Archive | Dinar Prospecting
Posted on 18 August 2010. Tags: Alat Tukar, Amerika, anomali musim, Asia Tenggara, bisa terjadi, Dinar, dinar islam, emas, Eropa, harga emas, hasil jerih payah, Indonesia, inflasi, investor, jangka panjang, jangka pendek, kecelakaan, kematian, kesuksesan usaha, Manajemen Risiko, Maret, Medium of Exchange, musim membeli, pasti terjadi, penurunan daya beli, risiko, Risiko Penurunan Nilai, September, Store of Value, Strategi Pengendalian Risiko, Teori Peluruhan Eksponensial, uang fiat, uang kertas, Unit of Account
Waktu saya belajar tentang Manajemen Risiko dahulu, hal yang mendasar yang kita pelajari antara lain adalah bagaimana memilah-milah risiko dari yang bisa terjadi dengan yang pasti terjadi. Untuk risiko yang masuk kategori bisa terjadi (kecelakaan misalnya), kemudian dipilah berdasarkan severity dan frequency-nya untuk kemudian dihindari, diminimisasi atau dihadapi. Untuk risiko yang pasti terjadi (kematian misalnya) – tidak ada pilihan lain kecuali harus dihadapi.
Naik turunnya harga emas dunia adalah juga merupakan suatu risiko; tetapi masuk kategori yang mana? Tergantung dari seberapa jauh kita memandangnya, untuk jangka pendek dia adalah risiko yang bisa terjadi (bisa naik atau turun), tetapi untuk jangka panjang dia lebih mendekati risiko yang pasti terjadi – uang fiat hampir pasti turun daya belinya terhadap emas. Sampai saat ini belum ada satupun uang kertas dunia yang mampu bertahan daya belinya terhadap emas dalam rentang waktu yang panjang.
Ambil contoh kasus harga emas tahun ini misalnya; bila dilihat dari statistik seharusnya sejak akhir Maret lalu sampai awal September nanti harga emas mestinya berada pada musim rendah. Namun untuk tahun ini nampaknya pola pergerakan harga musiman ini tidak berlaku, bahkan bulan Juni lalu harga emas dunia sempat berada di kisaran angka US$ 1,266/Oz. Per pagi ini harga emas dunia berada pada kisaran angka US$ 1,225/Oz – mengalami penurunan US$ 42/Oz atau turun 3% dari harga tertingginya 2 bulan lalu, namun angka ini masih US$ 270/Oz lebih tinggi atau mengalami kenaikan 28.33% dari harga emas Dunia yang pada bulan yang sama tahun lalu yang berada di kisaran US$ 955/Oz.
Semakin panjang kita menarik rentang waktu yang kita lihat, akan semakin jelas penurunan daya beli uang kertas terhadap emas ini. Anda bisa perhatikan misalnya pada grafik 10 tahunan yang ada pada situs ini (statistik “Dinar Islam Growth” sebelah kanan bawah) – trend naiknya dalam rentang waktu yang panjang menjadi amat sangat jelas.
Setelah apa yang terjadi dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara 1997/1998, Amerika tahun 2008 dan Eropa tahun 2010 ini, kita semua baik individu, perusahaan maupun negara nampaknya kini memang perlu mengkaji kembali Strategi Pengendalian Risiko yang dihadapinya. Satu aspek risiko yang begitu nyata mendekati kepastian, yaitu risiko penurunan daya beli uang kita – sangat bisa jadi masih luput dari konsideran kita dalam konteks implementasi Pengendalian Risiko.
Akan tidak ada gunanya misalnya suatu usaha mencapai sukses luar biasa dan menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi para investornya – bila keuntungan tersebut dihargai dengan suatu nilai uang kertas yang nilainya sendiri mengalami peluruhan dengan cepat. Demikian pula dengan hasil jerih payah kita; tidak ada gunanya kita tabung bila nilai daya belinya tidak bisa kita pertahankan.
Karena risiko penurunan nilai (baca: inflasi) uang kertas adalah suatu keniscayaan atau mendekati kategori risiko jenis kedua – yaitu risiko yang pasti terjadi, maka mau tidak mau kudu kita hadapi. Dengan apa kita menghadapinya? Ya antara lain menggunakan emas atau Dinar ini. Seandainya toh karena satu dan lain hal emas atau Dinar belum bisa difungsikan sebagai Alat Tukar atau Medium of Exchange; penggunaan emas atau Dinar sebagai Unit of Account dan Store of Value akan dapat sangat efektif dalam pengelolaan risiko penurunan daya beli uang kertas atau inflasi. Wa Allahu A’lam
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 30 July 2010. Tags: Baltic Dry Index, Baltic Exchange, BDI, daya beli stabil, dorongan ke atas, dunia, fitrah, grafik, harga emas, harga naik, indeks biaya pengangkutan laut, indeks harga konsumen, indikator ekonomi, inflasi, kapal pengangkut, komoditi, konsumsi, London, pemerintah, pengangguran, penurunan daya beli, pola, prediksi, selera, selera sesaat, supply and demand, tersirat, tersurat, uang kertas
Di luar data-data resmi pemerintah yang umumnya digunakan untuk indikator ekonomi seperti angka inflasi, tingkat pengangguran, indeks harga konsumen, dlsb; para ekonom juga sering menggunakan data lain yang tidak biasa digunakan sebagai indikator ekonomi – namun tidak kalah akurat atau bahkan sering lebih akurat dalam menggambarkan situasi ekonomi global yang sesungguhnya. Di antara data yang tidak biasa ini adalah indeks biaya pengangkutan laut yang dikeluarkan oleh Baltic Exchange - London.
Indeks yang disebut Baltic Dry Index (BDI) ini menggambarkan tingkat biaya pengangkutan laut dari seluruh dunia. Setiap hari data ini dikumpulkan oleh Baltic dari sejumlah besar broker pengangkutan laut di seluruh dunia, jadi data ini sangat akurat dan up-to-date. Bahkan keakuratan dan ke-up–to–date-annya menyerupai pergerakan harga emas dunia, sehingga dari kedua data ini bisa dianalisa korelasinya.

Baltic Dry Index (2 tahun)
Bagaimana BDI ini bisa bercerita tentang ekonomi dunia? Jumlah kapal-kapal pengangkut di seluruh dunia tidak bisa bertambah atau berkurang secara drastis, artinya supply kapasitas kapal relatif stabil atau kalau toh bertambah bertambah secara gradual dengan persentase pertambahan yang sangat kecil. Dari supply kapasitas pengangkutan yang relatif stabil tersebut, bila jumlah barang yang perlu diangkut (demand pengangkutan) besar maka harga akan naik – dan sebaliknya bila jumlah barang yang perlu diangkut sedikit maka akan terjadi persaingan yang hebat antar perusahaan pengangkutan laut sehingga harga pengangkutan akan jatuh.
Ketika dunia mengalami krisis ekonomi secara serius, konsumsi barang dunia berkurang drastis sehingga yang perlu diangkut di laut juga turun secara drastis pula. Harga-harga pengangkutan laut-pun anjlog oleh sebab demand yang rendah. Perhatikan grafik BDI di atas untuk catur wulan terakhir 2008.

Baltic Dry Index (6 bulan)
Setelah itu dunia berusaha melakukan recovery dengan susah payah seperti yang ditunjukkan periode 2 tahun terakhir dari grafik tersebut di atas. Bila kita perbesar grafik tersebut untuk melihat perkembangannya selama 6 bulan terakhir, kita akan melihat seperti pada grafik yang ke-2 di samping. Dimana terjadi penurunan demand lagi dalam 2 bulan terakhir – meskipun tidak separah akhir 2008.
Lantas apa hubungannya informasi yang tersurat dan yang tersirat dari BDI tersebut dengan harga emas dunia? Normal-nya harga emas akan mengikuti harga komoditi fisik lainnya, bila harga–harga komoditi rendah karena demand yang turun maka demikian pula yang akan terjadi pada harga emas.
Hal ini bisa ditunjukkan dengan grafik ke-3 di bawah, dimana pada grafik BDI yang pertama di atas saya timpakan dengan grafik harga emas dunia pada periode yang sama. Tidak sama persis tetapi kita bisa melihat kemiripan pola-nya satu sama lain.

Gold vs BDI
Bila tidak ada faktor lain yang mempengaruhinya selain semata oleh supply and demand, bisa jadi 2 grafik tersebut (Gold dan BDI) akan berhimpitan satu sama lain. Namun karena harga emas lebih rentan dipengaruhi isu sesaat dibandingkan harga-harga pengangkutan laut, maka dari waktu ke waktu terjadi perbedaan arah dari 2 grafik tersebut.
2 minggu terakhir misalnya, arah grafik BDI sudah balik ke atas – namun arah grafik emas malah ke bawah – inilah yang saya sebut faktor selera dalam tulisan saya 2 hari lalu dengan judul “Harga Emas: Antara Selera dan Realita”. Setelah ‘selera’ sesaat tersebut berlalu, maka grafik emas akan kembali ke fitrah-nya yaitu naik!
Selain faktor selera tersebut di atas ada perbedaan lain yaitu adanya dorongan ke atas pada harga emas yang TIDAK dimiliki oleh BDI, perhatikan misalnya pada periode setahun antara Mei 2009 – Mei 2010. Apa yang menyebabkan dorongan ke atas ini? Inilah faktor inflasi atau penurunan daya beli uang kertas. BDI diukur dengan uang kertas dengan asumsi daya belinya stabil, sedangkan harga emas yang diukur dengan uang kertas pula akan kelihatan naik – bukan karena nilainya yang naik, tetapi oleh daya beli uang kertas yang sejatinya turun.
Jadi akan kemana arah harga emas, hari-hari, minggu-minggu atau bulan-bulan ke depan? Salah satunya dapat diduga dari ujung grafik BDI tersebut ke atas. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 28 July 2010. Tags: analisa, appetite, bank, bursa saham, cabe, daya beli, emas, Eropa, harga emas, ilmu pertanian, investasi, investor, jangka panjang, krisis, masyarakat, mutual fund, panen, para ahli, pasar, pasar emas dunia, perkebunan, pertanian, petani, pola tanam, prediksi, realita, riset pasar, risiko investasi, safe haven, saham, selera, selera sesaat, supply and demand, well informed decisions
Sejak saya belajar ilmu pertanian 30 tahun lalu sampai sekarang, daya beli petani kita tidak banyak berubah. Kebanyakan mereka masih termasuk golongan masyarakat yang memiliki daya beli terendah di negeri ini, mengapa demikian? Karena mereka kebanyakan mengikuti selera dalam pola tanamnya. Ketika cabe di pasar harganya tinggi, maka serentak petani rame-rame menanam cabe. Pada saat mereka panen harga jatuh karena demand cabe kan tidak serta merta naik ketika supply tinggi dari panenan yang melimpah.
Tetapi ada sekelompok teman-teman saya yang sangat sukses di bidang pertanian/perkebunan. Mereka tidak menanam sesuatu hanya karena orang lain rame-rame menanamnya. Mereka hanya menanam suatu jenis tanaman apabila sudah diriset seberapa besar pasarnya, dan siapa-siapa yang sudah akan mengisi pasar tersebut. Dengan demikian pada saat mereka panen, pasar cukup kuat menyerap hasil panennya dan harga terjaga.
Pola tanam (bisa juga dibaca: investasi) yang sama sebenarnya juga terjadi di bursa saham dan pasar emas dunia, selera (appetite) sangat mempengaruhi keputusan investasi kebanyakan investor. Turun drastisnya harga emas dunia tadi malam misalnya adalah karena secara tiba-tiba begitu banyak investor yang selera untuk mengambil risiko investasi-nya membaik.
Ketika beberapa negara Eropa diguncang krisis, para investor dihinggapi rasa ketakutan sehingga mereka rame-rame mengamankan dana investasinya sebagian di emas; permintaan emas yang melonjak saat itu mendorong harga emas tinggi selama beberapa bulan terakhir.
Kemudian ketika beberapa pekan terakhir ada kabar bahwa kondisi keuangan bank-bank besar Eropa ternyata tidak seburuk yang dibayangkan sebelumnya, karena bank-bank besar tersebut ternyata lolos stress tests – maka para investor kembali merasa aman untuk mengalihkan dananya dari safe haven emas, ke bentuk-bentuk investasi yang lebih berisiko seperti saham, mutual fund dan lain sebagainya. Itulah sebabnya harga emas yang rendah hari-hari ini, akan bersamaan dengan tingginya harga-harga di saham dan sejenisnya.
Lantas apakah kita perlu rame-rame mengikuti masyarakat investor yang memburu saham dan sejenisnya tersebut? Kalau saya tidak akan saya lakukan karena tingginya harga-harga saham secara global hari-hari ini juga bukan karena didorong oleh kinerja perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan saham-saham tersebut. Lagi-lagi tingginya harga saham-saham tersebut lebih banyak didorong oleh selera atau appetite para investor untuk lebih berani mengambil risiko. Ketika selera memudar (dan selera memang gampang sekali pudar oleh berbagai sebab!), maka harga saham akan kembali berguguran. Lihat tulisan saya dengan judul Pilihan Investasi: Saham atau Emas?
Lantas apa yang akan saya lakukan? Belajar dari teman-teman yang sukses di bidang pertanian/perkebunan tersebut – saya akan lebih banyak mengambil keputusan berdasarkan riset pasar dan realita yang ada pada supply and demand emas secara global dan dalam jangka panjang.
Untungnya tidak seluruh riset dan realita tersebut harus kita kumpulkan dan analisa sendiri; banyak sekali kajian para pakar di bidang ini yang bisa kita baca dan pelajari analisa mereka. Salah satunya adalah yang pernah saya kumpulkan dalam satu tulisan yang berjudul Prediksi Harga Emas oleh Para Ahlinya.
Dengan memahami realita-realita semacam ini, insya Allah kita bisa memaksimalkan keputusan yang didasarkan pada informasi yang memadai (well informed decisions) – bukan hanya didorong oleh selera sesaat kita. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 16 July 2010. Tags: 15 Agustus 1971, Alat Tukar, Amerika, arah terbang, awang-awang, balon, Bank for International Settlements, BIS, Bretton Woods Agreement, diam-diam, dunia, emas, Gold Swap, grafik, harga emas, harga naik, hutang, ikatan, Nixon Shock, pencetakan uang, Perang Dunia II, perubahan, putus tali, Rule of Thumb, Rupiah, sejarah mata uang, trend, uang, udara, US Treasury Debt, US$, Yen
Selama 2500 tahun lebih emas adalah uang bagi seluruh peradaban manusia. Bahkan setelah Perang Dunia II-pun melalui Bretton Woods Agreement 1945, uang masih dikaitkan dengan emas. Seperti dalam rangkaian balon di samping, balon pertama US$ diikat dengan emas – 1 oz setara dengan US$ 35. Kemudian rangkaian balon berikutnya (Rupiah, Yen, dlsb) diikat dengan US$ atau langsung terhadap emas.
Lantas apa jadinya ketika ikatan terhadap emas tersebut diputus sejak 15 Agustus 1971 melalui kejadian yang mengguncang dunia yang disebut Nixon Shock? Seperti balon yang dilepas dari ikatannya – harga emas terus membubung tinggi. Bila pada tahun-tahun sebelum ikatan tersebut dilepas harga emas dunia berada pada kisaran US$ 35/Oz; pada tahun 1971 ketika ikatan dilepas, harga emas mulai merangkak ke angka US$ 40/Oz – kini harga itu telah mencapai US$ 1.200-an/Oz atau dalam US$ naik 30 kali-nya selama kurun waktu 40 tahun saja.
Balon Rupiah lebih tinggi lagi terbangnya. Bila pada tahun pelepasan ikatan tersebut harga emas masih dikisaran Rp 500/gram; kini harga itu di kisaran Rp 350,000/gram atau naik 700 kalinya selama 40 tahun terakhir!
Well, itu sejarah mata uang dan harga emas – suka atau tidak suka itulah realitanya. Yang lebih penting bagi kita adalah bukan sejarah masa lalunya, tetapi memahami kemana arah terbangnya balon-balon tersebut ke depan, sehingga kita bisa mengambil keputusan yang bijak untuk diri, anak cucu dan generasi yang akan datang. Berikut adalah poin-poin yang akan menentukan arah terbang balon-balon tersebut:

- Sampai saat ini yang nampak di depan mata adalah uang akan terus dicetak tanpa ikatan apapun di seluruh dunia – persis seperti balon, isinya adalah awang-awang (udara).
- Negara-negara di dunia terus menambah hutang, di Amerika yang uangnya (US$) digunakan untuk harga emas dunia – hutang tersebut kini telah mencapai US$ 12.8 trilyun, naik sekitar US$ 3 trilyun dari tahun sebelumnya.
- Rule of Thumb-nya setiap kenaikan hutang Amerika US$ 1 trilyun, harga emas naik sekitar US$ 125/Oz, perhatikan pada grafik di samping untuk memahami hubungan antara US Treasury Debt ini dengan harga emas.
- Untuk memberikan hasil yang berubah, diperlukan cara yang berubah pula. Maka bila belum ada perubahan dalam sistem pengelolaan uang dunia – kita juga belum bisa mengharapkan adanya perubahan dalam trend harga barang-barang tidak terkecuali emas.
Dari fakta-fakta tersebut di atas, saya melihatnya bahwa balon-balon tersebut rasanya belum akan turun dan balik ke pengikatnya. Yang terjadi mungkin malah sebaliknya, mereka akan semakin terbang tinggi dan kemudian menghilang. Barangkali inipula yang dilihat oleh Bank for International Settlements (BIS) sehingga secara diam-diam mereka mulai ‘memasukkan’ emas sebagai ‘alat tukar’ swap-nya, mereka mulai memerlukan kembali ikatan itu! Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +2 (from 2 votes)
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 13 July 2010. Tags: ahli meteorology & geofisika, anomali musim, banjir, benang merah, bumi utara, cermin, demand, diversifikasi aset, dorongan ke atas, ekonomi stabil, emas, emas perhiasan, frequency, fundamental, grafik, harga emas, harga naik, harga terendah, hujan deras, jangka panjang, jangka pendek, Juli, kemarau, komoditi, Maret, mata uang, musim dingin, musim hujan, musim membeli, pelaku pasar, perubahan, petani, pola tanam, prediksi, rentan isu, safe haven, severity, statistik, teknologi, uang fiat
Dahulu waktu saya kecil, petani-petani di desa-pun seolah dapat memprediksi kapan hujan mulai turun dan kapan berhentinya. Dengan demikian mereka bisa merencanakan pola tanam-nya secara akurat. Kini 40 tahun kemudian, perubahan musim ini sulit sekali diprediksi bahkan dengan teknologi tinggi sekalipun. Sekarang kita berada di bulan Juli, musim hujan mestinya sudah berakhir 4 bulan lalu – tetapi sekarang hujan deras dan banjir masih melanda di beberapa wilayah.
Seperti juga pada musim hujan dan kemarau, naik turunnya harga emas seharusnya predictable karena harga emas adalah cermin bagi harga komoditi-komoditi kebutuhan utama manusia. Ketika komoditi banyak dibutuhkan (demand tinggi) misalnya pada musim dingin di belahan bumi utara (di musim dingin orang butuh lebih banyak makanan, pakaian dan energi) – harga emas akan cenderung naik, lihat statistiknya pada tulisan saya sebelumnya “Musim Membeli Emas…”. Musim harga emas rendah mestinya juga sudah mulai berlangsung sejak 4 bulan lalu Karena di belahan bumi utara – yang secara umum penduduknya lebih makmur – musim dinginnya telah berakhir di bulan Maret.
Apa yang sebenarnya terjadi secara cepat dalam beberapa tahun belakangan – yang tidak (belum) terjadi selama puluhan tahun sebelumnya? Untuk perubahan musim hujan, biarlah para ahli meteorology dan geofisika yang menjelaskannya.
Untuk tinggi rendahnya harga emas yang nampaknya tidak lagi mengikuti musim, para ekonom dan pelaku pasar punya teorinya sendiri-sendiri. Diantara sekian banyak teori, berikut saya sarikan benang merahnya :
- Di masa ekonomi stabil dan relatif tidak bergejolak seperti yang dialami dunia dalam beberapa dasawarsa yang lewat – orang comfortable untuk menaruh uangnya dalam mata uang fiat dan memutarnya dalam berbagai usaha yang menguntungkan. Emas hanya dibeli dalam jumlah secukupnya untuk diversifikasi aset, bahan perhiasan, dlsb.
- Ketika ekonomi dunia bergejolak hebat seperti yang terjadi dalam 2 tahun terakhir, ada jenis kebutuhan emas yang baru yang tiba-tiba meningkat yaitu kebutuhan untuk safe haven – tempat melabuhkan aset secara aman.
- Ketika kebutuhan emas untuk safe haven ini yang dominan di pasar, maka harga emas menjadi mudah sekali bergejolak. Mudah sekali diterpa isu, sehingga yang mempengaruhi harga emas bukan lagi faktor yang bersifat fundamental – tetapi lebih banyak pada persepsi sesaat dari para pelaku pasar.

Emas Setahun Terakhir
Karena faktor-faktor penyebab tersebut akan tetap terjadi atau bahkan dalam severity (tingkat pengaruh) yang lebih kuat dan frequency yang lebih sering, maka harga emas akan terus bergejolak hebat dalam jangka pendek. Namun arah jangka panjangnya (setahun lebih) nampak jelas sekali dorongan ke atasnya.
Lihat pergerakan setahun terakhir pada grafik di samping misalnya. Pada bulan Desember 2009 lalu, harga emas dunia sempat naik mencapai US$ 1,226/Oz tetapi juga sempat turun ke angka US$ 1,083/Oz atau sempat turun dalam rentang 12% di bulan tersebut. Namun secara keseluruhan bila kita tarik waktu setahun terakhir – harga emas dunia naik sekitar 30%-an yaitu dari kisaran harga US$ 920/Oz awal Juli 2009 ke angka US$ 1,205/Oz saat ini.
Untuk bulan ini dan bulan depan, saya sendiri berharap masih ada musim harga emas rendah – meskipun hanya 2 bulan – bukannya 6 bulan seperti di masa lalu. Tepatnya berapa, tidak ada yang bisa tahu secara pasti – hanya berdasarkan pergerakan harga setahun terakhir – nilai terendah ke depan kemungkinan besarnya tidak sampai menyentuh garis hijau pada grafik di atas. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 12 July 2010. Tags: Al-Qur'an, Amerika, Article of Agreement of IMF, Bank Sentral, Barrack H. Obama, benci tapi rindu, Dinar, diyat, emas, Eropa, EuroDollars, FAME, Foundation of Advance Monetary Education, G-8, GATA, Gold Anti Trust Action Committee, Hadits, Islam, Italy, kebutuhan transaksi, lagu, Mitsqal, nilai tukar, nishab zakat, pemenang Nobel, perak, Rasulullah SAW, surat Al-Imran, syariah, uang, uang emas, uang fiat, Uang Masa Depan, UFWC, United Future World Currency
Di dunia yang didominasi oleh uang Fiat murni sejak Agustus 1971, uang emas menjadi seperti isi lagu tahun 1980-an – dibenci namun pada saat yang bersamaan juga banyak dirindukan.
Uang emas dibenci oleh bank-bank sentral dunia dengan alasan yang tidak jelas – konon kalau uang emas dibiarkan exist – uang fiat akan kelihatan tidak bernilainya. Bahkan bukan hanya dibenci, dalam Article of Agreement of the IMF ada larangan bagi negara-negara anggotanya untuk menggunakan emas sebagai dasar nilai tukar uangnya (Article IV, Section 2. B).
Lantas siapa yang merindukan uang emas? Bagi kita umat Islam – uang emas ini bukan hanya sekedar uang untuk kepentingan transaksi, tetapi juga sebagai alat untuk implementasi beberapa ketentuan syariah seperti nishab zakat, nishab hukuman bagi pencuri, nilai uang diyat, dlsb. Jadi kita tentu merindukan kehadiran uang yang adil ini.
Namun ternyata umat di luar Islam-pun yang cerdas dan memahami betul problem yang terbawa dengan uang kertas, mereka juga mulai merindukan hadirnya kembali uang emas ini. Di Amerika ada Gold Anti Trust Action Committee (GATA) dan Foundation of Advance Monetary Education (FAME) , keduanya gencar mengkritisasi ketidak beresan uang kertas mereka dan pentingnya kembali ke emas.

United Future World Currency (UFWC)
Yang lebih hebat adalah di Eropa ada United Future World Currency (UFWC) yang sangat serius mempersiapkan uang baru berbasis emas ini; Akses mereka ke para pemimpin dunia juga sangat baik sehingga dalam pertemuan G-8 yang berlangsung di Italy tahun 2009 lalu – mereka berhasil secara symbolic menyerahkan uang emas mereka kepada para pemimpin dunia tersebut.
Dalam kebingungannya, uang yang diberikan kepada para pemimpin G-8 ini diberi nama ‘eurodollars’ dan bernilai setara 2,800 Euro atau US$ 3,900 per kepingnya. Gambar yang saya sajikan di atas adalah koin yang diserahkan kepada Barrack H. Obama.
Bukan hanya berhasil menyerahkan koin emas-nya pada para pemimpin dunia, UFWC juga melombakan design uang masa depan ini pada anak-anak di seluruh dunia – karena generasi merekalah yang nantinya akan menggunakan uang ini. Lomba design uang masa depan ini melibatkan juri dari berbagai latar belakang seperti para pemenang hadiah nobel, para ahli percetakan uang logam, para ekonom, dlsb.
Lagi-lagi kita umat Islam sebenarnya punya solusi yang sudah sangat terbukti keunggulannya selama ribuan tahun – kalau saja kita mau kembali ke uang kita sendiri. Kita tidak perlu kebingungan mencari nama baru bagi uang kita karena uang kita namanya sudah disebut di Al-Qur’an (QS. Al-Imran (3): 75) dan berbagai hadits Rasulullah SAW.
Kita juga tidak perlu capai-capai menentukan designnya karena yang diatur dalam uang kita hanya beratnya (1 Mitsqal emas = 1 Dinar) dan ancaman yang tegas bagi yang menurunkan kadar standarnya.
Penggunaan Dinar juga tidak memerlukan kesepakatan khusus dari para pemimpin dunia; aturan main dalam syariah yang sudah baku dan sudah tested lebih dari 1.000 tahun terkait dengan emas dan perak sangatlah mencukupi untuk mengatur penggunaan emas dan perak sebagai uang ini.
Jadi kalau kita kembali kepada solusi Islam; justru kita akan berada di depan dari bangsa-bangsa lain di dunia. Ketika bangsa-bangsa lain masih sibuk mencari nama dan bentuk uang baru mereka, kita sudah diberi tahu nama dan bentuk uang kita dari 2 pegangan utama kita yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +2 (from 2 votes)
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 17 June 2010. Tags: Alf Field, Arnold Bock, Bank Sentral, Consumers Price Index, CPI, David Rosenberg, debasement, dekade, Dinar, Dubai Sabbatical, Egon von Greyerz, emas, Euro Pacific Capital, expert, fenomena moneter, Foreign Exchange, Forextraders.com, fundamental, GDP, Global Strategist, Gluskin Scheff, harga emas, harga terendah, harga tinggi, Harry Schultz, horrific scale, hutang pemerintah, hyper inflasi, ilmu masa depan, inflasi, investasi, jumlah uang, Kitco, krisis ekonomi, mata uang, Matterhorn Asset Management, Merril Lynch Economist, newsletter, obligasi, para ahli, pemerintah, penurunan nilai, perputaran uang, Peter Cooper, Peter Krauth, Peter Schiff, PIIGS Flu, prediksi, Rob McEwen, Rupiah, safe haven, Shadowstats.com, statistik, suku bunga, supply and demand, Swiss, systemic meltdown, trend, uang kertas, US Gold Corp Inc., US$, World's Best Gold Analyst
Bagi yang mengira bahwa harga emas dunia di kisaran US$ 1,230/oz atau di Indonesia pada kisaran Rp 367,000/gr hari-hari ini sudah ketinggian sehingga berniat menjual emas/Dinarnya atau menunda investasinya, tulisan saya kali ini barangkali bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan Anda. Kali ini bukan pendapat saya yang dominan, tetapi saya ambilkan dari 10 Ahli per-emas-an dunia yang sangat kompeten di bidangnya.
Saya sarikan prediksi harga emas oleh para ahli ini, masing-masing lengkap dengan alasannya sebagai berikut:
1. Peter Schiff (President & Chief Global Strategist dari Euro Pacific Capital)
Peter Schiff ini memprediksi harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz – US$ 10,000/oz dalam 5 sampai 10 tahun mendatang, dengan alasan bahwa masyarakat dunia akan semakin takut dengan penurunan nilai (debasement) mata uang kertasnya menyusul serangkaian krisis ekonomi, real estate, mortgage meltdown, credit crunch, subprime debacle dan entah apa lagi nama krisis-krisis berikutnya.
2. David Rosenberg (Mantan Merril Lynch Economist, Sekarang Chief Economist & Strategist di Gluskin Scheff)
David memberikan estimasi yang menurutnya sendiri masih konservatif di angka US$ 3,000/oz dalam waktu dekat. Alasannya adalah bila didasarkan pada rasio harga emas dan GDP 3 dekade ke belakang, harga emas seharusnya berada pada US$ 5,300/oz. Bila disetarakan dengan CPI (Consumers Price Index) , maka harga emas seharusnya sudah berada pada kisaran US$ 2,300/oz. Bila rasio yang digunakan adalah rasio harga emas dengan jumlah uang M1, maka harga emas harusnya sudah berada pada angka US$ 3,100/oz.
3. Alf Field (Tekenal di dunia sebagai World’s Best Gold Analyst)
Alf memprediksi harga emas akan berada pada rentang US 5,000/Oz – US$ 10,000/Oz. Alasannya adalah bila mengikuti trend tahun 70-an ke 80-an dimana harga emas melonjak 24.3 x dalam 1 dekade, kenaikan emas dekade ini akan mencapai US$ 6,221/Oz yang merupakan perkalian harga terendah dekade ini US$ 256 x 24.3. Penyebab fundamentalnya adalah krisis sekarang yang dia sebutnya sebagai systemic meltdown, dan pemerintah dunia membanjiri ekonomi dengan uang kertas untuk mengatasi krisis-krisis tersebut yang justru berdampak pada hilangnya nilai uang kertas.
4. Forextraders.Com
Situs Foreign Exchange ini memprediksi harga emas akan berada pada kisaran US$ 3,000/oz – US$ 4,000/oz dalam 5 tahun mendatang. Alasannya orang semakin khawatir dengan kestabilan keuangan publik di AS, kekurang seriusan pemerintah menangani problem social security, kredibilitas dollar yang terus terpuruk dan kelemahan fundamental ekonomi dunia.
5. Harry D. Schultz (dari Newsletter berbayar: International Harry Schultz Letter)
Harry memprediksi harga emas akan mencapai US$ 6,000/Oz tanpa memberi target waktu yang pasti. Alasannya adalah harga emas akan melonjak sangat tinggi bila terjadi hyperinflasi, sedangkan hyperinflasi adalah fenomena moneter yang bisa terjadi secara dadakan, kapan saja – berbeda dengan fenomena ekonomi pada umumnya yang terjadinya secara gradual.
6. Egon von Greyerz (Managing Derector dari Matterhorn Asset Management – Swiss)
Menurut Egon emas akan mencapai kisaran US$ 5,000/oz – US$ 10,000/oz dalam beberapa tahun mendatang. Alasannya: pertama bila real inflation seperti yang disajikan oleh Shadowstats.com digunakan untuk mengukur harga emas yang wajar, maka harga emas akan berkisar 6 kali dari harga sekarang. Kedua, realitas bahwa supply emas yang tidak akan pernah cukup untuk memenuhi demand terhadap emas yang tumbuh lebih cepat.
7. Peter Cooper (Penulis buku “Dubai Sabbatical: The Road to US$ 5,000 Gold”)
Peter memperkirakan harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam waktu yang tidak terlalu lama. Alasannya adalah saat ini pemerintah di dunia memaksakan rezim suku bunga yang rendah untuk mengatasi krisis; pada saat suku bunga rendah – obligasi pemerintah menjadi menarik. Namun situasi ini tidak akan bertahan lama, obligasi akan segera jatuh dan orang perlu pelarian uangnya ke tempat yang aman – tempat aman apalagi yang lebih aman dari obligasi pemerintah kalau bukan emas? Sedangkan supply emas selalu terbatas, maka bila ada lonjakan demand – yang pasti terjadi adalah lonjakan harga.
8. Rob McEwen (Chief Executive Officer – CEO dari US Gold Corp Inc.)
Rob berpendapat bahwa harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam rentang waktu antara 2012 – 2014. Alasannya: hutang pemerintah yang terus tumbuh dan akan mencapai skala yang dia sebut sebagai horrific scale. Dari masalah hutang yang pelik tersebut, menurut Rob akhir tahun ini saja harga emas sudah bisa mencapai US$ 2,000/oz.
9. Peter Krauth (Expert kenamaan di bidang Metals and Mining Stocks).
Peter memprediksi emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam beberapa tahun mendatang. Alasannya adalah potensi inflasi yang semakin besar, lonjakan demand, Central Banks tidak lagi menjadi net sellers tetapi malah menjadi net buyers, dan krisis yang terus bermunculan seperti yang terjadi di PIIGS.
10. Arnold Bock (Komentator pada situs emas paling terkenal di dunia Kitco.com)
Menurut Arnold harga emas akan naik secara parabolic sampai mencapai US$ 10,000/oz pada tahun 2012. Dia memiliki 6 alasan untuk prediksinya ini, yaitu:
- Kegagalan pemerintah-pemerintah membayar hutang;
- Bangkrutnya raksasa-raksasa finansial dunia;
- Inflasi dan devaluasi mata uang dunia;
- Manipulasi harga emas sehingga masih ‘ rendah’ sekarang;
- Keterbatasan supply emas dibandingkan dengan peningkatan demand-nya;
- Kebutuhan untuk melabuhkan dana-dana di tempat yang aman atau safe haven.
Lantas bagaimana menurut pendapat saya sendiri? Sekali lagi saya tidak ahli dan tidak menguasai ilmu masa depan itu – hanya Allah Yang Maha Tahu apa yang akan terjadi. Hanya saja seandainya mengikuti statistik 10 tahun terakhir di Indonesia, dimana harga emas awal 2000 adalah Rp 66,000 /gram dan sekarang di kisaran Rp 367,000 /gram atau naik menjadi 5.56 kalinya dalam 10 tahun; maka saya tidak akan kaget bila dalam 10 tahun mendatang harga emas di Indonesia bisa mencapai Rp 2,000,000/gram atau Dinar mencapai diatas Rp 8.5 juta/Dinar. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: +2 (from 2 votes)
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 09 June 2010. Tags: 2011, Allah, analisa grafis, anomali musim, Bank for International Settlements, Bank Indonesia, BIS, dana investasi, defisit anggaran, dunia, emas, harga emas, harga tinggi, hutang, Indonesia, investor, jangka panjang, Kitco, krisis, meningkat tajam, musim harga emas rendah, penurunan daya beli, permintaan melonjak, Rupiah, safe haven, sistem keuangan, the new high, the new low, titik terendah, trend, US$
Ketika melihat harga emas dunia yang mencapai US$ 1,240/Oz pagi ini saya sendiri terkejut, mengapa? Karena dalam pola naik turunnya emas tahunan berdasarkan data 5 tahun sebelumnya, harusnya bulan Juni dan bulan Juli adalah bulan dimana harga emas mencapai titik terendah – bersamaan dengan awal musim panas di belahan bumi utara.
Kemudian saya lihat lebih detil analisanya Kitco, dari mana kenaikan yang mencapai lebih dari +US$ 20/Oz semalam? Ternyata mayoritasnya didorong oleh permintaan yang tiba-tiba melonjak. Kalau saja US$ tidak menguat semalam, maka dorongan permintaan ini bahkan mampu mengangkat kenaikan harga emas sampai di atas +US$ 23/Oz.
Masih penasaran, saya ingin lihat lebih jauh lagi setahun terakhir apa benar permintaan ini melonjak. Ternyata benar sekali, analisa grafis dari Kitco di bawah menguatkan hal ini. Bila saja US$ tidak menguat dengan perkasanya sepanjang setahun terakhir bersamaan dengan melemahnya mata uang lainnya seperti Euro, maka harga emas saat ini seharusnya sudah sekitar +US$ 100/Oz lebih tinggi dari harga sekarang – atau berada di kisaran US$ 1,340/Oz (lihat pada garis biru).

Kitco Gold Index
Itu adalah faktanya; nah sekarang yang perlu kita dalami adalah mengapa sampai ada trend yang meningkat demikian tajam dalam arus pembelian emas dunia? Hampir seluruh analisa yang saya baca sependapat bahwa peningkatan permintaan adalah karena investor dunia membutuhkan tempat berlabuh yang aman (safe haven) bagi dana investasinya – di tengah berbagai krisis yang melanda dunia dengan tidak henti-hentinya dalam 24 bulan terakhir.
Lantas apakah trend – perasaan tidak nyaman dengan sistem keuangan dunia saat ini – akan terus berlanjut atau cenderung berkurang? Sangat tergantung bagaimana pemerintah dunia mengatasi problemnya masing-masing, terutama terhadap problem hutang dan defisit anggarannya.
Bila kondisi ini kita kaitkan dengan laporan dari The Bank for International Settlements (BIS) yang saya sajikan dalam tulisan saya 04/05/2010 lalu, maka nampak jelas dari analisa mereka-pun bahwa problem hutang tersebut akan meningkat dengan tajam pada tahun-tahun mendatang – dan tidak ada trend yang menurun. Untuk kita yang di Indonesia, Bank Sentral (BI) kita bahkan juga mengindikasikan bahwa ada kecenderungan menurunnya daya beli Rupiah tahun depan.
Dengan fakta-fakta tersebut di atas, nampaknya anomali tingginya harga emas di musim yang seharusnya rendah ini – berkemungkinan untuk berlangsung dalam jangka panjang. Atau dengan kata lain, tingginya harga emas sekarang yang mencapai US$ 1,240/Oz – bisa jadi ini the new low! Bila the new low–nya saja mencapai US$ 1,240/Oz, maka bisa dibayangkan berapa the new high-nya dalam beberapa bulan ke depan? Wa Allahu A’lam; Hanya Allah Yang Maha Tahu.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 02 June 2010. Tags: asuransi, dasawarsa, deposito, Dinar, dorongan ke atas, ekonomi dunia, emas, fundamental, grafik, harga emas, harga naik, inflasi, investasi, kapan saja, kebun, kinerja emas, lebih cepat lebih baik, musim membeli, orang tua, saham, sawah, statistik, sukuk, tabungan, ternak
Bagi kita yang tumbuh di zaman ini, kalau mendengar istilah “investasi” – maka yang terbayang adalah saham, reksadana, deposito, asuransi, sukuk, dlsb. Orang tua kita dahulu kebanyakan tidak mengenal istilah “investasi”, tetapi mereka mengenal “tabungan”. Tabungan yang mereka kenal juga agak berbeda dengan kita sekarang. Mereka lebih familiar dengan sawah, ternak, kebun dan yang juga secara luas dikenal adalah emas.
Bagi Anda yang mengikuti pola investasi atau tabungan dari orang tua Anda lebih awal – pasti Anda sekarang dapat menikmati manfaatnya. Ternyata pola investasi atau tabungan mereka khususnya pada emas – sangat menjanjikan hasilnya hingga kini.
Di situs ini tersaji secara real time kinerja emas dalam 1 dasawarsa (10 tahun), yang per pagi ini menunjukkan angka pertumbuhan sekitar 421%. Artinya uang yang Anda tanamkan di emas 10 tahun lalu, kini nilainya telah menjadi lebih dari 5.21 kali-nya.
Secara lebih detil kenaikan harga emas atau Dinar ini dapat Anda lihat pada grafik di bawah. Nampak jelas dari grafik tersebut bahwa tahun demi tahun, harga emas terus meningkat. Pada umumnya terendah tahun ini, masih lebih tinggi dari terendah tahun sebelumnya – begitu seterusnya sehingga grafik untuk masing-masing tahun akan terus bergerak ke atas.

Invisible Increase on Gold Price
Grafik tersebut dapat menjawab pertanyaan yang paling banyak disampaikan ke kami, yaitu kapan waktu terbaik membeli emas/Dinar? Jawabannya jelas, bila emas/Dinar digunakan untuk tabungan jangka panjang seperti persiapan biaya sekolah anak, persiapan pergi haji, persiapan beli rumah, dana pensiun, dlsb.; maka membeli kapan-pun tidak masalah – tetapi lebih cepat lebih baik.
Apakah gerakan ke atas 10 tahun terakhir akan berulang pada 10 tahun mendatang? Secara statistik paling tidak saya tidak melihat arah sebaliknya akan terjadi. Seluruh faktor fundamental ekonomi dunia, cenderung mendorong dunia ke arah inflasi – jadi dorongan ke atas ini kemungkinan besar akan terus berlanjut. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 12 May 2010. Tags: Amerika, bailout, banyak hutang, budaya, Canada, defisit anggaran, dunia, emas, epicentrum, EU, European Union, Flu Babi, gaji, GDP, gejolak ekonomi, grafik, gratis, Greece, harga emas, harga naik, hutang, IMF, inflasi, investasi, Ireland, Italy, jaring penyelamat, krisis finansial, layanan publik, Mexico, obat, pasar, pemain pasar, pemerintah, pertumbuhan ekonomi rendah, PIG Flu, PIIGS Flu, Portugal, Spain, Swine Flu, wabah global, Yunani
Tahun lalu wabah FLU BABI (Swine Flu atau Pig Flu) sempat membuat panik dunia setelah ditemukannya flu ini menjalar ke manusia di Amerika, Mexico dan Canada. Hari–hari ini dunia kembali dibuat panik tetapi bukan oleh PIG tetapi oleh PIIGS, acronym dari Portugal, Ireland, Italy, Greece dan Spain.
‘Flu’ di pasar uang dunia begitu terasa dalam beberapa hari perdagangan terakhir, bahkan ketika bailout senilai 750 Milyar Euro terhadap Yunani atau Greece sudah di commit oleh European Union dan IMF. Komitmen raksasa untuk mengatasi kebolongan di epicentrum krisis tersebut nampaknya tidak membuat para pemain pasar lega.
Hanya 2 hari setelah bailout tersebut diumumkan, para pemain pasar kembali memburu jaring penyelamat untuk investasinya – yaitu antara lain emas. Karena permintaan yang melonjak inilah maka pagi ini – saat artikel ini saya tulis – harga emas berada di atas US$ 1,230/Oz atau dalam US$ telah mengalami peningkatan lebih dari 34% dibanding harga emas dunia tahun lalu. Harga ini memecahkan rekor tertinggi sebelumnya yang berada di kisaran US$ 1,226/Oz yang tercapai di awal Desember tahun lalu.
Mengapa seolah pasar tidak percaya terhadap upaya–upaya negara yang dilanda krisis tersebut untuk dapat mengatasi masalahnya? Ada 2 hal yang sangat mendasar yang menyebabkan hal ini:
- Hutang yang sudah begitu besar yang diderita oleh negara-negara yang dilanda krisis tersebut, perhatikan faktanya di grafik atas. Yunani dan Italy bahkan hutangnya per akhir tahun lalu saja sudah melebihi GDP-nya. Nenek-nenek kita dahulu juga tahu kalau problem hutang ini tidak bisa diatasi dengan hutang baru, semua bantuan baik dari EU, IMF, dlsb TIDAK ADA yang GRATIS – pada waktunya harus dibayar.
- Negara-negara tersebut juga mengalami defisit pada anggaran belanjanya, sekaligus juga perekonomiannya tidak tumbuh – sebagian malah merosot seperti yang dialami Spanyol.
Masalah defisit ini sungguh tidak mudah diatasi karena menyangkut budaya. Pegawai-pegawai pemerintah di negara tersebut misalnya tidak akan mudah bisa diturunkan gajinya. Layanan publik juga tidak mudah diturunkan standarnya (dipotong anggarannya).
Walhasil bailout dari EU dan IMF untuk Yunani nampaknya hanya semacam obat untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi bukan obat untuk menyembuhkan penyakit. PIIGS ‘FLU’ (krisis) mungkin masih akan terus kambuh, bukan hanya terhadap Greece dan PIIGS tetapi terhadap semua negara yang memiliki ketahanan ‘tubuh’ (ekonomi) yang sama.
Symptoms atau gejala-gejala ketahanan ekonomi yang lemah ini antara lain ya 3 hal di atas yaitu:
- Hutangnya banyak.
- Anggarannya defisit.
- Pertumbuhan ekonominya rendah atau bahkan turun atau tidak tumbuh.
Jadi harga emas masih akan terus bergejolak karena dari waktu ke waktu orang butuh jaring penyelamat, dan emas-lah yang terbukti dapat berperan sebagai jaring penyelamat yang mudah diperoleh, efektif dalam mengatasi masalah inflasi dan gejolak ekonomi lainnya. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Posted in Dinar Prospecting