Archive | Dinar Prospecting
Posted on 08 March 2010. Tags: 20 Dinar, Allah, Article of Agreement of IMF, Bangladesh, cadangan emas, China, China Central Television, Dinar, ekonomi, ekonomi ala IMF, emas, gelang emas, gigi emas, iklan, IMF, Indonesia, instrumen efektif, investasi, investasi emas, Iraq, Islam, kampanye, keadilan, kekayaan riil, kemakmuran, kemerdekaan, ketahanan ekonomi, Malaysia, misi, muamalah, muslim, nishab zakat, Oil Boom, otoritas pasar modal, pasar modal, pemerintah, penggerak sektor riil, perak, propaganda anti emas, rakyat, rujukan mata uang, Shanghai Gold Exchange, Solusi Pembiayaan, suka pamer, timbangan, Yukhsinun
Pada dasawarsa pertama kemerdekaan RI, negeri ini pernah memiliki cadangan emas sebesar 248 ton tetapi kemudian cadangan emas ini juga pernah nyaris habis tahun 1971 menjadi tinggal 1.8 ton saja. Ketika Oil Boom tahun 70-an sampai puncaknya 1981, negeri ini alhamdulillah berhasil kembali membangun cadangan emasnya sampai mencapai sekitar 96 ton.
Sayangnya selama ¼ abad kemudian tepatnya sampai 2006, cadangan emas ini tidak berhasil dinaikkan dan bahkan berkurang 24%-nya pada akhir 2006 sehingga tinggal 73 ton saja. Lihat detilnya di tulisan saya sebelumnya dengan judul Emas & Kemakmuran Negeri Ini.
Mengapa sampai bangsa ini tidak menganggap penting cadangan emas yang bisa menjadi instrumen untuk membangun ketahanan ekonomi (Yukhsinun) selama lebih dari ¼ abad terakhir? Dugaan saya sendiri adalah karena ekonomi kita adalah ekonomi ala IMF banget. Kita tahu dalam sistem IMF, bahkan mereka melarang negara-negara anggotanya menggunakan emas sebagai rujukan mata uangnya (Article IV, Section 2. B).
Akibat pelarangan ini sampai-sampainya otoritas pasar modal kita beberapa tahun lalu ketika ingin mempromosikan dagangannya menggunakan iklan yang memojokkan emas. Dalam iklan tersebut investasi emas digambarkan sebagai investasinya ibu-ibu yang suka pamer, yang lagi meringis menunjukkan gigi emasnya sambil mengangkat tangannya yang dipenuhi gelang emas.
Inilah gambaran betapa kita ter-makan oleh propaganda anti emas yang di stimulir oleh IMF melalui salah satu pasal di Articles of Agreement tersebut. Negara-negara yang tidak termakan propaganda oleh IMF ini melakukan hal yang exactly sebaliknya. Kita bisa belajar dari China misalnya untuk yang terakhir ini.
Ketika kita mengurangi cadangan emas kita sampai 24%-nya; China berhasil meningkatkan cadangan emasnya dari 600-an ton tahun 2003, sampai mencapai 1,054 ton akhir tahun lalu. Ketika institusi resmi pasar modal kita membuat iklan yang memojokkan orang-orang yang berinvestasi pada emas, pemerintah China bahkan mendorong rakyatnya agar rame-rame membeli emas melalui kampanye besar-besaran yang disiarkan oleh China Central Television. Lebih jauh lagi pemerintah China juga mendirikan Shanghai Gold Exchange untuk mempermudah rakyatnya dalam berinvestasi emas.
Mengapa China melakukan hal yang berlawanan dengan resep umum IMF ini? Dugaan saya lagi karena China tahu bahwa sesungguhnya emas itulah instrumen yang paling efektif dalam mengamankan kekayaan negeri itu beserta kekayaan rakyatnya.
Di antara negara-negara yang paling drastis penurunan cadangan emasnya, mayoritasnya justru negara yang penduduk mayoritasnya muslim seperti Indonesia. Bangladesh contohnya saat ini tinggal memiliki cadangan emas sebesar 3.5 ton saja; Iraq tinggal 5.9 ton; dan negeri jiran kita kini hanya memiliki 36.4 ton padahal sebelum krisis 1997/1998 mereka memiliki cadangan emas sekitar 2 kali dari yang dimilikinya sekarang.
Mungkin Anda bertanya, lho kan memang menimbun emas adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam? Betul, menimbun emas dan perak dan tidak dinafkahkan di jalan Allah diancam dengan siksa yang sangat pedih. Tetapi di sisi lain, emas dan perak juga dijadikan hakim/timbangan yang adil dalam bermuamalah. Bahkan batas kewajiban orang kaya dengan hak orang miskin juga ditentukan dengan emas ini yaitu dalam bentuk nishab zakat yang 20 Dinar.
Artinya membangun cadangan emas baik oleh negara maupun rakyat, tidak harus identik dengan menimbun. Ketika kita berhasil menjadikan emas/Dinar kita sebagai hakim yang adil dalam menggerakkan ekonomi; maka di situlah ketahanan ekonomi umat dan bangsa ini insya Allah akan terbangun.
Misi untuk menjadikan emas/Dinar sebagai penggerak sektor riil seperti yang pernah saya tulis misalnya, adalah salah satu upaya kecil yang bisa kita lakukan untuk membangun ketahanan ekonomi agar kita tidak mudah terjajah – dan pada saat bersamaan kita juga terlibat langsung dalam mempercepat putaran ekonomi.
6 bulan sejak tulisan tersebut kita luncurkan, kini produk-produk solusi pembiayaan berbasis emas/Dinar benar-benar telah dapat ditangani dengan baik oleh kami beserta mitra-mitranya. Semoga Allah selalu menunjuki kita jalanNya. Amin.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 22 February 2010. Tags: alat ukur, Amerika, daya beli, daya beli tetap, Dinar, ekonomi, emas, Euro, fundamental, harga emas, harga naik, harga turun, hasil jerih payah, Indonesia, jangka menengah, jangka pendek, Jepang, kekuatan, mata uang, minus, penurunan daya beli, perkasa, Rupiah, stamina, The Winner, timbangan, uang kertas, Uni Eropa, universal, US$, waspada, Yen
Untuk bisa melihat kinerja uang kertas kita dalam perspektif yang lebih luas, pada kesempatan ini saya ingin menyajikan perkembangan harga emas sampai 5 tahun terakhir dilihat dari kaca mata uang Rupiah, US$, Euro dan Yen.
Kita gunakan harga emas dalam mata uang masing-masing – karena harga emas inilah alat ukur yang paling universal dan stabil sepanjang zaman. Kita patut bersyukur bahwasanya dalam 6 – 12 bulan terakhir, mata uang kita jauh lebih perkasa dibandingkan dengan 3 mata uang kuat dunia yaitu US$, Euro dan Yen.
Hal ini dapat kita lihat bahwa di antara 4 mata uang yang kita observasi daya belinya terhadap emas; dalam 6 – 12 bulan terakhir harga emas dalam Rupiah-lah yang kenaikannya paling rendah. Dalam Rupiah kenaikan harga emas malah minus atau mengalami penurunan selama 12 bulan terakhir.
Meskipun kita dapat berbangga dengan Rupiah kita dalam jangka pendek, namun kita tetap harus mewaspadai daya beli uang kita ini karena dalam jangka menengah 5 tahun saja Rupiah berkinerja paling lemah bila dibandingkan dengan 3 mata uang kuat dunia Yen, US$ dan Euro tersebut di atas. Dalam timbangan emas, harga emas dunia telah mengalami kenaikan 161% selama 5 tahun terakhir bila dibeli dengan Rupiah. Sementara bila dibeli dengan Yen, US$ dan Euro masing-masing hanya mengalami kenaikan 125%, 157% dan 150%.
Apa maknanya ini semua? Karena mata uang merepresentasikan kekuatan ekonomi suatu negara. Maka selama kurun waktu 5 tahun terakhir, Jepang masih paling kuat fundamental ekonominya dibandingkan dengan negara-negara Uni Eropa, Amerika dan Indonesia.
Kita tentu berharap stamina kita yang lagi fit sehingga memiliki ke-unggul-an dalam 6-12 bulan terakhir dibandingkan dengan negara-negara yang secara umum memiliki fundamental ekonomi yang lebih kuat dari kita tersebut – dapat bertahan lama sampai bertahun-tahun mendatang.
Bagaimana kalau kondisi unggul ini tidak bisa bertahan lama? Ada cara lain untuk mempertahankan hasil jerih payah kita agar tetap memiliki daya beli unggul sepanjang zaman – yaitu emas atau Dinar. Selagi Rupiah perkasa seperti hari-hari ini, harga emas sesungguhnya lagi rendah-rendahnya dalam Rupiah – relatif terhadap mata uang lain di dunia. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 21 February 2010. Tags: analisa statistik, bearish, bullish, Cacat Sejarah, crowd psychology, Daily Moving Average, daya beli tetap, Deret Fibonacci, Elliot Wave Theory, emas, gelombang corrective, gelombang motive, grafik, harga emas, harga naik, harga turun, investasi, investor, jangka panjang, jangka pendek, Nadeem Walayat, Nature's Laws, Optimis, pasar, pasar modal, penurunan daya beli, Pesimis, pola, Polynomial, psikologi, Ralph Nelson Elliot, rhythmical, ritmis, teori, The Secret of Universe, The Wave Principle, trend, uang kertas, US$
Beberapa kali saya menulis tentang teori yang berkembang di pasar modal yang juga berlaku di pasar emas dalam skala global. Di antara yang pernah saya tulis tersebut adalah tentang Deret Fibonacci; analisa Moving Average, Trend Polynomial dan lain sebagainya.
Meskipun tidak ada yang bisa menjamin kebenaran teori manusia untuk memprediksi masa depan tersebut, paling tidak analisa-analisa yang menggunakan data statistik ini dapat menambah wacana kita untuk lebih memahami apa yang terjadi di masa lalu, yang terjadi sekarang, dan menduga apa yang sekiranya mungkin terjadi berikutnya.

Ralph Nelson Elliot
Ada 1 lagi teori yang juga banyak digunakan untuk memahami perilaku pasar ini yaitu yang disebut Elliot Wave Theory. Teori yang dikembangkan oleh seorang accountant Ralph Nelson Elliot (1871-1948) ini mendasarkan pada asumsi bahwa manusia secara bersama-sama memiliki perilaku yang rhythmical, maka keputusan-keputusannya dalam berinvestasi, dlsb; juga pada umumnya bersifat ritmis.
Psikologi investor secara kolektif (crowd psychology) bergerak dari optimisme ke pesimisme secara berulang membentuk pola tertentu seperti dalam grafik di atas. Pada saat pasar sedang bullish (berkecenderungan naik), gerakan naik ini didorong oleh gelombang motive yaitu gelombang no 1, 3 dan 5 dalam gambar. Dalam perjalanan naik ini dari waktu ke waktu ada koreksi seperti yang ditunjukkan oleh gelombang corrective 2 dan 4. Satu gelombang motive terdiri dari 5 sub gelombang, dan satu gelombang corrective terdiri dari 3 sub gelombang.
Pada saat pasar Bearish (berkecenderungan turun), sebaliknya terjadi – gelombang penurunan menurut Elliot akan secara simetris mengikuti pola yang berkebalikan dengan kenaikannya membentuk segitiga sama kaki (di grafik perhatikan rangkaian gelombang 2-3-4-5-A-B-C).

Elliot Wave Theory
Untuk contoh penerapan Elliot Wave Theory pada harga emas saat ini, saya tidak perlu membuatnya sendiri karena di internet sudah ada yang membuatnya yaitu antara lain Nadeem Walayat dari www.walayatstreet.com atau www.marketoracle.co.uk. yang analisa grafisnya saya sajikan di samping.
Berdasarkan analisa si Walayat ini, saat ini harga emas sedang berada pada gelombang corrective 4 dimana harga emas bisa turun sampai kisaran US$ 1,050/oz. karena gelombang corrective terdiri dari setidaknya 5 sub gelombang- maka bisa saja terjadi beberapa kali koreksi yang berujung pada kisaran angka tersebut di atas. Maka bila saat artikel ini saya tulis harga emas dunia berada pada angka US$ 1,118.50 – jangan terkejut bila dalam waktu tidak terlalu lama bisa saja harga emas kembali turun ke kisaran US$ 1,050/Oz.
Meskipun demikian, karena gelombang utamanya sedang berada di gelombang corrective 4; sangat mungkin juga dalam waktu tahun ini juga harga emas akan kembali bergerak ke atas mengikuti gelombang motive 5. Karakter puncak gelombang motive ini selalu melebihi puncak gelombang motive sebelumnya. Maka bila puncak gelombang motive 3 berada pada angka US$ 1,226.30 yang terjadi awal Desember tahun lalu, puncak gelombang motive 5 menurut Walayat akan mencapai US$ 1,333/Oz yang bisa terjadi sebelum akhir tahun ini.
Setelah mencapai puncak gelombang motive 5 – kemudian menurut Teori Elliot Wave ini harga emas akan berbalik arah menjadi bearish market yang memiliki kaki-kaki simetris dengan kenaikannya. Jadi kalau mengikuti teorinya si Elliot ini harga emas akan berkecenderungan turun tahun depan (2011), benarkah ini yang akan terjadi?
Sekali lagi tidak ada yang bisa memprediksi masa depan secara akurat; Teori Elliot Wave mungkin ada benarnya, namun juga ada cacatnya. Cacat di Teori Elliot Wave ini tidak pernah saya jumpai di ulas di buku-buku yang biasanya menjadi rujukan para analis.
Cacat tersebut adalah cacat sejarah, yaitu ketika teori tersebut diperkenalkan melalui buku The Wave Principle (1938) dan juga revisi komplitnya pada Nature’s Laws – The Secret of Universe (1946) – rezim uang saat itu masih menggunakan emas sebagai back-upnya. Artinya Teori Elliot Wave mempunyai kemungkinan benar lebih besar bila uang yang dipakai di pasar memiliki daya beli relatif tetap.
Sebaliknya ketika nilai uang terus mengalami penurunan karena seluruh uang kertas dunia saat ini tidak lagi memiliki daya beli tetap, maka kaki-kaki bearish A, B, C tidak akan mudah terjadi dan bila toh terjadi tidak akan pernah sama panjang dengan kaki-kaki bullish 1,2 dan 3. Apa makna dari ini semua pada harga emas tahun ini atau tahun depan? Saya masih berpegang dengan teori saya sendiri, yaitu dalam jangka pendek harga emas bisa turun – tetapi kecenderungan jangka panjangnya akan lebih berpeluang naik ketimbang turun. Bukan karena emas semakin mahal sesungguhnya, melainkan karena daya beli uang kertas yang digunakan untuk membelinya yang akan terus menurun. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 16 February 2010. Tags: 1 tahun, 10 tahun, arus balik, balik arah, berenang, cepat capek, Dinar, ekspor, emas, Euro, grafik, harga emas, harga naik, harga turun, impor, inflasi, jangka panjang, komputer, konsumsi, mata uang, murah, perkasa, relatif rendah, Rupiah, uang kertas, US$, waspada
Meskipun hari-hari ini harga emas fisik di pasaran Indonesia di kisaran Rp 345 ribu/gram tidak bisa dibilang murah, sesungguhnya relatif terhadap harga emas dunia – kita lagi beruntung, harga emas dalam Rupiah lagi murah-murahnya bila dibandingkan dengan harga emas setahun yang lalu.
Bila dalam setahun terakhir harga emas dunia dalam US$ mengalami kenaikan sekitar 19% dan dalam Euro mengalami kenaikan sekitar 11%; Dengan uang Rupiah kita yang lagi perkasa – harga emas atau Dinar dalam Rupiah turun 9%.
Kinerja Rupiah yang tidak biasa, yang keperkasaannya melebihi mata uang kuat dunia ini di satu sisi menggembirakan karena tidak hanya kita bisa membeli emas atau Dinar dengan relatif murah; tetapi juga inflasi terhadap barang-barang impor yang mau nggak mau masih kita perlukan menjadi rendah. Saat ini adalah kesempatan yang baik bagi Anda yang mau ganti komputer misalnya, karena komputer juga lagi murah, dlsb.
Di sisi lain kita juga perlu waspada karena bila situasi ini berlangsung dalam waktu yang lama, belum tentu menguntungkan negeri ini. Konsumsi barang impor akan meningkat sedangkan ekspor akan kurang dapat bersaing.
Hal lain yang juga perlu diwaspadai adalah ketika Rupiah kembali ke jalurnya semula, yang cenderung berkinerja lebih lemah dari mata uang kuat lainnya di dunia – ada kemungkinan harga emas dalam Rupiah akan melonjak.

10 Years Gold
Perhatikan misalnya grafik di samping; dalam 10 tahun terakhir harga emas dalam Rupiah naik sekitar 406%, sementara dalam US$ hanya naik 294% dan dalam Euro hanya naik 190%. Artinya kinerja Rupiah setahun terakhir yang lebih kuat dari US$ dan Euro, lagi tidak sejalan dengan kinerja jangka panjangnya yang cenderung lebih lemah dari kedua mata uang kuat tersebut.
Ketika Anda berenang melawan arus, maka Anda akan lebih cepat capek karena tenaga Anda terkuras. Demikianlah yang nampaknya terjadi dengan Rupiah setahun terakhir, mudah-mudahan saja dia tidak cepat capek dan berbalik arah – meskipun kita tetap harus waspadai arus balik ini. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 01 February 2010. Tags: acumen, analis pasar, batas atas, bullish, Daily Moving Average, grafik, harga emas, harga naik, internet, kekuatan pasar, lompatan, pasar emas, pendorong naik turun, Resistance Level, Support Level, titik tertinggi, Trampoline, Video
Seperti bermain Trampoline, harga emas bergerak naik turun mengikuti pola tertentu – yaitu pola yang dibentuk oleh kekuatan pasar. Dengan mengamati harga emas dunia selama 3 bulan terakhir misalnya, kita bisa melihat di kisaran berapa jaring trampoline tersebut berada. Dalam bahasa teknis posisi ini disebut Support Level.
Dalam 1½ bulan terakhir nampaknya harga emas sampai 4 kali menyentuh Support Level di kisaran harga 1,080-an, namun tidak lebih rendah dari Support Level ini. Analis pasar biasanya meng-interpretasikan hal tersebut sebagai tanda-tanda bahwa pasar sedang bullish atau memiliki kecenderungan naik. Harga mendapat tekanan turun terus menerus oleh aksi jual (atau sebab lain) tetapi mental kembali ke atas oleh kekuatan permintaan pasar. Semalam misalnya, lompatan kembali ke atas ini terjadi ketika harga sudah mendekati US$ 1,081/Oz.
Sejauh mana lompatan ke atas ini akan naik? Batas atas yang bisa dituju oleh lompatan ini adalah titik-titik tertinggi sebelumnya – jadi dari grafik bisa saja gerakan ke atas ini menempuh titik US$ 1,200-an misalnya; karena ini toh titik yang memang sudah pernah tercapai sebelumnya. Titik tertinggi ini disebut Resistance Level.
Apa jadinya bila sebaliknya yang terjadi yaitu harga berhasil tembus pada Support Level 1,080-an? Bila trampoline (Support Level) jebol kemungkinan harga akan terus turun menuju Support Level berikutnya, yaitu Support Level jangka panjang yang angkanya bisa didekati dari rata-rata bergerak (Moving Average) yang sudah pernah saya jelaskan sebelumnya di kisaran US$ 975/Oz.
Jadi siap bermain trampoline? bagi yang akses internetnya bagus dapat menyaksikan video di atas; video ini memang tentang permainan trampoline, tetapi ini banyak kemiripannya dengan pergerakan harga emas – jadi bisa mengasah acumen Anda di bidang ini. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 26 January 2010. Tags: bad news, bandul jam, biaya hidup masa pensiun, biaya kesehatan hari tua, biaya sekolah anak, Daily Moving Average, Dinar, emas, fitrah, good news, grafik, gravitasi bumi, harga emas, harga naik, harga turun, jangka panjang, jangka pendek, kabar baik, kabar buruk, Kitco, mekanisme pasar, nilai tukar, penurunan daya beli, posisi jam 6, statistik, uang kertas
Tulisan saya tanggal 25 Januari 2010 lalu memperkenalkan konsep Moving Average atau rata-rata bergerak untuk mengetahui posisi ‘jam 6’, pada ayunan bandul jam yang memvisualisasikan pergerakan harga emas sebagai hasil mekanisme pasar.
Melengkapi tulisan tersebut, kali ini saya gunakan data yang lebih lama yaitu 11 tahun sejak Januari 2000 untuk harga emas dunia dalam US$/Oz. Data ini saya kumpulkan dari Kitco.com karena data yang saya kumpulkan sendiri baru mulai September 2007.
Hasilnya saya sajikan dalam grafik di atas yang menunjukkan pergerakan harga bulanan dan rata-rata bergerak tahunannya. Kita bisa melihat grafik tersebut dari 2 sisi, tergantung apakah kita lebih suka kabar baik, kabar buruk atau keduanya. Untuk lengkapnya saya sajikan saja keduanya sebagai berikut.
Kabar buruknya adalah harga emas yang beberapa minggu terakhir cenderung turun; masih mungkin terus turun sampai posisi di sekitar ‘jam 6’ dari pergerakan harga emas atau bahkan melewatinya. Posisi ‘jam 6’ dari perhitungan rata-rata bergerak tahunan selama 11 tahun terakhir saat ini berada pada kisaran angka US$ 975/Oz.
Karena per pagi ini harga emas dunia berada pada US$ 1098/Oz; maka bila gerakan turun harga emas dunia ini berlanjut, angka yang berpeluang untuk dicapai dalam waktu dekat adalah di kisaran US$ 975/Oz atau berpeluang turun sampai sekitar 11% dari posisi sekarang.
Karena saya termasuk orang yang cenderung optimis, maka dari satu kabar buruk ini – ada 3 kabar baik yang saya juga ingin sampaikan.
Kabar baik pertama adalah namanya bandul jam, tidak selamanya dia berayun ke 1 arah. Setelah melewati posisi terendah di ‘jam 6’ dia akan berbalik arah; ini fitrah gravitasi bumi yang juga fitrahnya mekanisme pasar.
Kabar baik kedua, trend posisi ‘jam 6’ yang dihasilkan dari perhitungan rata-rata bergerak tahunan – ternyata bergerak naik dari waktu ke waktu – setidaknya ini yang terjadi 11 tahun terakhir. Pergerakan yang ini, bukan karena mekanisme pasar tetapi karena rusaknya daya beli uang kertas terhadap emas.
Ringkasnya adalah dalam jangka pendek harga emas bergerak naik turun disebabkan oleh dorongan mekanisme pasar; tetapi dalam jangka panjang nampak dari statistik bahwa harga emas yang dinilai dengan mata uang kertas cenderung terus naik – bukan oleh mekanisme pasar lagi tetapi oleh penurunan nilai uang yang digunakan untuk membeli emas tersebut.
Jadi kabar baik ketiganya adalah, Anda yang ingin mengamankan masa depan biaya sekolah anak-anak; biaya kesehatan hari tua, biaya hidup masa pensiun, dlsb – Anda insya Allah akan menemukan waktu-waktu yang baik untuk membeli emas atau Dinar dalam hari-hari atau minggu-minggu ke depan – mumpung bandul jam bergerak ke posisi ‘jam 6’. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 24 January 2010. Tags: 180 DMA, 360 DMA, angka rata-rata, bandul jam, Daily Moving Average, DinarIslam.com, DMA, emas24.com, grafik, gravitasi bumi, harga emas, investasi, investor, jam dinding, jangka panjang, jangka pendek, pasar emas, pendorong naik turun, posisi jam 6, September, spekulasi, supply and demand
Seperti bandul jam dinding yang berayun beraturan di sekitar posisi jam 6 karena gravitasi bumi– jam 6 adalah titik terendah dalam lingkaran jam; demikian pula mekanisme pasar membentuk harga. Untuk pasar emas saya pernah menjelaskan hal ini dalam tulisan saya pada pertengahan tahun lalu dengan judul “Kemana Harga Emas Akan Berayun“.
Tulisan kali ini menyempurnakan tulisan sebelumnya tersebut dengan fokus pada upaya memahami dimana titik ‘jam 6’ tersebut pada pasar emas. Untuk ini saya gunakan harga emas rata-rata harian untuk 180 hari (6 bulan) dan rata-rata harian untuk 360 hari (1 tahun). Dalam istilah teknis disebut Daily Moving Average (DMA), jadi ada 2 DMA yang kita gunakan 180 DMA dan 360 DMA.
Dasar pemikirannya adalah harga emas akan bergerak naik turun di sekitar angka rata-rata-nya. Bila terlalu tinggi akan tertarik ke bawah mendekati harga rata-rata oleh supply dari aksi jual masyarakat, dan sebaliknya bila terlalu rendah akan tertarik ke atas oleh kenaikan demand dari aksi beli masyarakat.
Dari data harga emas di pasar Indonesia yang dikumpulkan oleh kami sejak pertengahan September 2007, kita bisa sajikan pergerakan harga ini lengkap dengan grafik 180 DMA dan 360 DMA-nya seperti di atas. Lantas bagaimana kita membaca grafik tersebut?
Pada posisi penutupan pekan lalu, harga jual emas di emas24.com maupun DinarIslam.com adalah berada pada angka Rp 339,196/gram; sedangkan angka DMA pada tanggal penutupan tersebut masing-masing berada pada Rp 332,091/gram (180DMA) dan Rp 330,068/gram (360DMA).
Jadi seperti bandul jam saja, harga emas sekarang masih lebih tinggi dari DMA-nya atau masih mungkin berayun ke bawah ke arah Rp 332 ribu, Rp 330 ribu atau bahkan lebih rendah dari itu – sebelum akhirnya terayun balik ke atas.
Bagi investor jangka panjang, ayunan ini tidak perlu menjadi pikiran karena DMA untuk jangka panjang (360 DMA) cenderung lurus ke atas. Artinya semakin panjang fokus investasi kita, semakin jelas arah hasilnya – yaitu positif ke atas.
Sebaliknya untuk jangka pendek – 6 bulan atau kurang misalnya; arah gerakan harga ini masih naik turun seperti yang ditunjukkan oleh grafik 180 DMA tersebut. Itulah sebabnya saya tidak pernah menganjurkan Anda untuk berspekulasi dengan harga emas jangka pendek. Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 20 January 2010. Tags: bbm, Cikini, Dinar, dinar islam, email, emas, Gerakan Dinar, harga emas, kekuatan, Kitco, Logam Mulia, mata uang, Melawai, pendorong naik turun, real time, RIX, Rupiah Index, simetris, sms, supply and demand, toko/tukang emas, uang kertas, US$, USD Index, USDX
Pagi ini harga emas dunia turun significant ke angka US$ 1,114.3/Oz ketika artikel ini saya tulis. Seperti biasa ketika harga naik atau turun significant banyak email, sms, bbm, dlsb yang sampai ke saya menanyakan penyebabnya. Untuk menghemat waktu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tulisan ini mudah-mudahan dapat memuaskan keingin tahuan para pengunjung situs ini.
Ada 2 hal yang menjadi pendorong naik turunnya emas dunia, yang PERTAMA tentu pergerakan supply and demand. Bila yang menjual banyak sedangkan yang membeli sedikit otomatis harga turun. Demikian pula sebaliknya, bila yang membeli banyak sedangkan yang mau menjual sedikit maka harga akan naik.
Karena harga emas yang kita bicarakan adalah harga emas secara global; maka supply and demand-nya pun untuk skala global. Supply and demand dalam skala mikro, seperti para pembeli/penjual emas/Dinar di Dinar Islam; Logam Mulia, toko-toko emas di Cikini, Melawai, dlsb tidak memberi pengaruh pada pergerakan harga global ini.
Pergerakan harga yang dipengaruhi oleh supply and demand ini dapat Anda ikuti setiap saat dari situsnya kitco.com.
Pendorong naik turunnya harga emas yang KEDUA adalah kekuatan mata uang yang dipakai untuk membelinya. Karena harga emas dunia pada umumnya dinilai dalam US$ maka kekuatan mata uang US$ juga sangat menentukan naik turunnya harga emas dunia ini.
Yang terakhir inilah yang mempengaruhi secara significant atas turunnya harga emas dunia dalam perdagangan hari kemarin. Anda bisa lihat pada grafik yang saya sajikan di atas, penurunan harga emas berjalan nyaris simetris dengan naiknya kekuatan US$ yang diukur dengan USD Index.
Saya katakan nyaris simetris karena tidak sepenuhnya simetris; perbedaannya terletak pada faktor pertama yang saya jelaskan di atas – yaitu faktor supply and demand.
Karena pentingnya informasi kekuatan mata uang US$ ini dalam memahami pergerakan harga emas dunia, maka mulai hari ini informasi USD Index (USDX) termasuk yang saya sajikan di halaman situs ini yaitu di sidebar kanan di bawah informasi harga emas. Ini untuk melengkapi informasi Rupiah Index (RIX) yang sudah lebih dahulu ditampilkan.
Dengan informasi USD Index (USDX) dan Rupiah Index (RIX) secara real time ini, Insya Allah Anda akan lebih mudah memahami latar belakang yang menjadi pendorong naik turunnya harga emas yang menjadi sajian utama situs ini. Mudah-mudahan bermanfaat.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 18 January 2010. Tags: barang ekonomi, bursa saham, Charles H. Dow, Dinar, Dow Jones, Dow Theory, emas, harga emas, Higher Highs, Higher Lows, Indonesia, pasar emas, relatif rendah, Rupiah, technical analysis, titik terendah, titik tertinggi, trend, uptrend, US$
Di pasar saham ada teori yang sangat terkenal yang disebut Dow Theory mengambil nama penemunya Charles H. Dow (1851 – 1902) yang juga pendiri Dow Jones. Teori ini pula yang mendasari technical analysis yang dipakai para praktisi pasar saham dan sejenisnya hingga zaman modern ini.
Karena kemiripan pasar saham dengan pasar emas dalam skala global, maka Dow Theory ini juga dapat digunakan untuk menganalisa perilaku pasar emas dunia. Pada tulisan ini saya menggunakan bagian dari Dow Theory yang berbunyi kurang lebih begini “Bila harga barang ekonomi memiliki pola titik-titik tertinggi yang semakin tinggi (higher highs) dan titik-titik terendah yang juga semakin tinggi (higher lows), maka harga barang ekonomi tersebut sedang berada pada kecenderungan menaik (uptrend)”.
Apakah uptrend yang dipersyaratkan oleh Dow Theory ini nampak dalam pasar emas dunia beberapa tahun terakhir? Jawabannya sangat jelas nampak. Anda bisa perhatikan grafik di atas untuk mendeteksi titik-titik tertinggi yang semakin tinggi (higher highs) tersebut.
Saya juga sajikan grafik lain yang lebih pendek jaraknya untuk bisa menjelaskan titik-titik terendah yang semakin tinggi (higher lows) pada grafik di bawah ini.

Higher Lows
Dari grafik tersebut kita bisa melihat bahwa sejak emas menembus angka US$ 1,000/Oz September 2009 lalu, kemudian melesat ke angka di atas US$ 1,200/Oz pada awal Desember, emas terkoreksi secara significant di bulan yang sama. Namun kita tahu koreksi ini ternyata tidak berhasil membawa harga emas dunia ke angka di bawah US$ 1,000/Oz; koreksi ini hanya berakhir pada angka US$ 1,075/Oz yang terjadi pada tanggal 22 Desember 2009. Inilah yang disebut titik terendah yang semakin tinggi (higher lows) itu.
Jadi paling tidak pada masa depan yang masih bisa diperkirakan dari data yang ada saat ini (foreseeable future), trend harga emas dunia masih berada pada kecenderungan naik (uptrend). Namun perlu diingat bahwa harga emas dunia ini dihitung dengan US$, trendnya dalam Rupiah bisa saja berbeda tergantung dengan bagaimana kinerja Rupiah ke depan dibandingkan dengan US$.
Bahwasanya kita membeli emas di Indonesia dengan uang Rupiah kita, saat ini sesungguhnya merupakan kesempatan yang luar biasa. Kita dapat membeli emas/Dinar pada harga yang relatif rendah di tengah harga emas dunia yang lagi berada pada uptrend! Wa Allahu A’lam.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dinar Prospecting
Posted on 12 January 2010. Tags: benda riil, daya beli, Dinar, ekonomi makro, eksportir, emas, grafik, handphone, harga emas, impor, jangka panjang, mahal, murah, negatif, notebook, perkasa, positif, proteksi risiko, Rupiah, US$
Bagi yang rajin mengamati grafik-grafik kecil di situs ini (di sebelah kanan bawah), hari-hari ini akan melihat posisi harga Dinar yang tidak biasa di grafik tersebut. Khususnya pada grafik yang menggambarkan trend harga Dinar setahun terakhir.
Trend kenaikan yang biasanya berwarna biru positif, kini berwarna merah negatif. Bahkan angka negatifnya cukup besar, yaitu pagi ini mencapai – 8.84%, mengapa hal ini bisa terjadi? Keperkasaan Rupiah jawabannya.
Dalam grafik tahunan, 12 bulan terakhir dihitung dari Februari 2009 sampai Januari 2010. Bulan Februari tahun 2009 lalu, emas dunia berada pada kisaran US$ 943/Oz dan Rupiah berada pada kisaran Rp 11,800/US$. Dinar saat itu berada pada kisaran Rp 1,550,000. Jadi dibandingkan dengan harga Dinar Februari 2009, Dinar saat ini tengah mengalami penurunan sekitar 8.84% tersebut di atas. Namun kalau dibandingkan Januari 2009, harga Dinar saat ini masih naik 7.20%.
Bila kita lihat harga emas Dunia Januari tahun lalu yang berada pada angka US$ 858.69; maka harga emas dunia pagi ini US$ 1,130.55 telah mengalami kenaikan 31.65%.
Artinya apa ini semua? Harga emas dunia sebenarnya masih berada pada periode mahal; karena keperkasaan Rupiah yang lagi luar biasa-lah yang membuat Dinar nampak murah saat ini. Rupiah yang mengalami penguatan dari Rp 11,800/US$ ke Rp 9,175/US$ atau penguatan sekitar 22% membuat kita bisa menikmati emas atau Dinar yang relatif murah hari-hari ini.
Bukan hanya Dinar sebenarnya yang lagi murah, seluruh benda riil yang asalnya dari luar negeri yang diimpor dengan nilai US$ – juga menjadi terasa relatif murah saat ini. Waktu yang baik bagi Anda yang hendak mengganti notebook-nya, handphone, dlsb.
Hanya saja masa-masa keperkasaan Rupiah seperti saat ini tidak selamanya baik bagi ekonomi negeri ini secara makro. Para eksportir kita akan menurun daya saingnya di pasar internasional bila Rupiah terus menguat. Atas pertimbangan ini pula-lah kemungkinan besarnya para pengambil keputusan negeri ini juga tidak akan membiarkan Rupiah terlalu kuat.
Jadi selagi Rupiah perkasa…; proteksi keperkasaan tersebut dengan mengkonversinya ke benda riil yang dapat menyimpan nilai atau daya beli dalam jangka panjang. Semoga bermanfaat.
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Posted in Dinar Prospecting