justru sebaliknya, bila kita sadar bahwa Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat – maka kita akan berusaha mencari bekal sebanyaknya untuk hidup sesudah itu – yaitu kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
Kesadaran akan akhir zaman juga akan membuat kita buru-buru bertaubat bila dalam perjalanan hidup kita ada hal-hal yang kita langgar – mumpung masih ada waktu! Buru-buru kita ke kembali ke jalan Allah menyambut seruanNya: “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyaat (51): 50)
Nah bagaimana dalam konteks bidang pekerjaan, bila dalam pekerjaan yang kita tekuni tersebut kita masih terlibat dalam hal yang sangat terlarang seperti riba, riswah (suap), mengambil hak orang lain, berbuat kerusakan di bumi, mendholimi rakyat, dlsb?
Banyak potensi pekerjaan yang bisa kita pilih, yang aman dari hal-hal yang terlarang tersebut. Bahkan banyak pula jenis pekerjaan yang bisa kita lakukan tersebut yang memiliki dasar yang kuat di Al-Qur’an ataupun di Hadits. Kaidahnya adalah apa yang disebutkan di Al-Qur’an ataupun Hadits yang shoheh adalah benar ketika diturunkan, benar saat ini, dan akan tetap benar sampai akhir zaman.
Mengapa demikian? Karena agama ini adalah agama Akhir zaman – maka segala tuntunannya pasti valid sampai akhir zaman. Termasuk tuntunannya dalam hal pekerjaan ini.
Pekerjaan bertani atau bercocok tanam misalnya, akan selalu baik sampai akhir zaman karena kita bahkan diperintahkan untuk tetap menanam benih yang ada di tangan kita walaupun seandainya proses terjadinya kiamat sudah mulai.

Gembala Kambing
Contoh pekerjaan lain yang juga insya Allah valid sampai akhir zaman adalah menggembala (memelihara) kambing. Untuk yang satu ini, Imam Nawawi yang sangat mashur dengan kitab yang menjadi rujukan para juru dakwah hingga kini – membahas secara khusus dalam kitabnya Riyadhush Shalihin.
Dalam bab Beruzlah beliau menyampaikan bahwa beruzlah atau menyendiri ketika moral manusia sudah rusak, takut agama ini terfitnah dan takut terjerumus dalam keharaman dan syubhat adalah hal yang disunahkan. Nah ketika kita menyendiri dan takut kepada hal yang haram, lantas apa pekerjaan kita untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Memelihara kambing, itulah salah satu jawabannya.
Untuk jawaban ini tidak tanggung-tanggung, Imam Nawawi memberikan 3 Hadits shoheh sebagai rujukannya. Berikut adalah hadits-hadits tersebut:
1) Dari Abu Hurairah R.A. dari Nabi SAW, dia bersabda: “Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala kambing”. Sahabat-sahabat beliau bertanya : “Begitu juga engkau?” ; Rasulullah bersabda : “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekah”. (HR. Bukhari)
2) Dari Abu Said berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim)”. (HR. Bukhari)
3) Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang di atasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang di atasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa. Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan sholat, memberikan zakat dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (HR. Muslim)
Jadi menggembala (memelihara) kambing bukan hanya commercially feasible seperti yang sudah saya tulis sebelumnya; tetapi juga memiliki dasar yang shahih. Maka tidak malu saya berulang kali mengajak para pembaca untuk belajar menekuni profesi yang sering dianggap kuno oleh sebagian orang di zaman teknologi ini. Bagi yang berminat, silahkan datang ke lokasi kandang kami di Jonggol dan mulai belajar mempersiapkan diri dengan profesi Akhir Zaman. Insya Allah.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 1.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Islamic View