Archive | Entrepreneurship
Posted on 15 February 2010. Tags: 2010 International Year of Biodiversity, Afrika, Amerika Latin, awang-awang, bailout, Bali, banjir, binatang, biodiversity, Brasil, Equator Belt, gratis, hujan, Ibnu Katsir, ilmu, Indonesia, industri jamur, Jakarta, Jamur, Jamur Tiram Putih, Jonggol, katulistiwa, kelembaban, laboratorium, laut, lingkungan, manajemen, massal, microorganism, modal besar, musibah, pesantren wirausaha, protein murah, pupuk, rizki, suhu, surat Adz-Dzaariyaat, tafsir, tanah, tumbuhan, United Nation
Ibnu Katsir ketika mentafsirkan ayat yang saya jadikan judul tulisan ini (QS. Adz-Dzariyaat (51): 22) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Dan di langit terdapat rizkimu…” adalah hujan yang membawa rizki; sedangkan yang dimaksud dengan “Dan Apa yang dijanjikan kepadamu” adalah surga bagi orang-orang yang bertakwa.
Ibnu Katsir yang kitab tafsirnya menjadi rujukan umat seluruh dunia karena kedalaman ilmunya; insya Allah jauh lebih besar peluang benarnya ketimbang kelirunya. Lantas mengapa bagi kita yang hidup di Jakarta ini, hujan secara perlahan tetapi pasti dicitrakan sebagai penyebab musibah tahunan yang hari-hari ini melanda – yaitu banjir? Pasti yang salah bukan ayat atau tafsirnya; tetapi perilaku kita yang salah dalam mengelola ‘potensi’ rizki dari hujan ini.
Pada tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk mengembalikan pandangan bahwa hujan sebagai sumber rizki – agar kita pandai mengelola dan mensyukuri-nya; bukan sebaliknya memandang hujan sebagai sumber musibah sehingga banyak orang berharap agar hujan tidak turun!
Sesungguhnya kita sangat-sangat beruntung hidup di negeri kepulauan yang berada paling dekat dengan katulistiwa. Negeri yang berada di Equator Belt ini hanya Indonesia, beberapa negara Amerika latin khususnya Brasil dan beberapa negara Afrika. Tetapi Afrika sangat kering, dan Brasil tidak terlalu banyak memiliki wilayah laut seperti kita di Indonesia.
Dengan posisi yang seperti inilah, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak memiliki hujan. Dampak dari hujan tropis ini berikutnya adalah di Indonesia-lah terdapat paling banyak spesies tumbuhan, binatang dan microorganism yang kemudian dikenal sebagai biodiversity.
Karena posisi yang unique ini pulalah maka ketika United Nation menyatakan tahun ini sebagai 2010 International Year of Biodiversity – Indonesia menjadi salah satu pusat perayaannya, yaitu di Bali mulai akhir pekan ini.
Sejalan dengan tafsir di atas, kemudian juga bukti kekayaan biodiversity yang tidak ada duanya tersebut – masihkah kita belum bisa melihat rizki dari langit yang dibawa oleh hujan itu? Kalau melihat saja kita belum bisa, tentu kita akan kesulitan untuk memiliki visi pengelolaannya.
Untuk belajar menangkap secara harfiah ‘rizki dari langit’ yang terbawa oleh hujan ini, team kami di Pesantren Wirausaha – Jonggol membuat eksperimen kecil dalam laboratorium sederhana untuk pembibitan Jamur.

Jamur Tiram Putih
Jamur adalah sumber protein yang sehat dan bisa diproduksi dari ‘awang-awang’. Karena untuk menghasilkan 10 kg jamur perhari selama 4-5 bulan berturut-turut, awalnya hanya dibutuhkan jaringan yang diambil dari jamur induk sebesar ujung jarum.
Untuk bisa tumbuh baik, jamur pada umumnya memerlukan suhu udara antara 22o C – 28o C dan kelembaban udara antara 60% – 70%. Suhu dan kelembaban yang dipersyaratkan untuk pertumbuhan jamur ini dengan mudah dapat dipenuhi oleh sebagian besar wilayah negeri ini. Dari mana negeri ini memperoleh keberuntungan tersebut? Ya dari hujan yang secara kontinyu mengguyur sebagian besar wilayah negeri ini secara reguler.
Jadi secara internal negeri ini sesungguhnya sangat beruntung dengan rizki yang terbawa seiring dengan seringnya turun hujan. Kita bisa membanjiri dunia dengan protein yang murah – yang bisa diproduksi secara massal di Indonesia.
Untuk memproduksi jamur secara massal ini tidak dibutuhkan tanah yang luas, tidak membutuhkan pupuk-pupuk yang mahal (yang sering diributkan subsidinya), tidak membutuhkan modal yang besar (yang hanya dimiliki para konglomerat dan tuan tanah); yang kita butuhkan terutama adalah lingkungan dengan suhu dan kelembaban yang tepat yang sudah dianugerahkan oleh Allah secara melimpah melalui curah hujan negeri ini.
Yang kita butuhkan kemudian adalah ilmu perjamuran dan ketrampilan wirausaha/manajemen yang memadai; namun lagi-lagi ilmu membuat benih jamur insya Allah tidak sesulit membuat roket – Anda bisa belajar bareng kami (kami juga lagi belajar soalnya) GRATIS; me-manage industri jamur saya yakin juga tidak sesulit mengelola bank yang di bailout (yang kalau kita lihat di televisi nampaknya nggak ada yang bisa mengelola dengan benar!); jadi orang-orang kebanyakan seperti Anda dan saya insya Allah bisa memproduksi protein yang murah ini secara massal.
Bila ini benar-benar dapat kita lakukan, maka kebutuhan protein negeri ini akan dapat tercukupi dengan murah… dan syukur-syukur kita bisa menjadi solusi bagi milyaran penduduk dunia yang kini sedang kekurangan pangan dan gizi.
Allaahumma shayyiban naafi’an; Ya Allah jadikanlah hujan ini manfaat…
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: +2 (from 2 votes)
Posted in Entrepreneurship
Posted on 09 February 2010. Tags: Berlomba dalam Kebajikan, bidang usaha, Blue Ocean, Blue Ocean Mindset, Blue Ocean Strategy, Chan Kim, Da'i, Dinar, fastabiqul khairat, gerakan, Harvard Business School Press, ikhlas, ilmu, INSEAD, juru dakwah, keagamaan, medan persaingan usaha, pasar, pengalaman, pengusaha, perdagangan, perikanan, pertanian, pesaing, pesantren wirausaha, peternakan, Red Ocean, Renee Mauborgne, sosial, sparring partners, strategi bisnis, tidak sehat, tukang cukur, ustadz
5 tahun lalu Harvard Business School Press menerbitkan buku yang legendaris bagi dunia usaha dengan judul Blue Ocean Strategy dan sub judul How To Create Uncontested Market Space and Make the Competition Irrelevant. Buku ini ditulis oleh Chan Kim dan Renee Mauborgne yang keduanya adalah professor di INSEAD.
Inti dari isi buku ini adalah strategi bagi para pelaku usaha untuk bisa keluar dari medan persaingan yang tidak sehat – yang digambarkan sebagai red ocean karena berdarah-darahnya pertempuran di pasar – menuju pasar yang boleh dikatakan tanpa pesaing yang digambarkan sebagai blue ocean – karena tidak adanya setetes-pun darah yang tercecer.
Selain menginspirasi para pelaku dunia usaha; buku ini sebenarnya bisa juga memberi inspirasi bagi para aktifis gerakan sosial, keagamaan dan bahkan pada para ustad dan juru dakwah.
Dulu ada Da’i kondang yang sering memberikan pencerahan kita untuk meninggalkan persaingan yang tidak sehat. Dengan arif Da’i tersebut menceritakan betapa naifnya persaingan antara tukang ojek dengan tukang ojek, tukang cukur dengan tukang cukur, bahkan Da’i-pun katanya bersaing dengan Da’i lainnya.
Nasihat Da’i ini esensinya sama dengan isi buku tersebut di atas; bila kita jumud pada segmen kita, menganggap orang lain yang juga menggarap segmen ini adalah pesaing yang harus diserang – maka kita akan berdarah-darah kehabisan tenaga, sementara kita sendiri akan kehabisan sumber daya kreatif kita untuk melihat adanya segmen lain yang perlu penggarapan.
Dengan wawasan tersebut di ataslah maka kami tidak pernah merasa bersaing dengan penggerak Dinar lainnya; meskipun ada yang mungkin menganggap kami sebagai pesaing dan ofensif terhadap apa yang kami lakukan – kami tidak merasa perlu untuk membalasnya, karena ini hanya akan mengurangi kemampuan kreatif kita.

Belajar bersama di Pesantren Wirausaha
Medan amal Islami ini terlalu luas untuk kita, sehingga kita tidak harus tetap berada di red ocean; begitu banyak blue ocean di luar sana yang bisa menjadi lapangan kita untuk berbuat kreatif dan beramal secara maksimal. Bahwasanya orang lain melakukan hal yang sama, kami anggap dia bukanlah pesaing – mereka adalah sparring partners kita untuk bisa berlomba-lomba dalam kebajikan atau fastabiqul khairat.
Bahkan kini istilah blue ocean yang menyegarkan sebagai lawan kata red ocean yang panas berdarah-darah, seolah terwujud secara lahiriah di project Pesantren Wirausaha yang kami cetuskan sejak beberapa bulan lalu. Bila Anda berkunjung kesana, Anda akan menemukan saudara-saudara Anda yang dengan tulus ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman di berbagai bidang usaha mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan dan berbagai bidang lainnya; tidak ada yang menganggap Anda pesaing atau calon pesaing.
Semua adalah saudara yang masing-masing menjadi sparring partners bagi yang lain untuk fastabiqul khairat. Dengan Blue Ocean Mindset ini, dunia terasa sejuk bagi kita sesejuk komplek Pesantren kita di atas. Semoga sparring partners kita dapat merasakan kesejukan yang sama. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Entrepreneurship
Posted on 08 February 2010. Tags: 10 indikator, ASEAN, BKPM, Doing Business 2010, free, gemah ripah loh jinawi, gratis, hukum, hukum kontrak, Indonesia, Indonesia Bisa, investasi, investor, kemudahan usaha, kinerja 100 hari, kredit, lapangan kerja, laporan, Malaysia, pajak, pemerintah, pengusaha, perdagangan, perdebatan, pesantren wirausaha, Philippines, politik, produktif, property, Santri Eksekutif, Singapore, stasiun TV, survey, tantangan, tenaga kerja, Thailand, The World Bank, TKI, Vietnam
Kemarin sore saya tersentak dengan acara di salah satu TV swasta nasional yang lagi menyoroti kinerja 100 hari pemerintahan RI yang menghadirkan nara sumber ketua BKPM. Dalam acara tersebut antara lain disajikan data dari World Bank terakhir yang menyatakan bahwa Indonesia berada pada ranking 122 dalam hal kemudahan berusaha. Begitu burukkah negeri kita ini dalam memfasilitasi para pengusaha/investor?
Setengah tidak percaya saya cari laporan lengkapnya dari World Bank dan alhamdulillah bisa saya peroleh gratis dalam bentuk laporan lengkap yang dapat di download di www.doingbusiness.org. Laporan yang paling mutakhir diberi judul Doing Business 2010, berdasarkan data yang dikumpulkan dari 183 negara sampai Mei 2009.
Laporan ini pertama kali diterbitkan tahun 2003 lalu yang saat itu hanya mendasarkan pada 5 indikator. Laporan terakhir menggunakan 10 indikator kemudahan usaha yang terdiri dari:
- Kemudahan memulai usaha.
- Ijin konstruksi.
- Tenaga kerja.
- Pendaftaran property.
- Kredit.
- Perlindungan investor.
- Pajak.
- Perdagangan lintas batas.
- Penegakan hukum kontrak.
- Penutupan usaha.
Dari 10 indikator tersebutlah Indonesia jatuhnya berada di ranking 122 dari 183 negara yang di Survey. Di negeri ASEAN saja, Indonesia hanya lebih baik dari Philippines yang berada di urutan 144. Sementara Singapore adalah ranking 1, Thailand 12, Malaysia 23 dan Vietnam 93.
Yang lebih menyedihkan lagi adalah apabila dilihat satu persatu dari 10 indikator tersebut, beberapa indikator menunjukkan hal yang jauh lebih buruk dari rata-rata yang 122 ini. Indikator kemudahan memulai usaha misalnya berada pada ranking 161, kemudahan urusan pegawai berada pada ranking 149 dan kemudahan dalam penegakan hukum kontrak berada pada urutan 146.
Anda bisa bayangkan sekarang seandainya Anda bukan warga negeri ini, Anda investor asing yang ingin investasi – Apakah Anda akan investasi di Negara yang rangking kemudahan usahanya berada pada angka 122? Atau pada negeri tetangganya yang berada di ranking 1, 12, 23 atau bahkan 93? Inilah yang menyebabkan investasi seret di negeri ini, dan lapangan kerja sulit tercipta.
Dampaknya adalah meskipun negeri ini konon gemah ripah loh jinawi, tongkat dan batu jadi tanaman – tetapi realitanya tidak terhitung jumlah tenaga kerja kita yang harus mencari rizki-nya di negeri lain, termasuk sejumlah besar wanita-wanita kita harus pergi meninggalkan suami dan anak-anak nya untuk bekerja di negeri yang kadang sangat tidak bersahabat dengan mereka, tahun lalu saja lebih dari 40 TKI kita yang menghadapi masalah dengan pekerjaannya.
Meskipun bisa saja data Bank Dunia tersebut bias, tetapi tidak ada salahnya untuk menggunakan data ini sebagai acuan agar kita semua bekerja keras membangun negeri. Stop perdebatan-perdebatan politik yang tidak berkesudahan, serahkan masing-masing urusan pada ahlinya. Masalah hukum misalnya biarlah ditangani para penegak hukum, sehingga tidak mengalihkan fokus seluruh elemen masyarakat dari kegiatan produktif.
Sebagai negeri di ranking 122, kita tidak bisa mengharapkan investor asing untuk membangun negeri ini; ambil hikmahnya dari kenyataan ini bahwa kita sendirilah yang harus membangunnya. Ini bukan hanya tugas pemerintah – meskipun pemimpin-pemimpin tersebut tentu yang paling bertanggung jawab, karena mereka dahulu minta dipilih dan mereka telah berjanji untuk menciptakan lapangan kerja dan memakmurkan negeri ini.
Mulai dari diri kita, mulai dari yang kita bisa… Insya Allah, Allah akan mengajari kita dengan apa yang kita belum bisa. Bagi Anda yang tergugah untuk berusaha menciptakan lapangan kerja bagi saudara-saudari kita, kami ada program yang sepenuhnya FREE – yaitu Program Pesantren Wirausaha yang Angkatan ke 8-nya insya Allah kick off akhir bulan ini. Saat ini sudah ada 200-an Santri Eksekutif yang insya Allah siap berkontribusi untuk membangun negeri yang saat ini masih di ranking 122 ini. Semoga Allah memudahkan langkah kita.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Entrepreneurship
Posted on 26 January 2010. Tags: Al-Qur'an, buah, di luar musim, duren, emas, harga rendah, harga tinggi, holtikultura, industri pertanian, informasi, investasi, investor, Jonggol, mangga, orang kebanyakan, panen, pasar, petani, pohon, property, rambutan, rekayasa genetika, saham, sayur, supply and demand, surat Al-An'am
Minggu-minggu ini setiap kali saya ke kebon di daerah Jonggol; sepanjang jalan di Jonggol buah rambutan memerah hampir mengalahkan hijaunya dedaunan. Saking banyaknya buah-buah tersebut, buah-buah yang sudah dipanen ditumpuk dipinggir jalan – seperti tidak ada harganya.
Benar, rambutan yang dipanen pada puncak musim panen ini – sangat rendah harganya. Inilah dilema petani buah rambutan dan berbagai buah lainnya. Mereka merindukan panen buah, namun ketika benar-benar panen – panenan mereka jatuh harganya.
Akan menjadi peluang tersendiri bila seandainya temen-temen yang ahli hortikultura bisa melakukan rekayasa genetika atau apapun namanya sehingga pohon bisa berbuah di luar musimnya. Kita bisa menikmati duren di luar musim duren; menikmati mangga, rambutan dan lain sebagainya diluar musimnya.
Sebenarnya tidak hanya petani buah; kebanyakan investor di bisnis modern sekalipun seperti saham, property sampai emas juga lebih banyak yang berperilaku sebagai ‘orang kebanyakan’ dalam berinvestasi. Padahal ada semacam kaidah yang tertulis dalam Al-Qur’an, yang muncul berulang-ulang sampai sekurangnya 65 kali yang berbunyi “ …tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS. Al-An’am (6): 37) atau yang senada.
Agar kita tidak menjadi petani atau investor dari golongan ‘orang kebanyakan’ ini, maka informasi-lah kuncinya. Teman saya yang sukses di industri pertanian menuturkan kiatnya; sebelum dia menanam sayur atau buah – selain dia mempelajari pasarnya, dia juga mempelajari apa yang sedang ditanam oleh petani-petani lainnya.
Bila pasar terbatas untuk komoditi tertentu, sedangkan sudah begitu banyak petani menanam komoditi tersebut – pastilah pada saat panen nanti harga jatuh; sederhana ini hukum supply and demand biasa. Sebaliknya biar pasar sedikit, tetapi tidak tersedia supply yang cukup untuk pasar yang sedikit tersebut – pastilah harga akan tetap tinggi tanpa mengenal musim.
Maka seperti petani buah di atas, pada investasi apa uang Anda Anda tanam – perhatikan pasarnya dan perhatikan apa yang dilakukan orang lain. Jadilah golongan sedikit yang bisa panen buah di luar musimnya… Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Entrepreneurship
Posted on 19 January 2010. Tags: Adapt, akses pasar, camp, China, competitive edge, dot com, Dunia Intelligence, dunia usaha, entrepreneur, entry barrier, franchise, hikmah, HR. at-Tirmidzi & Ibnu Majah, IMAO, Improvise, Islam, jangka panjang, jangka pendek, Jenderal, ketrampilan, latihan, Mall, medan perang, medan persaingan usaha, modal besar, modal terbatas, Modify, mukmin, Overcome, pengetahuan, perang, resources, strategi bisnis, success rate, sumber daya, Sun Tzu, Survival Strategy, teknologi, teori, The Art of War
Orang sudah lama mencontoh teknik-teknik dari dunia militer untuk diterapkan di dunia usaha karena banyaknya kemiripan antara 2 medan ini – medan perang dengan medan persaingan usaha. Salah satu yang terkenal adalah The Art of War -nya Sun Tzu – seorang Jendral Perang China yang diyakini sebagai ahli strategi pada zamannya.
Yang dekat dengan strategi perang adalah strategi intelligence yang juga berkembang sangat matang – melebihi strategi bisnis pada umumnya. Oleh karenanya belakangan mulai banyak strategi bisnis yang diambil/dikembangkan dari dunia intelligence. Saya ambil contoh untuk tulisan ini Survival Strategy yang sangat dibutuhkan oleh para pemula di bidang usaha.
Peluang berhasilnya para pemula bervariasi tergantung dengan bidang yang dipilihnya. Pada bidang yang relatif tidak ada entry barrier – seperti business dot com yang marak lahir 2 dasawarsa terakhir, orang dengan mudah masuk ke dunia dot com ini tetapi success ratenya sangat rendah – kurang dari 2%.
Sebaliknya di business yang entry barrier-nya tinggi – bisa modal, teknologi, pasar, dlsb – pemain baru tidak banyak tetapi success rate bagi mereka yang berhasil mengatasi barrier tersebut menjadi sangat tinggi. Misalnya Anda buka restoran franchise dari merek terkenal, Anda punya modal besar untuk menyewa tempat terbaik di Mall yang baru dibuka di lokasi strategis – maka meskipun Anda baru di bidang ini, success rate Anda bisa di atas 50%.
Kebanyakan kita masuk dunia usaha seperti pada contoh yang pertama; modal terbatas, competitive edge di bidang teknologi, pasar, dlsb juga biasa – biasa saja. Jadi kita masuk golongan yang success rate-nya rendah tersebut di atas.
Karena mayoritas kegagalan usaha baru ini terjadi di awal-awal usaha 1-2 tahun pertama, maka kalau kita bisa melampaui 2 tahun pertama di bidang usaha yang baru kita tekuni tersebut, kemungkinan besar kita akan mengakumulasi pengetahuan dan ketrampilan cukup untuk setidaknya mampu bertahan di bidang ini dalam jangka pendek, dan memiliki kemungkinan success untuk jangka panjang.
Nah dalam hal membangun kemampuan untuk bertahan di bisnis (survive) pada usia awal inilah kita bisa belajar dari salah satu Survival Strategy-nya dunia intelligence yang disebut IMAO atau singkatan dari Improvise, Modify, Adapt dan Overcome.
Strategi ini diajarkan kepada para calon agen intelligence sebelum mereka diterjunkan di lapangan atau daerah lawan. Sebagus apapun mereka digembleng dengan berbagai pengetahuan dan latihan fisik di camp, dunia di luar sana bisa sangat berbeda dengan medan teori dan latihan. Oleh karenanya untuk mampu survive di medan yang bisa jadi sama sekali berbeda ini, mereka harus mampu ber-improvisasi, memodifikasi situasi, beradaptasi dengan kondisi dan mengatasi (overcome) seluruh permasalahan yang muncul.
Sebagai entrepreneur pemula Anda perlu ber-Improvise manakala medan usaha yang Anda jumpai tidak seperti yang Anda bayangkan sebelumnya. Improvisasi ini meliputi pengkajian berbagai kemungkinan dari usaha Anda dilihat dari perspektif yang berbeda.
Bila ternyata di lapangan sumber daya (resources) yang Anda miliki tidak sepenuhnya cocok (match) dengan medan yang Anda hadapi, maka Anda-pun harus siap me-modify sumber daya tersebut sehingga bisa optimal menopang usaha Anda.
Ketika Anda sudah ber-improvisasi dan memodifikasi resources secara maksimal, namun lapangan tetap tidak mudah ditaklukkan, tetap tidak bersahabat dengan usaha baru Anda, maka waktunya Anda untuk ber-adaptasi (adapt) dengan lingkungan usaha yang berbeda tersebut.
Setelah inipun masalah-demi masalah baru tetap akan bermunculan; maka Anda juga harus mampu meng-overcome (mengatasi) setiap masalah yang muncul tersebut pada waktunya – be ready.
Meskipun strategi semacam ini tidak berasal dari dunia Islam, namun mengandung banyak kebaikan untuk meningkatkan kemampuan kita bertahan – maka insya Allah baik pula kita terapkan.
“Kalimat hikmah (perkataan yang baik/bijaksana) adalah senjatanya orang mukmin, dimanapun ia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya.” (HR. at-Tirmidzi/Ibnu Majah)
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Entrepreneurship
Posted on 07 January 2010. Tags: Allah, Aztecs, bakar kapal, bunga bank, Center for Islamic Entrepreneurship Development, CIED, eksekutif, ekspedisi, emas, entrepreneur, fatwa MUI, finansial, gelar professional, haram, Hernando Cortez, industri asuransi, investasi, Islam, keberanian, membangun usaha, Mexico, panglima perang, pegawai, pengusaha, pertempuran, pesantren wirausaha, pindah quadrant, puncak karir, Raja Roderick, Spanyol, tekad, Thariq bin Ziyad, wiraswasta
Dalam sejarah Islam ada panglima perang yang memiliki strategi luar biasa, benar-benar luar biasa karena tidak pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Panglima perang tersebut adalah Thariq bin Ziyad yang pada tahun 97 H (sekitar tahun 711 Masehi) memimpin 7,000 pasukan Islam memasuki Spanyol yang dijaga oleh 25,000 pasukan pimpinan Raja Roderick.
Untuk menyemangati pasukannya agar tidak gentar melawan musuh yang memiliki kekuatan jauh lebih besar, dan agar tidak ada satupun dari pasukaannya yang berpikir untuk ambil langkah mundur - apa yang di lakukan Thariq? Dia membakar seluruh kapal-kapal yang dipakai pasukannya untuk mencapai pantai tenggara spanyol. Ketika pasukannya bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan sang panglima ini, Thariq menjawabnya dengan pidato yang terkenal sbb:
“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.”
Tekad yang sangat kuat untuk hidup mulia atau mati syahid “Isy Kariman au Mut Syahidan” inilah yang dapat membawa kejayaan Islam dari waktu ke waktu.
Kita tahu akhirnya dalam sejarah bahwa diawali oleh tekad yang sangat kuat dan kebergantungan kepada Allah semata tersebut, Islam menjangkau wilayah yang paling luas beberapa puluh tahun kemudian setelah strategi ini ditempuh Thariq dan pasukan-pasukannya.
Ketika cerita tentang Thariq ini diajarkan secara turun temurun baik di dunia Islam maupun di luar Islam, maka sekitar 800 tahun kemudian, kurang lebih 10 generasi setelah Islam masuk Spanyol – anak keturunan bangsa Spanyol yang bernama Hernando Cortez – pun meniru bulat-bulat strategi Thariq tersebut di atas ketika ia memimpin ekspedisi penaklukan ke Mexico.

Hernando Cortez (1485 - 1547)
Hernando Cortez yang memimpin expedisi penaklukan bangsa Aztecs untuk merebut emas dan harta-harta lainnya ini membakar keseluruhan 11 kapal yang digunakan untuk membawa pasukannya mencapai daratan Mexico. Dengan demikian tidak ada pikiran untuk mundur, jalan hanya satu arah yaitu maju kedepan.
Kita tahu hasil dari kebulatan tekat Hernando Cortez ini, sampai sekarang bahasa resmi yang dipakai di Mexico adalah bahasa Spanyol. Ini menunjukkan betapa berhasilnya Hernando Cortez meniru strategi Thariq bin Ziyad dalam upayanya untuk menaklukkan Mexico yang menjadi jajahan Spanyol sampai beratus tahun kemudian.
Kalau seorang Hernando Cortez saja bisa belajar dan menikmati ke-sukses-an dari meniru strategi Panglima Perang Islam Thariq bin Ziyad, masa kita umat Islam di masa kini tidak bisa mencapai kesuksesan dengan belajar dari keberhasilan tokoh pejuang sekaliber Thariq ini?
Kalau medan kita bukan/belum medan perang saat ini, minimal strategi Thariq dengan membakar kapal ini bisa kita terapkan di tekad kita untuk membangun usaha, untuk meninggalkan tempat kerja yang kita ragukan ‘kebersihan’-nya misalnya.
Dari pengalaman saya berinteraksi dengan sekian banyak peserta Pesantren Wirausaha dan juga peserta yang ikut pelatihan CIED (Center for Islamic Entrepreneurship Development), penghalang terbesar dari setiap peserta yang ingin menjadi entrepreneur adalah keberaniannya untuk benar-benar terjun ke usaha – serta benar-benar meninggalkan pekerjaan sebelumnya.
Pengalaman saya sendiri-pun menunjukkan demikian; tidak kurang dari 6 kali usaha berwiraswasta yang saya lakukan di luar jam kantor – ketika saya masih aktif sebagai eksekutif ; tidak satupun yang berhasil. Yang ke-7, ke-8 dan seterusnya insya Allah berhasil karena kapal saya benar-benar saya bakar.
Untuk mencapai karir puncak di Industri Asuransi & Investasi di usia muda, tidak tanggung-tanggung saya peroleh gelar profesi yang paling tinggi di New Zealand, Australia dan Inggris. Sangat sedikit professional asuransi & investasi Indonesia yang mencapai pengakuan semacam ini. Namun sejak lahirnya fatwa MUI bahwa bunga bank haram awal 2004 (Fatwa No 1 Tahun 2004 Tentang Bunga), tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan mengenai keharaman bunga bank dan produk-produk yang terkait dengannya di dunia finansial.
Maka alhamdulillah kapal yang namanya gelar professional dan puncak karir di industri finansial tersebut telah habis saya bakar 2 tahun lalu. Sejak saat itu, mirip yang dilakukan oleh Thariq dan juga Cortez, medan ‘pertempuran’ saya menjadi medan ‘pertempuran’ yang sama sekali baru. Tidak mudah, tetapi juga tidak mustahil – hanya pertolongan Allah-lah yang menjadikan yang sukar itu mudah.
Jadi bagi Anda yang ingin pindah quadrant dari pegawai/eksekutif ke pengusaha, bila Anda berani membakar kapal Anda, Insya Allah Andapun juga akan berhasil!!! Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Entrepreneurship
Posted on 30 December 2009. Tags: 5C's, blog, Bogor, buku, clientbase, coaching, commercial, community, Connecting, conversation, creating, email, entrepreneur, Entrepreneurship 2.0, era informasi, facebook, gaptek, internet, IT, Jonggol, kambing, komunitas, mentoring, Mitch Joel, new media, pesantren wirausaha, peternakan, Presiden, Six Pixels of Separation, teknologi informasi, tools, training, Twist Image, twitter, usaha sektor riil, wasilah
Tulisan kali ini saya ambilkan dari isi salah satu bab di buku Six Pixels of Separation karya Mitch Joel – President of Twist Image (Business Pluss, New York – 2009). Buku yang membahas bisnis berbasis teknologi informasi ini secara umum sangat menarik (lihat video “Interview with Mitch Joel”), tetapi yang satu bab tentang Entrepreneurship 2.0 mudah untuk dicerna dan diterapkan oleh siapapun – tanpa harus berlatar belakang IT.
Berbeda ternyata dengan anggapan masyarakat luas bahwa untuk bisa sukses berbisnis di era informasi ini haruslah sangat menguasai IT dan seluk beluknya. Mitch Joel sendiri juga orang yang gaptek – gagap teknologi; tetapi nampaknya dia sangat sukses dengan new media ini.
Begitu banyak tools yang bisa kita manfaatkan untuk mulai berbisnis dengan menggunakan teknologi ini – bahkan tanpa kita harus membayar satu sen-pun. Anda bisa mempromosikan produk Anda sepuasnya melalui blog misalnya, mengupdate ‘clientbase’ Anda di facebook, twitter dan berbagai media gratisan lainnya.
Karena saking banyaknya media yang bisa dipakai, kita malah justru sering bingung – menggunakan yang mana yang efektif untuk tujuan bisnis kita. Nah melalui Entrepreneurship 2.0 inilah Mitch Joel memformulasikan apa yang kita butuhkan dengan sederhana.
Intinya adalah apa yang dia sebut sebagai 5 C’s of Entrepreneurship 2.0 sebagai berikut:
1) Connecting: hari gini kita tidak bisa lagi untuk tidak selalu connect dengan sumber informasi – internet, email dan sejenisnya. Begitu banyak opportunity kita hilang bila kita kehilangan connection ini.
2) Creating: setiap kita sebenarnya punya banyak kemampuan untuk meng-create sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Creation ini bisa berupa tulisan (seperti yang saya lakukan di web ini), ide, gambar, film, ataupun barang dan jasa yang kemungkinan akan dibutuhkan oleh orang lain.
3) Conversation: melalui media yang mayoritas gratisan ini – kita bisa mengkomunikasikan hasil kreasi kita di butir 2 dan memperoleh response/masukan yang juga gratis.
4) Community: dari kreasi kita yang secara kontinyu kita komunikasikan dengan audien kita tersebut – akan terbentuklah komunitas yang sudah tersaring dengan minat yang relatif sama.
5) Commercial: Setelah komunitas terbentuk, maka barulah kita ataupun anggota komunitas kita dapat saling memberi manfaat dalam bentuk bisnis, sosial, keagamaan, dlsb.
Nah mari sekarang kita lihat aplikasi dari teori 5 C’s tersebut pada contoh kasus riil yang kita lakukan di Pesantren Wirausaha. Saya ambil contoh kasus ini karena ‘produk’ yang namanya Pesantren Wirausaha ini baru dan masih di titik yang sangat awal, namun hasilnya mulai kelihatan sehingga bisa diikuti siapapun secara gratis.
Pada akhir Agustus 2009 saya menulis tentang Berwirausaha Sebagai Wasilah Untuk Mendekatkan Diri Pada Allah inilah kreasi awal tersebut yaitu ide tentang Pesantren Wirausaha; karena banyaknya response dan pertanyaan – 2 hari kemudian di bulan yang sama saya per jelas dengan tulisan Pesantren Wirausaha: Training, Coaching & Mentoring…
Response yang terus berdatangan membuat kita bersemangat untuk benar-benar memulai program Pesantren Wirausaha ini, tidak sampai 2 bulan kemudian alhamdulillah Pesantren Wirausaha Angkatan I-pun kick off. Saat ini program Pesantren Wirausaha ini sudah diikuti oleh lebih dari 120 orang dan insya Allah akan terus bertambah.
Bisnis riil yang benar-benar kita mulai-pun lahir setelah komunitas ini terbentuk; peternakan kambing di Jonggol, Bogor adalah salah satunya.
Yang kita ingin contohkan disini adalah – di era informasi ini – betapa cepatnya kita bisa meng-create ide-ide, menyebar luaskannya, mengumpulkan response, dan mengimplementasikannya menjadi suatu ‘produk’. Dalam kasus ‘produk’ Pesantren Wirausaha – waktu yang dibutuhkan hanya 4 bulan – dari ide sampai produk benar-benar jalan.
Pendekatan yang sama bisa dilakukan juga untuk produk-produk barang dan jasa lainnya, mau coba…? Insya Allah Anda juga bisa!
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Entrepreneurship
Posted on 26 December 2009. Tags: Amerika, Bogor, Center of Kambingnomics, daging ayam, daging impor, daging kambing, daging nasional, daging sapi, Departemen Pertanian, ekonomi, gratis, hutang, Indonesia, Jonggol, kambing, kambingnomics, kesehatan, kolesterol, lemak, lemak jenuh, modal besar, pesantren wirausaha, peternakan sapi, profesi para Nabi, sapi, swasembada, United State Department of Agriculture, USDA
Dalam tulisan saya sebelumnya dengan judul Dicari: Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang saya ungkapkan bahwa untuk menurunkan kebutuhan daging impor hanya tinggal 10% saja tahun 2010 (yang tinggal seminggu lagi), Indonesia membutuhkan tambahan 2.5 juta ekor sapi. Akan tercapaikah target ini? Wa Allahu A’lam – Departemen Pertanian mungkin yang bisa menjawabnya karena saya cari datanya tidak ketemu.
Ketergantungan kita pada daging impor selama ini, bisa jadi karena persepsi yang terbangun selama ini di masyarakat adalah bahwa daging sapi-lah yang paling aman. Karena pertumbuhan peternakan sapi membutuhkan modal yang besar, dan tingkat kelahiran anak sapi yang relatif rendah – membuat upaya mengejar kebutuhan daging secara nasional ini menjadi berat.
Sebenarnya ada sumber daging lain yang tidak kalah menariknya dari daging sapi, yaitu daging kambing. Hanya daging kambing ini selama ini sering dipersepsikan sebagai daging yang berbahaya bagi kesehatan, seperti koleterol tinggi dan lain sebagainya sehingga banyak dihindari.
Hal inilah yang harus diluruskan oleh pihak-pihak yang terkait di negeri ini, dengan riset yang memadai, penyuluhan ke masyarakat, dlsb. Di Amerika misalnya, United State Department of Agriculture (USDA) telah mempublikasikan kajiannya seperti dalam tabel di atas.
Dari tabel di atas kita tahu bahwa dari kajian mereka ini, ternyata setiap berat yang sama daging kambing mengandung lebih sedikit lemak, lemak jenuh dan kolesterol dibandingkan dengan daging sapi dan bahkan lebih rendah juga dari daging ayam!
Apakah daging kambing, sapi dan ayam di Indonesia berbeda dari yang di Amerika? Perlu diteliti lebih detil – tetapi dugaan saya sendiri mestinya tidak jauh berbeda. Asumsinya data dari USDA tersebut memang benar; bukankah ini peluang besar bagi negeri ini untuk bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan dagingnya dari dalam negeri sendiri?
Kambing lebih mudah diproduksi secara massal, karena untuk beternak kambing tidak dibutuhkan modal yang besar. Kemudian kecepatan pertumbuhannya yang mencapai 3/2 (3 kali beranak dalam 2 tahun) insya Allah akan semakin memudahkan pencapaian pemenuhan kebutuhan daging nasional ini.
Efek ekonominya akan luar biasa bagi bangsa ini; pertama kita tidak akan lagi menghambur-hamburkan devisa setiap tahunnya untuk mengimpor kebutuhan daging nasional; kedua akan ada penyebaran kesejahteraan yang meluas ke masyarakat – asal mau saja – masyarakat kita pasti bisa pelihara kambing!
Lagi pula memelihara (menggembala) kambing ini juga profesi para nabi sebelum mereka menjadi nabi; pasti banyak pesan yang terkandung di dalamnya – yang barangkali belum semuanya bisa kita pahami, tetapi sedikit-demi sedikit pesan tersebut terkuak bila kita terjun ke dalamnya.
Bagi masyarakat yang ingin belajar perkambingan ini, kami menyediakan fasilitas di lokasi Pesantren Wirausaha kami yang juga secara berkelakar kita sebut sebagai Center of Kambingnomics – di Jonggol, Bogor. BELAJAR perkambingan di tempat ini adalah GRATIS dan Anda bisa membawa anak-anak sambil BERLIBUR…; bagi yang datang dari luar kota tersedia PENGINAPAN – hanya harus kontak kami sebelumnya agar tidak bentrok dengan jadwal rombongan lain yang kemungkinan menggunakan fasilitas yang sama.
Semoga dengan langkah kecil ini, kita bisa berkontribusi dalam mengerem kebutuhan impor daging nasional sekaligus juga menyebar luaskan kemakmuran ke masyarakat – Hal jazaa ul’ ihsaani illal ihsaan.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Entrepreneurship
Posted on 14 December 2009. Tags: 20 Dinar, Allah, Bibit dan Chandra, daya beli, deposito, emas, extreme poverty, harga emas, Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali, investasi, investasi sektor riil, Islam, kambing, kambingnomics, keadilan, kemiskinan, Kitco, moderate poverty, mudharabah, Mudharib, Nenek Minah, neraca, nisbah, nishab zakat, perak, pesantren wirausaha, Prita, Return on Investment, ROI, SBI, Sengon, sistem ekonomi, sistem hukum, surat Ar-Rahman, tabungan, The World Bank, timbangan, tolok ukur
“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar-Rahman (55): 7-9)
Pentingnya neraca, timbangan atau tolok ukur yang adil tergambar dari serangkaian ayat di surat Ar-Rahmaan tersebut di atas, sampai 3 kali Allah mengulanginya dalam 3 ayat yang berurutan.
Hanya neraca atau timbangan yang adil yang bisa menimbang segala sesuatu yang adil; neraca atau timbangan yang tidak adil – tidak bisa dipakai untuk menegakkan keadilan.
Di pentas hukum misalnya di Indonesia belakangan ini rame dengan berbagai kasus yang melukai rasa keadilan rakyat seperti kasus Bibit dan Chandra, kasus Prita, kasus Nenek Minah dan berjibun kasus-kasus lainnya. Mengapa rasa keadilan rakyat terluka dengan kasus-kasus tersebut? Sederhana – karena ada rasa keadilan yang tidak bisa ditegakkan oleh sistem hukum yang ada.
Demikian pula sebenarnya yang terjadi dengan sistem ekonomi dan investasi. Karena neraca atau timbangan yang umum dipakai di masyarakat pelaku ekonomi bukanlah timbangan yang adil – maka mayoritas penduduk negeri ini (dan dunia) jatuh pada kategori miskin – tanpa tahu bahwa sebenarnya dirinya miskin.
Contoh timbangan yang tidak adil ini adalah standar kemiskinan versi The World Bank yang menyatakan bahwa seseorang dikategorikan sangat miskin (extreme poverty) bila memiliki daya beli US$ 1.25/hari; saat ini di seluruh dunia ada 1.1 milyar manusia yang masuk kategori ini.
Di atasnya sedikit disebut miskin menengah atau moderate poverty yaitu bila memiliki daya beli kurang dari US$ 2 /hari. Yang masuk kategori ini ada 2.7 Milyar manusia di permukaan bumi.
Apakah yang memiliki daya beli di atas US$ 2/hari berarti makmur? Tidak juga – karena timbangan US$ 1.25 untuk extreme poverty maupun yang US$ 2 untuk moderate poverty tersebut bukanlah neraca yang adil untuk mengukur kemiskinan. Yang moderate saja dengan US$ 2/hari berarti hanya US$ 730/tahun atau kurang dari 5 Dinar/tahun.
Sandingkan ini dengan neraca Islam yaitu nishab zakat yang membedakan si kaya dengan si miskin pada angka 20 Dinar; Orang yang masih dikategorikan miskin menurut Islam (masih berhak menerima zakat), masih 4 kali lebih kaya dari standar kemiskinan moderate Dunia!
Di sistem investasi-pun neraca yang tidak adil yang memiskinkan mayoritas penduduk dunia ini juga terjadi. Ketika pelaku usaha membuat business plan atau project proposal untuk menilai kelayakan suatu investasi, mereka biasa mengukur antara lain dengan Return on Investment (ROI) yang disandingkan dengan hasil Deposito, SBI dan sejenisnya.
Kalau Deposito saat ini memberikan hasil 8% misalnya; maka proyek investasi yang memberikan hasil 20% (2.5 kali hasil Deposito!) – sudah dianggap sebagai investasi yang luar biasa.
Bila bank tempat Anda menabung membiayai projek seperti yang saya contohkan diatas, kebagian untung kah Anda? Tentu kebagian.
Hitungan kasarnya kurang lebih begini; pemilik proyek akan berbagi hasil dengan bank yang membiayainya misalnya 50/50 – maka bank mendapatkan 10% hasil dan pemilik projek mendapatkan 10 % pula. Lantas bank juga akan berbagi hasil dengan Anda misalnya 40/60 ; maka bank mendapatkan bersih 4 % dan anda mendapatkan 6 %.
Sudah menguntungkan? Nanti dulu! Rata-rata inflasi kita (2001-2008, tahun ini belum ketahuan) 9 tahun terakhir adalah 8.98 %. Jadi hasil yang Anda peroleh dari tabungan Anda lebih rendah dari angka inflasi.
Mayoritas pekerja mengandalkan investasinya pada Tabungan, Deposito, Dana Pensiun dan lain sebagainya yang semua hasilnya ditimbang dengan neraca tingkat hasil Deposito Bank, SBI dan sejenisnya. Walhasil kita semua baru sadar bahwa ternyata hasil jerih payah bekerja bertahun-tahun, bukannya bertambah tetapi tergerus oleh inflasi – kita tidak menyadarinya karena kita tidak menggunakan timbangan yang benar untuk membaca hasil investasi.
Itulah mengapa Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa hanya emas dan perak-lah yang bisa menjadi hakim (timbangan) yang adil dalam bermuamalah. Setahun terakhir harga emas di dunia naik 37% (sumber Kitco) dan Dinar dalam Rupiah naik 26% (sumber situs ini) ; maka investasi Anda dalam Rupiah harus bisa melampui hasil bersih minimal 26% atau bila dalam US$ harus bisa melampui 37% – setahun terakhir untuk sekedar menjaga daya beli riil dari investasi Anda tersebut.
Bila Anda mudharabah-kan dengan nisbah bagi hasil 50/50, maka pihak Mudharib harus bisa memperoleh hasil 2 kalinya dari angka tersebut – yaitu 52% untuk Rupiah dan 74% dalam US$. Wow…
Lantas adakah investasi yang memberikan hasil super tinggi tersebut di jaman krisis seperti ini? Jawabannya adalah pasti ada. Pertama angka tersebut kelihatan super tinggi hanya karena (timbangan) kacamata kita yang selama ini KELIRU – yaitu timbangan suku bunga deposito , SBI dan sejenisnya.
Emas atau Dinar sebenarnya tidak naik harganya; selama 1400 tahun lebih 1 Dinar (4.25 gram) setara dengan 1 kambing. Artinya seluruh investasi sektor riil, yang menumbuhkan atau menghasilkan benda riil, pasti hasilnya lebih baik – bila ditimbang dengan ukuran benda riil yang adil seperti emas atau Dinar ini.

Anak Kambing
Contoh, bila Anda punya uang 2 Dinar. 1 Dinar Anda belikan kambing, sisanya Anda simpan dalam Dinar. Setelah 2 tahun rata-rata kambing beranak 3 kali, dan anaknya bisa 1-2 kali beranak. Maka kambing Anda telah menjadi 4 – 7 ekor setelah 2 tahun. Ambil terkecilnya 4 (1 induk dan 3 anak). Ambil risiko kematian 1/3 (peternak yang berhasil bisa menurunkan kematian tinggal 1/20), maka kambing Anda kini berjumlah 3. 1 ekor untuk yang melihara dan 1 ekor untuk Anda bersih; artinya setelah 2 tahun kambing Anda menjadi 2 ekor yang masing-masing harganya @ 1 Dinar; sementara uang 1 Dinar Anda tetap 1 Dinar.
Hanya berlaku untuk kambingkah ini? Tidak, sektor-sektor riil lainnya juga berpeluang memberikan hasil yang luar biasa.
Ambil contoh Tanaman Sengon. Bibitnya hanya berharga Rp 1,000,- per batang ; setelah 5 tahun dipanen – harga rata-ratanya adalah Rp 500,000/batang. Berapa kenaikannya? 500 kali atau 50,000%! Oke butuh biaya sewa tanah, pemeliharaan, risiko mati, dlsb. Anggap saja kita petani Sengon yang pada tahap belajar – jadi belum optimal, 90% dari nilai tersebut habis untuk seluruh biaya-biaya usaha tersebut; masih berapa hasil kita? Masih 50 x dari investasinya!
Mudah-kah ini semua? Tentu tidak mudah – tetapi jelas bukanlah hal yang mustahil! Agar apa yang saya tulis di situs ini tidak hanya sebatas ilmu dan wacana – kita sudah mulai berusaha menternakkan kambing dan menanam Sengon di Pesantren Wirausaha kita di Jonggol.
Alhamdulillah 2 bulan setelah saya menulis tentang Kambingnomics – yang bersamaan dengan dimulainya proyek perkambingan kita; anak kambing pertama lahir seperti dalam foto di atas, seminggu kemudian kambing yang lain juga melahirkan… Dinar demi Dinar lahir dari perut-perut kambing ini… Insya Allah.
Mungkin Anda bertanya, kalau demikian tinggi hasil sektor riil dalam contoh tersebut, mengapa tidak semua peternak kambing dan petani sengon menjadi kaya raya? Jawabannya adalah karena kita hidup dalam sistem yang yang juga tidak adil; seperti akses pasar, akses kapital; akses sumber daya dan lain sebagainya yang insya Allah jadi bahan tulisan saya lainnya. Mudah-mudahan Allah memberi saya Ilmu, rizky dan usia untuk melanjutkan pekerjaan ini. Amin.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Entrepreneurship
Posted on 02 December 2009. Tags: Al-Qur'an, Alan Greenspan, Amerika, Argentina, cadangan emas, China, debt monetizing, Deret Fibonacci, Dinar, Federal Reserve, GGR, Greenspan-Guidotti Rule, harga emas, IMF, India, Indonesia, Jonggol, kemerdekaan, Pablo Guidotti, pesantren wirausaha, printing money out of thin air, quantitative easing, sistem finansial ribawi, surat Al-Baqarah, surat Al-Ikhlas, surat Al-Ma'arij, surat Yusuf, uang kertas, US Treasury, US$
Ketika saya mulai menyempatkan diri untuk menulis di blog 2 tahun lalu, ada tulisan awal saya bertanggal 30 Desember 2007 yang berjudul Kehancuran Uang Kertas Mengikuti Deret Fibonacci. Karena pembaca saya saat itu belum sebanyak sekarang, dan orang belum melihat buktinya – maka tentu lebih banyak yang tidak percaya daripada yang percaya – saya tentu memaklumi hal ini.
Kini hampir 2 tahun kemudian coba kita tengok kembali ke belakang. Ketika tulisan tersebut saya buat, harga Dinar masih Rp 1,096,900 dan harga emas dunia berada pada angka US$ 833.75; Menjelang 2 tahun harga Dinar kini sudah mencapai Rp 1,597,770,- dan harga emas dunia sudah berada pada angka US$ 1,215.70. Deret Fibonacci saya belum terbukti 100% memang, tetapi sudah sangat dekat – tinggal sejengkal langkah lagi – untuk terbukti.
Ini mengerikan saya sendiri yang menulisnya karena berarti kehancuran uang kertas itu begitu dekatnya. Kalau uang kertas merepresentasikan peradaban jaman ini, mungkin ini salah satu tafsir Al-Qur’an berikut:

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan kami memandangnya dekat (pasti terjadi).” (QS. Al Ma’aarij (70): 5 – 7)
Karena penasaran saya, kemudian saya berusaha mencari bukti ilmiah lain yang bisa menjelaskan ke masyarakat zaman ini tentang fenomena kehancuran uang kertas ini. Maka saya ambillah teori dari dedengkotnya uang kertas abad ini yaitu Alan Greenspan (dahulunya The Federal Reserve Chairman) dan Pablo Guidotti (dahulunya Deputi Minister of Finance – Argentina). Kedua orang ini kemudian menghasilkan apa yang disebut Greenspan-Guidotti Rule, saya singkat saja menjadi GGR untuk kemudahan penulisan berikutnya.
Inti dari GGR ini sebenarnya sangat sederhana yaitu: “Suatu negara harus memiliki cadangan yang minimal setara dengan hutang external jangka pendek (jatuh tempo setahun atau kurang)”. Dengan kata lain rasio antara reserve dan hutang jangka pendek minimal 1; bila kurang dari ini maka negara dalam bahaya kebangkrutan ekonomi.
Untuk contoh, lagi-lagi saya nggak mau menggunakan negeri sendiri takut ada yang marah. Maka saya ambil contoh negara yang sering secara misleading disebut sebagai adi kuasa atau super power – Amerika Serikat. Alasan lain saya pilih negara ini karena uangnya US$ selama ini dipakai untuk mengukur harga emas internasional.
Bila GGR mensyaratkan rasio minimal 1 agar negara bebas dari ancaman kebangkrutan, maka seperti apa peluang AS untuk bangkrut dalam jangka pendek? Marilah kita lihat cadangan dan hutang jangka pendeknya.
Untuk cadangan, saat ini AS memiliki:
- 8,133.5 ton emas senilai sekitar US$ 300 Milyar.
- Cadangan strategis berupa minyak 725 juta barrel senilai sekitar US$ 58 Milyar.
- Amerika juga memiliki cadangan dalam mata uang asing sebesar US$ 136 Milyar (data IMF).
Total dari 3 cadangan utama ini hanya US$ 494 milyar, katakanlah ditambah lain-lain kita bulatkan saja jadi US$ 500 Milyar.
Mari sekarang kita lihat hutang jangka pendeknya. Menurut US Treasury, Amerika saat ini harus me-refinance- sekitar US$ 2 trilyun hutang jangka pendek; ini diluar defisit anggaran belanjanya yang mencapai US$ 1.5 trilyun, atau Amerika membutuhkan US$ 3.5 trilyun dalam 12 bulan kedepan.
Ambil yang US$ 2 trilyun hutang jangka pendeknya dahulu; kemudian kita lihat kemana mereka berhutang. Ternyata sejak tahun 1985 Amerika sudah menjadi negara yang hutangnya lebih besar ketimbang piutangnya ke negara lain (net debtor). Sekarang sekitar 44% dari US$ 2 trilyun hutang tersebut adalah hutang terhadap pihak luar. Artinya hutang Amerika jangka pendek yang harus segera dilunasi ke pihak di luar Amerika saja telah mencapai US$ 880 milyar, yang jauh lebih besar dari cadangan mereka yang hanya US$ 500 Milyar tersebut di atas. Dari sini saja jelas Amerika akan segera menjadi negara yang GAGAL berdasarkan Greenspan-Guidotti Rule.
Mungkin Anda akan berpikir bahwa sebagai negara besar, Amerika pasti bisa mengatasi masalah ini. Tetapi nanti dulu, perlu diingat bahwa bukan hanya terhadap hutang jangka pendek terhadap pihak luar yang Amerika akan gagal – untuk membiayai total hutang yang US$ 2 trilyun dan defisit belanja yang US$ 1.5 trilyun atau total US$ 3.5 trilyun – sampai saat ini para ahli negeri itu juga belum ketemu solusi yang berkelanjutan (sustainable).
Saving bangsa Amerika saat ini hanya di kisaran US$ 600 Milyar pertahun; jadi kalau seluruh saving ini untuk membiayai hutang dan kebutuhan jangka pendek-pun tidak akan memadai. Mereka masih kekurangan dana sekitar US$ 3 Trilyun atau sekitar 40 % dari GDP mereka.
Well, tentu mereka akhirnya punya solusi untuk ini – meskipun bukan solusi yang sustainable, apa solusi itu? Mencetak uang dari awang-awang – atau dalam bahasa awam mereka “printing money out of thin air”. Bahasa teknisnya bisa keren-keren seperti quantitative easing, debt monetizing, dlsb. Tetapi pertanyaannya sampai kapan mereka dapat melakukan ini? Kalau ada orang berhutang kepada Anda, setiap kali ditagih terus menunda atau malah minta hutangan baru – apakah akan Anda terus berikan? Inilah nampaknya yang mulai dilakukan China dan India dengan mengurangi ketergantungannya pada US$ dan mulai secara serius meningkatkan cadangan emasnya.
Lantas apa hubungan ini semua dengan harga emas dunia? Sederhana saja, kalau harga emas sekarang senilai US$ 1,215.70; apa jadinya kalau US$ tidak lagi dipercaya orang dan nilainya terus menurun, tinggal 1/2, tinggal 1/4 (seperti yang kita alami tahun 97/98) dan seterusnya. Maka harga emas dunia bisa berlipat ganda melebihi kelipatan yang sebelumnya saya perhitungkan dalam Deret Fibonacci tersebut di atas.
Fibonacci bisa keliru, demikian pula dengan Greenspan dan Guidotti. Tetapi kehancuran sistem ribawi sudah dipastikan di Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah (2): 276) jadi 100% saya percayai kebenarannya.
Lantas apa solusinya bagi kita sebagai bangsa dan pribadi? Lagi-lagi balik ke Al-Qur’an (QS. Yusuf (12): 47-48) yang kebenarannya pasti :“….Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) secara sungguh-sungguh; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan…”. Ini cara Qur’ani untuk mempersiapkan diri menghadapi paceklik panjang dimulai dari gempa financial dahsyat yang epicentrum-nya US$ tersebut di atas.
Dalam skala bangsa, kita punya seluruh sumber alam yang kita butuhkan berupa laut, hutan, tambang, lahan-lahan yang subur… maka tidak cukupkah waktu 7 tahun ke depan untuk mengolahnya secara sungguh-sungguh dan mengelola penggunaannya secara efisien? Kalau ini dapat kita lakukan, maka insya Allah negeri ini akan dapat bener-bener merdeka – mumpung sistem yang penjajah kita akan segera kalah perang (ekonomi) – ingat tahun 45 kita diberi rahmat Allah berupa kemerdekaan (baru kemerdekaan fisik, belum kemerdekaan ekonomi, pemikiran, dlsb.) melalui kekalahan perang negeri penjajah kita waktu itu!
Ok, bicara negara dan bangsa mungkin terlalu luas; bagaimana kalau kita mulai dari diri kita sendiri? Bagaimana kalau kita berusaha secara maksimal untuk bisa memakmurkan bumi tempat kita berpijak – sehingga dalam 7 tahun ke depan kita bisa benar-benar merdeka dari segala bentuk ketergantungan terhadap sesama manusia – menjadi semata-mata hanya mengabdi, menyembah dan bergantung hanya kepadaNya, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas (112):2). Insya Allah Bisa!
Bagi yang ingin membuat langkah konkrit dalam hal ini, dapat bergabung dengan para peserta Pesantren Wirausaha – yang saat ini tengah mulai berjibaku untuk bisa belajar memakmurkan sejengkal bumi Allah yang diamanahkan ke kita di Jonggol-Bogor. Semoga Allah permudah kita dengan amal yang diridhoiNya, Amin.
VN:F [1.8.3_1051]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.3_1051]
Posted in Entrepreneurship